
Keesokan harinya Tari di kejutkan dengan kedatatangan Ranu di cafenya. Caira menegetuk pintu ruang kerja Tari dan masuk menemuinya. "Kamu masih ingat dengan ceritamu beberapa menit lalu, yang mengatakan kita tidak boleh ke restoran Jepang itu lagi karena akan menyakiti hati kakakku, sebab chefnya adalah cinta pertamamu?"
Tari bersandar ke kursi. "Lalu?"
Caira mengerutkan hidungnya dan berkata, "Jika kita tidak boleh ke restoran Jepang itu lagi karena akan menyakiti hati Tara, bagaimana kalau chefnya yang datang ke sini?"
"APA?" Tari langsung menutup laptopnya dan beranjak dari tempat duduknya. "Dia ada di sini?"
Caira mengangguk. "Ya. Dia ada di sini dan ingin menemuimu. Aku tahu kau pacar kakakku dan aku sedang hamil, tapi bisakah kita sebentar saja diam-diam mengagumi kesempurnaannya? Dia bahkan jauh lebih tampan dari suami dan kakakku, dan yang lebih penting dia jago memasak. Aku ingin sekali belajar memasak dengannya, atau paling tidak colaborasi dengannya."
Caira tersenyum seolah ia tengah di mabuk kepayang oleh ketampanan Ranu. Tari merotasikan bola matanya. "Caira...."
"Matanya coklatnya sungguh indah..."
Ranu membuka pintu ruang kerja Tari dan berjalan masuk.
"Caira berhentilah! Orangnya sudah ada di belakangmu" ucap Tari memotong ucapan Caira.
Caira berhenti, lalu mencondongkan badanya mendekat ke arah Tari. "Kita sedang membutuhkan tambahan pegawai, bagaimana kalau kau tawarkan dia untuk masak di sini?"
Tari menyipitkan matanya, "Bisa tolong tinggalkan kita berdua?"
"Oh okay. Bicaralah selama yang kau mau." Caira keluar dari ruang kerja Tari, sembari mengedipkan matanya ke arah Ranu saat melewatinya.
Tari menyimpan segunung rasa bersalah terhadap Ranu atas kejadian kemarin, namun ia juga menyimpan segunung amarah terhadap Ranu.
Ranu tersenyum, memandang sekeliling. "Ini sangat luar biasa, Tari."
Tari diam sejenak. "Terima kasih."
Ranu terus tersenyum kepada Tari, seolah ia bangga dengan cafe yang di miliki oleh Tari, kemudian ia meletakan paper bag di atas meja kerja Tari. "Hadiah untukmu," ucapnya.
'Kenapa dia membelikan hadiah untukku? Bukankah dia punya kekasih dan dia pun tahu jika aku punya kekasih?'
"Kenapa kamu membelikan hadiah untukku?" tanya Tari.
Ranu duduk di hadapan Tari. "Aku membelinya tiga tahun lalu, sewaktu aku pulang ke Jakarta. Aku berharap bisa bertemu lagi denganmu, tapi ternyata kamu sudah pindah. Aku sempat mencarimu, namun sayangnya belum sempat aku menemukanmu, jatah cutiku sudah habis dan aku harus kembali lagi ke London."
'Mencariku? Jadi selama ini Ranu mencariku?'
"Aku datang kemari untuk meminta maaf, sekaligus mengajakmu ke London. Hiduplah bersamaku,Tari. Aku ingin memenuhi semua janji-janjiku padamu."
Tari terdiam mendengar jika Ranu masih mengingat semua janji yang pernah ia ucapkan sembilan tahun yang lalu.
"Hmm.." Tari berdeham. "Kau tidak perlu meminta maaf, Tara baik-baik saja. Dan maaf aku tidak bisa tinggal bersamamu, aku tidak bisa meninggalkan cafeku dan juga tidak bisa meninggalkan Tara. Kami saling mencintai."
