
Setelah empat puluh lima menit berkendara, akhirnya Tari tiba di basement apartementnya, ia harus memakai dinding sebagai tumpuan sambil melompat-lompat untuk bisa sampai ke dalam unit apartementnya.
"Hari yang menyebalkan!!" gerutunya.
Tari membanting pintu kamarnya dan bergegas mencari pil pereda nyeri yang ia simpan di kotak obatnya, ia menelan dua pil sekaligus kemudian ambruk di tempat tidurnya memandangi langit-langit kamarnya. Tari tak bisa membayangkan selama satu minggu kedepan dirinya akan terperangkap di dalam apartementnya.
Ia meraih hanphonenya dan memberikan pesan kepada bundanya.
^^^Tari:^^^
^^^Bund, pergelangan kakiku sedikit terkilir, tapi aku baik-baik saja, bunda tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin mengabarkan jika aku harus istirahat selama beberapa hari kedepan. Maaf jika akhir pekan ini aku tidak bisa mengunjungi bunda.^^^
Tari tak ingin bundanya berfikir jika dirinya terlalu sibuk dengan bisnis barunya sehingga ia mengabaikan bundanya, padahal tidak sama sekali. Kakinya lah yang membuatnya harus terjebak dalam apartement selama seminggu penuh.
Beberapa menit kemudian Surinala membalas pesan putri semata wayangnya.
^^^Surinala:^^^
^^^"Tidak apa-apa sayang, biar nanti bunda yang akan ke apartementmu, bunda akan membawakan makanan untukmu dan sekalian kita ke dokter memeriksakan kondisi kakimu^^^
Tari menjatuhkan handphonenya di atas tempat tidur, ia merasa sejak ayahnya meninggal dunia, ia menjadi lebih menyukai bundanya. Padahal dulu ia sangat membenci bundanya yang terlalu naif tidak mau meninggalkan ayahnya, yang sudah menyakiti bundanya, menyakitinya dan menyakiti Ranu.
Ranu.
Selama empat bulan terakhir ini Tari begitu sibuk dengan sidang tesisnya, ia juga membantu perpindahan ibundanya, menyelesaikan serah jabatan di kantor lamanya dan mengurus bisnis barunya. Sampai-sampai ia tak memiliki waktu untuk meneruskan membaca buku hariannya.
Tari melompat-lompat dengan menyedihkan menuju lemari pakaiannya, untungnya ia tidak tersandung. Setelah mengambil buku harian yang ia simpan di dalam lemari pakaiannya, ia kembali melompat-lompat ke tempat tidur dan berbaring dengan nyaman. Ia berencana akan menghabiskan satu minggu waktu istirahatnya dengan membaca kembali buku hariannya, sembari sesekali menghubungi Caira membahas perkembangan cafenya.
Dear diary,
Beberapa hari setelah aku mengizinkan Ranu mandi di kamar mandi rumahku, aku tidak lagi berpapasan dengannya. Tapi siang tadi sepulang sekolah, aku kembali berpapasan dengannya, ia terlihat sedikit lebih riang dari sebelumnya, ia menghampiriku sambil tersenyum.
Sebenarnya agak aneh sih melihatnya mengenakan pakaian ayahku, tapi kalau boleh jujur, pakaian tersebut lebih cocok di pakai olehnya di banding dipakai oleh ayahku.
"Tar, aku ada sesuatu untukmu." ia menurunkan resleting ranselnya.
"Apa?"
Dia mengeluarkan sebuah kantong pelastik dan memberikannya kepadaku. "Aku menemukannya di garasi rumah tua itu, aku sudah mencoba membersihkannya semampuku, tapi karena tidak ada air jadi seadanya."
"Kemarin saat ke rumahmu, aku melihat skop yang berada di taman kecil rumahmu patah. Jadi ketika aku menemukan ini di garasi rumah tua itu, kenapa tidak aku berikan untukmu karena aku yakin taman indah itu milikmu." ucap Ranu.
"Terima kasih." Aku sangat terkejut dengan pernyataan Ranu, yang pertama aku tak menyangka jika Ranu sedetail itu memperhatikan rumahku, dan yang kedua tebakannya tepat sekali taman kecil di halaman depan rumahku adalah milikku, aku suka sekali berkebun, bahkan aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berkebun.
