Enough

Enough
Chapter 40



SATU BULAN KEMUDIAN


"Oh Tari, sampai sekarang bunda masih tidak menyangka jika putri kecil bunda kini telah memiliki seorang suami, jadi kapan kalian akan memberi bunda cucu?" tanya Surinala pada sambungan telepon.


Tari merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Astaga bunda, kami baru saja satu bulan menikah sudah menanyai cucu." Tari menaruh tangannya di bawah kepalanya. "Sebenaranya kami berencana menunda punya anak, karena kami masih sangat sibuk sekali," ucap Tari, ia tahu bahwa apa yang ia sampaikannya akan membuat bundanya kecewa, tapi ia harus mengatakan yang sebenarnya agar bundanya tak terus menanti.


"Baiklah, apa pun keputusan kalian yang penting kalian bahagia dan sering mengunjungi bunda," ucap Surinala.


"Kalau itu sih pasti bunda, kami akan mengunjungi setiap akhir pekan." Tari mendengar pintu depan di buka. "Sudah dulu ya bund, suamiku baru saja pulang. Love you mmmmuah..." Tari mematikan sambungan telepon dan mencampakan handphonenya di atas meja.


Tari menaruh satu kakinya di sandaran sofa, membiarkan roknya meluncur turun di paha dan mengumpul di pinggangnya. Tara yang baru saja pulang langsung menyusuri tubuh istrinya dengan tatapan dan senyuman bahagia sembari berjalan menghampiri Tari.


Perlahan Tara merayap naik di badan istrinya. "Bagaimana harimu sayang?" bisiknya, mendaratkan ciuman di bibir Tari.


"Sangat menyenangkan, pelangganku sangat ramai," jawab Tari sembari mendesah ketika Tara menciumi lehernya.


Inilah kehidupan impian Tari.


Dimana di pagi hari ia dan suaminya sama-sama bekerja, dan malamnya menghabiskan waktu bersama.


"Bagaimana harimu di kantor?" tanya Tari.


"Tadinya menyenangkan tapi sekarang sedikit lelah karena lift apartement baru saja dalam perbaikan, jadi terpaksa aku naik tangga darurat." Tara mencium leher Tari kuat-kuat, hingga Tari merasa sedikit nyeri "Aduh."


Tara menindih Tari dan bergumam. "Jangan bergerak sayang, aku sedang memberi tanda kepemilikan."


Seketika Tari tertawa, ia membiarkan suaminya memberi tanda kepemilikan di lehernya, ia tak merasa keberatan karena ia memiliki rambut panjang untuk menutupinya.


Tara terus menghisap dan mencium sampai Tari tak lagi bisa merasakan sengatan perih di lehernya. Tara mengimpit rapat tubuhnya hingga Tari merasakan bukti gairah di balik celana suaminya bangkit.


Tari menggerakan tangan dan menurunkan celana kerja suaminya, sementara Tara terus menciumi leher Tari hingga tubuh mereka menyatu.



"Thank you baby," Tara mengecup kening Tari, untuk beberapa saat setelah melakukan pelepasan, Tara tidur di atas tubuh Tari. "Mau mandi bersamaku?" tanyanya.


Tari menggeleng. "Kamu duluan saja, aku mau menyiapkan pakaian dulu."


"Baiklah kalau begitu." Tara beranjak dari tubuh istrinya, dan berjalan menuju kamar mandi, sementara Tari menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh dirinya dan Tara untuk menghadiri undangan makan malam Caira di restoran mewah sebagai perayaan ulang tahun Gala.


Begitu Tara selesai mandi, Tari langsung buru-buru mandi, ia berusaha mengikat rambutnya serapih mungkin agar tak terkena air saat ia mengguyur tubuhnya. Selesai membersihkan tubuhnya, ia menyambar handuk dan mengeringkan tubuhnya saat itu ia mendenggar suara benda jatuh. Gerakan Tari terhenti.


"Tara?"


Hening.


Tari selesai mengeringkan tubuhnya, kemudian mengenakan handung piyamanya. Suara benda jatuh terdengar lagi.


Sebenarnya Tara sedang apa?


"Sayang!"


Masih tak ada jawaban, ia pun bergegas keluar dari kamar mandi. "Sayang?" ia terkejut ketika melihat meja riasnya terguling. Tari berjalan menuju ruang keluarga untuk mencari keberadaan suaminya, dan Tari pun mendapati suaminya tengah duduk di tepi sofa.


