Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Putra dan Putri Rangga 2



Hujan deras mengguyur kota Jakarta sejak dini hari tadi. Cuaca beberapa hati ini tidak dapat diprediksi lagi, pagi sampai siang begitu panas terik tetapi disore hari sampai malam tiba-tiba hujan lebat plus petir.


Almeer menghentak-hentak payungnya sebelum dilipatnya kembali. Dia dan sang daddy baru saja pulang dari masjid berjamaah subuh seperti biasa.


Saat akan kembali ke kamar masing-masing, keduanya melintasi meja makan yang pagi ini tampak berbeda penampakannya.


Teh hangat, susu hangat dan madu hangat telah terhidang diatas meja berserta beberapa jenis kue terhidang dengan masih mengepulkan asap.


Almeer urung untuk naik ke kamarnya, pemuda itu justru menarik salah satu kursi makan, menyampirkan sajadahnya di sandaran kursi lalu duduk disana.


Seteguk susu hangat kini perlahan mulai membasahi kerongkongannya, enak dan nikmat! susu coklat buatan mommynya selalu pas dengan seleranya. Lalu diapun mulai menyeruput kembali untuk tegukan yang kedua.


" Mau dibuatin sarapan apa pagi ini sayang?"


Deghh!!


" Uhuk..uhuk..uhuk.."


Suara mommy Ara yang begitu lembut mengagetkan Almeer, hingga air susu yang hampir mencapai kerongkongan itupun terhambat dan kembali keluar.


" Astaghfirullah!!, kenapa lagi kamu Meer?!"


Ara segera mengusap punggung sang putra dan sedikit menepuk-nepuk kecil disana.


Almeer menatap mata sang mommy dengan mata berkaca-kaca.


" Mommy nggak marah lagi dengan Meer?" Suara kecil Almeer terdengar tersendat.


Ara tersenyum mendengar cicitan Almeer yang terdengar menggelikan di telinganya.


" Apa pernah mommy berlama-lama marah padamu hemm?"


Brugh...


Almeer langsung menghambur memeluk sang mommy erat. Melingkarkan kedua tanganya kebelakang tubuh wanita tercintanya, menenggelamkan wajahnya di perut sang mommy.


" Meer janji mom..., Meer akan selalu ngabarin mommy dulu sebelum kemana-mana, Meer tidak akan membuat mommy khawatir lagi mom, sumpah. Meer minta ampun momm..." Suara Almeer terdengar kecil, karena bibirnya menempel erat pada tempat dirinya dikandung dahulu.


" Sudahlah..., mommy juga salah. Mommy tidak berusaha memahami maksudmu. Tapi Meer, setiap ibu manapun pasti khawatir jika mereka ada diposisi mommy. Kamu putra mommy satu-satunya, umurmu juga belum genap 18tahun. Jika ada apa-apa denganmu diperjalanan kemarin siapa yang disalahkan coba?, orang tuakan?. Jadi mommy mohon Meer..., ini yang terakhir kalinya kamu begini, besok-besok! kamu wajib kabarin mommy jika mau kemana saja atau dari mana saja!, mengerti??"


Almeer mengangguk patuh masih dengan kepala yang menempel pada perut sang mommy.


"Memang..tugas orang tua itu memastikan kecukupan kebutuhan anak-anaknya, memastikan keamanan mereka, melindungi mereka dengan baik, tapi....mommy lupa jika dimasa-masamu sekarang, kamu juga punya hak untuk berinvestasi dengan inovasi-inovasimu sendiri, belajar terbang dan berkembang demi memperluas duniamu, maafkan mommy juga..."


" Hiks mommy...." Bukannya membawa Almeer justru semakin mempererat pelukanya di perut wanita yang telah mengandung, merawat dan membesarkannya itu.


" Ekhemm..ekhemm..."


Deheman sang daddy posesif terdengar di telinga Almeer, tapi pemuda tampan itu seolah tuli. Dia tetap saja meneruskan aksinya seolah tidak peduli.


" Meer!!, lepasin istriku! Dia udah sesak itu!" Bentak Rangga kesal.


" Ya elah Mr.!!, istrimu ini mommy ku..." Sahut Almeer tanpa melepas belitan tanganya pada perut mommynya. Hanya saja kepalanya sudah tidak lagi memdusel di perut Ara.


" Ck!!, udah sana bersiap ke sekolah. Sayang ayo ke atas sebentar, kamu belum siapin baju kantorku..." Rangga meraih tangan Ara dan menariknya pelan agar mengikutinya. Mau tidak mau belitan Almeer pun terlepas dan dia hanya bisa menatap punggung kedua orang tuanya yang mulai menaiki tangga dengan senyum manis yang mengembang.


" Aku ingin seperti kalian mom dad, memiliki hubungan yang awet, cinta kasih yang begitu kuat dan kokoh, harmonis sejak remaja sampai dewasa seperti sekarang. Hmmmm Aivy...apa kita bisa seperti mereka??" Gumam lirih Almeer seraya mulai berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


...**...


" Dek!, pakai seragam putih abu ya?" Tanya Almeer melongok ke kamar Almaeera.


