
Di ruangan putih yang kental dengan bau obat-obatan menyengat, disinih saat ini Saga berada. Rahma duduk di tepi ranjang, sesekali mengusap keringat yang membasahi wajah Jasmin.
Saga menatap ngilu cap merah telapak tangan Maureen di pipi gadis yang beberapa saat lalu mengamuk hebat tak terkendali. Bisa di bayangkan sekuat apa sebenarnya Maureen menamparnya hingga bekasnya merahnya saja sampai jelas seperti itu.
Menggaris bawahi cerita dari sudut pandang Rahma, sebenarnya bukan Maureen yang salah dari insiden sore tadi di Mall.
Gadis itu hanya tidak mau harga diri Meera diinjak-injak, setidaknya itulah yang diketahui Saga dari sedikit cerita Rahma.
"Hahhhh, sepertinya aku harus segera berbicara dengan Maureen untuk meluruskan ini semua..." Gumam Saga.
Saga hanya berada di Rumah Sakit sampai Aldo dan kedua orang tuanya datang. Tugas kampus yang sudah menumpuk dan terbengkalai perlu segera di bereskan. Yah, karena jujur beberapa hari ini otaknya penuh akan pemikirannya tentang kebencian Maureen padanya.
Tapi sebelum kembali ke White Base, rupanya Saga memutar haluan motornya untuk mampir ke rumah Rahman Sanjaya untuk menemui Aivy.
Saga sungguh penasaran untuk mendengar cerita selengkapnya, bagaimana Jasmin dan Maureen bisa saling bersinggungan?.
Sedangkan setahu Saga, keduanya harusnya tidak saling kenal kan?.
...***...
Sementara itu Meera yang sejak tadi kepikiran dengan kata-kata Maureen dan tatapan tajam menusuk adiknya jika melihat Saga mencoba mencari titik terang.
Meera rasa ada yang perlu dia ketahui dibalik sikap Maureen yang tidak seperti biasa.
Tok! Tok! Tok!
" Reen, udah tidur dek?. Boleh kakak Masuk?" Ucap Meera sambil melongokkan kepalanya ke dalam kamar Maureen yang bernuansa unggu.
Sementara yang punya kamar gelagapan!, foto-foto Saga dan Jasmin saat ini masih berhamburan di meja belajarnya.
" Eh..i..iya ma..masuk aja kak..." Seru Maureen kikuk.
Kedua tangannya bergetar hebat saat buru-buru memunguti foto-foto tersebut dan dengan cepat dimasukkannya ke dalam laci.
Meera menatap itu semua dengan curiga, tapi kembali lagi, Meera tidak mau suudzon, dan terus berusaha meyakinkan diri kembali ke positif thinkingnya.
Walaupun adik beradik, bisa jadi ada sesuatu yang tidak diinginkan oleh Maureen diketahui oleh kakaknya, bisa jadi kan?.
Tanpa disadari oleh Maureen sendiri, selembar foto terjatuh di sudut kaki meja dalam posisi terbuka.
Meera melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Dimana disisi telapak kakinya, foto bergambar Saga merangkul Jasmin memasuki sebuah kost-an berada tepat dibawah sana tanpa ada yang menyadari.
" Hasil ujian udah keluar dek?" Basa basi Meera.
" Udah..., Alhamdulilah masih diposisi dua. Ckk!! Susah banget geser Aivy... Ada kak Almeer sih dibelakangnya. Kakak pengkhianat itu lebih memilih pacarnya daripada aku yang sah adiknya sendiri" ucap Maureen dengar berapi-api.
"Semua soal yang berpotensi keluar dibocorinya sama Aivy beserta cara pemecahannya, sedangkan sama aku aja pelitnya naudzubillah!!. Kak Almeer emang kakak yang gak ada akhlak!!" lanjutnya dengan kesal.
