
Bel istirahat telah terdengar, semua siswa berhamburan keluar kelas. Terkecuali kelas XII yang memang sedang ada di aula untuk berfoto bersama seluruh kelas.
" Itu ya yang namanya kak Almeer?" Tunjuk seorang gadis pada sosok tinggi tampan yang berdiri bersandar pada samping pintu aula.
Gadis itu salah satu pindahan dari sekolah lain, dia masuk diawal semester kedua. Saat itu kebetulan Almeer sudah jarang ke sekolah, karena semenjak ujian kelulusan telah selesai, Almeer sudah sangat jarang masuk demi mempersiapkan keberangkatannya ke Jerman.
" Iya itu yang namanya kak Almeer, cakep banget kan!. Kak Rayden juga nggak kalah cakep!..., ya ampun!! Kok ada ya orang yang gantengnya setinggi langit kaya mereka begitu..." Ucap lebay anak yang lainnya.
Mereka memberanikan diri menempelkan wajah mereka ke kaca jendela aula demi mengintip aktifitas anak-anak kelas XII yang ada di dalam.
" Wah gila woy!!, kakak-kakak kelas XII emang paling the best ya woy. Cowok-cowoknya rata-rata keren semua"
" Eh ya Tuhan kak Almeer madep ke sini cuy, eh ya elah...doi senyum ke kita cuy...." Jerit si gadis bertubuh tambun yang subur makmur itu histeris.
Mereka terlihat bersorak heboh hanya karena di notice oleh seorang Almeer.
" Wahai Tuhanku!! Konsonan Langit dan Bumi!! Bulan Bintang dan Matahari!!, Dewa Dewi Yunani!! Siapapun itu!!, tolong sisakan satu untukku orang yang seperti ka Almeer dan kak Rayden! ....please aku bersumpah menjadi babu siang malam untukmu, mau ngepel-ngepel kek, mau cuci-cuci kek, mau lap-lap kek, siapapun yang bisa mendekatkan aku dengan salah satu dari keduanya lo pasti akan dapat babu limited edition macam gue..." Jerit anak pindahan yang ada di gerombolan cewek-cewek adik kelas diluar aula.
" Hush!! Jangan kak Almeer, doi udah punya pacar cuy, kalau ka Ray jomblo tuh...baru boleh..." Sela salah satu dari mereka.
Suara mereka yang begitu kencang membuat telinga siapapun yang ada di aula bisa mendengar teriakan kedua gadis itu dan sontak membuat mereka yang ada didalam tergelak, begitupun Almeer yang saat ini sedang bersiap di foto.
Beberapa kali proses pengambilan fotonya harus diulang karena Almeer tak bisa menahan tawanya.
" Rupanya walaupun sudah mau lulus kamu masih juga jadi idola utama ya Meer. Gila pamormu nggak meredup sama sekali meski udah berlabel soldout di keningmu. Bahkan seantero SMU Bhakti juga udah tahu kamu punya pacar, tapi gila!!, pesona mu nggak kaleng-kaleng Meer..." Sindir Atlanta
" Lo ma Almeer jelas beda kasta bro!!" Sela salah satu teman sekelas mereka.
" Ck!!, mana ada kasta di negara kita woy!!, agama kita juga nggak menyinggung masalah kasta!!" Sahut Atlanta.
" Ck berat bet omongan lo Ta!, yang negara lah, yang agama lah! Intinya lo itu nggak ada secuil pun jika dibandingkan dengan Almeer..." Lanjut si teman tadi.
" Apanya yang nggak sebanding!. Mata lo buta!!, gue juga ganteng tau!!, sebelas duabelas sama Almeer, terbukti kan?. Setiap cewek yang ditolak Ray dan Almeer kan selalu oleng ke gue..." Ucap Atlanta percaya diri.
" Mereka oleng karena terpaksa cuy!!, lo aja tang gak peka!. Mati rasa lo?!"
" Sudah! Sudah! Kalian ributin apa sih..." Sentak Almeer yang kini celingukan mencari keberadaan Rayden.
" Rayden mana?"
" Ke belakang, sepertinya ke lapangan bola.." Jawab Rosa yang memang kebetulan tadi berpapasan dengan Rayden.
...***...
Puluhan pesawat kertas berhamburan di area belakang gawang lapangan sepak bola, dan Rayden bersila disana. Di samping tempatnya duduk tergeletak tas punggungnya yang sedikit terbuka, nampak beberapa kertas hvs kosong berjejalan di dalamnya.
Almeer berlarian kecil menuju keberadaan Rayden saat ini. Karena posisi Rayden yang memunggunginya, apalagi dia juga sedang memakai headset maka tak heran jika Ray sama sekali tidak menyadari keberadaan Almeer.
Almeer berjongkok, memungut salah satu kertas yang telah dibentuk menjadi pesawat itu di rerumputan. Ada secarik tulisan disana, dan pemuda itupun penasaran.
Di bukanya lipatan pesawat itu, sehingga kembali menjadi seperti bentuk kertas semula.
Almeer mengeryit heran saat mendapati tulisan Rayden yang dirasanya aneh. Lalu dipungutnya asal-asalan beberapa pesawat yang ada disekitar kakinya.
Sama saja!!, semua tulisan rata-rata berisikan ke galauan Rayden. Dan juga ungkapan rasa jenuhnya yang entah sebesar apa kejenuhan itu membebani pundaknya.
Tapp!!
" Ehh!!, lo disini?, sejak kapan??" Rayden menoleh cepat saat tepukan Almeer mengagetkannya.
" Barusan aja!, lo ngelamunin apa sih Ray?, sampai nggak sadar ada gue. Biasanya dari bau gue aja lo langsung notices.."
