Enough

Enough
Chapter 51



Ranu berdiri di samping jendela, dengan satu tangan memegang keningnya. Sementara Surinala duduk di atas tempat tidur bersama putri semata wayangnya.


Untuk pertama kalinya, Tari menceritakan secara gamblang semua yang telah Tara lakukan kepadanya, mulai dari kejadian ketika mereka masih berpacaran hingga kejadian tadi malam.


Surinala menyambar tisu dari meja, kemudian ia kembali lagi ke tempat tidur, ia mulai merem*s-rem*s tisu dengan dua tangannya seraya memandangi putrinya bercerita kronologis yang terjadi tadi malam, karena saat Ranu menghubunginya, Ranu hanya mengatakan Tari masuk rumah sakit akibat peleceh*n seksu*l yang kemungkinan besar di lakukan oleh suaminya sendiri.


"Ranu bilang, kamu sudah menjalani visum. Apa kamu ingin melaporkan Tara ke polisi?" tanya Surinala.


Tari terdiam beberapa saat sembari mengelus perutnya, kemudian ia menggeleng. "Aku tak ingin anakku mempunyai ayah seorang mantan narapidana, terlebih Tara merupakan seorang pembisnis yang cukup terkenal, aku tak ingin membuat anakku malu, aku juga tak ingin menghancurkan bisnis Tara." Tari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tari tahu persis bagaimana ambisi kesuksaan yang selama ini suaminya kejar, ia tak sampai hati menghancurkan apa yang sudah suaminya bangun sejak lama.


Surinala merengkuh putrinya ke dalam pelukannya, ia membiarkan putrinya menangis sepuasnya, hingga tenang berulah ia kembali bertanya. "Setelah kejadian ini, apa kamu masih mau menerima Tara kembali?"


Tari terdiam, ia sendiri bimbang harus berbuat apa. Ia menggeleng, tapi juga mengangkat bahu. "Sebagian dari diriku merasa sangat benci terhadapnya, namun sebagian dari diriku yang lain, aku merasa sangat kehilangan suamiku. Kami pasangan yang sangat serasi, Bund. Saat-saat yang kuhabiskan dengannya merupakan saat-saat terindah dalam hidupku, aku enggan untuk melepaskan semua kenangan itu."


Tari kembali menyeka air matanya dengan tisu. "Jujur saja aku merasa rindu padanya, terlebih dengan adanya bagian dari dirinya yang kini tumbuh di rahimku. Pikiranku selalu mengatakan bahwa ini tak seburuk itu. Dia sangat baik, asalkan aku tak membuatnya cemburu, maka dia tidak akan marah dan kami bisa jadi keluarga kecil yang utuh."


Surinala menangkup wajah putri nya. "Bunda mengerti apa yang kamu maksud, tapi tolong jangan sampai kamu kehilangan batasanmu."


Tari sama sekali tak mengerti ucapan bundanya. Melihat wajah bingung putrinya, Surinala menggenggam erat tangan Tari. "Kita semua punya ambang batas toleransi untuk memaklumi perbuatan orang lain. Mana perlakuan yang bisa kita terima atau toleri dan mana yang tidak bisa. Sebelum menikah dengan ayahmu, bunda tahu persis ambang batas itu, bunda tidak ingin memiliki suami yang selingkuh dan juga ringan tangan. Tapi perlahan... Dengan setiap kejadian yang ayahmu perbuat... Batasan itu terdorong sedikit lebih jauh. Dan sedikit lebih jauh lagi."


Surinala menghela nafas beratnya. "Saat pertama kali ayahmu memukul bunda, ayahmu langsung menyesal dan kemudian ia bersumpah tidak akan pernah memukul bunda lagi. Saat kedua kalinya memukul, ayahmu terlihat lebih menyesal dari sebelumnya. Saat ketiga kalinya itu terjadi, itu lebih dari sekedar pukulan. Ayah menghajar bunda bertubi-tubi. Dan setiap kali itu terjadi, bunda selalu menerima penyesalannya kembali. Tapi saat keempat kalinya, ayahmu hanya menampar saja, dan bunda merasa lega, bunda berfikir, 'Paling tidak kali ini ia tidak memukuliku, dan ini tidak terlalu buruk di bandingkan anakku tumbuh dalam keluarga broken home tanpa figur seorang bapak.'"


Ranu yang tidak tahan mendengar semua cerita yang di sampaikan Surinala, memilih untuk keluar dari kamar rawat inap, ia ingin menenangkan dirinya. Sewaktu kecil saat ayahnya kandungnya masih hidup, Ranu dididik dengan penuh cinta kasih dan ia di ajarkan untuk selalu menghormati wanita, sehingga ia tak dapat menerima cerita tersebut.


Surinala meraih tisu dan menyeka air matanya. "Setiap insiden akan menggeser sedikit batasanmu. Setiap kali kamu memutuskan untuk bertahan, memberikannya kesempatan. Hal tersebut justru malah membuat dirimu sulit untuk pergi, hingga lama-kelamaan kau akan kehilangan batasanmu karena kamu berfikir. 'Aku sudah bertahan sejauh ini, apa sulitnya untuk bertahan lagi?'"


