
"Aku Bagas," pria bertubuh tinggi dan kekar itu mengulurkan tangannya ke arah Tari.
Tari tersenyum, dan tanpa ragu ia menerima jabatan tangan Bagas. "Aku Tari," ucapnya kemudian ia melepaskan tangannya dan melihat pria dengan badan yang sama berdiri di sebelah Bagas.
"Aku Aji," ia menjabat tangan Tari. "Apa kamu bisa bermain poker?" tanya Aji kepada Tari. Ranu langsung melepaskan tangan Aji yang masih memegang tangan Tari "Kalian kemari untuk menjenguk bukan untuk bermain. Kalian mainlah di luar, Tari mau istirahat," selanya.
"Aku bisa main poker, mari kita main," ajak Tari, ia memandang ke arah Ranu dan mengedipkan matanya.
Lagi-lagi Ranu tak dapat menolak permintaan Tari, ia meminta Bagas temannya untuk mengambil meja tempat makan Tari, sebagai alas mereka bermain poker, sementara Aji mengocok kartu.
"Kau benar-benar tahu cara bermain poker, Tari?" tanya Aji.
Tari mengangkat bahu. "Sudah lama sekali aku tidak bermain poker, terakhir saat masih kuliah," ujar Tari. "Sini biar aku saja yang mengocoknya, kau mengocok seperti bayi."
Aji mengangkat alis dan memberikan setumpuk kartu kepada Tari. Sebenarnya Tari tak banyak tahu tentang bermain kartu, namun ia bisa mengocok kartu seperti pemain profesional.
Ia membagi kartu menjadi dua tumpukan dan menggesernya dengan cepat, kenudian menekan dua ibu jarinya ke masing-masing ujung. Ketiga pria yang berada di sekelilingnya tercengang menatap Tari. "Kau sungguh luar biasa dan terlihat profesional, Tari," puji Bagas.
"Apa Ranu sengaja memacarimu hanya untuk mengejek kami? Karena orang biasa tidak mungkin bisa mengocok kartu sehebat itu!" sambung Aji.
Tari tertawa sembari membagi kartu ke mereka bertiga satu per satu. "Kurasa kita perlu bermain satu putaran dulu untuk bisa menjawab itu."
Di tengah permainan, Bagas nampak memperhatikan perban yang membalut kepala dan leher Tari. "Kamu kecelakaan di mana, Tar?" tanyanya penasaran.
Tari memegang perban di kepalanya. "Di rumah. Suamiku sendiri yang melakukan ini, ia membenturkan kepalaku di penyanggah tempat tidur," jawabnya dengan santai sembari memperhatikan kartu-kartu di tangannya.
Aji dan Bagas saling menatap. "Jadi kau sudah menikah?" Aji merasa sedikit merasa bersalah karena dugaannya keliru, ia mengira bahwa Tari adalah kekasih Ranu.
"Rupanya kau menikah dengan seorang baj*ngan. Seharusnya kau menghubungi kami, agar kami datang untuk menghajarnya," ucap Bagas. "Lalu di mana kalian kenal?" tanya kembali.
Ranu menekuri kartu dan melempar tiga keping poker. "Tari menyelamatkan nyawaku sewaktu aku masih jadi gelandangan pasar," jawabnya lugas. Ia melirik dan mengedip, hingga membuat Tari menjadi salah tingkah. Mengapa jantungku berdebar-debar?
"Oh itu manis sekali," sahut Aji. "Kalian berdua sahabat yang saling tolong menolong. Aku bersyukur kau menyelamaykan Ranu, kalau Ranu tidak kau selamatkan maka kami akan hidup dalam kebodohan seumur hidup. Dulu sewaktu kami sama-sama menjadi preman pasar senen, Ranu sering mengajari kami membaca."
Tari tersenyum mendengar cerita Aji, dalam benaknya ia mengakui selain pintar Ranu sangat peduli terhadap sesama.
Di tahap membuka kartu, Ranu dan Tari saling berpandangan, mereka membandingkan kartu-kartu yang mereka miliki sesuai urutan kekuatan kombinasi kartu.
Ranu mengelus kepala Tari, ia sangat senang melihat Tari sudah bisa tertawa lagi. "Ya kau menang." ia beranjak dari tempat tidur Tari sembari merapihkan semua kartu. "Okay. Jam besuk sudah habis, sebentar lagi Tari akan kembali menjalani pemeriksaan."
