
Saga terus mengulum senyumnya semenjak motor yang dikendarainya keluar dari gerbang White base. Seperti halnya pemuda-pemuda yang lain, Saga pun sama.
Pemuda itu juga berusaha memainkan gas persneling nya agar motornya terlihat mengancul-ngancul tak karuan, berharap Meera berpegangan erat padanya. Dan itu berhasil, Meera saat ini meremas ujung jaketnya untuk berpegangan.
Yah..untuk sementara begitu saja cukup bagi Saga..yang penting si permata hati happy, begitupun dirinya.
" Nanti pulang jam berapa yang?, biar kak Saga jemput.."
Almaeera menggigit bibirnya geli mendengar kata sayang yang terucap dari bibir Saga.
" Sepertinya pulang cepat, Meera belum tahu pasti. Tapi nanti akan Mee kabari.." Jawab Meera.
Perjalanan ke SMU Bhakti yang seharusnya cukup ditempuh dengan tiga puluh menit saja waktu normal, kini di tempuh dua kali lipat lamanya oleh Saga. Ya, tentu alasannya klasik saja, Saga ingin berlama-lama bersama Meera seperti saat ini.
Setelah menurunkan Almaeera di depan gerbang SMU Bhakti, Saga tidak segera pergi, pemuda itu justru ikut turun dan ikut berjalan memasuki gerbang sekolah.
" Ka Saga mau kemana?" Tanya Meera.
" Mau antar kamu..." Sahut Saga.
" Loh.., kan udah sampai nih..." Balas Meera.
" Ka Saga antar sampai kelas..." Bisik Saga lirih disamping telinga Meera.
" Hehh???, apa??, ka Saga ihh nggak deh!!"
Meera reflek mendorong lengan Saga untuk berbalik ke gerbang.
" Loh kenapa yang...?, kan biasa begitu. Almeer aja sering antar Aivy ke kelasnya..." Ucap Saga sambil membatukan tubuhnya, hingga Meera kesulitan mendorongnya.
" Biasa buat ka Almeer, tapi nggak biasa buat Meera kan.." balas Meera.
" Apanya...? kan belum dicoba.... Yuk ahh...ka Saga antar sampai kelas sayangku..." Sanggah Saga.
Meera memejamkan matanya gemas, ucapan sayang itu begitu sejuk di telinganya, tapi dia begitu malu mendengarnya.
" Ishhh, ssttt kak! Sayang- sayangnya jangan disini ihhh!!, Mee malu..." Lagi-lagi Meera reflek menutup bibir Saga dengan telapak tangannya.
Saga membisu seketika, telapak tangan lembut itu kini menyentuh langsung bibirnya. Gila!!, dada Saga rasanya seakan ingin meledak saja.
" Ahh!, maaf kak!!" Meera buru-buru mengangkat tangannya lalu menyembunyikannya kebelakang tubuhnya saat sadar akan kesalahannya.
Untuk beberapa saat kecanggungan meliputi keduanya.
Tiga tahun menjadi siswi teladan SMU Bhakti, apalagi kehidupan tertutup Meera yang selalu dalam lingkaran Almeer, jelas membuat dirinya tak tersentuh.
Jika saat ini tiba-tiba dia muncul dengan Saga, apalagi diantar sampai ke kelas seperti pasangan-pasangan kekasih lainya. Itu pasti akan membuat heboh dunia persilatan. Mana sekolah juga tinggal beberapa hari efektif, masa harus meninggalkan kesan yang menghebohkan.
Belum lagi Saga yang terus memanggilnya yang..yang..tanpa peduli kondisi dan situasi, tentu akan semakin membuat gosip yang asyik untuk di ulik.
Lihatlah, saat ini saja beberapa siswi sibuk curi-curi pandang pada mereka, tepatnya pada Saga. Pemuda yang ketampanannya sekelas Alex Sho itu jelas sangatlah menarik perhatian saat ini.
" Jadi kamu nggak mau diantar ke kelas?" Tanya Saga setelah bisa mengendalikan kecanggunganya. Nada bicaranya terdengar begitu kecewa.
" Bukan nggak mau kak, tapi Meera belum siap..."
Meera menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona merah karena malu dan tak nyaman karena telah mengecewakan Saga.
" Pfffttt..."
