Enough

Enough
Chapter 13



Astaga, mau apa dia di sini?


Tara memencet bel lagi, dan Tari mencoba menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemarinya, tapi tak ada gunanya. Seharian Tari bekerja keras dan kini penampilannya sangat berantakan. Karena Tara tak memberi tahu akan kedatangannya maka ia harus menerima penampilan Tari apa adanya.


Tari membuka pintu apartementnya dan melihat reaksi terkejut Tara, membuat Tari bingung.


"Akhirnya," ucap Tara sembari merebahkan kepalanya di ambang pintu.


Tara terlihat terengah-engah seolah ia habis berolahraga, dan saat itu juga Tari menyadari jika dirinya dan Tara sama capek dan lusuhnya. Ada tunas-tunas janggut dan kumis berusia beberapa hari di wajah Tara, sesuatu yang belum pernah Tari lihat selama dua kali pertemuannya, serta rambutnya yang sangat berantakan, dan tatapan matanya gelisah. "Apa kamu tahu berapa banyak bel pintu yang sudah aku pencet, demi menemukanmu?"


Tari menggeleng, karena ia memang tidak tahu.


"Tiga puluh dua pintu." ucapnya.


Tatapan mata Tari meluncur ke pakaian yang Tara kenakan, Tara masih mengenakan pakaian kantornya, lengkap berserta jas mahalnya. 'Astaga. Ini lebih keren di banding dengan kostum Conan yang ia pakai minggu lalu' batin Tari.


"Kenapa harus memencet bel tiga puluh dua pintu?" tanya Tari sembari memiringkan kepalanya.


"Kamu tidak pernah memberitahuku berapa nomor apartementmu," jawabnya jujur. "Kamu hanya bilang, tinggal di gedung ini tanpa mengatakan nomor apartementmu. Dan asal kau tahu saja, aku memulainya dari lantai tiga, harusnya aku sudah sampai disini satu setengah jam yang lalu jika aku mengikuti intuisiku."


"Kenapa kau tidak tanyakan saja kepada pihak pengelola apartement ini?"


Tara mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak kepikiran sama sekali." ia menujuk ke balik bahu Tari. "Boleh aku masuk?"


Tari melirik sesaat ke belakang kemudian ia mempersilahkan Tara masuk ke apartementnya. "Silahkan masuk, tapi sekarang kamu harus memberitahuku apa maksud kedatanganmu?"


Tara melangkah masuk, dan Tari menutup pintu apartement. Tara merotasikan bola matanya melihat sekeliling apartement Tari, lalu ia berkacak pinggang sambil memandang Tari.


"Ada sebuah kejujuran yang harus aku katakan padamu, tapi ini mungkin saja akan membuatmu terkejut." ucap Tara. "Jadi, tolong persiapkan dirimu!"


Tari melipat tangannya dan melihat Tara sedang menarik nafas panjang, bersiap-siap untuk berbicara.


"Aku berhasil mendapatkan mega project senilai 28 triliun, sehingga dua bulan ke depan aku akan menjadi bulan-bulanan para investorku. Aku harus fokus mengerjakan project ini." Tara mondar-mandir di ruang tamu, ia berbicara dengan gelisah sambil menggerak-gerakan tangannya.


"Tapi masalahnya, selama satu minggu belakangan ini, aku sama sekali tidak bisa mengusirmu dalam pikiranku. Aku tidak mengerti mengapa kamu ada di kantorku, di rumahku dan di mana-mana. Sekarang aku ingin kamu membantuku menghentikan semua ini, Tari." Tara menghentikan langkahnya dan menatap Tari. "Please, hentikan ini sekali saja. Aku butuh kamu."


Tara memutar bola matanya, seolah jengkel karena Tari tidak mengerti arah pembicaraannya. "Selama delapan belas jam dan empat kali meeting secara terus-menerus aku terikat di meja kerjaku." sahut Tara. "Ayo fokuslah Tari, akunyakin kau mengertinapa yang ku maksud"


Tari mengangguk, kemudian menghela nafas agar lebih tenang. "Tara" ucap Tari dengan hati-hati. "Apa kamu benar-benar memencet bel tiga puluh dua pintu hanya untuk mengatakan bahwa kamu tidak bisa berhenti memikirkanku dan memintaku harus tidur denganmu agar kamu tidak memikirkanku lagi? Kamu ini benar-benar gila!"


Tara mengatupkan bibir dan berfikir selama lima detik, kemudian mengangguk. "Iya tapi memang begitu kenyataannya, aku butuh kamu Tari."


Tari membuka pintu depan dan memberinya isyarat agar Tara keluar dari apartemennya. Tara terdiam, tatapannya turun ke kaki Tari. "Kakimu sepertinya sudah sembuh." ucap Tara. "Bagaimana keadaannya sekarang?"


Tari merotasikan bola matanya. "Sudah jauh lebih baik. Hari ini aku pun sudah mulai ke cafe untuk membantu Caira meeting dengan beberapa vendor."


Tara mengangguk, ia berjalan menuju pintu keluar seolah ia akan pergi dari apartement Tari, namun ternyata begitu tiba di hadapan Tari, Tara membalik badan menghadap Tari dan menaruh tangannya di pintu. "Aku mohon Tari!!" pintanya memelas.


Tari menggeleng, meski tubuhnya sudah mulai berkhianat dan membujuk untuk menuruti permintaan Tara.


"Aku memiliki ukuran yang sempurna, dan aku pun benar-benar sangat lihai, Tari." ujar Tara. "Kau nyaris tak perlu berbuat apa-apa di atas tempat tidur."


Tari berusaha untuk menahan tawanya, melihat wajah Tara yang menggemaskan sekaligus menjengkelkan. "Selamat malam, Btara Langit Xabiru." Tari mempersilahkan Tara untuk keluar dari apartementnya.


Tara tertunduk lesu, sembari melepaskan tangan dari pintu, kemudian ia berjalan keluar dari apartement Tari. Pada saat Tari hendak menutup pintu, tiba-tiba saja Tara berbalik dan berlutut di hadapan Tari. "Aku mohon, Tari!" ucapnya. "Kumohon bercin*alah denganku." Tara mendongak menatap Tari dengan sorot mata polos memelas dan penuh harap yang menyedihkan. "Aku sangat menginginkanmu. Tidurlah denganku satu kali saja, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku janji."


Saat seorang pengusaha muda, sukses dan tampan yang baru saja memenangkan mega project senilai 28 triliun, berlutut di hadapan Tari, mengemis agar Tari bersedia berci*ta dengannya. Hati Tari pun akhirnya luluh.


"Berdirilah," ucap Tari. "Kau mempermalukan diri sendiri."


Perlahan Tara bangkit, ia meletakan dua tangannya di pintu, kiri dan kanan, mengurung Tari di antara lengannya. "Apakah itu berarti kau setuju?"


Tari benci betapa menyenangkan rasanya di damba sebesar ini oleh seorang pria, padahal seharusnya ia kesal oleh kelakuan Tara, tapi Tari malah nyaris tak bisa bernafas saat menatap wajah Tara, apa lagi ketika Tara tersenyum penuh arti seperti ini.


💡ULASAN SINGKAT:


Salah satu peran penting seorang ayah untuk anak perempuan adalah membangun citra diri seorang anak, seperti memberikan pujian, sehingga sang anak tidak mudah di rayu oleh pria lain.


Yuk ajak pasangan (Ayah) terlibat langsung dalam mengasuh anak!! 😊