Enough

Enough
Chapter 26



Setelah tiba di apartement dan memberi kabar pada Tara jika dirinya sudah sampai, Tari meringkuk di tempat tidur, memandangi buku hariannya.


Tak banyak sisa tulisan yang belum terbaca olehnya, hanya tinggal beberapa lembar saja. Tari mengambil buku harian itu dan menaruhnya di sampingnya.


Bertemu dengan Ranu, kemudian mengetahuinya dia punya kekasih dan hidup lebih mapan membuat hatinya tak karuan. Tari terus memandangi buku hariannya, dan perlahan ia mengambilnya. "Aku akan menyelesaikan membaca bab akhir, kemudian akan ku simpan lagi di kotak sepatu dan tak akan pernah aku buka lagi."


Tari berguling terlentang dan mulai membuka buku hariannya.


Dear diary,


Hari ini Ranu sakit parah.


Sudah dua malam berturut-turut ia menyusup masuk lewat jendela kamarku dan tidur di lantai, aku menyadari ada sesuatu yang tak beres pada dirinya.


Matanya merah, kulinya pucat, dan meski udara sangat dingin, keningnya bercucuran berkeringat. Aku tidak perlu lagi menanyakan bagaimana keadaannya, aku langsung tahu jika ia sedang sakit. Aku memegang keningnya, dan hampir berteriak karena suhu badannya sangat tinggi.


"Aku baik-baik saja Tari," ucapnya, kemudian ia menyiapkan alas tidur di lantai. "Kamu tunggu dulu sebentar di sini ya." ucapku, aku bergegas pergi ke dapur mengambil air hangat dan juga obat.


Sebetulnya aku tidak yakin Ranu sakit apa, tapi aku tetap menyuruhnya meminum obat flu yang aku ambil dari kotak obat. Setelah meminum obat yang aku berikan, Ranu meringkuk di lantai, setengah jam kemudian ia berkata. "Tari, aku butuh tempat sampah."


Aku melompat dan menyambar tempat sampah yang berada di kolong meja belajarku. Begitu aku menaruhnya di hadapannya, Ranu membungkuk di atasnya lalu mulai mengeluarkan isi perutnya.


Aku sangat iba padanya. Ia sakit, tak punya kamar mandi, tempat tidur, rumah dan juga ibu. Ranu hanya memiliki aku yang bahkan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.


Begitu selesai, aku memberinya minum dan memintanya untuk naik ke atas tempat tidur. Ranu menolak, tapi aku terus memaksa hingga akhirnya Ranu mau menuruti permintaanku untuk pindah ke tempat tidur. Aku menaruh tempat sampah di bawah, samping tempat tidurnya dan kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu berbaring di sampingnya.


Dua jam berikutnya, ia kembali muntah dan terus belanjut muntah setiap satu jam. Aku bolak-balik membawa tempat sampah ke kamar mandi untuk membersihkannya. Rasa jijikku terkalahkan oleh rasa ibaku padanya, ia sangat membutuhkan aku.


Entah ia mendapat kekuatan dari mana. Menjelang pagi, Ranu sudah pergi dari kamarku, namun aku masih tidur dan membiarkan tempat sampah tergeletak di samping tempat tidur.


Sewaktu bunda masuk untuk membangunkanku, bunda melihat tempat sampah dan langsung panik memegang keningku. "Apa kau sakit sayang?"


Aku mengerang. "Aku terjaga sepanjang malam, dan aku belum tidur, bunda."


Bunda mengambil tempat sampah, dan menyuruhku berbaring. "Hari ini kamu istirahat saja di rumah, bunda akan menghubungi wali kelasmu."


Setelah ayah dan bundanya pergi ke kantor, aku menjemput Ranu dan mengajaknya untuk beristirahat di rumah. Ranu masih muntah-muntah, tapi kemudian aku baru saja teringat sewaktu kecil aku pernah melihat nenekku mengerik punggung kakekku saat kakekku masuk angin.


Ku fikir tak ada salahnya jika aku mencobanya. Aku meminta Ranu untuk membuka pakaiannya, kemudian aku merogoh celengan ayamku untuk mencari uang logam. Begitu aku mendapatkan uang logam seribu rupiah, aku mulai mengerik punggung Ranu yang telah ku beri minyak angin.


