Enough

Enough
Epilog



Enam Bulan Kemudian


Caira berjalan ke ruang kerja Tari dengan wajah cemas sembari mengibas-ngibaskan tangannya. "Tari, aku punya informasi buruk!" ucapnya dengan serius.


Tari mengalihkan perhatiannya dari laptopnya. "Ada apa?" tanyanya.


Caira menarik kursi dan duduk di hadapan Tari. "Stok beras kita sudah menipis," ucapnya. "Suplier yang biasanya mengirim beras sudah tidak bisa lagi memasok beras untuk cafe kita. Ini gawat, Tari!!"


Tari melirik jam di dinding ruang kerjanya, sudah menunjukan pukul 13.00. "Aku sudah terlambat, Kerly sudah harus baby spa." Tari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat tidur bayi yang ia letakan di sudut ruang kerjanya.


Ada dua tempat tidur anak, satu kursi goyang yang Tari dan Caira gunakan untuk menyusui dan sedikit ruang bermain untuk anak-anak mereka. Ya meski keduanya sibuk bekerja, namun mereka tidak melupakan kewajiban mereka sebagai seorang ibu.


Secara perlahan Tari menggendong putrinya, kemudian ia menyambar tas bayi milik putrinya dan berjalan menuju parkiran, di ikuti oleh Caira dari belakang. "Lalu bagaimana dengan berasnya? stok beras kita hanya untuk siang ini saja."


Tari menoleh ke arah Caira. "Nanti aku akan mampir ke pasar senen, mencari suplier baru."


"Okay," Caira pun kembali masuk ke cafe, sementara Tari membuka pintu belakang mobilnya untuk menaruh Kerly di kursi bayi, dan menaruh tas bayinya di sebelahnya.


Dalam perjalanan menuju lokasi tempat biasa putrinya melakukan baby spa, Tara menghubunginya, dengan satu tangannya Tari menganggakat panggilan masuk tersebut.


"Kerly sudah terlambat untuk baby spa, apa ada masalah? Atau perlu aku jemput?" tanya Tara dari seberang telepon dengan nada khawatir. Sebetulnya Tara ingin sekali menjemput putrinya di cafe, namun Tari melarangnya mengingat jarak dari tempat kerja Tara ke cafenya cukup jauh dan terlebih Tari memang sedang ada keperluan, sehingga mereka janjian langsung di tempat baby spa.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya terjebak macet," ucap Tari sembari membelokan stir mobilnya. "Aku sedang mengemudi, sebentar lagi kami akan sampai." ia mematikan sambungan teleponnya dan melempar handphonenya ke kursi di sebelahnya.


Sepuluh menit kemudian Tari dan putrinya tiba di lokasi, tari menepikan mobilnya di samping mobil Tara, ia melihat Tara sudah menunggu di belakang mobilnya. Wajahnya berbinar saat melihat mobil Tari berhenti, Tara membuka pintu belakang mobil Tari. "Hai, putri cantik daddy," sapanya pada putri semata wayangnya, sembari melepaskan sabuk pengaman putrinya.


Kerly tersenyum sembari menggerak-gerakan kaki dan tangannya. "Oh rupanya anak daddy sudah tidak sabar untuk spa," Tara mengecup kening putrinya, barulah ia mengangkat putrinya keluar dari mobil.


Tari turun dari mobil dan mengambil tas bayi milik putrinya, kemudian ia mendekat ke arah Tara dan memberikannya pada Tara. "Tara, maaf sepertinya aku tidak bisa menemani Kerly baby spa," ucap Tari dengan nada kecewa. "Baru saja tadi Caira mengatakan jika suplier beras cafe kami tidak dapat memasok beras lagi, jadi aku harus mencari suplier beras secepatnya. Apa kau tidak keberatan jika menemani Kerly baby spa seorang diri? Aku akan kembali menjemputnya sebelum jam makan malam."


Tara menggeleng. "Selesaikanlah urusanmu, aku dan Kerly akan bersenang-senang hari ini."


"Terima kasih," ucap Tari, ia beralih ke putrinya. "Maafin mommy ya tidak bisa menemanimu hari ini, sampai bertemu nanti malam. Love you, baby," ia mengecup kening putrinya.


