
Tengah hari, daddy Rangga yang sedang ada pertemuan dengan klien akhirnya bisa bernafas lega. Semua urusannya telah selesai. Tinggal memberesi berkas yang menumpuk di meja room privat salah satu cafe dimana beliau menemui kliennya hari ini.
" Alhamdulilah..., semua beres. Tinggal jemput istri saya di hotel Dim..." Ucap daddy pada asistennya. Dimas namanya, pemuda soleh yang merupakan salah satu anak asuh keluarga Al Ghifari di panti asuhan Casablanca.
" Baik Pak..., kita langsung ke hotel saja jemput ibu. Ini juga barusan pak Chandra ngabarin, bahwa ibu juga sudah selesai urusanya..." Jawab Dimas sopan.
Dimas seperti Gama Bakaskara yang diasuh oleh opah Hendrawan Wijaya dahulu. Dimas juga cerdas dan tanggap bisnis seperti Bagas.
Mobil yang dikendarai Dimas dan daddy Rangga kini meluncur ke alamat hotel di mana mommy Ara berada.
Saat menuruni mobilnya, tatapan mata daddy tertuju pada sosok yang baru keluar dari lobby.
" Hanan?" Gumamnya pelan.
" Hanan!!" Panggil daddy saat orang yang dimaksud berjalan mendekat ke arahnya.
Pria yang dipanggil itupun menoleh, lalu tersenyum ramah dan berjalan sedikit cepat ke arahnya.
" Assalamualaikum Rangga...."
Greep!!
Keduanya berpelukan erat, saling menepuk pundak satu sama lain.
" Waalaikumusalam bro..., long time no see..."
" Iya, hampir lima tahun. Terakhir ketemu saat aku jemput Azzam dipesantren waktu itu kan..." Sahut Hanan.
" Iya, saat itu kamu menjemput putramu untuk pindah lanjut belajar ke Kairo bersama bungsumu juga, oh iya bagaimana kabar mereka? Kerasan?" Tanya daddy.
" Alhamdulillah, Azzahra walaupun masih kecil saat itu enjoy kok. Mungkin karena ada abangnya juga disana. Ini juga aku baru jemput dia disini, ada acara didalam dengan alumnus seangkatan abangnya dari Kairo kemarin. Dan rupanya aku kecepatan jemput, mereka masih temu kangen ha..ha, kamu sendiri ada acara disini...?" Ucap Hanan panjang lebar.
" Oh nggak, hanya jemput Lili di dalam.." Balas Rangga.
" Oh gitu, Lili dan putra putrimu apa kabar?"
" Lili Alhamdulillah, masih seperti itulah dia. Si kembar dan si bungsu juga Alhamdulilah sehat semua. Almeer saat ini sudah terdaftar menjadi mahasiswa kedokteran di Jerman, ikut Lenox tepatnya. Kalau Almaeera kuliah di Jakarta saja. Cuma si bungsu kami sedikit beda, dia menolak keras masuk Pesantren...dan kami kalah, kami tidak bisa memaksanya"
Mereka terus bercakap-cakap hingga Adnan, Chandra dan mommy Ara akhirnya muncul dan bergabung.
...***...
Papa Vino telah tiba dan mereka seperti biasa langsung beristirahat di White Base. Mendengar sahabatnya ada di Jakarta, Denis yang kebetulan ada pekerjaan di Singapurapun segera meluncur ke Jakarta. Begitupun Raya dan Hanum, secepatnya mereka segera ingin menyelesaikan urusanya di Bandung.
Rayden yang sedang menuruni tangga tersentak kaget saat Luigi memanggilnya.
" Kak Ray, uncle Denis telpon nih!!" Seru Luigi.
Rayden berlari kecil mempercepat langkahnya menuju tempat Luigi yang sedang memegang gagang telpon.
" Assalamualaikum pah. Kok nggak telpon di ponsel Ray saja.." Ucap Rayden setelah menyambar telpon dari tangan Luigi.
