Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Mulai gesrek.



" Deek..kok daddy belum jemput..." Keluh Meera. Sementara Maureen masih sibuk menghubungi ponsel daddynya yang tidak juga aktif dari tadi.


" Ponsel daddy nggak aktif kak.." Sahut Maureen dengan tangan yang sibuk mengotak-atik ponselnya.


" Ke ponsel mommy deh kalo gitu Deek..."


" Sama aja kak, nggak aktif juga. Ya udahlah kak, kalau nggak dijemput kan kita bisa nginep sini. Lagian besok kan juga masih Minggu..." Ucap Maureen.


Saat ini mereka bertujuh sedang berada diruang keluarga. Meera menyandarkan kepalanya pada bahu adiknya. Sedangkan Saga dan Rayden seperti biasa, battle game melawan Rasya dan Azmy yang ada dirumah kakek Syakieb. Lalu Aivy?


Aivy jam segini jadwal rutinya adalah video call-an dengan sang kekasih...Almeer.


Tiara dan Luigi terlihat duduk berdua di karpet, masing-masing duduk bersila dengan posisi sedikit menempel satu sama lain. Kedua pasang mata mereka menatap layar ponsel Tiara. Yah...Tiara sedang memantau perkembangan rating novel yang ditulisnya.


" Ratingnya naik Tia...,dirimu memang hebat!! Aku bangga padamu..." Bisik Luigi.


" Yahh...Alhamdulilah, ini berkatmu juga. Terimakasih Lui..." Balas Tiara.


" Masama..., apapun aku lakukan untukmu..." Bisik Luigi aloy.


" Ckk!! Mulai deh lebay...." Sahut Tiara gemas.


Sebenarnya mereka saling ada rasa, apalagi Luigi yang memang sudah benar-benar suka. Tapi...


Raya berulang kali mengatakan bahwa sampai kapanpun dia tidak akan setuju jika putrinya memiliki atau menjalin hubungan dengan orang dalam istana White Base ini.


...*...


Almaeera mengusap matanya yang terasa pedas, bahkan beberapa kali terlihat menguap. Punggungnya juga terasa sakit, diapun mulai menggosok punggungnya pelan.


" Deek.., hubungi daddy dong. Ka Meera udah ngantuk nih, lagian ini juga udah tanggalnya ka Meera..." Rengek Meera lagi.


Saga yang lamat-lamat mendengar ucapan bahwa Meera mengantuk, segera meletakkan console gamenya. Lalu bergeser mendekat kearah Meera dan Maureen.


" Kamu ngantuk Mee?, bobo aja duluan." Ucapnya lembut.


" Nggak ahh, Mee nunggu daddy jemput aja..." Sahut Almaeera.


" Uncle Rangga nggak kesini, beliau nggak jemput kok, tadi ka Saga udah ngabarin soalnya. Dan uncle bilang Meera nginep saja disini malam ini, itung-itung ngawanin Tiara..." Jelas Saga.


Meera mengangguk pasrah, tapi ada gurat tidak nyaman diwajahnya.


Aduh gimana nih, ditas cuma ada satu pembalut. Kalo malam ini keluar bisa bahaya, batin Meera.


" Ya udahlah kalau gitu, ka Meera ke kamar dulu Deek.... Kamu tidur jangan malam-malam ya...." Meera mengusap kepala Maureen sekilas, lalu nengecupnya sebelum beranjak berdiri melangkah menuju tangga lantai dua, dimana kamar girls berada.


Saga ikut beranjak, melangkah berjalan dibelakang Meera.


Menyadari keberadaan Saga dibelakangnya membuat Meera berhenti tiba-tiba dan menolehkan kepalanya.


" Ka Saga mau kemana?"


" Mau anterin kamu..." Jawab Saga ringan.


Kedua tangannya bersedekap di dada, senyumnya manis semanis gula, sementara tatapan matanya begitu teduh menatap Meera.


" Memangnya aku mau kemana pakai dianterin segala?" Tanya Meera bingung, kan dia cuma mau ke kamar pengen tidur. Kok diantar?.


" Kamu mau tidur kan?, makanya aku antar ke kamar, yok jalan...."


