
Aku memutar letak loyang seperti yang di instruksikan oleh Ranu, dan ketika semuanya matang, aku mengeluarkannya dari oven.
Aku mengambil satu cookies dan memberikannya pada ayah. Aku benci bersikap manis padanya, rasanya aku telah menyia-nyiakan satu kue buatan Ranu.
"Wow..." komentar ayah. "Ini enak sekali, Tari."
Aku terpaksa mengucapakan terima kasih atas pujian yang di berikan ayah, meskipun kue tersebut bukan aku yang membuatnya, namun aku tidak bisa mengatakan pada ayah jika Ranu-lah yang ternyata membuatnya.
"Cookies ini untuk tugas sekolahku, jadi ayah hanya boleh makan satu," dustaku. Aku menunggu sampai cookies itu tak panas lagi baru kemudian aku masukan ke dalam toples dan bergegas membawanya ke kamar. Aku bahkam tak ingin mencicipi satu pun tanpa Ranu, jadi aku menunggu sampai malam tiba.
"Kenapa tidak kamu makan?" tanya Ranu, "Harusnya kau makan satu saat masih hangat, itu saat yang paling enak." ujarnya.
"Aku tidak ingin makan cookies ini tanpamu," jawabku. Kami duduk di atas tempat tidur sambil bersandar ke dinding dan menyantap cookies itu sampai setengah toples.
Aku mencoba mengambil satu lagi, tapi dia merebut toples itu dan menutupnya, "Jagan makan terlalu banyak nanti kau mual dan tidak menyukai cookies buatanku lagi."
Aku tertawa. "Itu tidak mungkin Ranu."
Ranu meneguk minum lalu berdiri, menghadap tempat tidur. "Aku punya sesuatu untukmu," ucapnya sembari merogoh saku celananya.
"Cookies lagi?" tanyaku.
Ranu tersenyum dan menggeleng, ia kemudian menyodorkan sebuah pahatan kayu mungil, berbentuk hati. Aku mengusapnya dengan ibu jariku, mengamati pahatan hati yang sebetulnya bentuknya kurang simetris. "Kau membuatnya sendiri?"
Ranu mengangguk. "Aku mengukirnya dengan pisau kecil usang yang aku temukan di rumah tua itu." ucapnya. "Kau mau menggunakannya sebagai gangtungan tasmu?"
Tanpa pikir panjang, aku langsung meraih tas ranselku di atas meja belajar dan memberikannya kepada Ranu agar ia memasangkannya. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, pahatan berbentuk hati itu sudah terpasang rapih di tas sekolahku.
Aku tak henti memandangi pahatan kayu itu, sebagai ucapan terima kasihku padanya. Aku tak pernah mencintai sesuatu sebesar ini, tapi kurasa bukan karena gantungan itu, melainkan karena Ranu yang membuatmya.
Aku mendekat dan mencium Ranu sampai ia terbaring di kasur dan aku mendudukinya, kemudian ia mencengkram pinggangku sambil tersenyum lebar.
"Aku janji, suatu saat nanti aku akan membuatkan rumah pohon untukmu." ucapnya, ia menaruh satu tangan di belakang kepalaku dan menggulingkan tubuhku hingga terlentang, kini Ranu yang berada di atas tubuhku, ia mencium bibirku lagi.
Aku menikmatinya, aku tak ingin ia pindah ke Eropa. Aku tahu aku egois, tapi aku takut menyaksikan dia pergi.
Sebelum Tari membuka halaman berikutnya, ia memandangi tas tangan yang biasa ia gunakan sehari-hari. Sejak Ranu memberikan gantungan itu, ia selalu memasangnya di tas yang sering ia gunakan. "Apa sekarang sudah saatnya aku melepasnya?" gumam Tari, ia rasa Ranu pun sudah lupa akan janjinya membuatkannya rumah pohon. Tari menghela nafasnya, kemudian membuka halaman berikutnya.