Ranu berdeham kemudian dengan suara lirihnya ia berkata, "Aku tahu ini bukan seperti hadiah yang layak karena aku tak membelinya sendiri. Tapi aku ingin sekali memberimu sesuatu, namun aku tak punya......" Ranu tak meneruskan ucapannya.
"Its okay, aku sangat menyukai skop ini. Ini sangat berguna sekali untukku." Aku tersenyum kepadanya, kemudian aku kembali mengajaknya ke rumah, dan ia pun setuju dengan ajakanku. Di perjalanan menuju rumah, aku memberanikan diri untuk menanyakan usianya.
"Tujuh belas tahun," jawabnya. " jika aku tidak di keluarkan dari sekolah seharusnya tahun ini aku mengikuti ujian nasional." Ranu berbicara sambil menundukan kepalanya. "Setelah orang tuaku mengusirku, mereka juga tidak lagi membayar uang sekolahku, sehingga aku di keluarkan dari sekolah."
Ternyata usiaku dengannya sama, hanya nasib kita yang berbeda. "Lalu kegiatanmu apa sekarang?"
Ranu menendang krikil kecil di aspal, kemudian berkata. "Setiap pagi aku ke pasar senen, menjadi kuli panggul atau menawarkan jasa ojeg payung, pokoknya apa saja yang bisa aku lakukan untuk menyambung hidup."
Ranu menghentikan langkahnya, dan kemudian menatap Tari. "Tar, jika nanti kau butuh seseorang untuk membantumu berkebun aku siap membantumu kapan pun kau memerlukan bantuan."
Aku menganggukan kepala. "Masuk yuk!" ujarku padanya. Ranu mengikutiku memasang slot kunci pintu "Kalau orang tuakku pulang lebih cepat, berlarilah lewat pintu belakang, pokoknya jangan sampai mereka melihatmu."
Ranu mengangguk. "Jangan khawatir aku akan langsung pergi."
Aku tahu Ranu pasti belum makan, jadi aku langsung menyiapkan banyak makanan dan minuman untuk menemani kami menonton di ruang keluarga. Aku menyetel acara kuis ilmu pengetahuan umum, aku benar-benar di buat kagum ketika ia dapat menjawab semua soal kuis tersebut dengan benar, bahkan sola yang menurutku sangat sulit, ia juga mampu menjawabnya.
Aku kembali bertanya-tanya apa yang menyebabkan orang tuanya tega membuang anak setampan dan sepintar Ranu? Bahkan sejauh ini Ranu adalah pria yang sangat baik menurut penilaianku. Pertanyaan itu aku simpan di dalam hatiku, aku tak sampai hati bertanya lebih jauh mengenai masalah pribadinya, jika tidak ia yang menceritakannya sendiri padaku.
Tari membuka halaman berikutnya.
Dear diary,
Aku dan Ranu sudah menjadi teman menonton, selama dua minggu ini ia rutin kerumahku untuk menonton kuis. Tak hanya itu, dia membantuku mengerjakan PR matematika yang memusingkan kepalaku, lucu sekali bukan? Aku di ajari oleh orang yang tidak sekolah. Selain itu beberapa kali ia juga mandi di rumahku, aku memberinya makan, bahkan aku mencuci pakaiannya setelah aku pulang sekolah.
Ranu terus menerus meminta maaf, karena merasa dirinya telah menjadi beban. Tapi sejujurnya tidak sama sekali, aku sangat menikmatinya, dia menemani hari-hariku yang sunyi ini.
Hari ini ayah pulang terlambat, kemungkinan besar ia akan ke club malam bersama teman-temannya, itu artinya nanti malam akan ada pertengkaran hebat antara ayah dan bunda.
Sumpah, kadang aku marah sekali pada bunda karena terus tinggal bersama ayahku. Aku tahu aku belum lulus sekolah, tapi aku tidak ingin bunda memakai aku sebagai alasannya. Aku tidak perduli jika aku harus hidup miskin karena bunda meningglkan ayah, aku sama sekali tidak keberatan tinggal di rumah kumuh bersama bunda dan makan mie instan hingga aku lulus sekolah. Itu masih jauh lebih baik, ketimbang aku harus setiap hari mendengar ayahku meneriaki, berkata kasar, hingga memukul bundaku.