Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Ketemu..



Oe...oee...oee...


Tangis bayi di box samping ranjang tidurnya membuat Meera langsung terjingkat dan segera turun.


" Hhsss...hsss...cup..cup, haus ya...uhhh sini-sini gendong aunty.." Meera meraih bayi merah itu dan mendekapnya. Menimang-nimang sebentar agar tangis bayi itu sendikit berkurang.


" Terbangun ya?" Almeer melongok di pintu kamar Meera yang memang tidak ditutup.


" Biar kakak bikinin susu, bentar..." Lanjutnya cepat dan langsung menghilang menuju dapur.


Jadi, sepulang dari menghadiri acara ulang tahun Wulan, empat hari lalu mereka mampir ke rumah salah satu rekan bisnis daddy Rangga. Mereka datang karena amanah sang daddy untuk mengabarkan keabseban daddy untuk rapat esok hari karena mendadak harus ke Yogyakarta.


Atas desakan sang rekan bisnis daddynya dan karena pentingnya agenda rapat esok hari, maka mau tidak mau Almeerlah yang harus menggantikan dan mewakili sang daddy.


Dan untuk itu, Almeer tahu siapa yang harus dituju malam ini untuk bisa di minta pertolongan mempelajari secara singkat materi yang harus dibahas dirapat. Tentu saja dia adalah orang kepercayaan sang daddy yaitu Dimas, sang asisten.


Sampai di panti asuhan Casablanca milik keluarga Al Ghifari mereka langsung disuguhi pemandangan yang mengharukan. Tepat saat kedatangan mereka, panti juga kedatangan anggota baru, seorang bayi merah yang diperkirakan masih berusia beberapa hari.


Satpam menemukannya sepulang jamaah Magrib tadi di depan pintu gerbang, terbungkus koran dan diletakkan di dalam kardus.


Yang jadi masalahnya adalah, sebagian besar pengurus dan kakak senior perempuan kebanyakan ikut pergi ke Yogyakarta guna menengok kakek buyut Al Ghifari yang dikabarkan jatuh sakit.


Di panti hanya tersisa dua ibu asuh dan dua kakak senior putri, yang lainya tersisa beberapa anak usia SMP seperti Azmya dan Azmi. Sementara yang harus mereka urus ada sekitar dua puluhan anak usia SD, belasan anak TK dan beberapa balita.


Jadi putra-putri Rangga plus Aivy memutuskan untuk membantu di sini sebisanya.


Bahkan saking sibuknya mengurus adik-adik panti beberapa hari ini, mereka bahkan ijin tidak sekolah dan tidak sempat lagi mengurusi ponsel masing-masing.


...***...


" Brothy...tolong bantu Saga..." Rengek Saga melas saat akhirnya bisa menemui Sunny yang entah kenapa beberapa hari ini sibuk entah kemana.


Untung hari ini Sunny sedang berada diruang Gym bersama papa Vino yang datang semalam.


" Bantu?, bantuan seperti apa?. Kalau urusan kuliah brothy nggak ngerti blasss..." Sahut Sunny.


Saga mendekati kakak iparnya itu dengan kepala menunduk, raut wajah kusut dan rambut yang acak-acakan.


Seminggu ini Saga bahkan tidak lagi sempat mengurusi penampilan, pria muda itu sibuk mencari keberadaan sang kekasih yang tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi.


" Brothy, please.... Aku kehilangan keberadaan Almeer dan adik-adiknya. Ditelponin nggak diangkat, di massage juga nggak dibaca. Tolong lacak keberadaan mereka..."


" Ck!!, ya elah cuma masalah gitu aja pakai ribet sih Ga!!, lo udah cek rumah uncle Ardi belum?, lo kan tahu Azmya dan Azmy sendirian. Barangkali mereka disana...." Sahut Sunny cuek.


" Udah kesana akutuh brothy. Tapi rumah mereka sep----"


" Ya kalau sepi!, emang mereka bisa kemana sih kalau nggak ke panti.." Sahur Sunny.


