Enough

Enough
Chapter 53



Tara melepaskan pelukannya, ia kemudian mengambil dompet dari kantongnya. "Pulanglah, Tari. Apartement itu adalah milikmu! Biaya listrik, air, gas, dan internet akan langsung di debit dari rekeningku setiap bulannya, kamu tidak perlu membayarnya." Tara memberikan acess card pintu masuk unit apartemennya dan memberikan kartu kredit, serta kartu debitnya. "Pakailah, untuk memenuhi semua kebetuhanmu dan anak kita. Aku juga sudah mencarikan dokter kandungan dan doula terbaik di Jakarta, nanti mereka yang akan menghubungimu."


Tara mengecup kening Tari dengan lembut. "Aku mencintaimu, Tari." Ia pun mulai berjalan keluar halaman kediaman Surinala.


"Tunggu," panggil Tari.


Tara setengah membalik badan, ia memandangi Tara dengan penuh tekad. "Andai saja bayi ini bukan anakmu, dan sampai sekarang aku masih berharap jika bayi ini bukan bagian dari dirimu," ucap Tari, ia berharap kalimat itu bisa sedikit menyakiti hati Tara.


Namun Tara tersenyum."Ya aku mengerti, tapi aku malah sangat bersyukur kau mengandung anak kita." Tara kembali melangkah menuju mobilnya dan pergi dari kediaman orangtua Tari.


Tari menghela nafas beratnya, ia kembali duduk sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia terkejut saat ada seorang bocah perempuan berdiri di hadapannya. "Dengan kak Tari?" tanyanya.


Seketika Tari menurunkan tangannya. "Ia, kamu siapa? Dan ada perlu apa?"


Anak kecil itu mengulurkan sebuah paper bag besar kepada Tari "Aku hanya ingin mengantarkan titipan dari om, yang tadi berdiri di depan rumah kak Tari."


"Om? Siapa?" tanya Tari bingung.


Bocah perempuan itu menggeleng. "Aku tidak tahu, aku pergi dulu ya kak." ia berbalik dan pergi.


"Tung..." belum sempat Tari memintanya untuk kembali, bocah itu ia berlari meninggalkan kediaman Tari.


Dengan rasa penasaran Tari membuka paper bag pemberian bocah tadi, ia melihat ada banyak makanan, salah satunya cookies yang sama persisi seperti yang pernah Ranu buatkan untuknya sembilan tahun lalu.


Kemudian Tari meraih sebuah kartu ucapan yang terselip di antara toples dan tempat makan yang terdapat di dalamnya, ia pun bergegas membukanya.


Tari, aku pamit menyelesaikan pekerjaanku di London. Kabari aku jika kamu membutuhkan aku, aku akan selalu ada untukmu.


Tari, di masa depan... Jika ada keajaiban yang membuatmu ingin jatuh cinta lagi... Aku mohon jatuh cintalah padaku. Kamu masih jadi tokoh utama yang paling aku cintai dalam hidupku, selamanya.


Ranu.


Ranu!


Tari menaruh paper bag dan kartu ucapan di atas meja, kemudian ia berlari keluar pagar untuk mencari Ranu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri di sekitaran jalan depan kediaman orang tuanya, namun ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan Ranu.


Hingga bunyi suara klakson mobil, membuatnya terkejut dan langsung menoleh ke arah mobil yang berada tepat di belakangnya.


"Tari, kamu kenapa sayang?" Surinala keluar dari mobil dan menghapiri putrinya.


Tari menggeleng, matanya masih bergerilya mencari keberadaan Ranu. "Ya sudah kita masuk yuk." Surinala membimbing putrinya masuk ke kediamnnya kemudian ia kembali ke mobilnya, memarkirkan di garasi, barulah Surinala ia menghampiri Tari di ruang tamu.


Surinala melihat paperbag berisi makanan ada di atas meja. "Jadi Ranu sudah berpamitan padamu?" tanyanya.


"Tadi pagi Ranu menghubungi bunda. Dia bilang mau kemari untuk berpamitan padamu, dia harus segera kembali ke Eropa menyelesaikan pekerjaannya, tapi ia akan segera kembali lagi ke sini setelah semua outstanding pekerjaannya selesai. Ia juga tadi menitipkanmu pada bunda."


'Ranu kemari? Apa Ranu melihatku bersama Tara sehingga, ia tidak jadi menemuiku?' batin Tari.


Surinala meraih tangan Tari dan menggenggamnya. "Oh iya, tadi Caira juga menghubungi bunda, dia bilang jika hari Tara akan menyerahkan diri ke polisi. Apa kamu sudah tahu?"


Tari mengangguk, ia kemudian menceritakan kedatangan Tara tadi. Surinala merengkuh tubuh putrinya. "Jadilah berani dan percaya diri, bunda akan mendukung apa pun keputusanmu sayang," ucapnya.



Dua bulan kemudian


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan persidangan, Tara di jatuhi hukuman 2 (dua) tahun, 1 (satu) bulan penjara, serta denda sebesar Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).


Selesai sidang Tara menghampiri Tari, dan memeluknya. "Aku mohon sering-seringlah datang berkunjung, jangan pisahkan aku dengannya!" bisik Tara. "Kalian adalah duniaku, aku begitu mencintai kalian." ia mengecup kedua pipi Tari, kemudian berlututu, mendaratkan kecupan di perut Tari. Tara banyak berbicara dengan calon buah hatinya, yang kini sudah mulai bisa merespon dengan tendangan-tendangan kecil.


Rasa sesak menjalar di dada Tari, ia merasa seolah dirinya sangat jahat kepada buah hatinya karena telah merenggut haknya untuk bisa selalu menerima cinta dan perhatian dari daddynya.


Ya sejak awal Tara ingin menyerahkan diri kepada polisi, Tari sama sekali tak berusaha mencegahnya, hingga kin Tari pun belum bisa memafkan Tara.


Tara kembali berdiri, dan mengelus lengan Tari. "Aku masuk dulu ya, jaga dirimu dan anak kita baik-baik."


"Mas Tara tidak perlu khawatir. Aku dan mas Gala akan selalu menjaga Tari, hingga mas keluar," ucap Caira, dengan suara yang bergetar menahan tangis. Meski sedari awal ia mendukung penuh keputusan kakaknya untuk bertanggung jawab atas apa yang telah di perbuat kepada Tari, Caira tetap sedih dan merasa kehilangan kakaknya.


Gala merangkul pundak dan mengelus pundak Caira. "Ini sudah jalan yang terbaik, ayo kita pulang."


Caira menganguk, ia menggandeng tangan Tari keluar ruang persidangan. "Kapan kamu kembali ke apartement? Aku rindu sekali padamu," ucap Caira.


Tari mengangkat bahunya. "Entahlah aku masih belum siap untuk kembali ke apartement, tapi aku janji aku akan sering mengunjungimu."


Sampai saat ini Tari masih belum bisa melupakan kejadian malam yang mencekam itu, sehingga ia masih belum sanggup untuk menginjakan kakinya di unit apartementnya, meski Tara sudah memberinya acsess card serta membayar seluruh fasiltas apartementnya.


"Mau pulang bareng?" Gala menawari Tari untuk pulang bersamanya.


Tari menggeleng. "Aku bawa mobil." ia mencondongkan tubuhnya memeluk dan mencium Caira. "Aku duluan ya."


"Hati-hati, Tari. Kabari aku jika kau sudah sampai." Caira melambaikan tangannya ke arah Tari.


Tari tersenyum dan mengangguk. "Bye," ia pun melambaikan tangannya ke arah Gala dan Caira, kemudian barulah ia masuk ke mobilnya.