Malam kian larut, namun orang tuaku baru saja pulang dari acara amal. Ayahku pengusaha real estate dan Co Founder aplikasi donasi terbesar di Indonesia, sehingga mereka harus sering tampil di muka umum seperti menghadiri jamuan makam malam amal.
Sungguh ironis bukan? Karena sebenarnya ayah benci beramal, ia terjun ke dunia itu hanya untuk menjaga citranya saja.
Saat kedua orang tuaku tiba di rumah, Ranu sudah ada di kamarku sejak pukul 20.00 malam. Kami bisa mendengar orang tuaku bertengkar begitu mereka menutup pintu depan. Sebagian percakapan mereka memang terdengar kurang jelas, tapi intinya ayah menuduh bunda genit dengan pria lain.
Aku sangat mengenal bunda, ia tidak mungkin seperti itu, kemungkinam besar adalah pria itu yang mengamati bunda karena bunda memang sangat cantik, dan itu membuat ayah cemburu.
Bahkan aku mendengar ayah menyebut bunda pelac*r, dan kemudian aku mendengar suara pukulan. Aku langsung beranjak dari tempat tidur, namun Ranu melarangku pergi, ia takut aku terluka. Aku bilang padanya, justru itu sangat membantu, kalau aku keluar dan duduk di ruang keluarga maka ayah berhenti marah dan memukul bunda.
Aku tidak tahan mendengar pukulan demi pukulan, sehingga aku tak menghiraukan ucapan Ranu, aku nekat keluar dari kamar dan pergi ke ruang keluarga.
Aku melihat...
Aku melihat ayah menindih bunda.
Mereka di sofa dan tangan ayah mencengkram leher bunda sementara tangan satunya membuka gaun, bunda berusaha memberontak untuk tetap bisa bernafas, sembari memohon agar ayah melepaskannya.
Bukannya melepaskan bunda, ayah justru memukul wajah bunda, ia menyuruh bunda agar diam. Aku takan pernah melupakan kata-kata ayah, ia berkata "Kau ingin di perhatikan? Akan ku beri kau perhatian, dasar pelac*r." Dan saat itulah bunda diam, ia berhenti melawan, dan hanya menangis saat ayah memasukan tubuhnya dengan kasar sambil terus memukulinya.
Aku bergegas menuju dapur dan membuka laci. Aku menyambar pisau daging yang aku temukan. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, aku merasa seolah aku tidak berada dalam tubuhku sendiri. Aku berjalan menuju ruang keluarga sambil menggenggam pisau itu, namun sebelum aku keluar dari dapur dua tangan merangkul pinggangku dan mengangkatku dari belakang. Pisau itu pun terjatuh, namun ayah tak mendengarnya, yang mendengar hanyalah bunda.
Ranu mengangkatku kembali ke kamar, Begitu aku berada di dalam kamar, aku menangis sembari memukulinya, aku berusaha untuk kembali ke ruang keluarga. Tapi Ranu tetap berdiri di depan pintu, ia memeukku dengan erat. "Tari tenanglah."
Ranu mengatakan itu berulangkali dan terus memelukku sampai aku pasrah dan menurutinya. "Ayo kita ke tetangga sebelah untuk meminta bantuan dan menghubungi polisi." ucapnya.
Polisi.
Bunda pernah memperingatkanku agar jangan pernah menelepon polisi, ia bilang itu bisa membahayakan karir ayah. Tapi sejujurnya aku tidak peduli. Aku tidak peduli jika ayah seorang Co Founder aplikasi donasi terbesar di Indonesia yang di agung-agungkan tapi mereka tidak tahu sisi buruknya. Satu-satunya yang aku pedulikan adalah keselamatan bunda.
Biarkan saja ayah di depak dari jabatannya, aku tidak takut menjadi miskin, toh sebentar lagi aku akan lulus dan aku bisa bekerja.
Aku memakai jaket dan mengikat rambutku, saat aku hendak keluar dari jendela, Ranu menatap pintu kamarku.
Puntunya membuka.