" Kakek buyut Ghifari sedang sakit, kakek Syakieb dan Syahril semua ke Yogyakarta. Azmya dan Azmy pasti ke Casablanca karena kebetulan kak Bian dan Uncle Aunty juga sedang nggak ada.." Lanjut Sunny.


Plakk!!


Saga menepuk keningnya keras, senyumnya mengembang sempurna seolah mendapatkan pencerahan.


Tanpa ancang-ancang, pemuda itu langsung berlari begitu saja menuju garasi dan mulai bergerak cepat menunggangi motornya.


Rasa rindu yang luar biasa membalutnya beberapa hari ini begitu menyiksa. Biarlah Saga disebut oleh sang mama telah terjangkit virus bucin level maximum. Kenyataannya memang beberapa hari ini dia tidak bisa konsentrasi di kampus, tidak bisa makan dengan semestinya, tidak bisa memejamkan matanya dengan sempurna karena kehilangan sebelah hatinya.


Entah bagaimana cara Saga mengemudi motornya kali ini. Dari White Base ke Panti Asuhan Casablanca biasanya jika ditempuh dengan motor maka akan memerlukan waktu sekitaran 45menitan, tapi kali ini mungkin Saga cosplay menjadi Valentino Rossi, karena baginya cukup 25menit saja dia telah mencapai depan gerbang panti.


" Pak Djarot...pak!! tolong buka gerbang nya pak..." Teriak Saga tak sabar memanggil satpam panti.


" Mas Saga, selamat datang mas.." Sapa sang satpam seraya membuka kunci dan mulai mendorong gerbang untuk memberi jalan pada salah satu putra donatur tetap panti.


" Apa Almeer dan adik-adiknya ada disini pak?" Bukanya menjawab sapaan sang satpam. Saga justru melontarkan pertanyaan yang menggelitik dihatinya sedari tadi.


" Oh, mereka ada mas.... Sejak seminggu lalu mereka disini.." Jawab pak Djarot.


Saga memarkirkan motornya dibelakang pos satpam. Lalu kembali menghampiri pak Satpam yang masih berdiri tidak jauh darinya.


" Sepertinya dibelakang mas, tadi sedang membantu mbok Ranti menjemur baju, setelah mengurus sarapan.." Jawab pak Djarot.


Saga mengangguk sesaat, matanya melirik arah belakang panti yang memang agak sedikit sepi.


" Baiklah, terimakasih pak. Saya langsung kebelakang saja..." Ucap Saga sopan.


Pak Djarot mengangguk sambil melambaikan tangannya.


Saga berlari-lari kecil menuju samping gedung panti untuk bisa mencapai taman belakang panti.


Dari jaraknya yang sedikit jauh, Saga dapat melihat siluet sang kekasih yang dirinduinya siang malam beberapa hari ini.


Beberapa anak kecil sekitar kelas 2 dan 3 berlarian di sekitar Meera. Saga menghentikan langkahnya, dari tempatnya berdiri saat ini dia sengaja diam untuk menatap senyum sang kekasih yang begitu cerah tanpa beban.


" Kau begitu berbahagia disini, tidakkah kau merindukan aku sedikitpun Yang...." Rutuknya kesal.


" Bahkan beberapa hari ini aku seperti zombie, hidup segan mati tak mau karena begitu tak bersemangat hidup sejak kehilangan kamu... Dan ka---"


Saga mengatupkan mulutnya tiba-tiba, matanya kini melebar sempurna saat Dimas muncul dari arah pintu belakang sambil menggendong seorang bayi.


Meera telihat segera belari kecil menghampiri Dimas dan mengambil alih bayi mungil itu dari gendongan Dimas.


Interaksi mereka berdua terlihat manis dimata siapa saja yang melihatnya. Senyum Dimas begitu teduh saat menatap Meera, sebagai sesama pria Saga saat pahan arti tatapan Dimas. Ya...Dimas menaruh hati pada putri majikannya sendiri.


