Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Dear..Maureen...




Pagi datang di White base dengan penuh keriuhan. Apalagi untuk Aivy, Maureen, Tiara dan Luigi karena mereka masih sekolah aktif. Tiara termasuk aman, karena sekolahnya masuk pukul delapan, dan terkenal sekolah paling santai dan ramah anak.


Berbeda dengan Rayden dan Meera yang memang tinggal menunggu kelulusan mereka saja. Mau datang kesekolah atau enggak juga sudah tidak ada masalahnya. Karena palingan hanya jamkos saja, para guru sibuk memasak nilai mereka untuk membuat raport akhir tahun tentunya.


" Kak, Reen lupa bawa dasi, gimana nih?" Keluh Maureen pada Meera.


" Pinjam dasi Rayden sana..." Sahut Meera yang tetap fokus merapikan kerudungnya di depan meja rias.


" Memangnya kak Ray ada dasi SMP Pertiwi?" tanya Maureen heran.


" Ada dong!, tapi bukan dasi SMP Pertiwi juga sih, karena setiap siswa putra SMU Bhakti kan punya dasi biru tua, kak Almeer juga ada, tapi kan dirumah..." Sahut Meera lagi.


" Ya udah.. Reen, telpon kak Ray dulu..."


Maureen terlihat menuruni tangga dengan berlari-lari setelah berbicara dengan Rayden di ponsel.


Gadis itu langsung menuju ruang belajar dimana saat ini Rayden berada.



Dari tempatnya berdiri saat ini, Maureen bisa melihat Rayden yang tampak serius dengan laptopnya.


Perlahan gadis itu mendekat tak ingin mengganggu.


" Kak, Reen butuh das---"


" Nih!!"


Rayden melemparkan dasi berwarna biru tua itu begitu saja tanpa menoleh sama sekali.


Degghh..


Maureen mematung sesaat, lalu mulai menunduk memungut dasi yang tak sempat tertangkap oleh tangannya.


" Reen pinjam dulu ya..., nanti pulang sekolah Reen bali--"


" Nggak usah dibalikin!, buang aja!, gue udah nggak pakai lagi!" Sela Rayden masih juga acuh, tanpa menoleh sama sekali.


...**...


Maureen mondar-mandir di garasi, matanya terus menatap pintu penghubung antara garasi dan ruang keluarga. Sementara Aivy sudah bersiap di boncengan Luigi, tinggal menunggu jalan saja.


" Kak Ray lama ihhh!!, kelas Aivy jadi petugas upacara hari ini Reen, gue berangkat aja dulu nggak papa ya..." Ucap Aivy berat.


" Iya nih!, gue juga takut telat dodol!!" Seru Luigi menimpali.


Maureen lagi-lagi menatap pintu penghubung, sangat berharap wajah Rayden muncul seperti biasa untuk mengantarkannya sekolah.


" Lo siapa gue nyuruh-nyuruh begitu!!, adik bukan!, pacar bukan! Pulang sendiri sana!!, bodo amat.."


Kata-kata Rayden berputar-putar dikepalanya saat ini.


" Sorry Reen, kami berangkat dulu ya..., gue takut telat..." Lagi, dengan berat hati Aivy harus berangkat meninggalkan Maureen duluan setelah menunggu lima belas menitan dan Rayden tidak muncul juga.


Bahkan Saga dan Meera saja sudah berangkat barusan.


" Ya deh....." Sahut Maureen lemas.


Dalam kebingungannya Maureen ingin sekali berlari ke kamar Rayden saat ini, tapi...


Flashback on.


" Uncle, Saga minta ijin untuk mengantar jemput Meera mulai besok.." Ucap Saga pada daddy Rangga semalam.


" Hmmm tentu saja bolah, Alhamdulilah. Tugas uncle akhirnya berkurang sudah, karena semenjak Almeer ke Berlin, uncle harus mengantarkan Meera dulu ke sekolah baru ke RS mengantar mommymu yang arahnya berlawanan"


" Dan untungnya ada Rayden yang mengantar jemput Maureen selama ini, kalo nggak!!, pasti tiap hari uncle jadi dosen karet ha..ha..ha.." Lanjut daddy Rangga.


Maureen menatap Rayden yang tak bereaksi apa-apa akan perkataan daddynya, ini aneh!, karena biasanya Rayden akan selalu ramah dan renyah pada daddynya itu. Tapi lihatlah saat ini, Rayden seolah tidak berada ditempatnya, dia hanya diam dan tidak perduli.


Bahkan saat mata mereka saling bertatapanpun, dengan cepat Rayden membuang muka, seolah muak dan begitu jijik melihat wajahnya.


Maureen berjalan mendekati Rayden, dia bukanlah gadis yang menye-menye. Dia tipe-tipe yang nggak mau dibikin pusing oleh prasangka.


" Kak!!, kakak marah sama Maureen?" Tanya Maureen to the point.