Ranu menatap Tari dalam-dalam. "Aku minta maaf bukan karena bajing*n sial*n itu, aku minta maaf karena telah mengatakan kamu mirip dengan bundamu. Dan aku tahu itu pasti menyakiti hatimu." Ranu meraih tangan Tari, dan menggenggamnya erat. "Aku mohon tinggalkan dia, hiduplah bersamaku, peri baikku. Aku akan berangkat malam ini, jika kamu bersedia akan aku suruh orang untuk mengelola cafe ini."
Tari melepaskan genggaman tangan Ranu. "Tidak. Aku tidak bisa!! Janjimu sudah lunas tanpa perlu kau tunaikan, kamu tidak memiliki hutang apa pun kepadaku. Berbahagialah dengan kekasihmu, Ranu."
Mendengar semua fakta yang ada, bahwa Ranu tak pernah memiliki kekasih selain dirinya, bahwa Ranu selama ini mencari dirinya dan bahwa Ranu selama ini berusaha untuk memenuhi semua janji-janjinya, rasanya Tari ingin menangis. "Maaf. Aku tidak bisa, Ranu." ia menggelengkan kepalanya sembari menahan air matanya yang hampir jatuh.
Ada pancaran kekecewaan pada sorot mata Ranu, namun tatapannya turun ke meja kerja Tari. Ranu meraih handphone Tari, dan membuka case handphonenya. Ranu menyelipkan kartu namanya di dalam sana, dan menutupnya kembali. "Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan, aku akan langsung pulang ke Indonesia." Ranu beranjak dari tempat duduknya.
Tari meringis melihat sikapnya. "Aku tidak membutuhkannya."
"Semoga saja tidak, aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu." Ranu berjalan ke arah pintu dan bersiap membukanya.
"Ranu, tunggu.." Tari berdiri dan mendorong kursi ke belakang, hingga membentur dinding.
Ranu setengah membalik badan dan menghadap Tari, yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Yang Tara katakan kemarin, aku tidak pernah..." Tari nampak sangat gugup. "Aku tidak pernah bercerita banyak tentangmu, hanya satu kali aku berucap dan itu pun sudah lama sekali."
Ranu tersenyum sembari mengangkat tangannya, ia mengelus kepala Tari dengan lembut. "Aku percaya kamu tidur denganku bukan karena rasa kasihan. Aku juga berusaha menunaikan janjiku padamu bukan karena hutang budi. Tapi karena cinta, dan aku yakin jika aku masih jadi pemenang hatimu."
Tangan Ranu turun ke bahu Tari. "Aku masih akan menunggumu di bandara hingga jam delapan malam ini." ia berbalik dan pergi meninggalkan cafe.
Setelah Ranu pergi meninggalkan cafe, Caira bergegas masuk ke ruang kerja Tari, ia melihat Tari tersungkur di lantai. "Tari, kau baik-baik saja?"
Caira mengulurkan tangan dan membantu Tari berdiri. "Jadi kenapa dia datang kemari?"
Tari berjalan ke meja kerjanya dan duduk dengan nyaman sembari melirik handphonenya di atas meja. "Dia hanya ingin minta maaf," hanya itu yang bisa Tari katakan pada Caira, ia tidak mungkin mengatakan jika Ranu memintanya meningglkan Tara dan ikut dengannya ke London.
"Apa itu artinya dia tidak mau bekerja di sini atau sekedar colaborasi denganku?"
Tari tersenyum mendengar ucapan Caira. "Tentu saja tidak. Kembalilah bekerja sebelum kupotong gajimu."
Caira tertawa dan beranjak pergi, namun Tari memaanggilnya kembali. "Caira, tunggu."
"Aku tahu," ucapnya. "Kakakku tidak perlu tahu soal kedatangan chef tampan tadi kan? Kau tidak perlu khawatir, Tari."
Tari tersenyum. "Terima kasih."
Caira pergi dan menutup pintu ruang kerja Tari.
Tari meraih paper bag pemberian Ranu, ia mengeluarkan karakter figure Marlin dan Dory seharga 25 juta. Tari tertawa melihat sepasang ikan tersebut karena teringat dirinya pernah menonton bersama Ranu. Kemudian Tari membaca kartu ucapan yang di sematkan di hadiah tersebut.
Tari,
Teruslah berenang.
-Ranu
Tari meraba kartu itu, ia memeluk dan menangis tanpa air mata.