Saat Tari hendak berbalik menuju mobilnya, Tara menarik tangannya. "Terima kasih, telah memberikanku kesempatan untuk bermain berdua bersama Kerly," ucapnya. Dari sorot matanya jelas terlihat jika Tara sangat bahagia dan berterima kasih kepada Tari yang perlahan sudah memberikan kepercayaan pada Tara.


Sejak keluar dari dalam penjara satu bulan yang lalu, ini adalah kali pertamanya Tari memberikan kesempatan pada Tara untuk bermain bersama berdua bersama putrinya, Tari percaya jika Tara tidak akan menyakitinya, seperti ayahnya yang tidak pernah menyakitinya.


Tari mengangguk. "Semua keperluan Kerly ada di tas. Bersiaplah untuk serpihan biskuit yang mungkin akan mengotori pakaianmu."


Tara tertawa. "Aku selalu siap dengan semua keajaiban putri kita," ia mengecup pipi chubby putrinya, kemudian ia membimbing Kerly untuk melambaikan tangannya ke arah Tari yang mulai masuk ke mobil, dan pergi menuju pasar senen.



"Toko yang aneh," gumamnya. Dengan penasaran Tari mencoba masuk ke ruko tersebut. "Permisi, apa ada orang?" ia terus berjalan masuk hingga ia melihat tiga orang pria duduk lantai tengah bermain poker.


"Permisi."


Seorang pria menaruh kartunya di lantai. "Hei nona, apa kau tidak melihat papan tutup di depan?" tanya pria itu dengan kesal, kemudian ia mendongak menatap Tari. "Tari?" seketika wajah kesal Aji berubah menjadi tersenyum menyambut kedatangan Tari, dua pria yang tengah bermain bersama Aji pun ikut mendongak menatap Tari.


Bagas?


Ranu?


Ranu menatap Tari dalam-dalam, matanya tertuju pada perut Tari yang sudah rata. "Hai Tari," sapanya sembari berdiri dan menghampiri Tari.


"Hai," balas Tari dengan gugup, ia menatap ketiganya secara bergantian "Bisa tolong antarkan beras ke cafeku?" pintanya.


"Tentu saja, sekarang juga aku akan mengirimkan beras terbaik ke cafemu!" ucap Aji, dengan penuh semangat, ia menunjukan beberapa merk beras terbaik yang ia miliki. "Beras-beras yang kami miliki benar-benar murni tanpa campuran apa pun, kau tidak akan kecewa!"


"Okay, mulai sekarang kau jadi suplier beras untuk cafeku." Tari mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar beras yang ia pilih kemudian ia memberikan sebuah kartu namanya yang terdappat alamat serta nomor handphonenya.


Setelah transaksi beras selesai, Ranu mengajak Tari mencari tempat untuk mengobrol. Tari mengangguk, "Boleh," jawabnya.


Ranu tersenyum kemudian ia menggandeng Tari menuju sebuah angkringan yang tak jauh dari ruko beras milik kedua temannya.


Ranu bercerita tentang dirinya setelah kejadian di rumah ibunda Tari, sembari menuangkan teh tawar hangat ke gelas Tari.


Tari meminumnya satu tegukan. "Kau benar-benar tinggal di Jakarta sekarang?" tanya Tari seakan tak percaya.


Ranu mengangguk. "Ya, aku tidak bisa meninggalkan ibuku," ucap Ranu. "Sekarang aku bekerja di salah satu stasiun televisi swasta, dan rencanya aku mau meneruskan S3ku di sini. Bagaimana denganmu?" mata Ranu kembali tertuju pada perut Tari.


"Aku sudah melahirkan bayi perempuan," jawab Tari. "Saat ini putriku sedang bersama daddynya, kami akan mencoba untuk menerapkan sistem pengasuhan secara bergantian."


"Maksudmu?"


"Tiga bulan yang lalu, saat Tara masih di dalam sel, kami telah resmi bercerai." Tari menatap Ranu dalam-dalam, sembari menggenggam tangannya. "Ranu apakah aku masih jadi tokoh utama yang paling kau cintai dalam hidupmu?"


Ranu terdiam sesaat mendengar pertanyan Tari, kemudian ia menarik Tari ke dalam pelukannya. "Ya, kau masih jadi orang yang paling kucintai," bisiknya. "Berhentilah berenang, Tari. Karena kita telah sampai." bisik Ranu, ia mendaratkan bibirnya di atas tato hati di leher Tari tempat pertama kali Ranu menciumnya sepuluh tahun yang lalu.