Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Drama di White Base



Beres sholat maghrib, para girls sibuk di dapur untuk membuat makan malam. Sementara para boys belum pulang dari musholla.


" Ren.., tolong jae nya siniin..." Pinta Tiara pada Maureen yang memang bertugas mengupas bumbu untuk marinasi ayam.


Mereka berencana hanya memasak yang simpel saja, nasi goreng dan ayam panggang.


" Jae siapa dulu nih?, Jaemin NCT Dream, Jaehyun NCT 127 atau Jaehyuk Treasure?" Sahut Maureen gaje.


" Ck!!, otakmu isinya idol k-pop doang Ren!!, jahe temannya laos maksud gue!!" Bentak Tiara.


Diketuknya kepala Maureen dengan spatula yang ada di tangan kirinya, sedang tangan kananya mengulek bumbu ayam.


Aivy dan Meera terkikik geli melihat ke absurd-an Maureen. Anak bungsu pasangan Rangga dan Ara ini benar-benar memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua saudaranya ataupun orang tuanya. Sifatnya justru mirip Ardiansyah unclenya yang ceplas-ceplos.


Tidak sampai tigapuluh menit, Aivy dan Meera telah selesai mengerjakan tugas mereka, yaitu membuat nasi goreng bakso super pedas selera mereka.


Sementara Tiara dan Maureen masih setia membolak-balikan ayam panggang mereka.


" Butuh bantuan?" Tawar Rayden yang sudah pulang dari mushola dan sudah berganti baju santai pula.


" Sambelnya belum ada kak..." Ucap Tiara.


" Kemarin ka Saga buat sambel sih, coba aku lihat di kulkas masih ada nggak.."


Baru juga Ray melangkah menuju kulkas, suara Maureen terdengar dan menghentikan langkahnya.


" Sambelnya cuma tinggal dua sendok!, nggak cukup. Kita kan bertujuh.." Serunya.


" Oh..., kalo sambel kemasan botol mau nggak? Masih ada persendian di lemari bawah itu Ren..." Tunjuk Rayden pada lemari yang ada disamping kaki Maureen.


Gadis itu membuka lemari dan terbelalak kaget mendapati makanan persediaan mereka yang rata-rata mie instan aneka warna, aneka rasa dan aneka jenis merk.


" Gila!!, pantas otak kalian geser semua!!, makanannya aja mengandung micin semua!!" Sindir Maureen.


" Ck!!, walaupun cuma mie instan yang bermicin, kan aku punya harga diri Ren!!, nggak ngemis bekal dari cewek!!" Balas Rayden telak.


Rayden geram saat mengetahui bahwa Maureen diam-diam sering membuatkan bekal makanan untuk salah satu teman sekelasnya dan Almeer.


Atlanta namanya, salah satu sahabatnya dan juga sahabat Almeer. Sejak mengetahui kenyataan itu demi Tuhan!!, Rayden benar-benar menyesal telah mengenalkan Atlanta pada Maureen.


Sebagai sahabat tentu Rayden tahu borok Atlanta yang memang playboy ulung. Dan bego nya, Maureen borokokok ini termakan juga oleh rayuan maut Atlanta.


Brakk!!


Maureen menutup pintu lemari dengan kasar.


" Kak Ray nyindir Maureen lagi nih ceritanya!!" Teriak Maureen kesal.


Matanya melotot menatap Rayden, sementara yang di pelototin justru malah tersenyum mengejek.


" Aku nggak pernah menyindir, aku sekedar ngomong. Kalau elo tersindir ya salahin perasaan lo sendiri.." Sahut Rayden cuek.


Maureen menggelengkan kepalanya pasrah, tapi ada api yang berkobar di dadanya. Benci!!, benci sekali dia dengan orang ini.


" Pergi dari sini!, kak Ray hanya mengganggu!!" Usir Maureen geram.


" Lah!!, ini rumah gue, ini dapur gue, lo ngusir gue? Nggak salah ya?" Sela Rayden tak mau kalah.


" Rumah kakak ?, ha..ha..mimpi saja!. Ini rumah bersama!!" Sahut Maureen.