Saga mengeratkan gumpalan tangannya. Geram!!, jelas secara kepribadian dan keunggulan finasial ataupun kedewasaan dia pasti kalau telak dengan Dimas.


Siapa yang berani menyangkal kehebatan seorang Azura istri Ardiansyah Syakieb dalam membimbing akhlak dan karakter anak-anak panti nya. Tidak ada!!.


Saga tak sanggup terus bersembunyi dan hanya menatap, dia calon tunangan Meera. Dialah pria yang dipilih Meera, dan dialah yang dicintai Meera. Masalah Jasmin??, Saga yakin!...Meera perempuan hebat yang tidak mudah percaya gosip murahan yang disebar orang yang tak bertanggungjawab.


Tapi saat kakinya mulai melangkah untuk mendekat, rupanya Dimas juga tengah sibuk mengumpulkan adik-adiknya untuk diajak masuk kedalam.


Tinggalah Meera yang saat ini sedang menjemur si baby di meja khusus yang memang telah tersedia di belakang panti sambil bersenandung sholawat. Telapak halusnya menepuk lembut sang baby agar tertidur.


Saga berjalan mengendap-endap mendekati Meera yang kali ini memunggunginya karena fokus menidurkan si baby.


Grepp!!


Pelukan tiba-tiba dari belakang tubuhnya membuat Meera terjingkat kaget dan reflek hendak menganyunkan sebelah tangannya untuk meninju sang pelaku.


" Sttt, ini aku Yang...." Bisik Saga tepat di samping telinga Meera.


Tubuhnya begitu menempel dibelakang Meera. Jika diingat, ini adalah kali pertama mereka sedekat ini.


" Ka Saga....?" Ucap Meera terbata.


Dadanya bergemuruh hebat, selain Almeer dan daddynya. Baru kali ini Meera dipeluk oleh orang lain..., jelas rasanya tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ada sesuatu rasa yang seolah meledak di dalam hatinya saat ini.


" Iya Yang, ini aku ka Sagamu yang kau abaikan seminggu ini. Aku Sagamu yang gila karena kehilangan kamu seminggu ini....Kamu mengacuhkan ku begitu saja Mee.... Aku tahu aku salah..., tapi hukumanmu terlalu berat buatku..." Bisiknya lagi tanpa melepas belitan kedua tangannya diperut Meera.


Biarlah....Saga pasrah saja, mau dihajar Almeerpun dia sanggup. Asal bisa memeluk Meera seperti ini untuk sekarang, rasanya mati besokpun Saga rela.


" Kak lepas...." Meera berusaha membuka belitan tangan Saga.


" Biarkan dulu begini sebentar saja please..., aku merindukan kamu Yang. Apa kamu enggak? " Desis Saga lemah di samping telinga Meera, suaranya begitu menyedihkan.


Bahkan kini belitan tangannya semakin erat diperut sang kekasih.


Meera akhirnya pasrah saja, jujur...diapun sama kangennya.


Bukanya tidak mau menghubungi Saga seminggu ini, tapi saking sibuknya bahkan dia sering lupa untuk sekedar melirik ponselnya saja.


" Apa kamu nggak sayang aku?, bahkan panggilan dan pesan akupun tidak sekalipun kamu gubris Meera.... Apa kamu juga sudah mengeliminasi aku gara-gara Jasmin?, apa posisiku telah tergantikan?, lengser dari hatimu?" Cerocos Saga mengeluarkan unek-unek beberapa hari ini, apalagi ditambah kedekatan Dimas denganya tadi.


Meera melipat bibirnya kedalam, ingin tertawa rasanya nggak sopan. Tapi semua kata-kata Saga saat ini terdengar menggelikan. Ingin menjawab rasanya juga tidak disaat yang tepat. Si baby saat ini mulai menutup mata hendak tidur..


" Ekhemm!!, asyiknya yang lagi kangen-kangenan..." Almeer tersenyum usil sambil mencolek pundak Saga.