" Hush!! Maureen ish!!. Nggak boleh ngomong gitu!! yang sopan kalau ngomong tuh.." Seru Meera sambil meraih bibir sang adik untuk di tariknya gemas.
Iya sih, Meera sendiri sadar dan paham akan kekesalan adiknya. Almeer lebih memprioritaskan Aivy daripada Maureen yang jelas-jelas adiknya sendiri.
Tapi itu bukan berarti Almeer tidak punya akhlak sebagai kakak, selama ini Almeer merasa adil. Dia sepenuhnya membantu belajar Aivy karena merasa bahwa Reen sudah ada Rayden yang selalu membantunya belajar.
Maureen hanya berdecih lalu mengusap bibirnya kesal.
" Terus, jadi lanjut daftar ke SMU Bhakti?"
" Waiyess dong!, kan SMU turun temurun tuh...wajib mutlak itu kesana he..he.."
Sahut Maureen sambil cengengesan, lalu mulai membaringkan badanya didepan sang kakak.
Meera menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menimbang-nimbang pertanyaan yang akan diucapkannya, tepat waktukah jika dipertanyakan sekarang.
" Emmhh Reen, besok kita ke butik aunty Hana yuk, ngukur jahit kebaya untuk acara pertunangan kakak tiga minggu lagi..."
Mendengar ajakan sang kakak, Maureen langsung melengos, membuang wajahnya ke samping.
Tuh kan! Tuh kan...
Jelas!!, Meera sangat jelas melihat gelagat aneh Maureen barusan.
Fix ini pasti ada apa-apanya jerit hati Meera.
" Reen mau warna apa kebayanya?" Pancing Meera lagi, gadis itu masih berusaha menekan rasa penasaran yang kini telah menggerogoti fikirannya.
" Entahlah, ikut mommy dan kakak saja.." Sahut Maureen tak bersemangat.
Meera ikut berbaring di samping sang adik, mengusap rambut bergelombang yang begitu mirip dengan punya sang mommy itu lembut.
" Reen, boleh kak Meera bertanya sesuatu?"
Maureen merasakan firasat yang tidak enak dengan pertanyaan yang akan diutarakan oleh kakaknya.
Gadis berusia lima belas tahunan itupun beringsut menghadapkan tubuhnya ke hadapan Meera.
Lagi, Meera dapat melihat raut muka cemas di wajah Maureen.
" Tanya apa?" Tanya Maureen berat.
Meera tersenyum, sampai sejauh ini saja dia bisa menyimpulkan bahwa adiknya saat ini benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu.
" Kamu tahu Rayden kemana sekarang?" Akhirnya pertanyaan inilah yang terluncur dari bibir Meera.
" Huffttt..."
Desah lega Maureen terdengar samar di telinga Meera, gadis itupun kembali duduk dan bersandar.
Rupanya Maureenpun segera ikut duduk, merasa lega karena pertanyaan Meera adalah seputar Rayden.
Kelegaan Maureen justru membuat Meera yakin tentang kecurigaannya, gadis itupun sedikit tersenyum miring dan menatap penuh maksud pada si adik
Oh Alhamdulillah!!, rupanya kak Meera bertanya tentang kak Ray.
Duh gue udah neting duluan!, kirain bertanya tentang sikap gue pada si Serigala Saga itu..
Ahh iya ya...sudah sebulanan gue nggak liat kak Ray..
Kemana dia?
" Memangnya kak Ray kemana?" Pertanyaan Meera dijawab pertanyaan pula oleh Maureen.
" Rayden ada di Sydney sekarang, beberapa hari lalu dia test masuk di University of Melbourne..." Jawab Meera.
Mendengar jawaban Meera, tampak raut wajah Maureen sedikit meredup. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, entah apa yang sedang difikirkan olehnya.
" Lalu, hubunganmu dengan Ata bagaimana?. Ka Mee lihat kamu semakin dekat dengan dia sebulan ini..., kalian pacaran?" Desak Meera.
