
Satu Minggu Kemudian.
Tari dan bayinya mengunjungi Tara di lapas, dengan wajah yang berbinar-binar, Tara berlari menghampiri Tari dan bayinya di ruang kunjungan, ia langsung meminta izin kepada Tari untuk menggendong bayinya.
"Tentu saja," Tari mengangguk sembari membuka penutup stroler.
Tara menunduk, mengambil bayinya dengan hati-hati. Tara masih ingat jelas, bagaimana ia menggendong Sky, sehingga ketika menggendong putrinya ia sudah tidak kaku lagi.
Tara tak hentinya memandangi wajah cantik bayi mungilnya. "Tari," bisiknya. "Mau bermain kejujuran?"
Tari mengangguk.
"Bayi kita jauh lebih menggemaskan di bandingkan dengan bayi Caira dan Gala."
Tari tertawa. "Tidak boleh begitu, bayi mereka sangat tampan."
"Aku hanya bercanda," bisik Tara.
Tari tahu persis apa yang Tara maksud. Syk bayi yang tampan dan menggemaskan, namun tak akan ada yang bisa menandingi betapa cantik dan menggemaskannya putri mereka. Ya semua ayah memang akan merasa jika putri merekalah yang paling cantik dan menggemaskan di dunia.
"Sudah kamu beri nama?" tanya Tara penasaran.
Tari terdiam sejenak, kemudian. "Bolehkah aku menamainya seperti kakak laki-lakimu?" tanya Tari ragu-ragu. Ia tak bermaksud mengungkit masa lalu Tara, hanya saja Tari memiliki harapan jika ia menamai anaknya dengan nama yang sama dengan kakak laki-laki Tara, hal itu bisa sedikit mengobati hati Tara yang terluka atas peristiwa penembakan kakanya.
Tara melirik Tari. "Angkasa?" tanyanya.
Tari mengangguk. "Kita tambahkan nama depannya agar lebih cantik. Kerlip Bintang Di Angkasa. Bagaimana?"
Tara tersenyum bangga dan menunduk memandangi bayinya. "Itu nama yang sempurna untukmu," ia mengecup kening putrinya.
Tari mengamati suaminya menggendong anak mereka, sungguh indah melihat suaminya berinteraksi dengan putrinya, ia bisa melihat betapa besar kasih sayang yang Tara miliki untuk anaknya, meski selama dalam kandungan Tara jarang berinteraksi dengan anaknya karena harus terpisah oleh tembok penjara.
Tari juga bisa melihat, jika Tara bersedia melakukan apa pun demi melindungi anaknya. Melihat hal tersebut, akhirnya Tari bisa membuat keputusan akan hubungannya bersama Tara untuk kebaikan keluarga kecilnya.
Bagi Tari, Tara sungguh luar biasa. Tara tampan, cerdas, berkarisma, gigih, sukses, penyayang dan bertanggung jawab. Ia merasa ayahnya juga memiliki sifat yang hampir sama dengan suaminya. Ayahnya tampan, cerdas, berkarisma, gigih, sukses, dan penyayang. Hal itu bisa Tari rasakan saat, ia mengobrol dan menghabiskan waktu bersama ayahnya, namun sayangnya rasa benci Tari jauh lebih besar di bandingkan rasa sayang yang sudah ayahnya berikan padanya.
Menyaksikan ayahnya menyiksa bundanya. Dalam sekejap dapat melunturkan segalanya yang telah ayahnya berikan kepadanya.
Tari menatap putrinya, kemudian menatap suaminya. Ia membulatkan tekadnya untuk membuat keputusan yang terbaik untuk buah hatinya.
"Tara."
Tara meliriknya sembari tersenyum. Melihat senyuman manisnya, membuat Tari tertegun untuk beberapa saat.
"Aku mau kita cerai."
Tara terkejut mendengar ucapan Tari, ia meringis dan kembali menunduk memandangi putri kecilnya. "Tari," ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Please jangan tinggalin aku." ucap Tara dengan suara mengiba.
Perlahan tangisnya mulai pecah. "Aku mohon, Tari. Satu kali ini saja. Aku mohon."
Tari pun menitikan air matanya, karena ternyata bukan hanya Tara yang terluka, namun dirinya pun sebenaranya juga terluka. "Tara," ucapnya dengan lembut.
"Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari nanti, gadis kecil yang kamu gendong ini mengadu padamu. 'Daddy, tadi pacarku memukulku.' Apa yang akan kamu katakan padanya, Tara?"
Tara menarik putrinya ke dadanya, dan membenamkan wajah di selimut anaknya. "Cukup. Hentikan, Tari!" pintanya.
