Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Romantisme Almeer & Aivy



Setelah taxi yang membawa papa Sanjaya menghilang di ujung blok, Almeer memasuki rumah Aivy dengan mengendap. Misinya untuk membuat surprise pada Aivy tentu harus berlanjut.


Suasana rumah begitu sunyi saat Almeer masuk lewat pintu samping, tadi papa Sanjaya bilang Aivy sedang berada diruang laundry untuk mempersiapkan dan menyusun barang yang akan dibawa ke WB. Tapi Almeer tak menjumpainya di sana.


Seperti biasa, jika papa Sanjaya sedang keluar kota atau ke Surabaya untuk mengunjungi mama Ganis dan Lyra di penjara maka Aivy akan ke White Base dan tinggal disana sementara waktu.


Almeer langsung membawa langkah kakinya ke kamar Aivy yang berada di lantai dua. Sebelumnya dia juga sudah mengecek dapur, taman samping, ruang keluarga dan ruang TV yang ada di lantai bawah tapi nihil, Aivy tidak ada disana.


Perlahan dia mendekati pintu warna pink bertuliskan 'Aivy's Private Area' dengan sebuah foto bergambar dirinya dan Aivy yang tergantung disana. Pintu yang sedikit terbuka membuatnya mampu melihat sosok yang saat ini sedang berada di dalam kamar.


Dada Almeer berdebar kencang tak bisa ditahannya, rindu..., ada rindu yang membuncah saat ini.


Samar telinganya mendengar alunan merdu suara Aivy yang melantunkan lagu Sang Dewi by Lyodra yang mendayu-dayu.


Gadis manis itu terlihat antusias bernyanyi, tak menyadari keberadaan orang lain di dalam rumahnya. Dia terus saja bergaya layaknya Lyodra yang sedang berada di panggung, dengan sisir sebagai pengganti microfon.


Almeer tersenyum tipis sembari menatap siluet gadis manis yang begitu dirindukan dari celah pintu. Jelas Aivy saat ini sedang gundulan, alias tidak berkerudung karena di dalam rumah.


Tapi itu sudah biasa bagi Almeer..., Aivy bukanlah Almaeera yang paham dan fasih soal agama. Aivy belum paham betul tentang syariat berkerudung dengan benar.


Hanya saja gadis itu selalu berpenampilan tertutup jika keluar rumah atau saat berada di WB dimana banyak saudara lelakinya yang lain berkeliaran disana.


Blukk!!


Almeer menjatuhkan ranselnya di samping pintu, lalu perlahan membuka ranselnya dan mengeluarkan kotak coklat kesukaan Aivy.


Perlahan didorongnya pintu kamar Aivy agar semakin terbuka, setidaknya cukup untuk dirinya masuk. Tapi rupanya pergerakan pintu itu terlebih dahulu disadari oleh Aivy.


" Pah?, papah belum berangkat? Apa ada yang tertinggal?" Tanya Aivy cepat sambil menoleh kearah pintu.


Gadis itu mengira bahwa papanya masih belum pergi.


" Ada!!, hatiku yang tertinggal disini. Selama hampir lima bulan ini aku begitu kesakitan akan kehilangan... Dan aku buru-buru kesini untuk mengambilnya..." Sahut Almeer.


Deg...deg..deg..


Mendengar suara yang begitu di rinduinya siang malam itu kini berada di depanya, sontak membuat Aivy melongo ditempat.


Pintu kini telah terbuka lebar, dimana sosok tinggi tegap nan tampan berdiri di depan pintu. Bibit unggul hasil persilangan antara Rangga Bayu Wijaya dan Lailia Nafesa Anara benar-benar mahakarya yang bukan kaleng-kaleng.


Almeer tumbuh dengan postur tubuh yang keren seperti sang daddy, dan raut wajah yang luar biasa tampan milik gen Wijaya dan Syakieb yang terkenal memproduksi pria-pria tampan.


Aivy menutup mulutnya yang mengangga karena syok!, dia hanya diam dan mamatung menatap senyum Almeer yang di gilainya selama ini. Ingin rasanya berlari dan memeluk tubuh liat berorot di depanya itu. Tapi...


Entah kenapa tiba-tiba rasa kaki Aivy begitu berat untuk melangkah, seolah terpaku dilantai tempatnya berdiri. Rasa kesal karena ditinggalkan Almeer begitu saja lima bulan lalu kini menghentak dadanya. Ya...walaupun saat itu keadaan begitu kacau dan buru-buru.


