Enough

Enough
Chapter 44



Sudah hampir sepekan Tara dan Tari menempati apartement barunya, mereka sudah berhasil memindahkan seluruh barang-barang mereka pada saat Tara libur, kemudian pada hari kedua pindah, Tari di temani oleh Caira pergi berbelanja perabotan untuk mengisi beberapa bagian yang masih kosong di apartementnya. Lalu di hari ke tiga Tara dan Tari sudah langsung menempatinya dan menerima surat tagihan fasilitas listrik, air, dan gas. Ya mereka telah resmi tinggal di apartement baru mereka.


Tari merasa hidupnya kini sempurna. Ia sudah menikah, memiliki suami yang hebat, apartement mewah, sahabat sekaligus adik ipar yang sangat baik, dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang aunty.


"I'm home baby," Tara masuk ke apartemenya dan langsung mencari keberadaan istrinya, ia melihat istrinya tengah menata meja rias di dalam kamar tidur mereka.


"Tumben pulang cepat?" Tanya Tari, ia melihat suaminya dari cermin meja riasnya.


Tara berhambur memeluk istrinya dari belakang, sembari memberikan bunga mawar kesukaan istrinya. "Ya, karena ada dua berita baik yang ingin aku sampaikan pada istriku tercinta."


"Oh ya? Apa itu?" Tanya Tari penasaran, sembari meletakan figure Dory dan Marlin di atas meja riasnya, bersebelahan dengan kotak musik yang di berikan Ranu kepadanya, kemudian ia menerima dan mencium bunga pemberian suaminya. "Terima kasih sayang."


Tari membalik tubuhnya, bersiap mendengar berita bahagia yang ingin di sampaikan oleh suaminya.


Sekilas Tara melihat kotak musik dan figure Dory dan Marlin yang baru saja di teletakan istrinya di atas meja riasnya. "Kamu membawa itu juga kemari?"


"Tentu saja. Sejak dulu aku sangat menyukai film Nemo, kalau kotak musik itu pemberian teman lamaku saat kita masih remaja, jadi aku masih menyimpannya. Kamu tidak keberatankan jika aku sedikit menghargai pemberian temanku?"


Tara menggeleng, ia berfikir tak masalah baginya jika istrinya menyimpan kenang-kenangan dari teman lamanya, karena bisa jadi itu pemberian teman SMA saat istrinya menghadiri pesta perpisahan sekolah.


"Jadi apa kabar baiknya?" ulang Tari semakin tidak sabar, ia menoleh sebentar ke meja rias untuk menaruh bunga pemberian Tara kemudian berbalik lagi menghadap Tara.


"Yang pertama. Apakah kamu sudah membaca majalah hari ini?" Tara mengulurkan sebuah majalah dan membukanya di bagian yang sudah ia lipat sebelumnya. Ia menunjuk ke salah satu artikel. "Selamat sayangku, kamu berhasil?"


"Berhasil apa?" Tanya Tari bingung, ia membaca artikel yang di tunjukan oleh suaminya. Begitu membaca judulnya, ia langsung berteriak. "Aku berhasil?"


Sebelumnya Tari memang di kunjungi oleh beberapa wartawan yang mengajaknya wawancara seputar cafenya. Rupannya cafe miliknya masuk nominasi bisnis kuliner terbaik seJakarta dan akan segera mendapat penghargaan dari pemerintah daerah.


Tara menarik istrinya kedalam pelukannya, kemudian ia mengangkat istrinya dan memutar tubuh mungil istrinya dengan riang. "Sekali lagi selamat sayangku."


Tari melepaskan diri. "Lalu berita keduanya?"


Tara memandangi istrinya lekat-lekat, sambil membelai wajah cantik istrinya. "Kurang dari satu jam lagi, istriku yang cantik ini akan menjadi seorang aunty," ucap Tara. "Caira sedang melahirkan."


"Apa?!"


"Ya," Tara mengangguk. "Untuk itulah aku pulang cepat."


Tari bertepuk tangan sambil melompat kegirangan, namun seketika wajahnya berubah menjadi panik. "Ayo kita ke rumah sakit." ia menyambar jaket, tas dan handphonenya.


"Kita berdua akan menjadi seorang aunty!" serunya, sembari menggandeng tangan suaminya keluar dari apartement.


Tara tertawa mendengar lelucon istrinya. "Kita berdua akan menjadi seorang uncle, sayang."


"Haha.. Sama saja sayang."



Dalam suasana hening, selama hampir tiga puluh menit, Tara dan Tari menunggu Caira di luar ruang persalinan, mereka berdua mendengar Caira berteriak kesakitan, tanda bahwa proses melahirkan masih berlangsung.


