
Pagi ini tiga motor keluar secara beriringan dari gerbang rumah keluarga Rangga. Motor pertama adalah motor Almeer, pemuda itu kini telah lengkap menggenakan seragam abu putih khas SMU Bhakti plus almamaternya. Sementara ada Aivy di boncengannya, gadis manis berseragam rapi SMP Pertiwi itu melingkarkan pelukanya di perut sang rider dengan erat.
Motor kedua adalah motor Rayden, dan seperti biasa Reen ada dibelakangnya. Tapi pemandangan yang terlihat sungguh berbanding terbalik dengan motor pertama.
Rayden hanya mengenakan seragam putih abu plus hoodie hitam yang membalutnya. Begitupun Maureen, seragam sekolahnya bahkan hampir seluruhnya tertutup rapat dengan hoodie panjangnya, yang tersisa hanya ujung roknya saja.
Dan tas punggung Rayden sebagai pembatas akan selalu ada diantara keduanya dan itu mutlak harus selalu ada seperti itu sejak dahulu.
Jika motor didepan mereka mencerminkan pasangan romantis seperti drama Korea. Motor kedua justru seperti drama bergenre thriller, si rider terkesan dingin, jutek dan suram meski wajahnya sangatlah tampan. Sedang cewek dibelakangnya terus menunduk seperti korban penculikan.
Motor berikutnya yang keluar tentulah milik Saga Vino Malik. Tidak seperti dua motor sebelumnya, motor Saga berlawanan arah dengan kedua motor adik-adiknya. Karena mereka akan langsung ke SMU Bhakti dan Saga fasih benar jalan tikus yang sepi dan sedikit lama untuk dilaluinya. Sepi dan lama?
Tentu saja!, Saga juga seperti pemuda lainya yang ingin sedikit berlama-lama dengan kekasihnya. Lalu memilih jalan yang sepi?, tentu saja!, Saga jelas pemuda normal yang ingin selalu menggenggam erat tangan Meera sepanjang jalan.
...***...
" Sabtu malam nanti jadi kan ka Saga temanin Mee ke acara kakaknya Zaski?" Ucap Meera mengingatkan Saga.
" Hemm, InshaAllah jadi yang..." Jawabnya seraya mengusap pucuk kepala Meera yang rapi tertutup jilbab.
" Ya udah kakak langsung mau kampus kan.., pulang nanti Mee kabarin aja. Nanti ka Saga yang jemput kan?. Kak Saga hanya dua jam kan di kampus?" Lanjut Meera meyakinkan kembali kata-kata Saga saat di jalan tadi.
Entah kenapa bersama-sama dengan Saga sudah menjadi kebutuhannya, dan entah sejak kapan ada rasa posesif dalam dirinya untuk selalu menguasai Saga untuk dirinya sendiri.
Sejak Almaeera mengetahui ada Jasmin di hidup Saga kah, mungkin?.
" Siap calonku..., kapanpun kamu butuh aku. Aku akan selalu langsung cuz terbang menujumu..." Sahut Saga sambil menundukkan tubuhnya bak pangeran.
Tak hanya itu saja tingkah imut Saga, bahkan dia mengedipkan sebelah matanya disertai dua jari yang berdiri tegak tanda swear!.
Degh!
Bagaimana bisa Meera tidak kesengsem dengan setiap tingkah Saga yang selalu membuatnya terus terpesona.
Saga yang dikenalnya dulu tidak seperti ini, tapi berubah total setelah hubungan mereka jelas. Saga lebih ekspresif mengungkapkan perasaannya.
" Pulang sekolah ke Mall yuk Mee.."
" Ngapain?" Tanya Meera.
" Cari baju couplean buat acara kakak temanmu itu.." Jawab Saga.
" Couplean hhmm, boleh deh..."
" Nah ini dia yang ka Saga suka darimu Mee..., jadi pacar aja patuh kaya gini apalagi jadi istri. Uhhhh nggak sabar nunggu kamu lulus kuliah Mee, biar bisa segera terealisasikan manggil kamu 'istriku sayang' dan kamu panggil aku 'suamiku sayang'..." Cerocos Saga.
