Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Kejahilan Saga.



Bipolar! ya...bipolar akut telah di derita oleh Jasmin sejak kecil. Penyebabnya, tentu karena pengaruh stress yang dialami oleh mamanya dahulu. Masa lalu orang tua Aldo sangat kompleks, karena mereka menikah hasil perjodohan paksa. Mungkin sedikit banyak, depresi yang dialami mama Aldo menurun kepada Jasmin adiknya.


Sejak mengetahui bahwa putrinya memiliki penyakit itu, kedua orang tua Aldo telah berusaha menyembuhkannya dengan berbagai cara. Dari berobat rutin, sampai konsultasi ke psikiater.


Sebenarnya sudah lama penyakit Jasmin ini tidak kambuh, terakhir kali saat Jasmin tersangkut kasus bullying empat tahun lalu, tepatnya saat dia awal masuk SMU. Tapi rupanya sekarang tiba-tiba penyakit sialan itu kambuh lagi dan sialnya pula, harus ada harga yang musti ditanggung oleh keluarga Aldo dan juga oleh Aldo sendiri.


Keluarga Aldo harus tahan malu karena telah meminta sesuatu yang gila, mengemis pada Saga untuk menerima Jasmin adalah hal yang memalukan. Sedangkan dipihak Aldo, diapun dengan berat hati harus mempertaruhkan persahabatannya selama ini hanya demi satu alasan kasih sayangnya pada sang adik.


Kedua pemuda itu kini saling diam, Aldo telah menceritakan semua alasannya pada Saga. Alasan yang mendasari di balik permintaan gilanya.


" Hufft..." Saga menghela nafas kasar. Diusapnya wajah putih bersih miliknya beberapa kali, seolah-olah berusaha membersihkan kalut yang ada.


" Do, gue turut prihatin atas apa yang terjadi pada Jasmin, tapi maaf Do.... Untuk permintaaamu aku tidak bisa dan tidak akan pernah mengabulkan!!"


" Jasmin sejak dulu hanya kuanggap sebagai adik perempuan ku, sama sepertimu seperti itulah aku memperlakukan Jasmin selama ini..." Ucap Saga tegas.


" Tapi Saga..., adikku bisa nekat jika kau masih bersama Meera, adikku bisa melakukan hal gila Ga!, tolong ngertiin gue, gue nggak mau adik gue kenapa-napa. Dia bahkan beberapa kali mengancam kami untuk bunuh diri..." Lirih Aldo.


" Astaghfirullah, adik lo perlu penanganan spiritual. Maksud gue pendidikan agama. Pesantren mungkin?" Saran Saga.


" Ha..ha..., mana mau dia!!. Lo aja tahu adik gue nggak pernah sholat!" Seru Aldo.


" Sepertinya bukan adik lo aja!, Lo juga kan sholat cuma sekali setahun di Hari Raya doang!!" Ketus Saga.


Aldo terdiam lagi..., perkataan Saga benar. Keluarganya memang jauh dari agama. Bahkan Aldopun tidak pernah melihat kedua orang tuanya sholat kecuali sholat di hari besar. Ahhh entahlah..., sejauh ini hidup mereka baik-baik saja walaupun nggak sholat, fikir Aldo.


" Baiklah begini saja Ga, lo nggak perlu putuskan Almaeera. Hanya saja bagaimana jika lo selingkuh dengan adikku. Gue akan bantu deh agar semua aman dan Meera nggak akan tah---"


Brakkk!!!


Saga menggebrak meja dengan keras, bahkan telapak tanganya begitu memerah sekarang.


" Lo brengsek!!" Tunjuk Saga tepat di wajah Aldo penuh amarah.


" Sekali lagi lo meminta gue melakukan hal-hal menjijikkan dan diluar nalar!! Gue rela kehilangan lo daripada Meera! Camkan itu!!" Ancam Saga geram.


Saga melirik Aldo yang hanya diam itu dengan sinis, apapun bisa Saga singkirkan demi seorang Almaeera, tidak menutup kemungkinan itu seorang Aldo sahabatnya sekalipun.



" Percuma selama ini pegangan lo smartphone canggih kalo otak lo isinya cuma sampah!, nggak smart sama sekali. Gue nggak nyangka isi otak lo se picik ini Do!!" Ucap Saga sebelum pergi meninggalkan cafe begitu saja tanpa pamit.


Hatinya begitu sakit!!, mendengar permintaan Aldo membuatnya benar-benar tak percaya jika Aldo setega itu padanya.


Sementara Aldo hanya diam membisu tanpa kata. Menyesal?, tentu saja.


...***...