Ya...maklum selama ini Almaeera adalah anak perawan yang selalu terkurung oleh lingkaran Almeer yang sangat ketat.
Almaeera itu sejak tiga tahu sekolah di SMU Bhakti selalu dikawal Almeer kemana-mana, bahkan dikelaspun Meera hanya bisa mengobrol dengan Zaskia teman sebangkunya.
Kerja kelompokpun Almeer selalu membuat aturan agar kelompok Meera bisa berkumpul di rumahnya.
Tiga tahun jadi murid SMU Bhakti, hanya segelintir siswa cowok yang bisa tembus mengobrol dengan Meera, itupun harus ada Almeer, gila nggak!.
Almeer benar-benar posesif dengan saudara kembarnya. Berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan perlakuannya pada adik bungsunya Maureen. Maureen masih diberikan kebebasan walaupun tidak sepenuhnya. Karena bagi Almeer, Maureen sudah ditangan yang tepat, yaitu Rayden.
" Ya udah...masuklah. Nanti hubungi ka Saga kalau kelas udah bubaran..." Ucap Saga.
" Oh ya Mee..., pulang sekolah kita langsung jalan mau?" Lanjut Saga sebelum Meera benar-benar melangkah.
" Memangnya ka Saga nggak kuliah?" Tanya Meera dengan mata yang membulat sempurna.
Saga menatap lekat mata indah itu sambil menggelengkan kepalanya.
" Dosennya ijin, anaknya sakit. Gimana?, mau?"
" Kemana?" Tanya Meera, anggukan kepalanya menandakan kesediaanya.
" Ke bukit cinta..." Jawab Saga sambil terus tersenyum senang, karena sejak semalam dia telah merencanakan ini semua, rasa takut melanda jikalau Meera menolak ajakannya. Dan pucuk dicinta ulampun tiba, anggukan Meera benar-benar membuat pecah bisul yang tumbuh pada hatinya selama ini.
Akhirnya, bisa juga Saga berada di titik ini, dititik yang orang bilang terpanah asmara. Di usia dua puluhannya kali inilah dia akan merasakan yang namanya kencan. Sungguh, selama ini Saga telah berhasil menjaga hati dan dirinya hanya untuk Almeera Haura Sidiqi.
Kencan pertama untuk hubungan yang telah mendapat restu. Oh...andai bisa dan nggak ada rasa malu, rasanya Saga pengen koprol-koprol sekarang juga untuk melupakan rasa bahagianya.
Meera ikut tersenyum, senyuman bahagia Saga membuatnya tertular untuk ikut bahagia, untung di lokernya ada baju ganti jadi amanlah jika harus langsung pergi jalan pulang sekolah.
" Ka Saga tunggu telpon darimu..., sebenarnya udah nggak sabar nunggu nanti. Tapi ka Saga juga ada janji dengan Aldo. Ya sudah masuklah..." Saga memutar punggung Meera untuk menghadap gedung sekolahnya, lalu mendorongnya pelan agar gadis itu mulai melangkah.
" Ka Saga tunggu telpon darimu sayang..." Bisik Saga dari belakang telinganya.
Tubuh Meera merinding dibuatnya, apalagi elusan lembut di kepalanya sebelum Saga pergi semakin membuat Meera mematung untuk beberapa saat.
" Cieeee....yang baru jadian. Sayang-sayangan terus...." Sindir Zaskia yang kini telah memeluk erat Meera.
" Hahh??, kamu denger apa yang diucapkan ka Saga, Kia?" Tanya Meera canggung dan kikuk.
" Tentu saja Mee..., duhhh romantisnya ka Sagamu itu Mee, tuh kan jadi merinding gue.... Ya ampyun Tuhan..sisakan satu saja orang seperti ka Saga buat hambamu ini..." Ucap Zaskia alay.
Mereka berangkulan berdua menuju kelas.
Sementara Saga yang telah berada dijalan, segera memacu motornya ke cafe dimana Aldo telah men-share lokasinya beberapa saat lalu.
Entah kenapa dada Saga tiba-tiba terus berdebar kencang, seakan-akan sesuatu yang buruk sedang menunggu disuatu tempat.
" Ada apa ini?, kenapa perasaanku seperti ini?"
" Astaghfirullahalazim...."
Saga terus komat-kamit beristighfar untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba sesak.