"Cieehhhh yang nggak sabaran..." Sahut Almaeera nyengir dan sedikit menunduk, menyembunyikan semburat merah di pipinya.
" Mee mau kan jadi istri ka Saga?"
Meera mengangguk pelan disertai larik senyum yang menawan.
Inikah yang disebut melamar?, keduanya sepertinya tak menyadari bahwa candaan mereka sudah menjurus ke lamaran?
" Insha Allah.." lirihnya.
Jawaban Meera begitu sukses menyihir Saga, membuanya seolah sayang untuk meninggalkan gadis itu sendirian untuk berangkat ke kampus, apalagi sekolah juga masih nampak sepi, belum banyak anak yang datang.
" Duh.., kak Saga jadi pen balik jadi siswa sini lagi nih.." Gumam Saga.
" Masa nggak bosan jadi siswa SMU Bhakti, tiga tahun ka Saga disini kan aktif banget dulu. Foto kak Saga aja ada di mana-mana loh.... Diperpus ada, di ruang klub basket ada, di mading ada, di kantin juga ada----"
" Lalu di hatimu? Kalau dihatimu ada nggak ka Saga?" Sela Saga.
Blushhh...
Wajah Almaeera berubah memerah, yang bisa dia lakukan saat ini hanya cepat-cepat menunduk demi menyembunyikan rasa malunya yang parah.
" Pfffttt...."
Suara tawa kecil Saga membuatnya kembali mendongak, menatap mata Saga yang sedikit berair karena menahan tawanya.
" Kenapa ketawa?" Tanya Meera jutek.
" Kamu lucu..., selalu malu-malu begitu bikin gemas.."
Jitt!!
Jari telunjuk dan jempol Saga lagi-lagi sudah berada di pipi Almaeera dan meninggalkan rasa sakit yang tak seberapa. Cubitan kecil itu begitu manis dan romantis apalagi dilihat oleh tiga pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka.
" Ekhemm...ekhemm..."
Suara deheman Almeer membuat Saga sontak menoleh cepat.
" Jiahhh...ying ligi picirin...ha..ha..." Goda Almeer pada adik dan calon adik iparnya yang kini terciduk berduaan di samping tangga menuju ke lantai atas.
" Ka Saga nggak kuliah?" Tanya Rayden yang ada di sebelah Almeer.
Matanya terus saja memindai penampilan Saga dari ujung kepala hingga kali dengan tatapan takjub, begitupun beberapa anak di sampingnya.
" Ya, dia kak Saga Vino Malik!!" Jawab Rayden.
Dan alhasil!, Saga kini dikerumuni puluhan adik kelas yang sekedar ingin salaman dan bahkan berfoto denganya.
Dengan isyarat yang dipahami Saga, Meera melambaikan tanganya untuk menuju kelasnya, sementara Saga hanya mengangguk kecil.
Atlanta melongo ditempat, fokusnya masih berputar-putar pada ucapan Almeer beberapa saat lalu.
" Jiahhh yang lagi pacaran.."
Siapa yang dimaksud Almeer tadi?
Almaeera kah??
Dengan kak Saga??
Akkhh!! masa sih??
Tapp!!
Tepukan Rayden membuyarkan lamunanya, membuatmu cepat-cepat mengejar kedua sahabatnya yang telah menaiki tangga. Apalagi Almeer yang merangkul Meera saja sudah berada di ujung tangga.
" Ray tunggu!!" Atlanta memegang pundak Rayden agar sedikit melambat.
" Paan??" Sahut Rayden ketus.
" Lo tadi juga denger kan kata Meer!. Meera beneran pacaran sama ka Saga?" Tanya Atlanta to the point.
" Iya! Beneran!" Sahut Rayden.
" Hahhh!!" Atlanta mengangga lebar, wajahnya benar-benar syok.
Brakk!!
Atlanta menepuk meja Almeer lalu duduk begitu saja didepan sang mantan ketos.
" Lo akhirnya ijinin adik lo pacaran!, sejak kapan?. Kenapa lo nggak audisi gue Meer.... Gue kan pen daftarin diri gue juga kali Meer! Gue ini udah sangat lama suka sama adik lo!! Asal lo tahu..." Protes Atlanta menggebu-gebu.
