Enough

Enough
Chapter 23



Tari berdiri di sisi sebelah kanan Caira mengamatinya yang tengah menumis bawang bombay dan bawang putih. Ia jadi penasaran, kalau Caira bisa membayar orang untuk melakukan segalanya kenapa dia mau bekerja di cafenya. Tempat dimana dia harus memasak, mengurus aneka bumbu yang bisa mengotori tangan mulusnya.


"Kenapa kamu bekerja di sini?" tanya Tari.


Caira melirik Tari dan tersenyum. "Karena aku suka padamu dan aku suka memasak," jawabnya. Tapi Tari langsung menyadari jika senyuman itu lenyap sepenuhnya tepat sebelum Caira memasukan daging ayam ke dalam wajannya, kemudian mengaduknya.


Tari masih memperhatikan dengan penasaran, sampai ayam yang Caira aduk berubah warna, kemudian ia menambahkan jamur champignon.


"Caira, kenapa kau bekerja di sini?" tanya Tari kembali.


Caira tak menjawab, ia menyelesaikan masaknya dengan memasukan bumbu-bumbu lainnya seperti: kecap manis, kecap asin, saus tiram, merica dan garam. Terakhir Caira menuang larutan maizena, dan mengaduk hingga kental lalu ia mematikan kompor.


Caira menghela nafas perlahan seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus jujur pada Tari. Ia kembali pada makanannya, Caira menaruh mie di atas hot plate, kemudian menyiramnya dengan ayam jamur.


Ia memandang Tari. "Karena," ucapnya, "Aku tidak bisa hamil. Selama dua tahun ini aku dan Gala sudah mencoba segala hal, bahkan kami sampai berobat ke luar negeri. Tapi hasilnya nihil. Aku lelah duduk di rumah menangis sepanjang waktu, jadiku putuskan untuk mencari kegiatan untuk menyibukan pikiran." Caira melepas apronnya dan menggantungnya kembali di tempatnya. "Dan kau, D'Jingga Cafe. Membuatku sibuk dan bahagia."


Caira memplating bakmi buatannya dengan sangat cantik, kemudian ia mengambil sehuah kartu ucapan dari saku celananya dan mengulurkan keduanya kepada Tari. "Ngomong-ngomong, bakmi ini untukmu."


Rupanya Caira ingin merubah topik, sehingga Tari menerima makanan itu darinya. "Apa maksudnya?"


Caira merotasikan bola matanya dan menyuruh Tari membawanya ke ruang kerja. "Kau baca sendiri saja tulisan dalam kartu ucapan itu."


Dari reaksi kesalnya, Tari langsung paham bahwa makanan itu pasti dari Tara. Tari tersenyum lebar dan membawa makanan itu ke ruangannya. Tari duduk di belakang meja kerjanya dan menarik kartu tersebut.


Tari,


Jangan samapai telat makan ya.


-Btara-


Tari tersenyum dan memasukan kartu itu lagi ke dalam amplop. Ia meraih handphonenya dan memotret dirinya sendiri sedang memakan makanan yang Tara belikan untuknya. Tari mengirimkannya ke Tara.


Tara langsung mulai mengetik pesan balasan. Jantung Tari berdegup dengan kencang saat melihat tulisan typing di atas layar handphonenya.


^^^Tara:^^^


^^^Aku akan selesai sebelum jam 17.00. Mau jalan bersamaku?^^^


Tari:


Tidak bisa. Bunda mengajakku berbelanja di Mall taman anggrek dan mengunjungi restauran sushi terbaru di sana.


^^^Tara:^^^


^^^Aku suka sushi. Apa aku boleh ikut?^^^


Tari tercengang sejenak membaca pesan Tara. 'Tara ingin bertemu bunda? Kami bahkan belum resmi pacaran. Tara benar-benar berubah, yang semula enggan menjalin hubungan, lalu bersedia menjalani masa percobaan, ia juga bersedia menemui bunda, dan semua itu terjadi hanya dalam waktu lima hari? Oh my God.'