" Wa'alaikumussalam son, Ckk kau ini sebelum bertanya coba kamu lihat berapa kali papa menghubungimu lewat ponsel, sekalipun tidak kau jawab!"
Mendengar alasan papahnya, Rayden menjepit gagang telpon pada bahu dan pipinya lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Matanya terbelalak kaget mendapati banyaknya panggilan papanya yang terlewat dari sepengetahuannya.
" He..he...sorry pa..., ponsel Ray silent.."
" Hemm, ya sudahlah. Nanti siang pulang sekolah bisa kan jemput papa di bandara?".
" Papa ke Jakarta?, bersama mama?" Tanya Rayden excited.
" Tentu saja, memangnya mamamu mau ditinggalkan dirumah...."
" Ha..ha..ha..., oke InshaaAllah Ray jemput..." Sahutnya cepat.
" Oh ya Ray..., bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Maureen?, papa dengar Meera dan Saga akan merencanakan pertunangan mereka. Dan sepertinya Almeer dan Aivy juga..."
Degh..
Rayden tampak menghela nafasnya berat.
Yah, walaupun awalnya dia tidak ada rasa apa-apa pada Maureen sebelum Natasya terus menjodohkan-jodohkanya. Dan sialnya, ternyata rasa itu hadir dengan seiring berjalannya waktu, lalu sekarang rasa itu terus tumbuh begitu besar di usianya saat ini.
Ditambah lagi mamanya Natasha selalu berharap bahwa Maureenlah menantunya kelak.
Rayden merasa dilema, sementara gadisnya sama sekali tidak ada tanda-tanda akan membalas rasanya.
" Hufffttt...entahlah pah, Maureen...dia...akhhh entahlah..." Jawab Rayden bingung.
" Bersabarlah.., menghadapi Maureen butuh kesabaran ekstra, dan ayah yakin. Kamu mampu..." Nasehat Denis.
" Aamiin, semoga saja. Kadang kala rasa lelah itu ada pah..." Curhat Rayden.
" Hemmm, papa dan mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, baiklah papa sedang bersiap-siap sekarang. See you next soon boy!!. Love you. Assalamualaikum.."
" See you pah, love you to... Wa'alaikumussalam"
Rayden terduduk disofa dengan mata terpejam. Fikirannya kalut saat ini, beberapa universitas bagus di Australia telah menerima dirinya. Sudut hatinya sangat ingin bisa berkumpul dengan orang tua dan kakeknya, tapi...
Maureen....
Sudah tiga tahun Rayden di Indonesia, sengaja bersekolah SMU di Jakarta agar bisa merebut perhatian Maureen sedikit saja. Tapi bukanya luluh padanya, Maureen justru tergila-gila pada sahabatnya Atlanta si playboy tengil.
Flashback on
Empat bulan lalu, tepatnya akhir semester ganjil. Rayden, Almeer dan Atlanta seperti biasa pulang bersama dalam satu mobil. Rencananya mereka akan hangout untuk mendinginkan otak setelah bertarung dengan soal-soal selama seminggu ini.
Drrt...drrttt...drrrtt
Ponsel di saku jaket Almeer bergetar, dan karena saat ini dia sedang menyetir maka Raydenlah yang mewakili untuk mengangkatnya.
" Ya Assalamu'alaikum. Almeer sedang menyetir, kalau ada perlu sampaikan saja padaku..."
" Wa'alaikumussalam kak, ini Sania teman sekelasnya Maureen. Bisa jemput Maureen nggak kak sekarang, dia ada di UKS sekarang..."
" UKS, emang Maureen sakit ap?"
Ciittttt...
Almeer yang mendengar adiknya sakit segera menginjak rem tiba-tiba, lalu merebut ponselnya dari tangan Rayden, setelah meminggirkan mobilnya.
" Ma..Maureen terluka karena berantem dengan Calista kak...."
" Berantem? Ckk!! anak nakal itu!!. Bilang saja suruh pulang sendiri!!" Ucap Almeer kesal, wajah khawatir yang tadinya mendominasi kini berganti wajah yang menyimpan amarah.
