Enough

Enough
Chapter 38



Ayah mendengarku di dalam kamar tengah berbicara dengan seseorang sehingga tiba-tiba saja beliau masuk dan melihat Ranu berada di tempat tidur bersamaku. Ayah langsung marah dan memaki Ranu, belum pernah aku melihat ayah semurka itu.


Naasnya Ranu sama sekali tidak siap, saat ayahku menghajar Ranu dengan tongkat kasti. Aku tidak pernah melupakan kejadian itu seumur hidup, bunyi tulang patah dan tubuh Ranu yang tak berdaya bersimbah darah menusuk di sela jeritanku. Di pukulan yang berikutnya aku menyelinap memeluk Ranu dengan erat untuk melindunginya.


Setelah itu semuanya gelap, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, karena saat tersadar aku sudah berada di rumah sakit Singapore.


Tak ada seorang pun yang mau memberitahuku di mana Ranu, apakah ia baik-baik saja dan bisa kembali ke Eropa atau dia sudah tidak ada.


Jika ada yang mengatakan uang bisa membeli segalanya, aku sangat setuju dengan kalimat itu, karena setelah kejadian itu ayah sama sekali tidak di tahan atas perbuatannya. Ia justru banyak menerima pujian atas aksi heroiknya menyelamatkan putrinya tercintanya yang hampir saja di perkosa oleh gelandangan penghuni rumah tua di pemukiman kumuh belakang komplek tempat tinggal kami.


Ayah bilang aku telah mempermalukan keluarga, mencoreng citra dirinya. Ayah juga menekanku untuk tidak mengatakan apa pun di media, bahkan ia mengurungku di Singapore dan tidak memperbolehkan aku pulang ke Indonesia selama tiga tahun.


Kurasa aku akan berhenti menulis, karena menulis diary ini mengingatkanku pada Ranu, dan itu semua terlalu menyakitkan.


Tari membalik halaman selanjutnya, tapi kosong. Itu adalah halaman terakhir yang ia tulis di buku diarynya. Sudah bertahun-tahun berlalu sejak kejadian malam itu tapi Tari tak bisa mengusir Ranu dalam benaknya, untuk itulah saat kuliah ia memutuskan untuk membuat tato berbentuk hati di tempat Ranu biasa menciumnya (leher). Bentuk hati yang sama persis dengan pahatan gantungan kunci yang Ranu berikan kepadanya.


Selama bertahun-tahun Tari mencoba mencari Ranu lewat internet, namun tak ada yang ia dapatkan, Ranu menghilang bak di telan bumi dan Tari pun saat kembali ke Jakarta sudah tidak menempati rumah lamanya.


Semuanya terasa semakin jauh, hingga akhirnya Tari melihat Ranu untuk pertama kalinya di restoran Jepang. Tari lega melihat Ranu baik-baik saja, bahkan ia terlihat sehat dan lebih mapan. Tak bisa Tari pungkiri bahwa pertemuannya dengan Ranu membuat hatinya campur aduk, ia harus mengakui bahwa hatinya masih mencintai Ranu.


Tapi banyak hal yang berbeda sekarang, Tari memiliki cafe impiannya, Tari memiliki bunda yang tak bisa ia tinggalkan dan Tari sudah memilih Tara.


Tari beranjak dari tempat tidurnya, ia mengambil kotak musik pemberian Ranu yang selama ini ia simpan di laci mejanya. Tari mengganti baterai pada kotak musik itu dan memajangnya bersama figure Dory dan Marlin, ia melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 21.00 yang artinya Ranu sudah pergi meninggalkan tahan air, dan kembali ke kehidupannya.



TUJUH BULAN KEMUDIAN


"Ya Tuhan, rasanya dadaku sesak sekali," ucap Tari, ia berjongkok di dalam lift kemudian berdiri lagi.


Tara menaruh tangannya di pundak Tari. "Kau akan baik-baik saja, tidak perlu panik begitu."


Tari menggosok-gosokan tangannya yang basah karena keringat dingin. "Aku tidak bisa," ucap Tari. "Semua yang kamu dan Caira ceritakan tentang mommy membuatku gugup setengah mati." Tari membekap mulutnya dengan kedua tangannya "Ya Tuhan, bagaimana jika mommy menanyaiku tentang Yesus atau Alkitab? Aku sama sekali tak pernah membacanya, terakhir kali aku membaca sewaktu aku masih sekolah minggu, aku bahkan lupa kapan terakhir kali ke Gereja."


