
Tari memejamkan matanya, ia merasakan sakit di perutnya. "Awww... Sepertinya aku sedang kontraksi."
Wajah Tara seketika berubah menjadi panik. "Kamu mau melahirkan?"
"Entahlah, sekarang sudah hilang sakitnya." ucapnya santai. "Aku pulang dulu ya, aku akan datang di kunjungan berikutnya. Mungkin setelah melahirkan." ia meraih tangan Tara dan meletakannya di perutnya.
Tara tersenyum mengelus perut istrinya dengan lembut. "Terima kasih, kau telah mengandung anak kita. Terima kasih kau telah mengizinkan aku untuk memiliki moment bersama anak kita, meski sangat terbatas tapi aku sangat bersyukur," ucap Tara dengan tulus.
Tari mengerang, terbungkuk ke depan. "Aw..." ia kembali menjerit sembari merem*s tangan Tara.
Moment indah itu berakhir.
"Apa kau ke sini sendirian?" tanya Tara panik, ia kemudian berteriak memanggil petugas sembari memapah tubuh istrinya keluar ruangan.
Tari menggeleng. "Aku kemari bersama Caira dan Gala, mereka menunggu di mobil."
Para petugas pun datang, Tara meminta izin untuk mengantar istrinya hingga ke parkiran, namun petugas melarangnya, tangan Tara sempat di tarik menjauh dari istrinya, namun tetap tidak melepaskan istrinya.
"Aku mohon hanya sampai parkiran saja, aku tidak akan kabur," pintanya dengan wajah memelas. Di tengah perdebatannya dengan petugas, Tari kembari meringis kesakitan. "Aw...."
Air ketuban mengalir deras di kaki Tari, tanpa pikir panjang Tara langsung membopong tubuh istrinya dan berjalan ke arah parkiran. " Bertahanlah sayang!" ia mempercepat langkahnya, dan ia sama sekali tidak memperdulikan petugas yang mengejarnya.
Di parkiran Caira dan Gala nampak terkejut melihat Tara membopong Tari, ia langsung membuka pintu mobil. "Mas Tara ada apa dengan tari?"
"Tari mau melahirkan, tolong cepat antarkan istriku ke rumah sakit." Tara menurunkan tubuh istrinya di depan pintu mobil Gala, ia kembali merengkuh tubuh istrinya. "Maaf aku tidak bisa menemanimu," air mata Tara mengalir deras di pipinya.
Tari merangkum wajah Tara dan menghapus air matanya. "Aku akan baik-baik saja, kami akan segera kembali menjengukmu." ia masuk kedalam mobil dan pergi dari lapas. Sementara Tara langsung di tarik masuk ke lapas oleh petugas.
Di perjalanan menuju rumah sakit Caira menghubungi mommynya yang kebetulan sedang berada di Jakarta menanti kelahiran menantu kesayangannya, tak lupa Caira pun menghubungi Surinala, dan juga doula pendamping selama Tari menjalani masa kehamilannya.
Caira menggenggam erat tangan Tari. "Sabar ya, sebentar lagi kita sampai!"
Tiba di rumah sakit, Surinala, doula, dan tim medis sudah menunggunya. Tim medis membaringkan tubuh Tari di atas brankar dan membawanya ke ruang tindakan. Saat dokter memeriksanya, ternyata Tari sudah pembukaan sembilan.
Tari merem*s tangan ibundanya setiap kali ia mengejan. "Kamu pasti bisa, sayang," ucap Surinala terus memberikan semangat kepada putrinya.Tak hanya mendapat semangat dari Surinala, Tari pun mendapat semangat dari sang doula yang turut mendampingi proses persalinannya.
"Kepalanya hampir keluar, " ucap sang dokter. "Hanya tinggal mengejan beberapa kali lagi."
Tari kembali mengejan sesuai dengan instruksi dokter. Rasa sakit, napas yang tersenggal, kegelisahan, kebahagiaan, kesedihan, serta tekanan yang luar biasa menyatu. Kemudian, "Perempuan!" seru Surinala. "Tari, kau punya anak perempuan!"
Tari membuka mata dan dokter mengangkat bayinya. Tari hanya bisa melihat siluetnya, karena tatapannya terhalang oleh air mata yang menggenangi matanya. Dokter memotong tali pusar bayinya kemudian sang perawat membersihkannya, barulah membaringkannya di dada Tari.
Tari memandangi wajah mungil putrinya yang tengah berusaha untuk membuka matanya, ia merasa itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan, terlebih saat bayi mungilnya menguap, Tari semakin jatuh hati di buatnya.
'Tara, seandainya kau ada di sini,' batinya berbisik lirih.
Setelah melewati pemeriksaan awal, barulah Tari dan bayinya di pindahkan ke ruang rawat inap. Caira hampir melompat girang melihat bayi mungil Tari, ia sudah tak sabar menunggu giliran menggendong. "Mommy, ayo berikan bayinya padaku," pintanya.
Dengan hati-hati Agatha menaruh cucunya di tangan putri bungsunya. "Ya Tuhan, Mas Gala ayo kita buat yang secantik ini."
Gala mengelus kepala istrinya. "Ayo nanti malam kita buat adik untuk Sky," ucapnya dengan tatapan menggoda istrinya.
Caira beralih menatap Tari. "Tari, apa kau sudah punya nama untuk bayi cantikmu?" tanya Caira.
Tari mengangguk. "Sebetulnya aku sudah punya, tapi aku ingin meminta persetujuan Tara, karena bagaimana pun dia adalah ayah dari bayi kami."
Agatha mendekat, dan memeluk menantunya. "Terima kasih sayang. Meski Tara telah menyakitimu, namun kau tetap melibatkan Tara di setiap keputusan mengenai bayi kalian."
"Aku masih sangat menghormatinya sebagai ayah dari anakku, tapi aku tidak bisa berjanji dan memberikan harapan apa pun mengenai hubunganku selanjutnya bersamanya," ucap Tari.
Agatha mengelus punggung Tari dengan lembut. "Mommy mengerti sayang, apa pun nanti keputusanmu, kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami."
Caira menyerahkan bayi Tari kepada Surinala, kemudian ia mendekat memeluk Tari. "Ya, kami akan selalu menyanyangimu dan bayimu. Kita masih saudara, Tari." ia menitikan air matanya. Berat bagi Caira jika nantinya Tari akan berpisah dengan kakaknya, namun di satu sisi ia menginginkan Tari bahagia.