Surinala menggenggam erat tangan Tari, sementara Tari menangis tersedu-sedu. "Jangan seperti bunda, Tari. Bunda tahu Tara sangat mencintaimu, tapi dia tidak mencintaimu dengan cara yang benar dan cara yang pantas kamu dapatkan. Jika sungguh Tara mencintaimu, maka dia tidak akan memintamu untuk kembali padanya, dia akan melepaskanmu agar dia bisa menjamin bahwa dia tidak akan menyakitimu lagi, dan dia pun akan akan menyerahkan diri ke polisi sebagai wujud tanggung jawabnya."


Dengan segenap hatinya, Tari berharap andai saja bunda tidak mempelajari ini semua dari pengalamannya, tentu bunda akan menganggapku bodoh karena pernah percaya dan memberikan kesempatan pada Tara.


Tari menarik bundanya dalam pelukannya. "Bunda, kau sungguh wanita yang kuat," ucapnya di sela isak tangisnya. Dulu ia mengira bahwa bundanya adalah wanita yang lemah, namun ternyata tidak, dan hari ini Tari banyak belajar dari bundanya.


"Kamu masih ingat ketika kamu harus menyampaikan pidato di upacara pemakaman ayahmu? Aku tahu kamu tidak gugup, Tari. Kamu berdiri di depan dan sengaja tak mengucapkan satu hal baik tentang ayahmu. Saat itu aku merasa bangga padamu, karena hanya kamu yang membela bunda. Kau tangguh Tari, jadilah perempuan yang berani dan percaya diri." air mata Surinala mengalir deras di wajahnya.


Disela isak tangis Tari dan Surinala yang saling berpelukan, getar handphone dari handphone Surinala menghentikan tangis mereka.


"Dari Caira, apa kamu mau bunda tidak mengangkatnya?"


Tari menggelengkan kepalanya. "Angkat saja bund, tidak apa-apa," Tari yakin jika Caira pasti menghubunginya namun dari semalam Tari belum mau membuka handphonenya.


"Tari.... Hiks..." air mata mengalir deras di wajah Caira. "Harusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan untuk kita. Aku baru saja melahirkan, dan kau hamil. Tapi kakakku... Huhu...." Caira tak bisa berkata-kata, ia memalingkan wajahnya memeluk suaminya yang berada di sampingnya.


Sembari menenangkan istrinya, Gala mengambil handphone dari tangan Caira. "Mommy dan daddy menemukan bercak darah berceceran di sekitaran gedung apartement, mereka menyusuri darah tersebut hingga tepat depan di unit apartemenmu. Kedua mertuaku mendesak Tara untuk bercerita dan mengambil CCTV apartementmu. Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit tempatmu di rawat, mereka sedang berkonsultasi dengan dokter yang menanganimu, untuk mengetahui perkembangan kondisimu."


Ya, setelah mendesak putranya untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi di apartementnya, kedua orangtua Caira menghubungi semua rumah sakit di Jakarta, karena dengan kondisi seperti itu tentu Tari sedang di rawat di rumah sakit. Dan benar saja, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan keberadaan Tari fan bergegas menghampiri menantunya.


Gala menghela nafasnya sesaat. "Sementara Tara, pagi tadi sudah terbang ke Riau menyelesaikan pekerjaannya, dia menerima semua konsekuensi yang telah ia perbuat dan bersedia untuk kooperatif jika kamu melaporkannya ke polisi."


Caira menghapus air matanya dan kembali pada layar handphonenya. "Kami semua sangat menyayangimu, Tari. Kami mendukungmu untuk melaporkan Mas Tara."


"Benar Tari, kami semua mendukungmu."


Agatha dan Keanu, kedua orang tua Tara masuk ke ruang rawat inap Tari. Agatha tak kuasa menahan air mata kesedihannya melihat kondisi menantunya. "Maafkan putraku, sayang." ia berhambur mendekap erat tubuh Tari.



💡ULASAN:


Sering kali, ketika kita melihat atau menemukan kasus KDRT atau toxic relationship, yang disoroti adalah pihak perempuan. Banyak orang yang melabeli perempuan sebagai pihak yang lemah atau bodoh, karena masih bertahan dalam hubungan yang seperti itu.


Padahal, sorotan tersebut seharusnya ditujukan kepada lelaki yang menjadi pelaku kekerasan. Dan seharusnya kita memberikan dukungan pada korban, seperti yang di lakukan oleh Caira dan keluarganya.


Untuk itulah lewat tulisan ini saya ingin mengajak para pembaca saya untuk tidak menghakimi mereka yang sedang berjuang dalam mengatasi masalah hubungan mereka, karena kebenaran yang di lihat belum tentu merupakan kebenaran yang sebenarnya. 😊