Tara tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Tari, ia menarik Tari ke dalam pelukannya dan mencium kepala Tari. "Mommy tidak akan membahas soal Yesus atau pun Alkitab. Beliau jauh-jauh datang dari Surabaya, memberanikan diri naik pesawat karena beliau jatuh hati padamu berdasarkan cerita yang aku dan Caira sampaikan. Jadilah dirimu sendiri apa adanya."


"Benarkah?" tanya Tari seakan tak percaya jika orang tua Tara datang ke Jakarta untuk bertemu dirinya, ia mengangguk. "Okay, aku akan jadi diri sendiri."


Pintu litf terbuka, Tara menggandeng Tari keluar, menuju apartemen Caira. Agak sedikit aneh melihat Tara memencet bel, namun memang beberapa bulan belakangan Tara memang lebih sering tidur di kantor atau di apartemen Tari.


Semua pakaian, perlengkapan mandi, bahkan foto buram Tari di rooftop, berada di apartement Tari. "Apa mommy tahu, jika kamu sering menginap di apartemenku?" tanya Tari. "Maksudku, kitakan belum menikah, lalu mommymu orang yang taat beribadah, bagaimana jika beliau menganggapku wanita murahan yang tak beriman?"


Tara hanya mengangguk karena pintu apartement sudah terbuka, dan ibunda Tara sudah berdiri di ambang pintu.


Astaga Tara.


"Maksudku pencuri hatiku," sambungnya.


Agatha menyambut dan memeluk Tari dengan hangat. "Tari!" ucapnya, ia melepaskan pelukannya, kemudian mengamati Tari dari atas ke bawah. "Sayang, ini tidak terlihat seperti pencuri tak beriman, gadis cantik ini adalah malaikat yang selama lima tahun belakangan ini selalu mommy doakan agar segera mendarat di pelukanmu!"


Agatha mengajak Tari masuk ke apartemen dan mengenalkannya kepada suaminya. Tak jauh berbeda dengan Agatha, Keanu pun menyambut Tari dengan hangat. "Kamu sama sekali bukan pencuri tak beriman," ucap Keanu. "Gala lah yang sebenarnya pencuri tak beriman yang membawa putri kesayanganku pergi dari rumah agar kami mau memberinya restu."


Gala tertawa. "Daddy sangat keliru, justru Caira lah yang merengek minta aku menculiknya dan.... Aw...." Gala teriak kesakitan ketika Caira mencubit pahanya.


Melihat candaan Gala dan kehangatan orang tua Tara, membuat segala ketakutan dan ketegangan Tari hilang seketika. Mereka makan malam dengan akrab sambil membicarakan kegiatan harian mereka.


Dua jam kemudian Tari berbaring di kamar tidur Caira, sementara kedua orang tua Tara sudah beristirahat dan Tara serta Gala tengah asik bermain catur di ruang keluarga.


"Ini kepalanya, dan yang ini kakinya," ucap Caira menggeser-geser tangan Tari di perutnya, ia nampak sangat senang menanti tendangan janin dalam kandungan Caira.


"Ini sangat menggemaskan sekali, Caira," ucap Tari.


"Ya sebentar lagi, aku akan menggendong bayi laki-lakiku."


"Aku ingin menggendongnya juga."


"Aku tidak sabar menunggu kmu dan kakakku punya bayi," ucap Caira.


Tari berbaring terlentang, menaruh tangannya di belakang kepala. "Aku tidak tahu apa Tara ingin punya anak atau tidak. Dulu ia pernah berkata tak ingin punya anak, setelah itu kami tidak pernah lagi membahas tentang anak dan pernikahan."


"Mungkin belum," ucap Caira. "Aku yakin suatu saat, kakakku pasti mau. Karena sebelum mengenalmu dia anti sekali menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, namun kini perlahan ia mulai berubah. Aku punya firasat bahwa sebentar lagi akan ada lamaran."


Tari menggulingkan tubuhnya menghadap Caira. "Kami baru berpacaran beberapa bulan, aku tidak ingin memaksanya."


Selain Tari tak ingin memaksa Tara, ia pun merasa terlalu sibuk untuk menyiapkan pesta pernikahan, jadi baginya tak masalah menjalani hubungan yang seperti sekarang ini, asalkan tidak ada keributan besar di antara mereka.


"Tapi jika kakakku ternyata melamarmu bagaimana?"


Tari tertawa. "Jika dia melamarku? Tentu saja langsung aku terima, bahkan aku siap menikah malam ini juga."


Caira tersenyum dan memberi kode kepada Tari, jika Tara sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu mendengarkan semua pembicaraannya. Seketika Tari pun menoleh kebelakang.


Tari melihat Tara bersandar di pintu dengan melipat kedua tangannya, matanya menyipit melihat ke arah Tari. "Tari," ucapnya dengan gagah berani. "Will you marry me tonight?"