
Di perjalanan menuju apartementnya, Tari tak hentinya tersenyum sembari memegang perutnya, ia mengingat ucapan suaminya yang mendamba kehadiran calon buah hati di tengah keluarga kecilnya. Tari semakin tak sabar untuk tiba di rumah, membuat calon buah hati bersama suaminya.
Pukul 22.30 Tari sampai di apartementnya, ia melihat sekeliling ternyata sebagian lampu di kediamannya sudah di padamkan, hanya tinggal ruang keluarga saja yang belum Tara padamkan, itu salah satu pertanda bahwa Tara sudah selesai meeting dan kemungkinan suaminya sudah beristrirahat.
Tari memutuskan untuk membersihkan diri dan sedikit berdandan serta mengenakan pakaian sexy agar suaminya bangun dan tergoda. Selama ini Tara tak pernah keberatan jika Tari membangunkannya hanya sekedar untuk bercinta, justru Tara merasa senang melihat istrinya di penuh oleh gairah.
Saat Tari masuk ke kamarnya, ia menjerit. Tangannya mendekap dada dan mudur beberapa langkah. Tari terkejut melihat lampu proyektor dari kotak musik pemberian Ranu menyala dengan indahnya di dinding kamarnya.
Dalam kegelapan, Tara berdiri dengan punggung bersandar ke dinding di sebelah lemari pakaiannya, kakinya bersilang dan matanya menyipit ke arah Tari. Ia memegang segelas anggur di tangannya sambil terus menatap istrinya yang berdiri di ambang pitu kamar.
Tara berjalan mendekat ke arah Tari. "Kotak musik yang indah, dari mana kamu mendapatkannya?" ia berhenti sejenak saat tiba di depan meja rias untuk menaruh gelasnya, kemudian kembali berjalan menghampiri istrinya.
Tari sama sekali tak ingin memberitahu bahwa kotak musik itu hadiah dari Ranu saat ulang tahunnya yang ke depapan belas. Itu hanya akan mengorek luka lama, dan Tari bisa memastikan jika Tara akan marah padanya.
Tari mengangkat bahu. "Aku tidak ingat siapa yang memberinya. Itu hadiah dari teman SMA ku. Dulu sebelum perpisahan kita sempat bertukar kado secara acak, jadi aku tidak begitu ingat siapa yang memberi."
Tara menatap Tari tanpa bicara, kemudian ia maju dua langkah lebih mendekat. Sementara Tari mundur hingga keluar dari kamarnya, dengan wajah gugup. Dua tangan Tara meraih pinggang Tari, kemudian turun merem*s bok*ng Tari dan menarik istrinya merapat ke tubuhnya.
Bibirnya memagut bibir Tari, Tara mencium Tari sambil mulai menyibakan short dress yang di kenakan istrinya, kemudian menurunkan cel*na dal*mnya.
'Baiklah, jika dia ingin melakukannya di ruang keluarga,' batin Tari.
Bibir Tara turun menyusuri leher Tari, sementara Tari menendang sepatu hak tinggi yang di kenakannya hingga terlepas dari kakinya, kemudian Tara melepaskan cel*na dal*m Tari sepenuhnya.
Kurasa, aku tidak perlu berdandan dan mengenakan baju sexy untuk menggoda suamiku.
Napas Tari mulai terengah-engah, saat bibir Tara yang hangat menyapu mulutnya, ia bisa merasakan aroma anggur yang Tara minum. Kemudian Tara mencengkram rambut Tari, dan menariknya agar Tari menatapnya. "Ayo kita bermain kejujuran," ucapnya.
Tari mengangguk.
Kedua tangan Tara kembali masuk ke dalam short dressnya dan mengelus paha Tari dengan lembut, hingga Tari mengeluarkan erangan halus.
"Dari mana kamu mendapatkan figure ikan dan kotak musik itu, Tari?"
Kenapa Tara sekarang menanyakan figure Dory dan Marlin juga?
Jantung Tari berdegup dengan kencang, ia semakin takut menatap mata tajam suaminya. Tangan Tara yang masih menggegam rambut Tari, kini menariknya lebih kencang, hingga Tari meringis kesakitan.