" Duuuhhhh kalian ini berisik!!" Tiara memukulkan penjepit pada sisi pemanggang hingga menimbulkan suara yang sedikit gaduh.


" Ada apa sayangku Tiara....? Apa yang jatuh?" Tanya Luigi yang berlari ke dapur karena mendengar kegaduhan dari sana.


" Ini lagi!!, sayang!, sayang!" Semprot Tiara ketus.


Risih!!, dipanggil seperti itu oleh Luigi rasanya risih dan menggelikan baginya. Apalagi Luigi selalu nggak nyadar tempat ataupun kondisi, dan lagian mereka juga nggak sedang pacaran atau apalah.


Walaupun iya, ada pembicaraan tentang rasa diantara keduanya, tapi...terkendala sesuatu yang sangat besar. Dan itu adalah restu dari seorang Abby Tiara, yaitu Rayya.


" Lah?, diriku bertanya pada dirimu baik-baik loh Yang, kok jawaban darimu seperti itu Yang, diriku salah apa coba...?" Ucap Luigi bingung.


Dia yang nggak ngerti apa yang terjadi menatap ketiganya bingung. Tiarapun akhirnya menyesal telah berkata-kata kasar pada Luigi yang sebenarnya nggak bersalah apa-apa itu.


" Ck sudahlah Luigi! Nggak usah lebay!, angkat ini dan bawa ke ruang makan..." Ucap Tiara sambil menyodorkan sepiring ayam panggang pada Luigi.


" Maaf Lui..." Bisiknya lirih di samping telinga Luigi.


" Hemmm, ya.." Jawab Luigi sambil mengangguk saja, menerima piring itu dah membawanya ke ruang makan.


" Kak Ray, Maureen...silahkan teruskan berantemnya, Aku udah sangat lapar, aku tinggal dulu ya...." Pamit Tiara setelah memindahkan teflon pemanggan di bak cuci piring, tatapanya tertuju pada kedua orang yang masih saling hadap-hadapan dengan tangan yang sama-sama berkacak pinggang.


...*...


" Loh?, Maureen dan Rayden mana Tia?" Tanya Saga.


Dilihatnya Tiara hanya muncul sendiri dari arah dapur, padahal tadi Saga melihat Maureen dan Rayden ada disana.


" Tia suruh lanjutin berantemnya kak, mereka didapur bukanya ikutan masak malah berantem sendiri, Tia yang denger aja jadi ikut emosi.." Jawab Tiara panjang lebar.


" Hhuufft, Alhamdulillah... Kirain dirimu marah sama diriku tadi Yang, ter---"


Pluk!!


Irisan timun melayang tepat dibibir Luigi, membuatnya menghentikan ocehannya.


" Berhenti panggil Tia Sayang!!, geli tau nggak!!" Sentak Tiara.


" Geli ya tinggal di garuk aja!!, lagian mulut-mulut diriku juga, bebaskan diriku mau panggil dirimu apa aja?" Sahut Luigi tanpa rasa bersalah sedikitpun.


" Ck!!, dasar playboy gila!!" Gumam Tiara.


" Siapa playboy?, diriku maksudmu?" Tanya Luigi dengan mata yang menatap lurus pada mata Tiara, sementara jari telunjuknya menunjuk pada wajahnya sendiri.


" Ya tentu saja!!, siapa lagi?" Ketus gadis itu.


" Tiara sayang, diriku ini bukan playboy. Dirimu salah tuduh!! Karena definisi playboy it---"


" Kalau kalian juga BERANTEM sana PINDAH TEMPAT!!, ini tempat orang MAKAN!!" Ucap Saga kalem, tapi penuh penekanan pada setiap ucapannya.


" Kamu sih !" Sentak Tiara geram dengan mata melotot menatap Luigi.


" Loh kan dirimu yang mulai Yang!!" Sahut Lui.


Brakk!!!


Cep!!, mulut Luigi dan Tiara tertutup seketika saat mendengar suara keras yang disebabkan oleh Saga.


Saga sendiri sudah dibatas sabarnya, hingga diapun menggebrak dengan meja geram. Sepertinya sikap tidak sopan adik-adiknya harus mulai dibenahi. Agar tidak terus-terusan salah kaprah.


