
Tari melihat Tara bersandar di pintu dengan melipat kedua tangannya, matanya menyipit melihat ke arah Tari. "Tari," ucapnya dengan tenang gagah berani. "Will you marry me tonight?"
Kata-kata Tara membuat Tari terkejut sekaligus malu, ia menarik batal ke wajahnya menutupi rona merah di pipinya.
"Oh itu manis sekali," ucap Caira. "Ternyata kakakku sangat manis."
Tara merenggut bantal dari wajah Tari. "Ayo kita berangkat!"
Jantung Tari berdegup dengan kencang. "Malam ini juga?"
Tara mengangguk. "Aku cuti sampai satu minggu ke depan karena orang tuaku datang, ayo kita ke Bali dan menikah, bundamu sudah ada di sana, dan orang tuaku besok menyusul."
Tari membekap mulutnya dengan kedua tangannya, ia sangat terkejut jika saat ini bundanya sudah ada di Bali. "Bunda ada di Bali?"
Tara mengangguk. "Beliau yang memilihkan tempat untuk kita menikah," ucap Tara. "Kejujuran. Sebenarnya kedatangan orang tuaku ke Jakarta memang untuk menyaksikan putranya melamarmu." Sembari tersenyum Tara meraih tangan Tari, menariknya hingga berdiri.
"Kamu serius?"
Tara mengelus kepala Tari dengan lembut. "Aku sudah tidak sabar ingin menjadi suamimu, maka dari itu kemarin aku datang ke rumah bunda untuk meminta restu beliau. Karena kebetulan bunda mau ke Bali bersama teman-teman komunitasnya, aku meminta untuk di carikan tempat yang bagus untuk acara lamaran kita. Tapi sepertinya kita akan langsung menikah, aku akan menghubungi bunda nanti."
Caira menendang guling dan beranjak dari tempat tidurnya. "Mas Gala.... Mereka mau menikah," serunya. Dengan girangnya Caira berlari menghampiri suaminya. "Ayo kita berkemas! Kita akan pergi ke Bali malam ini."
Dalam perjalanan menuju Bali, Tara dan Tari banyak membuat kesepakatan yang di antaranya soal anak, mereka berdua sepakat untuk menundanya selama satu atau dua tahun, kemudian Tari meminta pemisahan harta pribadi. Tara menyanggupi nominal uang bulanan, serta semua hadiah yang harus rutin Tara berikan kepada Tari.
Di antara banyaknya hal yang di minta oleh Tari, Tara hanya meminta satu hal kepada Tari. "Jangan pernah membuatku cemburu," ucap Tara. "Kau adalah duniaku, aku tak ingin membaginya dengan siapa pun."
Tari mengangguk, saat mereka mendarat di Bali mereka telah sepakat sepenuhnya dan siap melangkah ke jenjang selanjutnya.
TIGA HARI KEMUDIAN
Tari tak dapat menahan tangis haru bahagianya mendengar janji pernikahan yang di ucapkan oleh Tara, selanjutnya giliran dirinya lah yang mengucapkan janji pernikahan di depan pendeta dengan di saksikan oleh keluarga serta sahabat terdekatnya.
"I Dia Tarisma Jingga take you Btara Langit Xabiru to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness," ucap Tari.
Setelah keduanya mengucapkan janji pernikahan, Tara menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Tari, begitu pun dengan Tari, ia menyematkan cincin pernikahan di jari manis Tara yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Kemudian, Tara mendaratkan kecupan manisnya di kening Tari. Tari masih hampir tak menyangka jika pesta pernikahannya akan di gelar secepat dan semeriah ini. Tara dan Caira mampu mewujudkan wedding dream Tari hanya dalam waktu tiga hari saja, tak hanya mewujudkan wedding dream Tari, Tara pun mengundang seluruh sahabat dekat Tari, serta mendatangkan beberapa penyanyi favorit istrinya.
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you.
Di tengah alunan lagu romantis yang mengalun, Tara dan Tari berdansa dengan romantis. "Have I mentioned today how lucky I am to have you in my life?" bisik Tara. "Aku mencintamu, Tari. Sangat mencintaimu." Tara mengecup bibir istrinya.