Enough

Enough
Chapter 52



Dua minggu kemudian


Meski telah mengantongi dukungan keluarga dan bukti berupa CCTV yang diberikan ibu mertuanya, tak lantas membuat Tari melaporkan Tara kepada pihak yang berwajib, ia masih bimbang memikirkan hal tersebut.


"Sayang, kok pagi-pagi sudah melamun?" ucap Surinala, membuyarkan lamunan Tari. "Ayo dong di habiskan sarapannya." ia menuangkan susu ke gelas putrinya.


"Hari ini bunda ada meeting, kamu tidak apa-apa kan sendirian di rumah?"


Sejak keluar dari rumah sakit, Tari tinggal di kediaman ibundanya, ia tak berani kembali ke apartement Tara, ia juga tak mau tinggal di apatementnya karena mengingatkannya pada kejadian di tangga darurat, yang membuatnya kembali sedih. Untuk saat ini tempat ternyaman baginya adalah kediaman bundanya.


Tari meminum susu yang berikan oleh bundanya. "Enggak apa-apa kok, bund. Tari juga hari ini mulai meeting via zoom."


"Ya sudah tapi jangan capek-capek ya, kamu masih harus banyak istirahat." Surinala menyambar tasnya kemudian ia mencium kedua pipi Tari barulah ia pergi.


Lima belas menit setelah Surinala pergi, Tari kembali mendengar suara mobil masuk ke halaman depan rumahnya, ia berfikir jika bundanya kembali pulang, lantaran ada satu berkas yang tertinggal di meja makan.


Tari pun mengambil berkas tersebut, kemudian ia berlari ke depan. Alangkah terkejutnya Tari, ketika mengetahui ternyata bukan bundanya yang datang, melainkan Tara.


Tari mencoba menarik crop top yang di kenakannya untuk menutup perutnya yang mulai terlihat membesar. Meski usia kandungannya baru menginjak 8 minggu, namun karena na*su makan yang tinggi, akibat makanan yang rutin Ranu kirimkan untuknya, membuat berat badan Tari kian bertambah banyak.


Usaha Tari untuk menutup perutnya sia-sia, Tara sudah memandangi perutnya lekat-lekat.


Tara.


Tara ada di sini!


Jantung Tari mulai berdegup kencang menghantam dadanya. Jantunganya mulai berdebar karena takut padanya, karena membencinya, dan karena merindukannya.


Pandangan Tara perlahan merayap dari perut ke wajah Tari. Ekspresi sakit hati melingkupinya, seolah Tari baru saja mengkhianati dan menusuknya. Ia menutup pintu mobil, dan berjalan ke arah Tari. "Tari."


Tari terpaku, satu tangan di perutnya seolah ia sedang melindungi buah hatinya.


"Aku tidak akan menyakitimu, Tari. Aku hanya ingin bicara denganmu." Tara semakin mendekat. Begitu tepat di hadapan Tari, ia meminta izin untuk memegang perutnya. Tari mengangguk kecil.


Tara maju satu langkah, kemudian meletakan tangannya di perut Tari sembari menatap perut Tari.


Tari memejamkan matanya, ia merasakan hangat tangan Tara yang mengelus lembut perutnya. Meski kebencian terhadap suaminya menggunung di hati Tari, namun bukan berarti rasa cinta itu sudah tidak ada lagi. Hanya karena seseorang menyakitimu, bukan berarti kau lantas bisa langsung berhenti mencintainya begitu saja.


"Caira yang memberi tahuku, jika kau tengah mengandung buah hati kita." Tara melepaskan tangan dari perut Tari, dan Tari membuka matanya kembali.


Tari sulit menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini, inilah yang di inginkan seorang ibu untuk anaknya, melihat bapak dari anaknya mencurahkan kasih sayangnya kepada anak dalam kandungannya.


Tak peduli seberapaun kebencian yang ia pendam, tangan Tari terulur mengelus rambut Tara, sementara Tara terus memeluk tubuhnya. Sebagian dari diri Tari ingin menjerit dan melaporkan Tara pada polisi atas tindakannya, sebagian lagi, ia merasa iba pada bocah laki-laki yang tak sengaja menembakan pistol ke kepala kakaknya hingga tewas, dan mengakibatkan jiwanya terganggu hingga dewasa. Sebagian dari diri Tari berharap bisa pergi dari kehidupan Tara dan tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, namun sebagian lagi ia ingin memberi maaf.