" Masih mau lanjut berantem?" Tanyanya dingin kepada dua adiknya itu, matanya tajam menatap pada kedua tersangka.


" Enggak!!" Jawab keduanya bersamaan.


" Kalau enggak, mari kita mulai makan..." Lanjutnya.


" Emmhh, bentar ya kak, Meera panggil Ray dan Ren dulu...." Ucap Meera sembari mulai berdiri untuk memanggil adiknya.


Tapi belum juga melangkah, kedua anak yang hendak dipanggilnya ternyata muncul dari pintu dapur. Wajah keduanya sama-sama masam dan terlihat masih ada ketegangan diantara keduanya.


" Kalian berdua cepat jalanya!!" Seru Saga kesal.


Sebenarnya dia kesal bukan karena tingkah adik-adinya yang beranteman. Tapi kesal karena Almaeera tidak mau dibujuk untuk menginap disini malam ini. Padahal kan Saga pengen sayang-sayangan, ya.. nggak harus saling peluk seperti pasangan lain. Minimalnya bisa menatap Almaeera dengan puas saja cukup baginya.


Akhirnya mereka bertujuh makan dengan tenang, nasi goreng buatan Meera dan Aivy memang terbukti sangat pedas gurih dan nikmat, benar-benar membangkitkan selera makan mereka.


Bahkan beberapa kali Saga, Luigi dan Rayden menambah porsi.


" Dihh, kalian ini emang doyan atau kerasukan sih!!" Seru Maureen heran saat melihat kerakusan ketiga pemuda didepannya.


" Emmhhh, ini benar-benar nasi goreng seleraku Reen, pedasnya mantap, gurihnya tepat, ini sungguh nikmat." Sahut Luigi, sekali lagi dia menyedok nasi goreng dari bakulnya, nambah untuk ke tiga kalinya.


" Siapa yang masak?, sumpah!! Ini enak banget" Tanya Luigi selanjutnya.


" Aku..." Sahut Aivy.


" Oh...pantes...." Jawabnya ngambang.


" Pantes apa?" Kejar Aivy.


" Pantes ka Almeer selalu rindu nasi goreng buatan lo...." Jawab Luigi ngasal.


" Dihh, ngarang!!" Sambar Aivy cepat.


" Sebenarnya sih Aivy tadi cuma bertugas menggorengnya doang, sedangkan yang meracik bumbu-bumbunya itu ka Meera, jadi kalau katamu ini nikmat itu berkat kak Meera..." Lanjut Aivy memberi penjelasan.


Saga menghentikan kunyahanya mendadak, perlahan pemuda itu memejamkan matanya. Iya sih nasi goreng ini sangat lezat, pemuda itupun berusaha mencoba menggali dan merasai rasa nikmat dari nasi goreng yang berada dimulutnya. Nasi goreng buatan Meera-nya.


Jadi ini rasanya masakan calon istri gue..


Nikmat..., jadi pengen cepat-cepat menjadikannya istri, biar dimasakin tiap hari...


Duh...papa...cepetlah datang pa....


" Kak!!, kok makan sambil mejem sih?, ka Saga ngantuk?" Rayden menepuk lengan Saga dengan sedikit keras, membuat pemuda itu tersentak kaget dan akhirnya tersedak oleh makanan yang ada di mulutnya.


" Ukkh..uhuk..uhuk..uhuk..."


Meera segera berdiri dan menyodorkan air minum di depan mulut Saga. Sementara tangan sebelahnya menepuk-nepuk pelan punggung Saga.


Diperlukan seperti itu membuat Saga semakin yakin untuk segera menghadap unclenya, meminta dengan pasti Almaeera untuk dipinangnya.


" Emmhh, makasih sayang..." Ucapnya lirih setelah merasa lega. Senyum manis merekah cerah dari bibirnya yang merah.


Sementara lima orang lainya hanya bisa tersenyum malu-malu melihat keharmonisan di depan mata mereka.


" Uuhhh...so sweet, jadi kangen kak Almeer..." Gumam Aivy.