"Sabar sedikit, Ranu. punggungmu sangat merah." pintaku, aku menyelesaikannya hingga seluruh punggung Ranu berubah menjadi garis merah.


Aku membiarkannya tidur, sementara aku membuatkkannya bubur dan sup untuknya. Aku tak yakin masakaanku enak, tapi memaksanya untuk menghabiskan masakanku setelah Ranu bangun dari tidurnya.


Aku menghela nafas lega, melihat kondisi Ranu berangsur membaik bahkan ia sudah bisa mandi. Kami berdua duduk di sofa, sembari menyelubungi tubuh dengan selmut dan menonton kartun finding nemo.


Aku tak tahu kapan aku mulai merasa nyaman untuk bersandar di bahu Ranu, tapi rasanya sungguh nyaman. Ranu mengecup puncak kepalaku, mungkin itu sebagai isyarat rasa terima kasihnya tanpa menggunakan kata-kata. Hatiku sungguh meleleh di buatnya. Mungkin baginya ini adalah hari yang buruk, tapi tidak bagiku.


Kami menonton hingga tiba di adegan di mana Marlin mencari Nemo dan merasa putus asa, kemudian Dory berkata padanya, "Saat kehidupan membuatmu terpuruk, kau mau tahu apa yang harus kau lakukan? Teruslah berenang. Teruslah berenang, berenang, berenang."


Aku menggengam erat tangannya dan bebisik "Teruslah berenang, Ranu."


Air mata Tari mengelir deras di pipinya, ia memegang ubun-ubunnya, tepat sembilan tahun yang lalu dimana Ranu untuk pertama kali mengecupnya, dan sampai sekarang Tari masih ingat bagaimana rasanya.


Tari menghapus air matanya dan membuka halaman berikutnya.


Dear diary,


Ranu pulang setelah kami selesai menonton, kemudian malamnya ketika orang tuaku sudah tidur, Ranu menyelinap masuk lewat jendela kamarku. Meski Ranu sudah tidak sakit lagi, Ranu tetap tidur di atas tempat tidur, karena alas yang biasa ia gunakan untuk tidur dilantai sedang di cuci, aku ingin memastikan semuanya bersih agar tidak ada yang sakit lagi.


Kami berbaring saling berhadapan, kemudian ia berkata, "Kapan kamu ulang tahun?"


"Maret lalu, sudah lewat." jawabku. Kami terus berpandangan dan itu membuat jantungku berdegup kencang. "Kalau kamu kapan?" tanyaku.


"Aku juga sudah lewat, aku Februari. Satu bulan sebelum kau lahir." jawabnya. "Tari, ada hal yang ingin aku beri tahu padamu." ucapnya.


Aku mengangguk, bersiap untuk mendengarkan hal yang ingin ia sampaikan.


"Tadi siang setelah pulang dari rumahmu, aku mampir ke warnet untuk mengecek email. Pamanku yang berada di Eropa membalas email yang aku kirim beberapa hari yang lalu. Paman bersedia memberiku tempat tinggal dan mendaftarkanku sekolah di sana."


Seharusnya aku gembira mendengar kabar itu, seharusnya aku tersenyum dan memberikan ucapan selamat. Tapi aku tidak bisa bohong pada diriku sendiri, kalau aku sangat sedih. "Jadi kau mau pergi?" tanyaku.


Ranu mengangguk. "Ya, kalau kau mengizinkanya."


Aku merasa tidak punya hak untuk mencegahnya pergi, aku juga tidak bisa membiarkan Ranu hidup di rumah yang tak layak dan bekerja serabutan di pasar senen. Ranu berhak mendapatkan hidup dan pendidikan yang layak sama seperti diriku dan anak-anak seusia kita lainnya. "Jadi kapan kamu akan pergi?" tanyaku.


"Setelah paman menyelesaikan pekerjaannya, ia akan mengurus surat-surat perpindahanku." ucapnya, ia membelai wajahku dengan lembut. "Tari, terima kasih atas semua yang telah kau lakukan padaku. Kau adalah peri baikku." Ranu mendekat dan mengecup keningku.