Enough

Enough
Chapter 49



Saat Lidya masuk, Tari sudah menyelesaikan paragraf terakhirnya. "Selamat pagi calon kakak ipar," sapanya. "Aku Lidya, adiknya A'Ranu yang akan menemani kakak selama A'Ranu ke bawah." ia mengulurkan tangan ke arah Tari.


Tari menerima jabatan tangannya. "Tari," ia cukup terkejut mendengar sapaan Lidya. "Calon kakak ipar?"


Siswi kelas tiga SMA itu mengangguk. "Aku tahu kak Tari sudah menikah, tapi entahlah aku memiliki firasat jika suatu hari kak Tari akan menjadi kakak iparku." ia menaruh vas bunga di meja sebelah tempat tidur Tari. "Ibu titip salam untuk kak Tari, ia juga memberikan bunga ini untuk kakak."


"Bagaimana kondisi Ibu sekarang?" tanya Tari.


Lidya duduk di samping Tari, ia memandangi wajah Tari yang pucat dan di perban di bagian kepala dengan rasa iba. "Sudah jauh lebih baik, besok ibu sudah bisa pulang. Hanya saja harus rutin cuci darah sesuai dengan jadwal yang di berikan dokter."


"Puji Tuhan, semoga ibu sehat selalu." Tari penasaran mengapa Lidya dan ibunya mengetahui tentang dirinya. "Apa kakakmu pernah bercerita mengenaiku?"


Lidya tersenyum menatap Tari. "A'Ranu bukan hanya sering bercerita tentang kak Tari, tapi ia juga memajang lukisan wajah cantik kak Tari di kamarnya." Lidya meraih tangan Tari dan menggenggamnya erat. "Terima kasih ya kak, kakak sudah banyak membantu A'Ranu di masa-masa sulitnya. Waktu itu aku masih sangat kecil, aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku sangat sedih dan kehilangan A'Ranu saat ayah mengusirnya. Meski berbeda ayah, aku sangat menyayanginya, ia adalah sosok panutan bagiku."


Di tengah obrolan hangatnya bersama Lidya, Ranu datang dengan membawa barang-barang pribadinya yang ia ambil dari bagasi mobil dan semangkuk sup kacang buatannya. "Apa kalian sedang membicarakan aku?"


"A'Ranu PD boros," ledek Lidya.


Ranu menaruh kopernya di dekat lemari, kemudian ia mendekat ke arah Tari. "Tadi aku meminjam dapur rumah sakit, kamu cicipi ya. Semoga kamu suka," Ranu duduk di atas tempat tidur, menyuapi Tari dengan telaten.


"Bagaimana rasanya?"


Tari tersenyum, seandainya boleh jujur, ini sup kacang paling enak yang pernah Tari cicipi, namun Tari tak ingin mengatakannya secara langsung, ia ingin Ranu tetap rendah hati. "Enak, aku sudah tidak mual lagi." ucap Tari sembari menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu kamu harus habiskan, agar cepat pulih." Ranu kembali menyuapi Tari, hingga sup buatannya habis.


Tari menatap Ranu dan Lidya secara bergantian "Kalau kalian berdua di sini, ibu sama siapa?"


"Ada asisten rumah tangga kami yang menjaga beliau," jawab Ranu, ia menoleh ke arah Lidya. "Tapi sebaiknya kamu kembali saja ke ruangan Ibu, Lid."


Lidya beranjak dari tempat duduknya. "Ya, aku rasa memang sebaiknya aku kembali ke ruangan ibu, karena kalian pasti ingin ngobrol banyak setelah sembilan tahun tidak bertemu." Ia memeluk dan mecium kedua pipi Tari. "Senang bertemu dengamu, calon kakak iparku." Lidya melangkah keluar dari kamar rawat inap Tari.


Selepas kepergian Lidya, Tari memulai obrolnya dengan Ranu. "Bagaimana di London? Apa kegiatanmu selama di sana?" tanyanya, pada Ranu yang tengah menyalakan laptopnya.