Ranu meminta kedua temannya untuk keluar dari ruang rawat inap Tari. "Senang berkenalan denganmu, Tari." Aji dan Bagas melambaikan tangannya, mereka keluar, di antar oleh Ranu sampai depan pintu.
"Hubungi aku jika kau butuh bantuan untuk menghajar suami baj*nganmu," ucap Bagas sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruang rawat inap Tari.
Ranu menutup pintu dan kembali pada Tari. "Tidak perlu kau dengarkan, mereka hanya bercanda," ia merapihkan meja dan selimut Tari.
"Tidak apa-apa, aku sangat terhibur dengan kedatangan mereka. Terima kasih ya, Ranu." Tari memegang lengan Ranu sembari menatapnya.
"Istirahatlah! sebentar lagi jadwal pemeriksaan." Ranu mengelus kepala Tari, dan mengecup keningnya. Ia kemudian berjalan ke tempat duduknya, dan mulai bekerja.
Tari tersenyum bahagia mendengar detak jantung janin dalam rahimnya, ia masih tak percaya jika akan ada manusia baru yang berada di perutnya. "Ranu, aku akan punya bayi," ucapnya, ia tak dapat menahan air mata bahagianya, terlebih saat ia melihat calon buah hatinya pada layar monitor, Tari semakin tak bisa berkata-kata.
"Jadi bagaimana dok, kondisi janin dalam kandungan, Tari?" tanya Ranu, ternyata bukan hanya Tari yang merasakan kebahagian kehadiran calon buah hatinya, namun Ranu pun terlihat begitu bersemangat. Banyak hal yang ia tanyakan seputar kehamilan di trimester awal, mulai dari cara mengatasi mual, hingga makanan yang tidak boleh Tari makan.
"Kamu dengar semua ucapan dokter tadi kan, Tar?" tanya Ranu sembari mendorong kursi roda Tari, menuju ruang rawat inapnya.
Tari mendongak, menatap Ranu. "Iya, aku dengar semuanya. Terima kasih ya, kamu sudah menemaniku periksa kandungan." Tari mengelus perutnya dengan lembut, ia membayangkan apakah bayinya laki-laki atau perempuan dan akan ia beri nama apa? Tari juga penasaran apakah bayinya akan mirip dirinya atau Tara.
Mengingat Tara, mendadak gelombang kemarahan muncul menghancurkan imajinasinya tentang calon buah hatinya, ia merasa Tara telah merenggut sebagian kebahagiaan darinya.
Namun di sisi lain ia memiliki perasaan khawatir. Kahawatir jika Tara bisa melacak keberadaannya dan membuat suasana semakin panas karena kini dirinya tengah bersama Ranu.
Ranu mengangguk, kemudian ia membuka pintu ruang rawat inap Tari. Tari sangat terkejut melihat ibundanya sudah berada di ruang rawat inapnya, tengah menunggu kedatangannya.
"Oh Tari," ucapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran, ia langsung menghampiri Tari dan berjongkok memeluk putrinya. Surinala melepaskan pelukannya dan memandangi putri semata wayangnya.
Tari menggenggam erat tangan bundanya. "Aku baik-baik saja bunda, ini hanya kecelakaan. Bunda tidak perlu khawatir." pandangannya beralih ke Ranu, seolah meminta kejelasan mengapa orang tuanya bisa berada di sini.
"Maafin aku ya, Tar. Aku sudah lancang membuka handphonemu untuk mencari nomor telepon bundamu," ucap Ranu, ia menatap mata Tari dalam-dalam. "Aku sama sekali tidak keberatan untuk merawat dan menjagamu. Aku justru sangat senang bisa berada di sisimu sepanjang waktu, bahkan kalau bisa seumur hidupku. Tapi aku tidak mau situasi ini nantinya justru di manfaatkan pria itu untuk melakukan pembenaran atas tindakannya kepadamu." Ranu mengelus bahu Tari dengan lembut. "Sekali lagi maafin aku ya, aku hanya ingin kamu mendapatkan suport dari orang-orang terdekat yang betul-betul sayang padamu."
Air mata Surinala mengalir deras di wajahnya. "Yang di katakan Ranu benar, Nak," ujarnya, ia kembali memeluk putrinya. "Kamu adalah segalanya untuk bunda."