Enough

Enough
Chapter 48



Keesokan paginya Tari terbangu oleh cahaya matahari yang menyusup di celah jendela ruang rawat inapnya. "Morning peri baikku," sapa Ranu. "Bagaimana kondisimu?"


"Aku haus," ucap Tari ragu-ragu, semalaman menangis membuat tenggorokannya kering.


Ranu tersenyum dan bergegas mengambilkan minum untuk Tari.


"Aww..." Tari meringis kesakitaan saat ia duduk di atas tempat tidurnya, ia masih merasakan perih di bagian bok*ngnya.


Dengan sigap Ranu membantu Tari duduk. "Duduknya agak miring sedikit ya," ia menaruh bantal sebagai sandaran bok*ng Tari. "Bagaimana, nyaman tidak?"


Tari mengangguk. "Lumayan," jawabnya.


Ranu kemudian duduk di tempat tidur Tari, ia merengkuh Tari ke dadanya, sembari mengelus bahu Tari dengan lembut. Mereka duduk bersama tanpa bicara, perlahan Tari menyandarkan kepalanya di bahu Ranu dan tangannya di pangkuan Ranu, ia bisa merasakan jika Ranu tengah bersedih atas kondisinya saat ini.


"Ranu," ucap Tari dengan suara lirih. "Maafin aku ya. Semua yang kamu ucapkan waktu itu, benar." Tari mendongak dan menatap wajah Ranu, ia memaksakan seulas senyuman sedih. "Kamu boleh kok bilang 'kubilang juga apa'."


"Tari, ucapanku yang kemarin bukan untuk di buktikan. Setiap hari aku selalu berdoa semoga firasatku salah, semoga kamu bahagia dengan siapa pun yang menjadi pilihanmu." Ranu mengecup ubun-ubun Tari. "Sekarang kamu sarapan dulu ya." ia beranjak dari tempat tidur Tari, kemudian mengambil semangkuk bubur yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk Tari.


Dengan penuh kesabaran, Ranu menyuapi Tari "Ayo buka mulutnya."


Awalnya Tari menurut mau membuka mulutnya, namun di suapan ke dua perutnya bergejolak, ia menolak untuk membuka mulutnya kembali. "Rasanya hambar sekali, aku mual."


"Kamu harus makan Tari. Janin dalam kandunganmu butuh asupan nutrisi," ucap Ranu, ia mencoba untuk membujuk Tari agar mau membuka mulutnya.


"Janin?" tanya Tari bingung. "Maksudmu?"


Ranu menaruh mangkuk bubur di atas meja, ia menatap Tari dengan wajah serius. "Jadi kamu belum tahu jika kamu tengah mengandung?"


Tari menggelengkan kepalanya.


Ranu berdeham, "Saat ini kamu tengah mengandung, dan usia kandunganmu sudah jalan 6 minggu," ia mengatakan semua yang dokter katakan padanya tanpa ada yang ia tutupi, termasuk soal pemerk*saan yang megakibatkan luka di beberapa bagian sensitif Tari. "Aku tahu dia dan keluarganya bukan orang sembarangan, tapi kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menghubungi pengacara yang handal. Kita pasti akan menang, Tari."ucap Ranu dengan penuh keyakinan.


Tari mencoba mencerna apa yang di ucapkan Ranu. "Maksudmu, Kita akan melaporkan Tara?"


Ranu mengangguk mantap, ada pancaran kemarahan dalam sorot mata Ranu. "Aku tidak akan pernah membiarkan orang yang sudah menyakitimu bebas begitu saja!"


Tari menggeleng. "Tidak Ranu, kita tidak memerlukan pengacara, karena aku tidak akan melaporkan Tara ke polisi."


Ranu membulatkan matanya, ia cukup terkejut mendengar penolakan Tari. "Tari, dia sudah melukaimu," ucap Ranu, ia merasa tidak terima dengan apa yang telah di lakukan oleh Tara kepada Tari "Semlam kamu hampir mati karena kehilangan banyak darah dan dia juga sudah melecehkanmu, Tari."


Tari mengelus perutnya dengan lembut, perlahan buliran-buliran bening mulai jatuh dari matanya, ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kamu tidak mengerti, Ranu.. Hiks..."


Ranu menghela nafas beratnya, sebetulnya ia sangat kecewa dengan keputusan Tari, namun ia tak bisa memaksa Tari untuk melaporkan Tara ke polisi. Ranu mendekat ke arah Tari, dan kembali memeluknya. "Aku akan membatalkan janji dengan pengacara yang sudahku hubungi," bisiknya, kemudian ia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Tari. "Kamu jangan nangis lagi ya, aku mau ke bawah sebentar, kamu tidak keberatankan jika Lidya yang akan menemanimu?"