Tari beranjak dari tempat duduknya, mendekat ke arah Tara dan mengelus punggung putrinya, sembari meminta Tara untuk menatap matanya. "Bagaimana jika putri kita mengadu padamu. 'Daddy, suamiku mendorongku sampai terjatuh di tangga darurat, namun ia mengatakan bahwa itu kecelakaan dan suamiku memintaku untuk mengerti kondisi trauma masa lalunya. Apa yang harusku perbuat, daddy?'"
Tubuh Tara gemetar, air matanya mengalir deras di wajahnya, sembari memeluk putrinya dengan erat di dadanya. Tari pun ikut menangis, namun ia tetap terus berbicara demi anaknya.
"Bagaimana jika...." tangis Tari pecah. Ia menghapus air matanya, kemudian berkata. "Bagaimana jika putri kita mengadu padamu. 'Daddy suamiku memperk*saku dari bok*ng hingga bok*ngku robek dan berdarah, padahal aku sudah memohon padanya supaya berhenti, tapi dia malah membenturkan kepalaku di penyanggah tempat tidur hingga kepalaku bocor. Lalu dua minggu kemudian ia menyerahkan diri ke polisi, dan ia kembali memohon dan bersumpah tak akan pernah melakukannya lagi. Apa yang seharusnya aku perbuat daddy?'"
Tara menciumi kening putrinya berulang kali, air matanya membanjiri wajahnya.
"Apa yang akan kau katakan padanya, Tara? Beritahu aku! Aku harus tahu apa yang akan kau katakan dan apa yang akan kau lakukan, jika pria yang di cintai oleh putri kita dengan segenap hatinya, justru malah menyakitinya."
Isak tangis terdengar dari mulut Tara, ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian merangkul Tari dengan satu tangannya. "Aku akan memintanya untuk meninggalkan pria itu," ucapnya di sela isak tangisnya.
Tara mendekap erat istri dan anaknya. "Aku akan mengatakan bahwa dia sangat berharga lebih dari apa pun di dunia ini, dan aku juga akan memohon agar dia tidak kembali meski pria itu amat mencintainya."
Mereka berdua hanyut dalam sedu sedan bercampur linangan air mata, mereka memeluk satu sama lain dan memeluk putri kecil mereka.
Tara menyerahkan putrinya kembali ke tangan Tari, kemudian ia menghapus air matanya sembari mengatur nafasnya. Ia menunjuk pintu keluar, memberitahu Tari bahwa jam berkunjung sudah selesai dan ia harus kembali masuk.
"Aku tidak akan memintamu untuk kembali lagi padaku, Tari. Jadi layangkan saja gugatanmu ke pengadilan, aku akan mengikuti semuanya." Tara berjalan ke pintu keluar, ia memandangi putri kecilnya sebelum ia menutup pintu dan kembali ke sel.
Tari menghembuskan nafas beratnya, ia sadar apa yang ia lakukan saat ini akan mengecewakan putrinya karena ia tidak bisa memberikan rumah yang sesungguhnya, di mana seorang anak di besarkan bersama orangtua kandung yang menyayanginya.
Namun di sisi lain Tari tak ingin putrinya hidup seperti dirinya, di mana ia harus melihat ayahnya dalam keadaan terburuknya, ketika amarahnya meledak kemudian sampai menyiksa bundanya. Karena nantinya mau sebanyak apa pun Tara membuat kenangan indah bersama putrinya, yang akan melekat dalam benak putrinya hanyalah kebencian dan pengalaman buruknya.
Bundanya sudah mengalami hal tersebut, kini dirinya pun mengalami hal yang sama. Ia akan merasa terkutuk jika membiarkan putrinya mengalami hal yang sama juga. Tari mengecup kening putrinya, seraya berkata. "Semuanya cukup sampai di sini. ENOUGH!"
...-SELESAI-...
Hi readers,
Terima kasih telah membaca 56 bab Novel Enough, tapi tunggu dulu jangan buru-buru di unfavorite, karena besok masih ada1 bab untuk epilog. Seperti biasanya, aku ingin meminta kalian menulis di kolom komentar, kesan yang di dapat setelah membaca 56 bab novel Enough.
Sekali lagi terima kasih, untuk kalian semua yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca tulisan ini. Walaupun aku bukan penulis yang terkenal di platform ini, tapi aku berharap siapa pun yang membaca ini, semoga tulisan ini bukan hanya memberikan hiburan tapi juga memberikan manfaat.
Salam sayang
Irma💜