Enough

Enough
Chapter 21



Akibat luka benturan itu, keningku mendapatkan sembilan jahitan. Aku masih tidak yakin kepalaku terbentur apa, tapi yang pasti ini semua karena ayah, dia bahkan tidak menemaniku ke rumah sakit dan memastikan aku baik-baik saja, dia pergi begitu saja, sungguh orang tua yang tidak bertanggung jawab.


Aku tiba di rumah larut malam dan langsung tidur. Kepalaku masih sangat pusing dan tubuhku sedikit demam, bahkan hingga keesokan harinya aku masih istirahat di rumah di temani oleh bunda.


Melihat hujan kembali turun, aku jadi teringat dengan selimut yang harusnya sudah aku berikan pada Ranu. Tapi aku tidak bisa pergi kemana-mana, karena bunda sepanjang hari berada di sampingku.


Untungnya pada malam demamku mulai turun, dan bunda kembali ke kamarnya. Aku menyelinap lewat pintu belakang untuk menyerahkan selimut dan jaket kepada Ranu. Aku membawa senter karena di luar sangat gelap gulita, hujan pun turun semakin deras sehingga walaupun aku sudah mengenakan payung, bajuku masih kebasahan.


Aku menggedor pintu belakang rumah yang di tempati Ranu, dan begitu Ranu membukanya, aku menutup payung dan menerobos masuk untuk berlindung dari udara dingin.


Hanya saja... Saat aku masuk ke rumah Ranu, tidak berlindung dari udara dingin, karena di dalam rumah tua itu justru lebih dingin. Aku menyorot ke sekeliling ruang tamu dan dapur dengan menggunakan senter yang masih menyala.


Tidak ada sofa, kursi, dan juga kasur. Aku menyerahkan ransel yang berisi selimut dan baju hangat kepada Ranu, dan terus memandang ke sekitarku. Ada lubang besar di atap dapur, angin serta air hujan menerobos masuk ke dalam rumah, dan aku baru menyadari jika setengah mata kakinya sudah terendam air.


Aku membekap mulutku karena kaget sekaligus ngeri. Ranu hidup di rumah tua itu selama berminggu-minggu!


Ranu menyentuh punggungku dan berusaha membimbingku ke luar. "Seharusnya kau tidak datang ke sini, Tari," ucapnya. "Kau bisa kena masalah."


Aku menyambar tangannya dan berkata, " Kau juga seharusnya tidak berada di sini." Aku menariknya keluar bersamaku. "Kau bisa tidur di lantai kamarku malam ini. Aku akan mengunci pintu kamarku. Kau tidak bisa tidur di sini Ranu, rumah ini kebanjiran dan terlalu dingin, kau bisa jena radang paru-paru dan meninggal."


Ranu terlihat bimbang, banyangan tentang kepergok di kamar Tari sama menakutkannya dengan kena radang paru-paru dan meninggal. "Okay," jawabnya.


Aku sama sekali tak merasa bersalah telah mengajak Ranu menginap di kamarku, karena toh Ranu akan tidur di lantai, aku hanya memberinya tempat yang hangat untuknya beristirahat.


Setelah menyelundupkannya lewat pintu belakang dan menyelinap masuk ke kamarku, aku membuatkannya teh hangat dan kemudian mengunci pintu kamarku.


Kami mengobrol sembari menikmati secangkir teh hangat, ia menatapku dan bertanya, "Kepalamu kenapa?"


Aku tidak tahu harus bilang apa, aku hanya menyentuh lukaku dengan jemari kemudian beranjak dari tempat duduk memandangi jendela kamarku.


Ranu pasti mendengar perkelahian di garasi dan melihat bundaku membawaku ke rumah sakit. Aku terkejut mendengar Ranu akan ke rumahku, aku tidak bisa membayangkan jika ayahku sampai melihat Ranu mengenakan pakaiannya, ayah pasti marah dan memukul Ranu.


Aku memandang Ranu dengan wajah serius. "Ranu, jangan lakukan itu, kau tidak boleh kerumahku saat ada orang tuaku."


Ranu menghabiskan tehnya kemudian menaruhnya di atas meja belajarku. "Aku mendengarmu menjerit, Tari. Aku sangat khawatir padamu." Ranu berkata seolah aku lebih penting dari segalanya.


"Aku hanya terjatuh." ucapku, rasanya tak enak sekali harus berbohong. Aku menggelar kasur lantai sebagai isyarat sudah waktunya kami beristrirahat, aku tidak ingin lagi membahas soal kejadian kemarin.


Aku merangkak naik ke atas tempat tidur dan bergeser ke samping agar bisa melihat Ranu dari atas. Ranu menengadah memandangku sejenak dengan tangan terlipat di bawah kepala, kemudian berkata, "Saat hujan seperti ini, aku selalu rindu ayah. Waktu kecil ayah sering mengajakku bermain hujan-hujanan di halaman rumah, kini aku hanya bisa mengenang itu semua sambil berdoa agar ayah tenang di alam sana." ucapnya sambil menahan air mata.


"Jadi ayahmu sudah meninggal?" tanya Tari hati-hati.


Ranu mengangguk. "Tapi sejak empat tahun yang lalu, ibuku menikah lagi dengan pria yang sama sekali tak menyukaiku. Kami sering bertengkar, hingga puncaknya enam bulan lalu ia mengusirku dari rumah dan tidak lagi membayar uang sekolahku."


Ranu menghela nafas beratnya. "Selama beberapa bulan aku tinggal di rumah temanku, namun tak lama kemudian orang tuanya di pindah tugaskan ke Aceh, dan mereka tidak bisa mengajakku."


"Lalu bagaimana dengan keluargamu yang lain?" tanyaku kembali.


"Jika keluarga ibuku sampai tahu, ibuku lebih memilih suaminya di banding dengan anaknya, ibuku akan mendapat masalah besar dari keluarganya. Sementara keluarga dari ayah kandungku berada di Eropa, aku hanya tahu nomor kantor tempat paman bekerja, aku sudah beberapa kali mencoba menghubunginya namun sampai sekarang belum berhasil."


"Lalu bagaimana dengan panti? Bukankah fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh negara?" Aku pernah membaca Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, pasal 34.


"Aku pernah mendatangi salah satu panti asuhan, namunku rasanya aku terlalu tua untuk berada di panti. Sehingga aku putuskan untuk bekerja serabutan di pasar senen, dan terdampar di rumah tua itu."


Entahlah aku tidak mengerti pada Ranu, ia masih bisa tersenyum padaku saat ia menceritakan hal sesedih itu. "Jika tabunganku sudah terlumpul, aku berniat mengontrak rumah petak. Apa kau berkenan main di rumahku Tari?"


Aku mengangguk, meskipun aku tak yakin bisa datang karena ayahku sama sekali tak mengizinkan aku main ke rumah teman.