Bukanya melangkah, Meera justru semakin mematung bingung.


" Ayok jalan Yang...ka Saga anter..." Ucap Saga lagi seraya melangkah kakinya lebih dulu menuju tangga.


" Kak?, ka Saga mau mati di gantung uncle Marvel?" Bisik Meera mengingatkan aturan batas ruang antara boys dan girls.


" Ck!!, ya nggak mau lah!!, pasti aku jadi hantu penasaran jika mati sebelum sempat menikah denganmu.." Ucapnya disertai senyum tipis yang menawan.


" Kita kan masih disini Yang, belum sampai tangga. Ka Saga anterin sampai tangga udah yuk....." Lanjutnya.


Meera menggelengkan kepalanya pelan, hatinya serasa tergelitik mendapati sifat Saga yang menggemaskan seperti ini. Senyum tipis mengembang di bibirnya, tapi dia begitu malu, hingga yang terlihat hanya senyum terkulum yang imut, membuat Saga ingin sekali mencubit pipi Meera gemas.


Kini mereka telah sampai diarea perbatasan terlarang, yaitu di dasar tangga yang menuju area kamar-kamar para girls berada.


" Nah...naiklah, tidurlah yang nyenyak...Sayang..." Bisik Saga dengan menekankan kata sayang dengan nada yang sensual.


" Haishhhh apaan sih..." Balas Meera kikuk.


Merinding seluruh tubuhnya, mendengar kata Sayang yang terucap dengan nada yang seseksi seperti itu.


Bahkan gadis itu sampai-sampai mengusap kedua bahunya.


" Kenapa?, dingin?, mau dikelonin ka Saga?" Lagi-lagi ucapan Saga membuat Almaeera melotot gemas.


" Aha..ha..ha..ha..., kenapa melotot begitu!!, becanda sayang..becanda!!. Ka Saga juga masih sayang nyawa kali Yang..." Tawa Saga pecah begitu saja.


Sumpah!!, melihat ekspresi Meera yang berubah-ubah sungguh membuat Saga selalu ingin menjahili gadis di depannya ini.


" Ya udah.., Meera ke atas ya kak...." Pamit Meera.


" Hemmm" Saga hanya mengangguk kecil.


Kaki kecil Meera mulai menaiki setapak dua tapak tangga, tapi berhenti seketika saat panggilan Saga terdengar lembut.


" Tunggu Mee..."


Meera menoleh, menatap lurus pada Saga yang ada dibawahnya, bersandar pada pembatas tangga.


" Hemmm?, apa?" Tanya Meera.


" Panggil ka Saga sayang...., sekali saja.." Pinta Saga dengan mata sendu.


" Hahh??" Meera ternganga tak percaya.


" Ka Saga ini kenapa sih?, sikap ka Saga aneh bener sejak pagi tadi, nggak seperti ka Saga biasanya..." Guman Meera.


" Aneh apanya?, aneh gimana?"


" Ka Saga kayak orang...., kaya orang gi----"


" Gila?, tentu saja itu benar. Ka Saga memang gila karena cinta. Rasa ka Saga yang tidak jelas selama ini akhirnya bersambut. Itu membuat ka Saga benar-benar bahagia, terimakasih Mee..., terimakasih sudah menerima cinta ka Saga. Sekarang sekali saja panggil ka Saga sayang..." Pinta Saga tanpa menyerah.


Meera berdebar tak karuan, ingin sekali hatinya mengucapkan kata sayang yang diminta oleh Saga. Tapi entah kenapa bibirnya seolah-olah berat untuk terbuka.


" Mee...." Bisik Saga yang tidak sabar menanti panggilan itu.


" Emmhh, sa....." Hanya kata itu yang mampu terucap, dan Meera kembali grogi tak karuan, bahkan mungkin saat ini wajahnya telah merah padam.


" Sa..apa?, yang nya mana?" Tagih Saga tak sabar.


" Ayo yang....Ka Saga sayang...gitu..." Lanjut Saga.


Bahkan dia nekat naik satu tangga. Jelas ini pelanggaran serius. Karena batas maksimum adalah dasar tangga.


