Enough

Enough
Chapter 46



"Tara, aku mohon jangan!!" Tari terisak, kemudian ia menjerit kesakitan ketika Tara menghujam bok*ngnya.


Tari berteriak sembari memejamkan matanya, ia melihat bayangan bundanya berada di sofa ketika tengah di ga*li dengan paksa oleh ayahnya.


Aku tidak ingin seperti bunda.


Dengan sekuat tenaganya Tari mencoba melepaskan diri dari Tara yang terus menghujam bok*ngnya. "Tara sakit. Lepaskan aku!!" Tari berhasil menggeser sedikit tubuh Tara yang menindihnya kemudian ia langsung bergerak cepat merangkak menjauh dari Tara.


Tara bergerak mendekat ke arah Tari. "Aku mencintaimu, Tari," ucapnya. Kata-kata itu membuat Tari muak. "Aku memberi lebih dari apa yang gembel itu berikan kepadamu, kenapa kamu tidak pernah melihat itu?" Tara menarik rambut Tari dengan kasar.


Tari berontak melepaskan tangan Tara yang menjambak rambutnya. "Lepasin, Tara!!"


Bruk..


Tanpa sengaja kepala Tari terbentur pinggiran penyanggah tempat tidur yang terbuat dari besi. "Awww..." Tari meringis kesakitan. Namun itu tak lantas membuat Tara melepaskan istrinya. Tara kembali menarik tubuh Tari dan menindihnya, ia kembali menggaul* istrinya dengan paksa, hingga Tara mencapai klimaksnya dan tertidur di atas tubuh Tari. "Maafkan aku, Tari. Maaf," ucapnya lirih.


Hening beberapa saat. Tari mencoba membuka matanya, rasanya perih menjalar di kepala bagian belakangnya, ia bisa merasakan sesuatu mengalir, dan Tari langsung meraba kepalanya.


'Darah'


Tari panik melihat darah di telapak tangannya, ia mengelus lengan Tara dengan lembut, memastikan jika suaminya benar-benar sudah tertidur pulas, agar ia bisa menyelinap lepas dari tubuh Tara.


Butuh waktu sekitar lima menit untuk Tari bisa benar-benar lepas dari tubuh suaminya, ia melakukannya secara perlahan agar Tara tidak terbangun, begitu ia berhasil lepas dari tubuh Tara, ia berguling dan beranjak dari tempat tidur.


Saat hendak berjalan, Tari merasakan pusing dan nyeri di kepalanya, pandangannya mulai kabur, selain itu Tari pun merasakan nyeri di bok*ng bagian dalamnya hingga ia kesulitan untuk melangkah. Meski demikian Tari tetap berusaha berjalan menuju lemari pakaiannya, ia mengambil cel*na dal*m dan hoodie.


Tari mengamati sekeliling sembari mengingat jika kunci mobilnya masih berada di suaminya. Sudah dua hari ini Tara menggunakan mobilnya, karena mobil Tara sendiri masih berada di bengkel tahap pengerjaan modifikasi.


"Ya sudahlah" Dengan langkah tertatih Tari kembali berjalan keluar kamar. Di ruang keluarga Tari menemukan tas dan handphonenya tergeletak di lantai, ia mengambilnya dan kembali berjalan ke pintu depan apartement.


Kapala Tari semakin pening, darah semakin deras mengalir dari kepalanya, jemarinya gemetar begitu hebatnya, hingga ia harus mencoba tiga kali untuk mengetik pin pintu apartementnya.


Setelah berhasil keluar dari apartementnya, ia masuk ke lift khusus. Lift yang hanya di gunakan oleh Caira dan Tara pemilik unit apartement terbesar dalam gedung apartement ini, sehingga Tari tak berpapasan dengan penghuni unit apartemen yang lainnya.


Polisi. Dalam benak Tari tak sanggup membayangkan apa saja yang akan terjadi jika dirinya menghubungi polisi. Ia harus di interogasi, kemungkinan Caira akan marah padanya, karir Tara akan hancur. Tari menggelengkan kepalanya, ia langsung mencoret polisi dalam gagasan di kepalanya.


Tari meremas handphonenya dan mencoba berpikir. Bunda. Ia mulai menekan nomor ibundanya, namun pada deringan ke dua, Tari langsung mematikan sambungan teleponnya, ia memikirkan bagaimana perasaan bundanya jika mengetahui kondisinya yang sekarang, hati bundanya pasti akan hancur, ia tidak mau melihat bundanya menangis dan mengorek trauma yang pernah bundanya alami, Tari tak mau menambah beban bundanya.


Tari mengusap air matanya, kemudian ia menekan nomor telepon Ranu. Sebenarnya Tari berbohong pada Tara, jika ia sama sekali tak pernah membuka case handphonenya, karena pada kenyataannya setelah Ranu pergi dari cafenya, Tari membuka dan menghafalkan nomor handphone Ranu. Entah ia memiliki keyakinan dari mana, Tari yakin jika suatu saat akan membutuhkan Ranu.


Namun Tari tak sanggup untuk memhuang kartu nama Ranu, rasanya semua pemberian Ranu sangat berharga termasuk kartu nama itu.


"Halo?"


Tari langsung menangis begitu mendengar suara Ranu, ia langsung menutup mulutnya, dan berusaha menangkan diri.


Ranu hafal betul dengan suara Tari meski yang terdengar hanya isakan tangisnya. "Tari?" suara Ranu terdengar panik, ketika mendengar Tari menangis. "Tari kamu kenapa?"


"Ranu," bisiknya di sela isakan tangisnya.


"Kamu di mana periku?" tanyanya kembali, Ranu terdengar semakin panik.


Tari mematikan sambungan teleponnya, rasanya percuma menghubungi Ranu karena Ranu terlalu jauh untuk bisa membantunya saat ini. Tari memasukan kembali handphonenya ke dalam tasnya, begitu lift terbuka ia berjalan terhuyun-huyun keluar dari lift.


Suasa sepi dan sunyi, ketika Tari berjalan keluar dari gedung apartement. Ia hanya berpasaan dengan satu orang yang ingin masuk ke dalam gedung. Tari menaikan tudung hoodienya, kemudian menegakan badannya, seolah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Beruntung, wanita itu sama sekali tak menoleh ke arah Tari, wanita itu nampak sibuk dengan handphonenya, dan Tari pun kembali berjalan keluar gedung.


Ketika melewati pos security, Tari melihat security tengah tertidur pulas di kursinya. Tari berjalan perlahan melewati gerbang, ia berharapa ada taxi yang lewat dan bisa mengantarnya ke rumah sakit.


Lima menit menunggu, akhirnya Tari melihat taxi di seberang jalan. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sebagai kode ia ingin menaiki taxi tersebut. Tari menghembuskan nafas lega saat taxi itu berhenti.


Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada kendaraan yang melintas, Tari melangkahkan kakinya menyebrang jalan.


Namun secara tiba-tiba sebuah mobil melaju dari arah sebaliknya, dan mengalihkan perhatian Tari dari taxi tersebut. Rasa sakit di kepalanya sudah tidak dapat Tari tahan lagi, hingga ia tak bisa menghindar dari kendaraan semakin mendekat ke arahnya.


Di detik terakhir, Tari tersenyum mendengar seorang pria memanggil namanya, sebelum akhirnya gelap begitu saja.