" Hemmm, iya Meer sorry!!. Gue mungkin udah kehilangan kemampuan mengendus bau lo layaknya anjing pelacak he..he.."
Rayden memang tersenyum, tapi tidak ada ketulusan di sana, dan Almeer tahu itu.
" Lo oke kan?, sejak kepulangan gue lo sedikit beda Ray..." Tembak Almeer pada sasaran. Almeer bukan tipe-tipe yang bertele-tele saat berbicara, sekali bicara mending langsung ke intinya.
" Kalo begini gimana gue bisa nyimpen rahasia coba!!" Pemuda itu kini malah menepuk keningnya geram, lalu mulai berdiri dan kembali bersiap hendak menerbangkan salah satu pesawat kertasnya.
" Cerita ke gue Ray!, apa masalah lo?" Desak Almeer.
" Ck. Masalah apa sih Meer..... Nggak ada lah!!" Seru Rayden mengelak cepat, tatapan mata Almeer yang menatapnya tajam kali ini membuatnya tak nyaman.
" Lo nggak sedang berbohong kan Ray?" Kejar Almeer lagi, kali ini tatapannya berubah menjadi lebih penuh selidik.
" Haish!!," Desis Rayden kalah. Kalau sudah begini mana bisa sih dia menyimpan rahasia pada Almeer.
" Hufftt!! ya udah deh iya.... Kita bicara sepulang sekolah. Gue mana bisa sih nyimpen rahasia dari lo!!" Pasrah Rayden pada akhirnya.
...***...
Aivy mendengus kesal, dengan jengkel dia menuruni tangga lantai tiga menuju kantin sendirian. Sudah sejak pagi Maureen terlihat kehilangan semangat. Entah apa masalahnya, tiba-tiba gadis itu menjadi pendiam akut.
Diajak ngomong nggak menyahut, dicolek juga diam saja. Aivy yang nggak tahu apa-apa malah kena imbasnya seperti ini.
Sementara itu Maureen merebahkan kepalanya di bangkunya, fikiranya begitu kusut sekarang.
Flashback on
" Ayo sarapan dulu..." Seru mommy Ara dari pintu dapur. Ditanganya mengepul nasi goreng seafood kesukaan anggota keluarganya plus calon mantu-mantunya.
" Ray duduk sini son!!, kenapa mojok disitu sih..." Tegur daddy Rangga yang melihat Rayden tetap duduk di kursi bar dapur, sementara yang lain sudah duduk rapi di meja makan.
" Ray disini saja uncle, kalian silahkan sarapan.... Ray tadi udah sarapan." Ucapnya lirih.
" Lo sarapan apa?, bukanya pas kita berangkat kesini tadi ka Sha belum keluar kamar kan Vy?" Sanggah Saga, lalu beralih pada Aivy.
" Kak Binar tadi sedang buat pancake sih, tapi belum mateng saat kita berangkat..." Jawab Aivy.
" Aku masih ada persediaan roti dan susi dikamar, tadi aku makan itu" Sahut Rayden masih tak mau pindah ke meja makan.
" Ya udahlah...mari sarapan" Lerai daddy Rangga.
Selama yang lain sedang sarapan, Rayden hanya mainkan ponselnya. Pemuda itu tak menyadari jika Maureen berulang kali meliriknya cemas.
Semenjak kepulangan Rayden dari Sydney, Maureen merasakan berbedaan sikap yang drastis. Jangankan menegurnya sekedar bertanya kabar, Rayden bahkan sama sekali tidak mau menatapnya sama sekali.
Entahlah rasa apa ini, ada sesak yang mengganjal dalam hatinya mendapati sikap Rayden yang seperti itu.
Biasanya mereka selalu bertengkar, mempeributkan apa saja dengan sengit, tapi ujung-ujungnya selalu ada tawa.
Tapi sekarang?, jangankan tawa.... Sekedar senyum sinispun tak ada.
Maureen paling pertama selesai sarapan, gadis itupun beranjak menuju dapur untuk mencuci piring dan gelasnya. Saat melewati Rayden gadis itu mencoba berinteraksi tipis-tipis.
" Nasi goreng mommy hari ini banyak udangnya kak, pedasnya juga pas seperti selera kak Ray.... Sarapanlah dulu...Reen bisa nunggu kok..." Ucapnya lirih sambil terus berjalan menuju wastafel.
" Oh ya?, tapi sayang sekali.... Sudah satu bulan ini aku tidak lagi menyukai udang ataupun makanan pedas" Sahut Rayden dingin, tanpa mengalihkan tatapannya pada layar ponselnya sedikitpun.
Maureen berhenti sejenak, lalu menoleh menatap Rayden. Entah apa arti tatapannya saat ini, yang jelas hatinya sakit melihat kesenduan di wajah tampan Rayden.
Flashback off.
" Dia nggak suka lagi dengan udang?, masak sih?, bukanya dia selalu lahap jika itu udang?" Gumam Maureen lirih. Sementara jarinya mengusap-usap foto Rayden yang ada di ponselnya.
Kamu tahu Reen, nasi goreng pedas plus udang adalah satu-satunya makanan yang bisa membuat kak Ray kalap!!, kak Ray bisa menghabiskan berpiring-piring jika itu masakan mommymu....
Maureen masih ingat jelas kata-kata Rayden saat mereka camping lengkap bersama dengan seluruh genk somplak senior di Bromo beberapa tahun lalu.
Dan sekarang, Rayden tiba-tiba membuat statment yang mengejutkan.
Oh ya?, tapi sayang sekali.... Sudah satu bulan ini aku tidak lagi menyukai udang ataupun makanan pedas