" Kak turun kak!!, daddy dan yang lain pasti sedang memantau CCTV saat ini!!" Seru Almaeera takut.


" Makanya cepetan bilang!!, ka Saga sayang gitu..." Desaknya.


" Emmmhh, itu..iya..ka Saga Sa...."


" Sa..?" Desak Saga lagi, bahkan dia naik satu tangga lagi.


Degh!


Jantung Meera bagaikan akan lepas saat ini, kenapa ka Saga jadi pria pemaksa begini. Dan lagian ini?, dia nekat sekali sampai melanggar peraturan para daddy.


Saga terlihat mulai mengangkat satu kakinya lagi untuk sampai padanya, tapi Meera segera menahan dada Saga dengan kedua tanganya.


" Turun kak!!, iya deh iya...ka Saga sayang, ka Saga sayang! Meera sayang ka Saga.." Ucap Meera cepat.


Lalu segera berbalik dan berlari secepatnya menaiki tangga, menuju ke kamarnya dan Maureen di sudut paling kanan.


Blesss....


Tubuh Saga seketika lemas, bahkan jatuh terduduk di tangga begitu saja.


" Oohhhh Tuhan....inikah yang disebut orang dengan kasmaran???" Desisnya disertai tawa lebar tanpa suara.


" Ya Tuhan..., tolong pelihara rasa ini selamanya Tuhan..." Bisiknya lirih penuh ketulusan.


Perlahan Saga berjalan gontai menuju kamarnya, sedang bibirnya tak pernah lepas dari senyumnya. Pemuda itu menaiki tangga setapak demi setapak, lalu terkikik dengan sendirinya. Tubuhnya seakan melayang tanpa raga, gila!! rasa bahagia membuatnya lupa akan segala-galanya.


Brughh..


Dihempaskan tubuhnya ke atas kasur begitu saja.


" Meera....." Gumamnya pelan.


Turun kak!!, iya deh iya...ka Saga sayang, ka Saga sayang! Meera sayang ka Saga.


" Aakkkhhhhh" Jerit Saga dengan tersenyum- senyum sendiri.


Kata-kata keramat Meera membuat hatinya berbunga-bunga, dan raganya terasa melayang-layang.


" Papa! ponsel! Mana ponsel!"


Saga mengobrak-abrik kamarnya, mencari keberadaan ponselnya dengan buru-buru. Padahal ponselnya nggak kemana-mana, ponselnya jelas ada dikantung celananya saat ini. Tapi dasarnya orang jatuh cinta ya gitu!!, otaknya agak bergeser dari tempatnya.


Setelah menyadari keberadaan ponselnya yang ternyata berada dan melekat di tubuhnya sendiri, lagi-lagi Saga mengusap wajahnya gemas lalu tertawa dengan lepas.


" Gila!!, gue benar-benar Gila!!"


Nada sambung pada ponselnya kini berbunyi, agak lama nada itu meraung, sepertinya papa Vino sedang tidak memegang ponselnya.


Lagi, Saga berusaha untuk menghubungi papanya lagi.


" Ya jagoan!, Assalamualaikum..."


Akhirnya, suara papa Vino bagai air dingin yang memadamkan api yang bergejolak di dalam dadanya sedari tadi.


" Waalaikumusalam pah.... Pah?, jadi kapan papah kesini?" Rengeknya.


" InshaAllah besok, kenapa?. Kamu sudah nggak sabar ya?" Goda papa Vino.


" Iya, sudah sangat tidak sabar.." Jawab Saga jujur.


" Ha..ha..ha...Saga..Saga dasar kamu!, tapi Saga, pertunangan itu perlu proses. Paling tidak masih satu atau dua bulan lagi baru bisa terlaksana..."


" Nggak papa pah!, yang penting Meera udah diikat.." Desak Saga.


" Hemmm, kamu ini!. Tapi Saga, kamu juga mesti ingat sesuatu. Pertunangan bukanlah pernikahan. Jadi ingat nak!! Tidak ada sentuhan yang berlebihan!. Jaga jarak wajar agar tidak terjerumus!!" Pesan papa Vino.