
Satu jam yang lalu Tara menghubunginya, Tara mengabarkan jika ia belum selesai meeting dan kemungkinan malam ini ia tidak menginap di apartement Tari.
Kini sudah Pukul 19.00, Tari nampak gelisah dan terus mondar-mandir di kamarnya. Ia berfikir tentang tawaran Ranu untuk tinggal bersamanya di Eropa, ia berfikir tentang Tara dan berfikir tentang cafenya.
"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan cafe yang sudah menjadi impianku sejak dulu. Aku juga tidak bisa meninggalkan Tara yang kini sudah menjadi pacarku, hanya karena bagian dari masa laluku datang kembali. Aku dan Ranu sudah selesai." gumam Tari.
Tari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia tercengung memandangi karakter figure Marlin dan Dory pemberian Ranu, yang ia letakan di atas meja riasnya. "Semuanya sudah berlalu, Ranu. Kau terlambat."
Tari beranjak dari tempat tidurnya, mengambil buku harian dari dalam lemari pakaiannya, ia merasa sudah siap membaca halaman terakhir dari buku hariannya.
Dear diary,
Sudah 182 hari Ranu pergi meninggalkan Jakarta, dan aku pun sudah kuliah di National University of Singapore (NUS). Meski aku banyak bertemu dan berkenalan dengan orang baru, entah mengapa hatiku tetap tertuju pada Ranu. Aku selalu menghitung hari seolah ia akan kembali ke Jakarta, dan setiap akhir pekan saat aku pulang ke Jakarta, aku pun selalu datang ke rumah tua itu berharap Ranu ada di sana.
Orang bilang, cinta remaja hanyalah cinta monyet yang sifatnya hanya sementara, tapi yang aku rasakan saat ini aku begitu mencintai Ranu. Setiap malam aku menangis sampai tertidur, aku berbisik "Teruslah berenang."
Mungkin saat ini aku sedang mengalami tahap-tahap masa berduka. Penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, tertekan dan penerimaan. Aku tenggelam di tahap tertekan pada malam ulang tahunku yang ke delapan belas, padahal bunda sudah memberiku banyak hadiah, membuatkan kue kesukaanku, lalu kami berdua pergi makan malam di restoran terbaik di Jakarta Selatan. Tapi tetap saja, itu semua tidak bisa mengusir kesedihanku.
Aku sedang menangis sewaktu kudengar jendelaku di ketuk. Awalnya kupikir hujan mulai turun tapi kemudian aku mendengar suara yang tak asing bagiku. Aku melompat dan lari ke jendela, aku melihat Ranu berdiri di luar jendelaku dalam gelap ia tersenyum padaku.
Aku membuka jendela dan membantunya masuk, ia memeluk dan mendekapku begitu lama, sementara aku menangis di dalam pelukannya. Aroma tubuhnya enak sekali, meski kini ia mengenakan minyak wangi, namun aku tetap dapat merasakan aroma tubuhnya yang selalu aku rindukan.
Selain tubuhnya yang wangi, kini Ranu sudah tidak sekurus dulu lagi, badannya sudah mulai berisi. Ranu melepas pelukannya dan mengusap air mata dari pipiku. "Kamu kenapa menangis periku?" ia mengelap air mataku dengan jari jemarinya, kemudian mengajakku duduk di atas tempat tidur.
"Selamat ulang tahun peri baikku, aku rindu sekali padamu," ucapnya dengan mata yang berbianar-binar, ia begitu nampak bahagia seolah ia menemukan rumahnya. Ranu membuka tas ranselnya dan memberiku sebuah kotak musik mungil. "Hanya ini yang bisa aku berikan untukmu."
Sebenarnya dengan Ranu datang saja, itu sudah merupakan hadiah teristimewa bagiku. Aku tersenyum menerimanya. "Terima kasih," aku langsung menyakalan kotak musik itu dan memandangi seorang peri yang menari di atasnya.