Tara melepas lengan yang melingkar di pinggang Tari, ia berdiri kembali di hadapan Tari. "Bisa kita duduk sebentar?" Tara melirik ke arah kursi di teras.


Tari mengangguk, ia berjalan ke arah tempat duduk, di ikuti oleh Tara dari belakang.


"Mau bermain kejujuran?" tanya Tari, ia menggeser sedikit posisinya agar lebih nyaman.


Tara mengangguk. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Tari," ucapnya dengan bingung.


"Bagaimana jika kamu mulai dengan, 'Aku minta maaf karena telah menyakitimu.'" Tari berdiri, kemarahan, dan kebencian meluap dari dalam dirinya. "Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya tubuh dan hatiku atas apa yang telah kau lakukan? aku hampir tewas karena gegar otak kehabisan darah. Kamu tidak tahu bagaimana takutnya aku akan tewas di tangan pria yang aku cintai? Kau benar-benar jahat Tara!"


Tari mengusap air mata yang perlahan menetes di wajahnya, ia sungguh tak sanggup menatap Tara.


"Tari," ujarnya. "Aku tidak bermaksud..."


"Diam!" bentak Tari. "Aku belum selesai," ucapnya dengan tegas.


"Ya, aku masih menyimpan kotak musik, figur Dory dan Marlin pemberian Ranu, aku juga masih menyimpan buku diaryku, dan aku tidak pernah memberitahumu soal tato di leherku, karena Ranu adalah bagian terpenting dalam hidupku yang tak bisa aku hilangkan begitu saja. Meski aku masih menyimpan semua itu, tapi aku tidak pernah berkomunikasi dan berhubungan dengannya. Aku sadar aku istrimu dan aku mencintaimu, aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Tapi kenapa menghancurkan cinta yang kuberi padamu? Aku benci kamu Tara. Dasar pria bajing*n!!!


Tari mengatur nafasnya, sembari ia kembali duduk. "Sekarang giliranmu!"


Tara beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Tari, kemudian berlutut di hadapannya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Tari. "Kejujuranku tak akan pernah bisa menarik kembali perbuatanku padamu, dan aku tahu kau tidak akan percaya lagi jika aku kembali berjanji padamu," ucapnya lirih.


"Tari, kau adalah duniaku. Saat aku terbangun di pagi harinya, kau sudah tidak ada di sampingku, yang ada hanya omelan dan makian dari kedua orang tuaaku. Aku datang ke sini untuk memberitahumu, betapa menyesalnya aku. Hari ini aku akan menyerahkan diri ke kantor polisi sebagai bentuk rasa tanggung jawab atas perbuatanku. Maaf jika aku sedikit terlambat, karena selama dua minggu kemarin aku ke Riau, menyelesaikan pekerjaanku. Dan kini aku siap untuk bertanggung jawab."


Tara mengelus perut Tari dengan lembut. "Tari, ada bagian dari diriku tumbuh di rahimu, aku sangat mencintai bayi ini melebihi apa pun di dunia ini," tangis Tara pecah, ia memeluk pinggang Tari dengan erat. "Tolong jangan ambil ini dariku. Aku mohon, Tari."


Suara isak tangis Tara menggoyahkan hati Tari. Tara mendaratkan bibirnya di perut Tari. "Kumohon Tari. Aku mencintai kalian berdua. Bantu aku!! Aku akan bertanggung jawab, tapi jangan tinggalkan aku."


Tara berdiri, kemudian merengkuh Tari dalam pelukan hangatnya. Tari ingat bagaimana pelukan Tara bisa menyembuhkan rasa sakit yang di perbuatnya, bagaimana tubuh suaminya memiliki kelembutan yang selalu Tari dambakan, perlahan Tari membalas pelukan suaminya.


Saat mereka berpelukan, dari kejauhan Ranu melihatnya, matanya tertuju pada tangan Tari melingkar di pinggang Tara.