"Lidya adik tiriku. Kebetulan ibuku sedang di rawat di rumah sakit ini, untuk itulah aku pulang ke Indonesia," terang Ranu.


"Ibu? Orang tua yang telah mengusirmu sehingga kamu terpaksa tinggal di rumah tua di belakang rumahku?" tanya Tari hati-hati.


Ranu menundukan kepalanya. "Pria itu pergi meninggalkan Ibuku setelah tahu, ibuku terkena penyakit gagal ginjal. Dia bukan hanya pergi meninggalkan ibu dan juga adikku, tapi ia juga membawa sisa uang warisan mendiang ayahku." Ranu menghembuskan nafas pelan.


Tari kehabisan kata-kata, ia sangat kagum pada Ranu yang begitu ikhlas memaafkan dan merawat ibu yang telah mengusirnya dari rumah demi suami barunya, bahkan ia juga membuatkan restoran Jepang untuk adik tirinya.


"Tapi ya sudahlah, aku merasa hidupku sudah jauh lebih baik. Fokusku kini pada kesehatan Ibu dan juga pendidikan Lidya." Ranu mengelus kedua lengan Tari. "Dan juga kamu."


Ranu melepaskan tangannya, ia meraih handphonenya di meja. "Aku ke bawah dulu ya, sebentar lagi Lidya akan datang." ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat inap Tari.


Setelah Ranu pergi, Tari menatap langit-langit kamar rawat inapnya, ia memikirkan langkah selanjutnya setelah dirinya keluar dari rumah sakit, ia tak ingin kembali ke apartement Tara, ia juga tak bisa pulang ke apartementnya karena Tara pasti akan mencarinya.


Untuk beberapa hari ini Tari belum siap bertemu dengan Tara, ia enggan sekaligus takut untuk bertemu dengannya. Tari memiringkan tubuhnya, matanya tertuju pada pada meja yang berada di sebelah tempat tidurnya, ia melihat ada pulpen dan buku catatan kecil milik Ranu.


Setelah sekian lama tak menulis, rasanya ia butuh menulis. Tari pun mengambil pulpen dan buku itu, sembari ia menunggu kedatangan Lidya.


Dear diary,


Aku sudah lama sekali tidak menulis. Sejak kejadian Ranu itu, aku tidak sanggup lagi menulis atau menonton film Finding Nemo, semuanya terasa menyakitkan bagiku. Terakhir kali aku menulis saat usiaku delapan belas tahun, tapi kini usiaku 27 tahun. Ayahku sudah meninggal, aku sudah lulus S2, dan aku sudah berhasil mewujudkan mimpiku memiliki cafe pinggir pantai. Semua tujuan hidupku sudah tercapai. Horeee!!


Aku juga sudah menikah, namun bukan dengan Ranu, melainkan dengan Tara.


Kami punya kebiasaan unik, yaitu bermain kejujuran. Dimana kita harus mengatakan hal yang sejujurnya tentang apa yang kita pikirkan dan rasakan yang belum pernah di ketahui oleh orang lain.


Dan inilah kejujuranku...


Aku kini merasa berada di fase berduka, dan rasa sakit yang menggunung dalam hatiku. Aku kehilangan sahabat, kekasih, suami, dan pegangan hidupku. Tapi perasaan berduka yang aku rasakan ini berbeda, karena adanya kehadiran emosi yang biasanya tidak mengikuti kematian yang sesungguhnya.


Kebencian.


Aku sangat marah dan benci padanya, namun di tengah gelombang kebencian yang aku rasakan terselip pikiran 'Harusnya aku memberitahu soal tato di tubuhku pada Tara, harusnya aku tidak menyimpan barang-barang pemberian Ranu, termasuk buku harianku.' Pembenaran seperti itulah bagian terberat dari kejadian ini, karena sedikit demi sedikit menggoyahkan kekuatanku untuk pergi darinya.


Mungkin pembenaran ini lah yang melintas dalam benak bunda, saat dulu ayah memukulinya. Atau mungkin juga karena bunda mencemaskan banyak hal seperti: kestabilan financial, tidak memiliki modal untuk memberi tempat tinggal dan sekolah yang layak untukku, tidak ingin menjauhkanku dari ayah karena aku butuh figur seorang ayah. Aku yakin pembenaran ini lah yang menguatkan bunda untuk tetap bertahan bersama ayah.


Kini ada manusia baru kandunganku yang kami hasilkan bersama, dan apa pun pilihan yang akan aku ambil nanti (Bertahan atau berpisah) keduanya bukan pilihan yang kuharapkan untuk anakku. Tumbuh di keluarga broken home atau keluarga yang penuh kekerasan, yang jelas aku sudah mengecewakan anakku.


Dia Tarisma Jingga.


Saat Lidya masuk, Tari sudah menyelesaikan paragraf terakhirnya. "Selamat pagi calon kakak ipar," sapanya.