Sesaat Ranu mengalihkan pandangannya ke arah Tari. "Aku dosen praktisi di salah satu universitas di London, dan aku juga bekerja di sebuah perusahaan PE di sana," jawabnya.


Ranu tersenyum mengangukan kepalanya. "100% benar."


Tari membekap mulutnya dengan kedua tangannya, ia tak menyangka jika Ranu bekerja di perusahaan PE terbesar di London, bahkan perusahaan tersebut merupakan 10 perusahaan PE terbesar di seluruh dunia. "Wow, itu sungguh luar biasa sekali."


Tari berfikir jika saat ini ada Caira, ia juga akan mengagumi Ranu, tapi sebenarnya tak begitu terkejut dengan pencapaian Ranu yang luar biasa mengingat sejak awal mengelanya, Ranu memang anak yang cerdas dan ia berhasil mendapatkan beasiswa hingga S2 di universitas terkemuka, tentu hal tersebut tidak menyulitkannya dalam mencari pekerjaan.


"Aku bangga sekali padamu," puji Tari.


"Terima kasih," Ranu tersenyum sembari merogoh sesuatu dari tasnya, kemudian ia mengeluarkan sebuah majalah dan menyodorkannya ke arah Tari. "Aku juga bangga sekali padamu," ia menunjuk ke arah salah satu artikel yang memuat tentang penghargaan yang di terima oleh cafe milik Tari.


Seketika wajah Tari menjadi pucat, tubuhnya gemetar mengingat sesaat sebelum Tara menganiyaya dirinya.


Ranu beranjak dari tempat duduknya, ia mendekat ke arah Tari dan mengelus punggungnya. "Kamu baik-baik saja, Tari?"


"Ranu, bisa tolong kamu singkirkan majalah itu?" pinta Tari.


Ranu menatap majalah tersebut dengan tanda tanya, namun kemudia ia mengangguk. "Tentu saja," ia kembali ke kursinya. Handphone Ranu bergetar saat ia memasukan majalah ke tasnya ia pun langsung mengangkatnya. "Ya, Bagas?" ujar Ranu. Ia mendengarkan temannya berbicara dari seberang telepon. Hening sejenak, kemudian Ranu mengucapkan "Aku tidak sedang di ruang rawat inap ibu."


Ranu memandang ke arah Tari. "Sebaiknya kalian pergilah, kita bertemu lain kali saja," ucapnya, namun Tari langsung memberi kode dan menanyakan "Ada apa?"


Ranu menutup bagian speaker handphonenya dan menjauhkannya dari telinga. "Teman-temanku yang dulu sama-sama berjuang di pasar senen, ingin bertemu denganku, mereka baru saja menjenguk Ibu."


Tari merasa sepertinya akan seru jika kamarnya ramai orang, setidaknya ini bisa melupakan Tara sejenak. "Aku sama sekali tidak keberatan jika mereka kemari."


"Tidak perlu,Tari. Mereka sangat berisik, aku tidak ingin istirahatmu terganggu," tolak Ranu.


"Ayolah Ranu, aku butuh sedikit hiburan," pintaTari dengan wajah memelasnya, ia yakin jika Ranu tak akan bisa menolak permintaannya.


Dan benar saja, Ranu menganggukan kepalanya dan kembali pada handphonenya. "Datanglah ke kamar melati 05, aku ada disini," ucap Ranu kemudian mematikan handphonenya. Ranu kembali menatap Tari. "Kamu yakin, Tar? Mereka matan preman pasar senen loh!"


Tari tersenyum sembari mengelus tangan Ranu. "Bukankah semalam kamu bilang akan melindungiku?"


Ranu nampak salah tingkah, wajahnya memerah. Ia tak menyangka jika Tari mendengar semua ucapannya, padahal Ranu mengira Tari tak mendengarnya.