Almeer menepuk keningnya pelan, baru ingat jika jas almamaternya ada pada Rayden sahabatnya. Dan karena adanya masalah dengan sang mommy sejak kamarin dia sampai-sampai lupa menemui Rayden saat mengantarkan Aivy ke White Base semalam.


" Kamu punya dua kan dek, bawa semua aja ya, ka Meer takut Ray lupa bawa punyaku.." Ucap Almeer lagi.


Almaeera mengangguk patuh sambil meneruskan aktivitasnya menyisir rambut.


" Rambutmu udah lebih panjang dari sebelumnya Mee, ka Saga udah ada pernah lihatnya?" Tanya Almeer yang kini sudah berdiri dibelakang sang adik, menepuk-nepuk lembut kepala Meera.


" Haishh!!, ya belum lah!" Seru Meera cepat.


Tapi setelah itu tiba-tiba wajahnya berubah pias, dengan cepat ditepuknya bibirnya sendiri sedikit kuat. Ingatannya terbang pada malam menegangkan di dapur White Base beberapa minggu yang lalu.


Wajahnya tiba-tiba merona merah, dadanya berdebar, tapi justru senyum terbit dari bibirnya yang pink alami. Ingatan kebersamaanya dengan Saga malam itu begitu membekas, entahlah sedang terkena sindrom apa Almaeera akhir-akhir ini. Karena yang jelas beberapa hari ini dia sering tersenyum sendiri jika mengingat Saga.



" Kenapa nih? kok senyum-senyum sendiri dek, bayangin apa hayoo!!, kalian sudah mulai main ya....?, sampai mana mainnya ?, ciuman kening udah belum?, ciuman pipi?, cium pucuk kepala?, atau jangan-jangan udah ke tahap bahaya?" Tanya Almeer bertubi-tubi sambil terus nyengir.


Bahkan Almeer terus mengolok sang adik sampai Meera kikuk dan risih sendiri


" Isshhh nggak ada kak! Main apa juga sih!!" Sanggah Meera malu-malu.


Melihat reaksi adiknya yang rikuh dan terlihat menggemaskan Almeer justru tertawa terbahak-bahak.


" Ya main apalah gitu dek, main sosor-sororan kali ha..ha..ha..."


" Ck! Ka Almeer ihhh, soang kali nyosor!!" Sahut Almaeera geram.


" So?, sampai mana progresnya hemmm?. Bilang sama kakakmu ini, bibirmu udah tersentuh bel---- Akhhh aduh!!"


Bughh!! Bughh!!


" Kak Meer apa sih!!, keluar sana kalau datang cuma ngolokin terus. Bibir Mee masih original kali, enak aja...." Meera menabok punggung sang kakak yang justru semakin tertawa keras karena telah berhasil menjahili sang kembaran.


Sementara Meera menepuk-nepuk pipinya yang merah padam akibat rasa malu dan canggung karena ucapan Almeer tentang ciuman.


" Kak Mee!! Kak Saga udah datang tuh!!" Seru Maureen didepan pintu.


" Ada apa nih?, kalian selalu asyik sendiri nggak ngajak-ngakak aku...hiks..hiks... lanjutnya sembari menghentakkan kakinya kesal.


" Uluh..uluh...adik kecilku..sini sayang peluk ka Almeer sini..., baru ditinggalin gitu aja udah cemburu sih. Makanya jadian sama Rayden biar bisa ngerasain rasanya punya pacar kayak kami..." Ucap Almeer seraya menarik si bungsu ke dalam dekapanya.


" Haishh!!, mulai deh!. Kenapa sih selalu bawa-bawa ka Ray!!" Maureen memberengut kesal.


" Karena hanya Ray yang cocok untukmu dek.... Rayden satu-satunya yang paham betul dengan sikap kamu, dan dia juga yang fasih akan kekuranganmu.." Bisik Almeer lembut.


" Dan ingat, dia sahabat terbaik ka Almeer lho.."


Maureen menarik diri dari pelukan Almeer, menengadah menatap mata sang sulung.


" Tapi Reen belum ada kepikiran sedikitpun tentang membangun sebuah hubungan, baik itu pacaran atau apapun itu. Reen ingin jadi orang hebat dulu.... Stop kak buat jodoh-jodohin Reen! apalagi dengan kak Ray si jutek itu...., saat ini hati Reen belum ada secuilpun rasa suka atau tertarik dengan ka Ray. Bagi Ren ka Ray hanya sama saja sepertimu dan ka Saga...dia hanya seperti kakakku juga."


Nyut....


Dada Rayden bagai diremat oleh tangan besar yang tak kasat mata.


Ya, Rayden sedari tadi ada di samping pintu kamar Meera dan mendengarkan semua. Rencananya dia ingin memberikan almamater Almeer yang tertinggal di White Base dan kini ada di genggaman tanganya.


Tapi setelah mendengar kata-kata Maureen barusan, pemuda putra tunggal Denis dan Natasya itupun menunduk sedih, urung masuk, dan justru berbalik turun ke lantai satu tanpa kata-kata.