Almeer sudah harus pergi karena jadwal kelas bahasa yang dibuka lebih cepat, sementara saat itu Aivy berada di Surabaya karena mama Ganis sakit.


" Nggak kangen kak Almeer Vy?" Tanya Almeer sedih, mendapati Aivy hanya diam saja tak merespon dirinya.


Suara nyata Almeer bagai air surga yang menyejukkan dahaga akan rasa rindunya berbulan-bulan ini. Awalnya Aivy mengira ini hanya mimpi belaka, Almeer tidak mungkin tiba-tiba ada dirumahnya kan?.


Walaupun selama lima bulan ini mereka selalu rutin video call-an, tapi bertemu langsung seperti ini jelas tetap berbeda rasanya.


Prank...


Sett...brukkk....


Aivy melempar sisir yang ada di tangannya ke meja nakas, lalu tanpa aba-aba langsung berlari menghambur kepelukan Almeer, melompat begitu saja ke tubuh tinggi tegap Almeer.


Almeer pun langsung menyambut gadis mungil itu dan menggendongnya di perutnya.


" Miss you..." Bisik Aivy lirih ditelinga Almeer.


" Miss you too..." Balas Almeer sambil mempererat pelukanya.


Untuk beberapa saat mereka masih terdiam dalam posisinya, menikmati rasa nyaman yang tercipta, melepas rindu yang menyesakkan dada keduanya selama ini. Tapi...


Aivy yang nakal mulai membuat ulah, merusak moment indah mereka dengan kejahilannya yang haqiqi. Lidahnya mulai terjulur menyentuh telinga Almeer, menggelitik disana, lalu turun ke leher putih bersih pemuda tampan itu dan menyesapnya cepat.


Duarrrr!!!


Almeer membeliakkan matanya lebar karena terkejut, tubuhnya menggelinjang hebat, mendesah penuh rasa nikmat. Tapi reflek pertahanan dirinya masih sangat kuat, digigitnya bibir bawahnya kuat-kuat, sesegera mungkin dan perlahan menurunkan tubuh Aivy dari gendongnya, sebelum hal buruk akan terjadi.


" Jangan nakal sayang!! Jangan suka godain macan tidur!!" Desis Almeer dengan mata sayu menatap mata Aivy lekat. Disentilnya pelan telinga Aivy.


"Kamu nggak tahu susahnya aku menahan diri sayang, jangan macam-macam!, atau mau aku terkam sekarang!! Hemm?" Almeer membesarkan bola matanya seakan berakting marah.


" Haishh..., emang kak Almeer nggak kepengen gitu romantis-romantisan. Vy kan juga pengen nyobain kaya yang di drakor semalam" Lirih kata Aivy..tapi masih terdengar oleh telinga Almeer.


" Nyobain apa?" Sela Almeer cepat.


" Ciuman di bibir..." Sahut Aivy enteng.


Degghhh!!


Jantung Almeer bagai ditarik keluar. Jujur!!, diapun pengen nyobain juga bahkan mungkin tidak baru-baru ini keinginan itu ada, tapi sudah sejak dulu.


" Kata teman Aivy rasanya enak banget kak! Nagih nggak ketulungan, bahkan lebih enak dari seblak mbok Yati di ujung blok R3, kita cobain yuk..." Rengek Aivy sambil memonyongkan bibirnya.


" Isshh!! Astaghfirullah Aivy...." Desis Almeer pelan.


Di toyornya kening Aivy agar sedikit mundur dari posisinya. Bukan apa-apa, Almeer takutnya nggak bisa berhenti jika sudah mencicipi...


" Yuk kak!!, mumpung sepi ini. Nggak ada siapa-siapa..." Desak Aivy lagi.



Hahh!!


Almeer yang berniat memberikan surprise, justru dibuat syok dengan permintaan aneh Aivy hari ini.


Matanya melirik gadis itu dengan geram dan gemas, ada rasa tidak percaya. Benarkah ini Aivynya?, atau mbak Kunti yang sedang menyamar.


" Apa kamu bilang?, ciuman bibir? ck sayangku Aivy!! Semalam kamu nontonin drakor apaan sih Yang?. Kan udah sering ka Almeer bilang jangan nontonin yang nggak bener..." Almeer berusaha membuang mukanya kesamping saat wajah manis Aivy mendongak menatapnya. Sedangkan kedua tangan Aivy kini masih terus melingkar dipinggangnya.