" Ck!!, buat apa gue musti audisi lo Ta!!, lo nggak pake telanjang aja gue udah tahu banget luar dan dalamnya lo!. Lagian Ta, Meera adik gue itu murni! Pure!, Virgin asli!, nah lo? Coba lo ngaca..., pantes nggak lo mendaftarkan diri buat dia hehhhh, yang ada jomplang mirip Bidadari vs Iblis...." Ucap Almeer tanpa perasaan.
" Haisshhh Meer!!, lo kalo ngomong jujur amat sih Meer.... Bohong dikit napa!. Kejujuran lo buat hati gue lemoy kaya krupuk kesiram kuah tau Meer...." Atlanta menunduk lesu, matanya melirik Almaeera yang sedang tertawa-tawa bersama Zaskia.
" Meera itu adikku yang paling berharga Ta!, aku selalu memproteksinya selama ini karena memang kami ingin mempersembahkan yang terbaik untuk ka Saga. Mommy dan daddyku selalu menginginkan ka Saga sebagai menantunya---"
" Tapi bukanya jodoh ada ditangan Tuhan Meer!, trus kenapa mommy dan daddymu menjodohkan Meera..."
" Tidak dijodohkan!, keinginan kami rupanya diridhoi oleh Tuhan. Ka Saga dari kecil sudah menunjukkan rasa sukanya pada Meera. Dan adikkupun rupanya menyimpan rasa yang sama juga selama ini.... So? Apa kamu masih mau cosplay jadi pebinor?"
Atlanta menghirup udara banyak-banyak demi untuk melegakan paru-parunya yang sedikit sesak beberapa saat lalu.
" Ya udah kalo gitu gue daftarin diri buat calonnya Maureen aja deh!!, adik bungsu lo itu boleh juga. Walaupun masih piyik begitu dia ada bibit cantik yang tidak akan kalah dengan Mee---- Heyyy ponsel gue!!!" Jerit Atlanta.
Brukk!!
Srrett!!
Rayden menggebrak meja saat mendengar ucapan sang sahabat, dan dengan cepat merebut ponsel yang ada di genggaman tangan Atlanta saat pemuda itu sepintas melihat ada gambar Maureen di layar ponselnya.
" Lo nguntit Reen hahh!!" Bentak Rayden marah saat mengetahui ada puluhan gambar Maureen di galeri Atlanta. Apalagi rata-rata foto candid semua.
Almeer mengambil alih ponsel Atlanta ke tangannya, dilihatnya galeri yang bertabur foto perempuan dan gambar adik bungsunya ada disana. Dirematnya geram ponsel itu, lalu dengan tanpa aba-aba mengayunkan tangannya siap membanting ponsel mahal tersebut.
" No Meer!!, please jangan dibanting!!" Jerit Atlanta histeris.
" Sorry Meer sorry...., tapi please jangan dibanting!!. Iya deh!!, iya!!, gue bakalan hapus foto Maureen.... Tapi siniin ponsel gue dulu..." Ucap Atlanta melas.
Bruakkk!!
Memang tak jadi dibanting oleh Almeer, tapi ponsel Atlanta tetap bernasib naas karena kini teronggok di tempat sampah.
Almeer melemparkan seperti melempar bola basket tepat ke dalam tempat sampah yang berada di pojok kelas.
Atlanta segera berlari memungut ponsel kesayangannya, mengelusnya dan mengusapnya pelan.
" Yahhh...jadi menganga..." Sesalnya saat mendapati chasing belakang ponselnya bercelah.
" Yahh...tinggal dikaretin aja kali Ta biar rapat!" Seru Zaskia.
" Ck!! Lo kira nasi goreng super pedas apa dikaretin!!" Sahut Atlanta murka.
" Cepat hapus foto adik gue!!" Bentak Almeer dengan aura mencekam.
" Iya Meer iya...." Sahut Atlanta lirih.
Sementara teman-teman lainya terkikik melihat tontonan yang terjadi di depan mereka saat ini.