^^^Tentu aja. Temui kami sebelum jam 18.00 di Mall taman anggrek.^^^


Tari tersenyum senang, ia menaruh kembali handphonenya di atas meja kerjanya, kemudian ia menghabiskan bakmi hotplate buatan Caira yang di pesan Tara khusus untuk Tari.



Pukul 17.00 Tari bersiap dan melangkah keluar dari ruang kerjanya, ia langsung menghampiri Caira yang masih di dapur memberikan arahan kepada juru masak cafe.


Tari mengacungkan handphonenya ke arah Caira. "Dia ingin bertemu bundaku."


"Siapa?"


"Tara."


"Hah? Kakakku?" Caira mengeluarkan ekspresi terkejut mendengar kakaknya ingin bertemu dengan orang tua Tari.


Tari mengangguk. "Iya kakakmu, ingin bertemu dengan bundaku."


Caira menyambar handphone Tari dan membaca pesan-pesannya. "Ini aneh sekali."


Tari mengambil handphonenya kembali dari tangan Caira. "Aku harap kau mendukung hubungan kami."


Caira tertawa dan berkata, " Sebentar!! Ini yang sedang kita bicarakan Btara Langit Xabiru? Sepanjang sejarah dia belum pernah sama sekali menemui orang tua gadis mana pun."


Mendengar ucapan Caira, tentu saja membuat Tari tersenyum bahagia. "Kakakmu pasti sangat menyukaiku," ucap Tari dengan nada bercanda. Tari kembali menatap Caira, awalnya ia menyangka jika Caira akan tertawa, namun raut wajahanya justru serius dan muram.


"Mungkin," ia mencuci tangannya, kemudian beralih ke juru masak. "Ini hanya tinggal nunggu dagingnya empuk, setelah itu koreksi rasa baru di sajikan."


"Aku pulang duluan ya, Gala mengajakku keluar. Jangan lupa ceritakan hasil pertemuan kakakku dengan orang tuamu padaku, oke?" Caira menepuk bahu Tari kemudian ia berlalu meninggalkan Tari.


Tari resah karena Caira tidak tampak gembira dengan hubungannya bersama Tara, ia jadi penasaran apakah alasannya karena dirinya atau karena kakaknya.


Setelah Caira pergi, Tari pun pergi meninggalkan cafenya. Namun sebelum pergi tak lupa ia menitipkan cafenya kepada orang kepercayaannya dan meminta untuk menghubunginya jika terjadi masalah.


Tari berjalan menuju mobilnya, seketika langkahnya terhenti saat melihat seseorang bersandar di mobilnya. Butuh waktu sejenak bagi Tari untuk mengenali Tara, karena Tara menghadap ke belakang, dan berbicara pada handphonenya.


Tari fikir Tara akan akan menemuinya di mall, namun ternyata ia datang ke cafe. Klakson mobil Tari berbunyi saat Tari menekan tombol Unlock, dan Tara membalik badannya. Tara tersenyum lebar sewaktu melihat Tari. "Ya aku setuju, kita meyewa alat berat di perusahaan itu," ucapnya di telepon. Tara merangkul bahu Tari dan menariknya merapat, mengecup ubun-ubun Tari. "Kita bicarakkan saat meeting besok pagi," ucapnya. "Ada hal penting yang harus aku kerjakan."


Tara menutup teleponnya dan memasukannya ke saku, lalu mengecup bibir Tari, ia juga memeluk Tari dengan erat hingga tubuh Tari bersandar ke mobil.


Tara menarik diri, ia memandangi Tari dengan kagum. "Kau membuatku tergila-gila."


Tari tersenyum kemudian membuka pintu mobilnya. "Kita pakai mobil sendiri-sendiri?" tanya Tari.


Tara membentangkan pintu mobil lebih lebar. "Mobilku sedang ada sekit masalah, tadi sopirku membawanya ke bengkel, kita naik mobilmu saja."