" Pacaran? Ah ha..ha..ha.... Nggak ada di kamus Reen pacaran!. Renn itu hanya punya satu tujuan dalam hidup ini kak, yaitu ingin jadi Independen Woman. Reen ingin jadi cewek mandiri yang bisa berdiri di kedua kaki Reen sendiri tanpa laki-laki!!"
Hahh???
Meera menganga mendengar jawaban Maureen yang terdengar kontroversi baginya.
" Kok?, cita-citamu ngeri banget dek!!. Terdengar nggak lumrah, kamu ini usia berapa sih?" Meera menyentil kening Maureen gemas.
" Terus?, Maureen harus gimana?. Ka Almeer begitu terobsesinya dengan mommy dan om Nox sampai mati-matian pengen banget jadi dokter hebat seperti mereka. Lalu kakak sendiri lebih suka merapal rumus-rumus daripada nonton drakor ataupun konser idol K-pop seperti daddy..."
" Jadi Maureen ambil jalan tengah saja, jika kak Almeer ngikut jejak mommy dan ka Meera ikut jejak daddy. Maka Maureen memutuskan mengikuti jejak opa Hen dan kakek Syakieb. Reen ingin mengurusi bisnis keluarga kita agar semakin besar dan berkembang. Syukur-syukur Reen bisa jadi pengusaha wanita hebat seperti Maddam Ellen Groban perempuan paling kaya sedunia he..he..he.." Ucap panjang Maureen penuh semangat.
" Huhhh..., omonganmu berat banget Reen, gak sesuai umurmu. Kakak curiga otakmu tertukar dengan seseorang, atau kamu sedang demam..?" Balas Meera sembari menyentuh kening mulus Maureen.
" Ck!, ini fikiran rasional kak. Terus-terang Reen nggak mau tergantung sama cowok!, apalagi cowok brengsek modelan ka Sag----" Maureen menepuk-nepuk bibirnya cepat saat hampir keceplosan bicara.
Bahkan gadis itu kini membekap erat-erat mulutnya dengan kedua tanganya rapat-rapat.
Meera membulatkan matanya menatap sang adik dengan penuh penekanan.
" Ka Sag?, ka Saga maksudmu?, apa katamu? Dia brengsek?" Kejar Meera. Kini kedua tanganya berusaha membuka bekapan kedua tangan Reen yang menutupi mulut gadis itu.
Maureen menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Dan walaupun Meera akhirnya mampu membuka bekapannya, akan tetapi Reen tetap tidak mau membahas ucapan terakhirnya tadi bagaimanapun kerasnya usaha Meera membujuk.
Meerapun menyerah, tak ada gunanya memaksa Maureen untuk bicara, salah-salah malah timbul pertikaian yang tidak penting.
"Ya udah kalau kamu nggak mau ngomong.... Biar ka Mee cari sendiri jawabannya. Tapi asal kamu tahu dek, kakak bisa melihat perubahan sikapmu pada ka Saga beberapa minggu terakhir ini, dan itu menyakitkan bagi kakak.."
" Bagaimana bisa ini terjadi pada kakak disaat seperti ini, sulit dan serba salah bagi kakak, menjadi seseorang yang berdiri ditengah neraca, di satu sisi ada adikku yang begitu ka Meera sayang, di sisi lain ada ka Saga yang....akkhh.." Meera mengusap wajahnya kalut.
Tak sengaja sikunya menyenggol botol air minum dan terguling jatuh di lantai.
Perlahan Meera menunduk untuk memungutnya, tapi bukan botol yang di dapatinya, melainkan foto Saga dan Jasmin yang tergeletak disebelah telapak kakinya.
Foto yang memperlihatkan Saga sedang memeluk seorang gadis di depan kost putri 'Cempaka'.
Memeluk kah?, atau sekedar memapah?.
...\=\=\=\=\=\=\=@@@\=\=\=\=\=\=\=...