"Tara," bisiknya, ia menjaga suaranya agar terdengar tetap tenang meski tubuhnya mulai gemetar. "Tara, sakit."
Tari mencoba melepaskan tangan Tara dari rambutnya. "Kamu mabuk Tara, lepaskan!!"
"Aku tak perlu menjawabnya karena aku sudah mengatakannya padamu," Tari menerbos melewati suaminya, ia bergegas masuk ke kamarnya untuk mematikan lampu proyektor pada kotak musiknya.
Namun langkahnya terhenti ketika Tara mengucapkan. "Cahaya jingga di tepi danau."
Tari menelan ludahnya, ia semakin gugup karena ternyata suaminya membaca tulisan pada bagian bawah kotak musiknya. "Kau mabuk Tara, lebih baik kita istirahat." Tari kembali melangkah ke kamarnya.
Mendadak Tari tertegun ketika ia menyalakan lampu kamarnya. Banyak benda berserakan di atas tempat tidurnya. Kotak kardus pindahan yang ia simpan di bagian bawah lemari pakaian, kini sudah berada di luar lemari.
Kotak sepatu... Buku harian...
Tari memejamkan matanya, ia menarik napas perlahan.
Tara membaca buku hariannya.
"Teruslah berenang, Tari," bisiknya sembari merangkul pinggang Tari dari belakang. Tangannya merayap naik ke perut lalu mencengkram keras ke salah satu payud*ra Tari. Sementara tangan yang lain memegang bahu Tari dan menyibakkan rambut Tari dari leher.
Tari memejamkan mata rapat-rapat, tepat saat jemari Tara meraba kulitnya, dan mengusap tato berbentuk hati di lehernya. Seluruh tubuh Tari merinding ketika Bibir Tara menyentuh kulit Tari, tepat di atas tato itu Tara menancapkan giginya begitu kencang hingga Tari menjerit sekencang-kencangnya.
Tari berusahan melepaskan diri dari Tara, namun Tara mencengkramnya begitu erat. Tara sama sekali tak bergeser, giginya terus menghujam dan mengoyak leher Tari. Tak ada yang bisa di perbuat oleh Tari, ia langsung menangis tersedu-sedu.
"Tara, lepaskan aku," ucap Tari dengan suara memohon. "Tolong pergilah dulu, kamu sedang emosi."
Tara membalik tubuh Tari, menghadap ke arahnya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu ucapan pemberian Ranu. "Pembohong licik," Tara melempar kartu itu di wajah Tari, kemudian mendorongnya ke tempat tidur, Tari mencoba melawan namun Tara terlalu kuatnya.
Tara marah, sakit hati, dan ini bukan Tara yang aku kenal.
Punggung Tari terhempas di tempat tidur, dengan panik ia bergerak mundur, menjauh dari Tara.
"Mengapa preman pasar senen itu ada rumah kita?" bentak Tara, dengan nada tinggi. Sekarang Tara benar-benar marah. "Dia ada di mana-mana. Di buku harian yang kutemukan di kotak dalam lemari pakaian kita, di meja riasmu, dan di tubuhmu yang seharusnya menjadi miliku seutuhnya."
Tara melepas celananya dan naik ke tempat tidur.
"Tara," pinta Tari. "Aku bisa jelaskan semuanya kepadamu." air mata Tari mengalir deras di pipinya. "Kamu sedang marah. Tolong jangan sakitiku, aku mohon pergilah dulu. Saat kau sudah tenang, akan aku jelaskan semuanya."
Tara menyambar pergelangan kakinya dan menarik tubuh Tari dengan kencang hingga Tari berada di bawah tubuh Tara. "Aku tidak marah, Tari." ucapnya dengan suara yang mengerikan. "Aku hanya berpikir, kalau aku perlu membuktikan sesuatu kepadamu." Tara membalik tubuh Tari dengan kasar, kemudian menindihnya dan ia mencengkram dua pergelangam tangannya dengan satu tangan di atas kepalanya, menekannya degan keras ke kasur.
"Tara, aku mohon jangan!!" Tari terisak, kemudian ia menjerit kesakitan ketika Tara menghujam bok*ngnya.