"Kamu kenapa sayang?"


Tara mendongak menatap Tari dengan tatapan tajam, hingga Tari tak bisa lagi mengenali suaminya. Tari bingung dengan apa yang terjadi, ia menerka-nerka, apakah suaminya baru saja mendapatkan kabar buruk atau....


"Tara, kau membuatku takut. Ada apa sebenarnya?"


Tara menunjukan handphonenya, ia menatap istrinya seolah seharusnya Tari tahu apa yang terjadi, namun Tari menggelengkan kepalanya, ia masih tidak tahu apa yang di maksud Tara.


Ya Tuhan.


Tidak, tidak, tidak.


Tara meremas kartu nama itu." Tadinya ku pikir istriku ini tidak menyembunyikan apa pun suaminya." ia berdiri dan mengangkat handphone Tari. "Tadi aku sempat menghubunginya."


Tara mencengkram handphone Tari dengan erat. "Dia beruntung tak mengangkat teleponku." ia melempar handphone Tari kuat-kuat sampai membentur tembok dan hancur berkeping-keping di lantai.


Ada jeda dua detik dimana Tari berpikir, apa yang akan terjadi selanjutnya.


Apakah Tara akan meninggalkannya?


Atau Tara akan menyakitinya seperti dulu?


Tara menghembuskan nafas beratnya kemudian ia beranjak pergi begitu saja menuju pintu depan apartemennya.


Tara pergi meninggalkan apartement Tari.


"Tara!" teriak Tari, ia membuka pintu dan berlari mengejar Tara. Tara sudah menuruno tangga darurat, namun Tari terus berlari mengejarnya, hingga ia berhasil menggapainya.


Tari mendesak ke depannya dan menyambar kemeja suaminyadengan kedua tangannya. "Sayang aku mohon dengar dulu penjelasanku."


Tara menatap Tari dengan tatapan penuh kemarahan, ia mencengkram bahu Tari dan mendorong tubuh Tari menjauh darinya.



"Jangan bergerak," ucap Tara.


Tari merasakan tangan Tara bergerak di keningnya, ia juga merasakan kepalanya sangat pusing. Perlahan Tari berusaha untuk membuka matanya, ia meringis merasakan perih yang menusuk di sudut matanya.


Tari mencoba untuk duduk, tapi Tara menahan bahu Tari. "Kamu jangan bergerak dulu, aku belum selesai."


"Selesai apa?" tanyanya, sembari kembali mencoba membuka matanya, ia mengangkat tangan dan menutup mulunya, merasakan perih saat ia berbicara.


"Tadi kamu jatuh dari tangga," jawab Tara. "Dan kau terluka, jadi diamlah sebentar, aku sedang mengobati lukamu."


Tari menatap mata Tara, ada pancaran kekhawatiran, namun ada juga pancaran sakit hari, serta kemarahan pada sorot matanya. Sementara Tari kembali memejamkan matanya, mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya.


Handphoneku.


Kartu nama Ranu.


Tangga darurat.


Aku menyambar kemerjanya.


Suamiku mendorongku.


Aku bukan jatuh, suamiku sendiri yang mendorongku, dan ini sudah yang kedua kalinya ia mendorongku.


Tari tak tahu seberapa cidera yang ia alami, namun ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tapi semua sakit di tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya, mendapati fakta bahwa suaminya sendirilah yang membuatnya terjatuh.


Tari menepis tangan suaminya, ia ingin Tara pergi menjauh dari dirinya.


Tara menatap Tari dengan tatapan dingin, ia sama sekali tak meminta maaf atas apa yang telah ia perbuat. "Kau mengalami sedikit luka sobek di bagian bibir dan dahi, namun tak memerlukan jahitan, jadi cukup aku plaster saja," ucapnya. "Apa ada lagi yang sakit di bagian lainnya? Aku bisa memeriksanya untuk tahap awal," ucapnya bak seorang dokter, bukan layaknya seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya.


"Kau mendorongku," ucap Tari di sela tangisannya.


"Kamu jatuh," sahutnya. "Ternyata aku menikahi seorang pembohong licik," Tara melempar kartu nama Ranu di wajah Tari. "Kalau ada apa-apa hubungi saja dia." Tara beranjak dari kamar Tari dan membanting pintu keluar.