Bibir gadis manis itu begitu menggodanya disaat begini, suasana mendukung pula untuk berbuat dosa. Ya, benar kata Aivy, mumpung sepi dan nggak ada siapa-siapa.


Tapi Almeer tetaplah Almeer yang teguh. Sekuat tenaga, pemuda itu menahan diri semampunya. Walaupun rasa hati meronta-ronta untuk sekedar mencicipi rasanya berciuman.


" Kak...., Cup dikit aja masa nggak boleh sih ya?" Rengek Aivy.


" Sayang?, kamu sehat kan?" Almeer meraba kening Aivy cepat saking penasarannya.


Dan suhunya terasa normal, tapi kenapa sejak tadi gadis ini bertingkah aneh.


" Aivy sehat kok, Alhamdulilah sangat-sangat sehat wal afiat!!" Seru Aivy tegas.


Ditangkupnya telapak tangan Almeer yang berada di keningnya, lalu dibawanya ke bibir mungilnya.


Almeer tidak curiga sama sekali, difikirnya palingan Aivy ingin mengecup tanganya seperti biasa.


" Eugghhh... Ahhhh!!! Yang....." Lenguh Almeer dengan mata terpejam.


Jantungnya lagi-lagi harus berdetak diluar batas. Bukan dikecup seperti yang sudah-sudah, tapi Aivy justru mengulum jemari Almeer. Menghasilkan rasa meremang yang luar biasa di sekujur tubuh Almeer saat ini.


Darahnya mendidih seketika, tubuhnya tidak lagi menghangat seperti saat mereka berpelukan tadi. Tapi kini memanas tak karuan, bahkan jiwa kelelakiannya kini telah benar-benar bangkit.


" Sayang...., cukup!. Please....." Almeer menarik jemarinya dari dalam mulut Aivy. Ditariknya cepat si centil nakal itu dalam pelukanya.


Di bekapnya erat tubuh kecil Aivy dipelukannya, bahkan di bekap dengan erat. Almeer berusaha menurunkan rasa panas membakar dalam darahnya dengan terus mendekap erat Aivy. Berusaha menurunkan hawa panas yang mulai mendidih hingga keubuh-ubunnya akibat ulah nakal gadis kecil ini.


Sebernarnya hanya dengan menempelkan tubuh seperti ini saja kelelakian Almeer sudah terusik dan ingin menggila rasanya. Tidak perlu dipancing-pancing juga seperti yang dilakukan Aivy. Tapi dasarnya Aivy ini centil dan usil, maka kejadian ini sudah sangat sering terjadi.


Dan Almeer hanya bisa banyak-banyak beristighfar dan bersabar.


" Berhenti sayang!, jangan membuat kakak khilaf. Jangan nakal lagi Yang kumohon...atau kamu memang ingin hamil diluar nikah hemmmm?" Bisik Almeer lirih dengan mengeratkan pelukanya lebih erat. Mengecup dalam rambut Aivy yang beraroma vanilla.


" Sepertinya kita harus segera menikah!. Kalau tidak bisa bahaya Yang, kamu terlalu liar..." Lanjut Almeer sambil mengeram geram, matanya terpejam mengusap punggung Aivy perlahan.


" Dah...yuk cepat bersiap, kita ke rumah daddy dulu baru ke WB. Berdua saja denganmu begini bisa bahaya, setan bisa kapan saja mempengaruhi, menggoda dan melalaikan kita Yang..... "


"Awalnya memang kesenangan yang akan kita dapatkan, rasa nikmat yang kata orang surga dunia itu. Tapi dibaliknya pasti ada penyesalan jika kita melakukannya tidak disaat yang tepat. Aku menyayangimu Aivy, aku sangat mencintaimu... Dan aku juga telah berjanji pada papa akan selalu membahagiakan mu, menjagamu...Dan aku akan terus amanah sampai kita halal. Janjiku pada papamu, itu akan selalu menjadi tujuanku dan prioritas utamaku..."


" Pfffft...ha..ha..ha.." Tawa Aivy tiba-tiba pecah. Bahkan sampai mencengkeram perutnya yang terasa kaku akibat tawanya yang terbahak-bahak.


" Yang?, kau kenapa lagi? Kerasukan jin?"


Almeer kembali menatap Aivy dengan cemas.


" Oh Tuhan..... Beruntunglah aku memilikimu kak Almeer. Kamu benar-benar Almeer sejati...namamu benar-benar mencerminkan karaktermu. Love you kak...., love you forever..." Aivy kembali memeluk Almeer dengan erat.