Enough

Enough
Chapter 10



Tari tertawa. "Ternyata ingatanmu sangat kuat."


"Tentu saja," ucapnya. Senyum kecil merekah di bibirnya. "Aku bukan hanya ingat tentang hal itu, tapi aku ingat dirimu yang sulit di lupakan. Kamu betah berlama-lama berada dalam pikiranku"


'Oh my God. Kenapa kedengarannya ia seperti sedang menggombal?' batin Tari, ia menekan kedua telapak tangannya ke meja dan menurunkan kakinya. "Mau dengar sebuah kejujuran?" tanya Tari.


Tara bersandar di meja, di sebelah Tari dan kemudian ia berkata "Aku selalu siap mendengarkan kejujuranmu."


Tari berdeham. "Aku sangat tertarik padamu," ucap Tari. "Tidak ada hal yang tidak aku suka darimu, meskipun kita punya tujuan hidup yang berbeda. Kalau suatu saat kita bertemu lagi, tolong berhentilah menggombal. Karena hal itu membuat kepalaku pusing."


Tara menganggukan kepalanya, kemudian berkata. "Sekarang giliranku." Ia meletakan satu tangannya di atas meja, dan mendekatkan tubuhnya ke arah Tari. "Aku juga sangat menyukaimu, tidak ada hal yang tidak aku suka darimu. Tapi aku berharap, aku tidak akan bertemu lagi denganmu, karena terlalu sulit mengusirmu dari pikiranku. Jadi, kalau kau masih tidak ingin berkencan satu malam denganku, lebih baik kita menghindar satu sama lain, karena hal itu akan menyusahkan kita berdua."


Tari menatap wajah Tara, ia tak tahu bisa sedekat ini dengan Tara, jarak mereka hanya sekitar tiga pulu centi meter, kedekatan itu membuat Tari gugup, di tambah dengan tatapan mata Tara mendarat di bibir Tari.


Wajah Tara kian lama kian mendekat ke arah Tari, namun begitu terdengar suara pintu depan yang terbuka, Tara langsung menjauh dari Tari. Dan saat Caira dan suaminya muncul di hadapan Tari, Tara terlihat sibuk membereskan peti-peti yang terjatuh.


Caira menunduk melihat kaki Tari. "Jadi apa vonisnya?" tanya Caira.


Tari bertanya-tanya. "Apakah kakakmu selain pengusaha, ia juga seorang dokter?"


Caira mengulurkan minum kepada Tari. "Mas Tara pernah kuliah di kedokteran, tapi dia tak menyelesaikan koasnya." ucap Caira.


Tari mengangguk 'Pantas saja, ia benar-benar cekatan mengobati luka kakiku' gumam Tari.


"Tiga bulan sebelum masa koasku selesai, aku menyadari satu hal. Bahwa untuk menjadi seorang dokter bukan hanya memerlukan ilmu, tapi juga kesabaran dan itegritas. Itulah yang tidak aku miliki, jadi memutuskan untuk beralih menjadi seorang pengusaha, walau sempat membuat ibuku kecewa, tapi sekarang aku bisa membuktikan dengan pencapaian yang aku raih." ucap Tara, ia berjalan mendekat ke arah Caira. "Dia hanya perlu istirahat beberapa hari saja."


Caira menepuk bahu Tari. "Tenanglah, kau punya aku, aku akan mengawasi petukang yang bekerja merenovasi cafemu dan menyeleksi calon pegawaimu. Sementara kau istirahatlah di rumah."


Tari meneguk air minumnya, kemudian ia mengusap bibirnya. "Caira, aku menobatkanmu sebagai karyawan teladan bulan ini."


Caira tersenyum lebar kemudian menoleh ke arah suaminya. "Kamu dengar itu sayang? Aku karyawan terbaik Tari!"


Gala merangkul istrinya dan mencium ubun-ubunnya. "Aku bangga sekali padamu, Bubu."


Tari senang mendengar Gala memanggil Caira dengan sebutan Bubu, ia menebak itu adalah panggilan kesayangan untuk istrinya. Ia berfikir apakah suatu saat nanti ia menemukan seorang pria yang memanggilnya dengan nama kesayangan yang menggemaskan?


"Tari, apa kau perlu bantuan untuk pulang ke rumah?" tanya Caira.


Tari melompat turun dan menguji kakinya. "Tentu, tapi hanya sampai ke mobilku saja. Ini kaki kiri yang sakit jadi aku masih bisa menyetir."


Caira mendekat dan merangkul tubuh Tari. "Kalau kau mau menitipkan kunci cafe ini padaku, biar nanti aku akan menguncinya dan besok pagi aku akan datang dan mengawasi para petukangmu."


Mereka bertiga mengantar Tari ke mobil tapi Tara agak sedikit menjaga jarak dan membiarkan Caira yang membantu Tari berjalan, terlihat dengan jelas jika kini Tara takut untuk menyentuh Tari.


Setelah Tari duduk di belakang stir kemudi, Caira menaruh tas dan barang-barang Tari lainnya di kursi belakang, ia mengambil handphone Tari dan memasukan nomornya. "Jangan lupa menghubungiku jika sudah sampai, dan kirimkan design decorasi cafemu, biar nanti aku yang akan mengurusnya selama kau istirahat." Caira mengembalikan handphone Tari.


Tari mengangguk, meski terdengar seperti Caira lah atasannya, namun Tari senang Caira membantunya dan ia sudah menganggap Caira seperti sahabat.


"Jangan lupa mengompres kakimu sesering mungkin selama beberapa hari ke depan atau kau rendam saja kakimu saat mandi." ucap Tara.


Tari kembali mengangguk. "Terima kasih atas semua bantuannya."


Caira mencondongkan badanya ke arah Tara. "Mas Tara, sebaiknya mas mengantar Tari pulang dengan mobilnya, lalu mas nanti pulang dengan transportasi online."


Tara memandangi Tari, kemudian menggelengkan kepalanya. "Itu bukan ide yang bagus." ucapnya. "Dia akan baik-baik saja sampai ke apartementnya. Aku tadi minum alkohol cukup banyak, jadi aku tidak bisa mengemudi."


"Paling tidak temanilah Tari pulang ke apartementnya," usul Caira kembali. Tara menggelengkan kepalanya kemudian ia menepuk atap mobil Tari, lalu ia berbalik melangkah pergi.


Caira menghela nafasnya. "Aku benar-benar minta maaf atas sikap kakakku. Pertama dia berkata ingin menidurimu, kemudian sekarang dia menjadi bajing*n yang egois." Caira menutup pintu mobil Tari, kemudian melongok lewat kaca jendela. "Karena itulah dia akan melanjang seumur hidupnya." ucap Caira. "Ingat hubungi aku jika ada apa-apa!"


"Terima kasih Caira." ucap Tari.


Caira tersenyum. "Aku yang harusnya berterima kasih, karena kau mau menerimaku sebagai karyawanmu, aku tidak pernah sesemangat ini, aku tidak akan mengecewakanmu Tari." Caira melambaikan tangannya, kemudian ia berbalik dan berjalan menghampiri Tara dan Gala yang menunggunya.


Sembari melajukan kendaraannya, Tari memandangi mereka lewat kaca spion, ia melirik ke arah Tara yang tengah memandangi mobil Tari. Dua kali perjumpaannya dengan Tara, dua kali pula ia harus berusaha melupakannya, keberadaan Tara dan sebuah permainan kejujurannya bersama Tara membuat harinya terasa ringan.


Tari benci pada kenyataan bahwa Tara merupakan kakak kandung Caira, ia punya firasat jika ini bukanlah pertemuan terakhirnya dengan Tara.