
Aku menunjuk ke deretan tanaman di kebun kecilku. "Kau lihat pohon di sebelah sana?" Di antara deretan tumbuhan tersebut terdapat pachycereus marginatus yang menjulang lebih tinggi di banding tanaman lainnya.
Ranu melirik ke sana dan menyeret tatapan matanya sampai ke puncak pohon.
"Pohon itu tumbuh sendiri," ucapku. "Sebagian besar tanaman memang perlu di rawat supaya bertahan hidup, tapi beberapa jenis tumbuhan cukup kuat bertahan hidup hanya dengan mengandalkan diri sendiri."
Aku hanya ingin ia tahu bahwa, ia cukup kuat untuk terus bertahan, terlepas dari apa yang terjadi dalam hidupnya. Meski aku tak mengenalnya dengan baik, tapi aku tahu ia sangat tangguh, jauh lebih tegar di banding dengan aku jika aku yang berada di posisinya.
Ranu menatap tumbuhan itu lama sekali sampai akhirnya ia berkedip, setelah itu ia hanya mengangguk dan menunduk memandangi rumput. Aku pikir ia sedih namun rupanya ia tersenyum.
Melihat senyumnya, membuat jantungku berdebar tak karuan.
"Aku dan dia mirip," ucap Ranu sembari menunjuk ke arah pachycereus marginatus, kemudian ia berdiri dan berbalik ke arah jalan pulang.
"Ranu, tunggu."
Ranu melirik ke bawah, ke arahku. "Sebaiknya kau mandi dulu sebelum pulang. Pupuk kompos tadi terbuat dari kotoran sapi." ucapku. Ranu mengangguk setuju.
Selagi menunggunya mandi, aku mencuci tanganku di bak pencucian piring dan berdiri tertegun, bertanya-tanya mengapa jantungnya berdeup kencang ketika melihat Ranu tersenyum. Aku juga bertanya-tanya akan sampai kapan, aku menyembunyikan Ranu di rumahku, aku tidak bisa tidak peduli dengan Ranu terlebih sebentar lagi musim hujan, bagaimana caranya ia hidup tanpa selimut dan jaket.
Selimut.
Aku bergegas mencari selimut yang tak terpakai, namun karena waktu sudah menunjukan pukul 17.00, Ranu harus segera pulang. Dan aku akan memberikan selimut untuknya besok.
Tari membuka halaman selanjutnya.
Dear diary,
Seperti biasanya sepulang sekolah aku mengajak Ranu menonton acara kuis di rumahku, ia menonton dengan penuh semangat, sementara aku merapihkan beberapa selimut untuk Ranu bawa pulang.
Namun sayangnya, belum sempat aku memasukan selimut tersebut ke dalam tas, aku mendengar suara mobil dan pintu garasi rumahku terbuka.
"Tari, aku pulang dulu ya." Ranu berlari lewat pintu belakang, dan aku langsung memasukan kembali selimut yang sudah aku lipat rapih ke dalam lemari dan bergegas merapihkan kaleng-kaleng minuman ringan serta bungkus camilan di ruang keluarga.
Rupanya bundaku pulang lebih awal, ia membawa banyak belanjaan keperluan dapur sehingga ia memasukan mobilnya ke dalam garasi agar lebih mudah memasukan barang-barang belanjaanyanya, meski sebenarnya kita semua tahu bahawa garasi tersebut milik ayah.
Aku tidak tahu mengapa ayah selalu parkir di dalam, sementara mobil bunda di parkir di jalan pintu masuk rumah. Bukankah seharusnya pria tak membiarkan wanita yang di cintainya parkir di tempat yang sulit?
"Iya bunda," sahutku, aku bergegas menghampiri dan membatu bunda membawakan barang-barang belanjaannya.
Ketika aku tengah membawa barang belanjaan bunda ke dapur, aku mendengar suara klakson mobil ayah. Ia mengklakson berulang kali karena marah melihat bunda parkir di dalam garasi, kurasa ayah tidak mau keluar dari mobil karena hujan sudah mulai turun.
Bunda terlihat sangat ketakutan mendengar suara klakson mobil ayah, ia menyuruhku membawa semua barang-barang belanjaannya ke dapur, sementara ia mengeluarkan mobil.
Aku tidak yakin apa yang terjadi ketikan bunda keluar, aku hanya mendengar suara benturan, yang tadinya aku pikir bunda terjatuh.
Aku tidak bisa menggambarkan secara detail apa yang terjadi selanjutnya, aku masih sangat syok dan terpukul dengan kejadian itu. Aku membuka pintu garasi, namun aku tak melihat bunda, aku hanya melihat ayahku di belakang mobil tengah melakukan sesuatu.
Aku mendekat dan menyadari kenapa aku tak bisa melihat bunda karena ternyata Ayahku menekannya ke kap mobil dengan dua tangan mencengkram lehernya.
Ayahku mencekik bundaku!!!
Ayahku mencekik bunda sembari meneriaki bunda dengan kata-kata kasar karena ayah merasa tidak di hormati. Dan mataku langsung tertuju pada bunda yang sedang berjuang untuk tetap bernafas. Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat kepunggung ayah dan memukulinya agar ia melepaskan bunda.
Setelah itu aku tak benar-benar ingat apa yang terjadi, yang aku ingat, ayahku melamparku hingga aku terjatuh ke tanah dan keningku terasa sangat sakit. Aku melihat banyak darah mengucur dari keningku, kemudian bunda memberiku lap untuk menahan kucuran darah yang keluar dari keningku dan membantuku masuk ke dalam mobilnya.
Sesaat aku melihat sekeliling, mencari keberadaan ayah. Hatiku sangat sakit melebihi sakit pada keningku, aku melihat ayah pergi dengan mobilnya.
Dan yang membuat aku tak bisa berkata-kata lagi, ketika di perjalanan menuju rumah sakit, bunda justru berkata "Jika perawat atau dokter bertanya apa yang terjadi, katakan saja kamu terpeleset."
Aku hanya bisa menangis, padahal tadinya aku mengira setelah kejadiaan ini, bunda akan meninggalkan ayah, tapi ternyata tidak, bunda tidak akan pernah meninggalkan ayah.
Air mata Tari mengalir deras di pipinya, ia mengiatkan hatinya untuk kembali membuka halaman berikutnya.