Saga memutuskan untuk pulang dulu ke White base, pun Meera belum menghubunginya. Saga merasa perlu berendam untuk mendinginkan otaknya terlebih dahulu sebelum bertemu Almaeera.


Byurr...


Tiga puluh menitan Saga berenang, sampai akhirnya ponsel miliknya berdering di tepi kolam.


Secepatnya Saga menyambar ponsel itu dan benar saja, wajah kekasih muncul di layar ponselnya dengan senyum yang mengembang penuh cinta.



" Mee..udah bubaran kelasnya kak, Mee tunggu di mushola sekolah ya..." Ucap gadis itu lembut.


Saga terpaku sesaat, masa gadis secantik ini harus diputuskan demi Aldo, jelas tak mungkin!!.


Masa gadis semanis ini rela dia selingkuhin!! Cuihh!!, selitas terpikir saja sama sekali tak pernah.


" Kak?, kok melamun?, nggak jadi ya?"


" Jiahh!! Ya jadi dong!!. Tunggu bentar ka Saga bilasan bentar..." Sahut Saga cepat.


" Ahh ha..ha..ha sorry yang!!, ka Saga baru berenang " Ucap Saga lembut.


" Ya udah, ka Saga siap-siap aja Mee tungguin disini..."


Saga yang merasa sayang menutup ponselnyapun menolak mengakhiri panggilan, merekapun terus mengobrol hingga Saga sampai ke kamarnya.


Dari layar ponselnya Meera dapat melihat kamar rapi milik Saga yang di dominasi dinding dengan warna abu putih. Jujur, Meera atau girls yang lain tidak satupun yang berani mengunjungi kamar para boys, atau sebaliknya kecuali Sunny yang berulang kali memanjat balkon kamar Shanum dan Luigi yang pernah nekat mendekati kamar Tiara.


" Ya udah tunggu ka Saga bentar ya yang.., masuk aja kedalam mushola jangan diluar!! oke.." Pesan Saga lagi.


Tapi belum juga Meera membuka mulutnya untuk menyahuti, Saga sudah kembali berkata..


" Atau Meera mau lihat ka Saga mandi?" Olok Saga sambil menaik turunkan alisnya.


" Issh!!, bibirnya tuh!!" Sela Meera kesal.


" Kenapa bibir ka Saga?, seksi kan?, kamu mau nggak nyicipin rasanya yang?"


Cup!! Cup!!


Saga mengecup kamera ponselnya tiba-tiba, seolah sedang mengecupi Meera. Sementara sang gadis diseberang hanya mampu melotot syock.


Bukanya berhenti menggoda, Saga malah semakin parah dan liar.


" Manis kan?, nanti kita coba dialam nyata. Di dunia maya sih nggak ngefek rasanya..." Lanjut Saga.


" Haishhhh...!" Jerit Meera, lalu tanpa basa-basi menutup sambungan ponselnya.


Siapa bilang nggak ngefek!!, buktinya saat ini Meera merinding disko akibat perbuatan Saga barusan.


Sementara Saga sendiri justru tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang kaku dikamarnya.


" Ya ampun imutnya kamu Mee, jadi nggak sabar pen cup beneran..." Gumam Saga mengingat raut wajah imut Meera yang memerah malu barusan.


...**...


Meera berlarian keluar mushola sekolah setelah melihat motor Saga memasuki gerbang SMU Bhakti.


" Loh udah ganti baju?, nih padahal ka Saga sengaja bawain..." Saga menyodorkan papper bag yang berisi pakaian ganti pada Meera.


" Ada baju ganti di loker, ini dapat darimana?" Tanya Meera sambil membuka papper bag yang berisi pakaiannya sendiri.


" Ka Saga minta sama mama untuk ambilin baju kamu dikamar tadi.." Jawab Saga.


" Oh...kirain ka Saga manjat balkon kaya brothy.."


Saga tersenyum miring mendengar ucapan Meera.


Cetik!!


Jentikan jarinya terdengar nyaring, seolah ada ide cemerlang yang baru didapatinya


" Emmm, boleh juga tuh kapan-kapan ka Saga coba..." Sahut Saga cepat.


" Hehh!!, apa?" Seru Meera kaget.


Bughh..


Tobokan mesra Meera mendarat di lengan atasnya, disertai pelototan maut ala Meera.


" Pffftt ha...ha..ha.... Jangan melotot begitu yang.., ka Saga bukanya takut lihatnya. Tapi malah nafsu..." Bisik Saga tepat disamping telinga Meera.


Meera hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Yah..mungkin seperti ini sifat pria yang berusia lima tahun lebih tua darinya..pasrah lah.