Ranu beranjak dari tempat tidur, mematikan lampu kamarku dan memintaku untuk menekan tombol di samping kotak musik yang aku pegang. Alangkah terkejutnya aku melihat lampu proyektor cahaya senja di tepi danau menyala dengan indahnya di dinding kamarku.
Ranu kembali menyalakan lampu kamar, dan memintaku untuk membaca tulisan kecil di bawah kotak musik. 'Cahaya Jingga di Tepi Danau'
"Tarisma Jingga yang berarti cahaya senja, dan Ranu yang berarti danau." ucap Ranu, mengartikan makna tulisan tersebut, sembari ia kembali duduk di sampingku. "Aku menyimpan seluruh uang sakuku dan bekerja paruh waktu untuk membeli hadiah dan tiket pesawat agar aku bisa pulang ke Jakarta." Ranu memintaku untuk duduk di pangkuannya karena ia ingin bercerita.
Tadinya ku pikir dia akan bercerita tentang sekolahnya atau pacar barunya, tapi ia justru bercerita tentang hari pertama ia datang ke rumah tua itu, yang sebenarnya bukan untuk tinggal di sana melainkan untuk bunuh diri. Tapi sesaat sebelum ia masuk ke rumah tua itu, kami sempat berpapasan di jalan.
"Kau berdiri di ujung jalan seperti sesosok peri," ucapnya. "Aku tidak bisa mengalihkan pandangaku darimu, aku ingin bisa setiap hari melihatmu, untuk itulah aku mengurungkan niatku untuk mengakhiri hidup." Ranu menatapku dalam-dalam. "Tanpa kau sadari, kau telah menyalamatkan hidupku."
Ranu mencondongkan badan ke depan dan mengecup leherku, bagian tubuhku yang paling ia sukai. Ia kemudian menggenggam erat tanganku dan memberitahu bahwa ia mendapatkan rekomendasi beasiswa masuk perguruan tinggi, ia tidak ingin membebani pamannya untuk itulah ia harus fokus belajar agar bisa meraih nilai terbaiknya, ia juga mengatakan akan tinggal di asrama selama empat tahun ke depan sampai ia menyelesaikan kuliahnya.
"Aku berjanji padamu," ucapnya. "Saat aku sudah lulus dan punya kehidupan yang layak, aku akan kembali lagi ke sini untukmu. Tapi aku tidak ingin kamu menungguku, aku ingin kamu bahagia menjalani hari-harimu."
Ranu tak ingin aku menjadi gadis yang tak menikmati hidup lantaran pacarnya tidak pernah menemuinya dan tidak jelas kabarnya, sehingga ia tak ingin aku menunggunya.
Aku tahu, sebenarnya Ranu tidak bermaksud mencapakan aku. Hanya saja keadaan yang membuat kita harus terpisah ribuan kilometer. Malam itu aku sama sekali tak meminta Ranu untuk merubah rencana serta mimpi-mimpinya yang sudah di depan mata, ia berhak untuk terbang mengejar masa depannya.
Aku mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. Dia membalas senyumanku dan kami berciuman, bercinta dan tertawa sebanyak-banyaknya, meski itu semua kami lakukan sambil menutup mulut kami agar tidak tertangkap basah oleh orang tuaku.
Ranu memelukku dengan erat, kulit bertemu dengan kulit. Ia menciumku dan menatapku lekat-lekat. "Aku mencintaimu, Tari. Kau adalah segalanya bagiku."
Jika di beberapa paragraf sebelumnya aku mengatakan ini adalah ulang tahun terbaikku, memang itu adalah kenyataannya. Ranu membuat hari ulang tahunku menjadi sempurna, namun beberapa menit berikutnya justru seperti mimpi buruk.
Sebelum Ranu muncul, aku benar-benar tak menyangka jika Ranu akan menepati janjinya untuk datang di hari ulang tahunku, mengingat jarak serta biaya yang di hutuhkan untuk datang ke Jakarta tidaklah murah sehingga aku tidak terpikir untuk mengunci pintu kamar.
Ayah mendengarku di dalam kamar tengah berbicara dengan seseorang sehingga tiba-tiba saja beliau masuk dan....