Namun kemudian Caira berhenti berteriak dan terdengar suara tangis bayi. "Selamat, uncle Tara." Tari memeluk dan mengucapkan selamat kepada suaminya.


Tiga puluh menit kemudian setelah bayi di bersihkan dan telah melewati tahap pemeriksaan awal, serta Caira sudah di pundahkan ke ruang perawatan. Tara dan Tari pun menghampiri Caira. Mereka berdua berdiri di samping tempat tidur Caira, mengamati Caira menggendong bayinya yang baru lahir.


Bayi laki-laki yang sungguh sempurna, namun masih terlalu dini untuk mengungkapkan bayi itu mirip siapa, tapi bayi itu tetap sangat tampan.


"Mas Tara mau menggendong keponakan, mas?" tanya Caira pada Tara.


Tara mendadak kaku seolah ia sangat gugup, tapi kemudian ia mengangguk. Caira mendekat dan meletakan bayinya di lengan kakaknya, mengajarinya cara menggendong.


Tara menundung memandangi keponakannya, kemudian ia berjalan ke sofa dan duduk. "Kalian sudah memilih nama untuk keponakan tampanku ini?" tanyanya.


"Ya," jawab Caira.


"Kami ingin menamainya seperti nama seseorang yang sangat kami kagumi. Kami hanya mengganti nama mas Tara ke dalam bahasa Inggris, jadimkami memberi nama bayi kami Sky."


Tari langsung menoleh ke arah Tara, ia melihat wajah terkejut sekaligus bahagia. Tara kembali memandangi Sky dan tersenyum merekah. "Wow, nama kita sama."


Tari berjalan ke arah sofa dan duduk di samping suaminya, tadinya Tari berpikir jika Tara benar-benar anti anak-anak, namun setelah melihat cara Tara menggendong dan menatap Sky, pikiran itu seolah terbantahkan.


Gala duduk di samping tempat tidur Caira, ia membelai wajah istrinya dengan lembut. "Terima kasih telah mengandung dan melahirkan bayi tampan kita, kini aku menyadari jika aku selama ini menikah dengan superhero. Kau wanita yang hebat sayang." ia mengecup kening Caira.


Melihat kemesraan Gala dengan Caira, dan melihat betapa suaminya menyayangi Sky, membuat Tari larut dalam suasana kebahagiaan.


"Kau mau menggendongnya, sayang?" tanya Tara.


Tari langsung mengangguk, sedari tadi ia sudah tidak sabar menunggu gilirannya menggendong Sky. Perlahan Tara menaruh Sky di tangan istrinya, Tari terkejut saat merasa betapa besar kasih sayangnya pada Sky waktu pertama kalinya ia membawa Sky dalam dekapannya.


"Kapan mom dan dad datang?" tanya Tara pada adiknya.


"Besok pagi."


Drrt.. Drrt..


Getar handphone di saku Tara menghentikan obrolan hangatnya bersama adiknya, ia langsung mengangkat telepon yang masuk dari sekretarisnya. Ia berdiri dan sedikit menjauh dari Tari dan Sky untuk menerima panggilan itu. "Ada apa Chris?" ujar Tara. Ia mendengarkan dengan seksama apa yang di sampaikan oleh sekretarisnya dari seberang telepon. Hening sejenak, kemudian Tara mengucapkan "Okay, lima belas menit lagi aku sudah di apartementku. Aku berangkat sekarang!"


Tara menyudahi pembicaraannya dan mengantongi handphonenya kembali. Ia memandangi istrinya, kemudian adiknya. "Aku harus pulang sekarang. Christian mau ke apartement mengambil berkas yang tidak sengaja terbawa olehku, dan belum aku tanda tangani" ucap Tara. "Apa kamu mau ikut pulang, sayang?"


Tari menggeleng. "Aku masih mau di sini sebentar lagi, boleh ya? Kamu tidak perlu khawatir, nanti aku akan naik taxi."


Tara mengangguk, kemudian ia mencium kepala istrinya. "Ya sudah tapi jangan lama-lama ya, karena aku sudah tidak sabar ingin membuat saudara sepupu Sky."


Tari mengangkat wajahnya dan menatap suaminya, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut suaminya.


Tara mengedipkan matanya, kemudian Tara berjalan menuju tempat tidur Caira, memberikan ucapan selamat sekaligus berpamitan.


"Jangan lama-lama ya sayang," ucapnya sembari melangkahkan kaki menuju pintu keluar di antar oleh Gala.


Tari melirik ke arah Caira, Caira tersenyum. "Sudah kubilang, kakakku sekarang benar-benar berubah, ia ingin punya bayi denganmu."


Tari tersipu malu, tiga puluh menit kemudian ia menyusul suaminya pulang.