" Ck!!, nggak ada alasan gue marah sama lo!, lagian urusannya apa??" Sahut Ray jutek.


" What!! Hah..ha..ha.., emang kapan gue perhatian sama lo??, lo jadi orang kepedean amat Reen!!, sok cantik lo!!"


Degh!!


Kok kak Ray gini amat sama gue..


Gue salah apa?


Maureen masih sibuk dengan pikirannya sendiri sampai suara Rayden terdengar lagi, kali ini begitu lembut tapi sangat menusuk ke jantungnya.


" Bilang sama daddy lo!!, mulai besok gue nggak bisa lagi antar jemput lo, gue lagi pdkt ma cewek. Kalo lo terus disekitar gue bagaimana gue bisa dapat pacar!!"


Setelah mengatakan itu Rayden beranjak dari sofa dan langsung menuju tangga melingkar ke arah di mana kamar para boys berada.


Flashback off.


Maureen menggaruki kasar kepalanya yang tertutup jilbab


" Kenapa?, banyak kutu di rambutnya? kok garukan mulu" Tepukan lembut tangan besar di kepalanya membuat Maureen segera menoleh.


" Uncle.." Sapa Maureen dengan cepat, meraih tangan besar yang berada dikepalanya itu untuk dikecupnya.


" Kenapa belum berangkat?, semua sudah pergi kan?" Tanya Denis yang baru saja keluar hendak berangkat ke kantor SS corporation.


" Kak Ray bel---"


" Oh, Rayden. Sepertinya dia belum siap, yuk berangkat sama uncle saja, ini sudah siang nanti kamu bisa terlambat kalau nungguin Rayden..."


Maureen menatap pria didepannya itu, pria yang begitu mirip Rayden versi dewasa. Saat ini pria itu tersenyum tipis, begitu tenang, teduh dan ramah, seperti Rayden biasanya, tapi heran saja dia...



Kemana hilangnya senyum Rayden yang seperti itu... Kenapa sekarang yang ada hanya wajah jutek dan menyebalkan saat bertemu denganya.


Tiga puluh menitan waktu yang dibutuhkan hingga akhirnya mobil Denis telah berhenti di depan gerbang SMP Pertiwi. Akan tetapi sayang, gerbang telah tertutup rapat, Maureen jelas-jelas terlambat.


" Apa perlu uncle bantu bicara dengan guru piket?" Tawar uncle Denis


" Ahhh, itu tidak perlu uncle. Lihat disana juga banyak yang telat tuh, setidaknya Maureen nggak telat sendirian he..he..he... Jadi nggak malu-malu banget kalau nanti dijemur dilapangan" ucap Maureen disertai cengiran imutnya.


Puk..puk...


Denis menepuk-nepuk pucuk kepala gadis itu gemas dengan kekehannya yang berkharisma.


" Ya udah, uncle berangkat dulu....pasti uncle sudah di tunggu daddymu di kantor saat ini ...Assalamualaikum Reen..."


" Wa'alaikumussalam uncle.."


Sepeninggalnya Denis, Maureen segera berlarian untuk berkumpul dengan beberapa murid lain yang terlambat.


Sesosok menatapnya dari balik pohon di seberang jalan, ya...sosok itu adalah Rayden.


Maaf Reen, mulai hari ini aku tidak bisa lagi bersamamu..


Aku harus mulai bisa menata hatiku lagi, aku harus mematikan rasa sepihak ini..


Berbahagialah tanpaku..


Rayden terus menatap gadis itu dari tempatnya, sampai akhirnya pintu gerbang itu terbuka.


Setelah memastikan dengan kedua matanya Maureen telah benar-benar aman dan masuk sekolah dengan tenang, Raydenpun bergerak cepat untuk menuju sekolahnya, SMU Bhakti.


Hari ini Rayden memutuskan mengambil undangan dari Universitas terbaik di Melbourne untuk tempatnya kuliah tujuh tahun kedepan. Sejak dua hari ini Rayden telah memikirkannya dengan matang.


Sudahlah..bagi Rayden jodoh tidaklah bisa dipaksakan, tak bisa dikejar-kejar, tak bisa diramalkan.


Mungkin iya, papa dan mamanya sangat berharap besar Maureen bisa menjadi menantunya. Tapi jika Maureennya nggak mau? Rayden bisa apa?.


Sebesar apapun perasaan cinta Rayden pada Maureen, tapi kalau itu hanya perasaan sepihak saja, tentu bukan cinta kan namanya?


Sudahlah...jodoh takkan lari kemana. Jika memang saatnya, dia juga akan datang juga.


Jika bukan Maureen, mungkin ada gadis yang lebih baik untuknya.


Tapi.....


" Maureen...., aku masih sangat berharap kamulah yang menjadi teman hidupku kelak, karena hanya akulah yang paham betul baik burukmu..."