" Tapi kak Almeer, kaki Maur----"
Tut..tut...tut...
Almeer mematikan ponselnya begitu saja dan memasukkan kembali ke kantong jaket.
" Maureen kenapa?" Tanya Rayden.
" Berantem!!" Sahut Almeer jutek.
" Ha..ha..ha...lagi?" tawa Rayden pecah begitu saja.
" Yahh!!, dan entah ini sudah yang ke berapa kali.." Almeer terlihat menghela nafasnya berat.
" Maureen? Maureen siapa?" Tanya Atlanta yang hanya menyimak saja dari tadi.
" Maureen itu adik gue, adik bungsu gue.." Sahut Almeer.
" Wah.., lo ada adik lain selain Meera rupanya, pasti cantik!, Meera aja cantik begitu!!" Balas Atlanta.
" Lo jangan macem-macem sama adik-adik gue!!" Seru Almeer.
" Isshhh, lo posesif amat!!, Meera aja yang sekelas ma kita lo kurung terus tanpa boleh didekatin cowok! Lo nggak asyik Meer!!"
" Bukan urusan lo!" Sela Almeer.
" Ckk!! Gue cuma kasihan aja ma Meera, punya wajah cantik kok mubazir amat. Hampir habis masa SMU tapi nggak nyicip yang namanya pacaran. Lo egois Meer!!, sedangkan lo asyik-asyikan mojok ma pacar lo yang masih anak SMP itu!!"
Rayden terdiam, ucapan Atlanta justru mengena padanya. Pemuda itu merasa tersindir, dialah yang kasihan.
Hampir tiga tahun jadi most wanted di SMU Bhakti, tapi statusnya jomblo abadi. Sebenarnya dia sebelas duabelas dengan Meera, karena dia juga mubazir dengan ketampanannya.
Bukannya tidak laku, tapi karena dia terus menjaga hatinya untuk Maureen yang entah kapan paham akan rasanya.
" Lo juga Ray!, Defina terus berusaha deketin lo tuh, apa lo nggak luluh sama sekali Ray. Tiga tahun dia terus berusaha, tidakkah kau sedikit saja memberinya kesempatan..." Kini Atlanta mulai mendekatkan wajahnya ke telinga Rayden.
" Dia itu cinta mati sama lo Ray, dan lo tau nggak? dia itu mudah dibawa ngamar, gue aja udah nyicip..."
Plakk!!
Geplakan dikepala Atlanta terdengar begitu nyaring, membuat Rayden saja menjingkat.
Pelakunya tentu saja Almeer yang jijik mendengar kata-kata Atlanta barusan.
" Huuekkk lo ya!! Trus maksud lo?, lo mau kasih bekas lo ke Rayden gitu cuiihhh. Menjijikkan!!" ucap Almeer geram.
" Ya enggak, setidaknya Rayden jangan polos-polos amatlah. Mumpung ada yang mau dibawa ngamar gratisan...."
" Cihhh!!, gue nggak nafsu!!" sentak Rayden.
" Ya elah Ray, lo belum nyoba sih!!, lo emang nggak nafsu sekarang, tapi nanti saat dia udah bergoyang lo pasti klepek-klepek!!" balas Atlanta.
" Ata cukup!! kalo lo masih suka ngomongin begituan lo mending turun dari mobil gue Ata!!" Bentak Almeer.
" Ckk!!, kalian ini lelaki tulen bukan sih!!" Seru Atlanta kesal.
" Lo perlu bukti?" Kini Rayden menghadap kebelakang menatap Atlanta dengan sedikit menyeringai, bahkan alisnya naik turun seolah-olah meremehkan sesuatu.
" Gue bahkan tau belut lo tak lebih besar dari pisang ambon. Kalah telak dengan pisang Almeer yang sebesar pisang tand---Awwwhhhh Anjiirrrr" jerit Rayden histeris.
" Lo tau dari mana hahhhh, lo pernah ngintip gue!!!!" Almeer meremas telinga Rayden sekuat-kuatnya.
" Ya gue taulah!!, pisang lo kan suka berdiri saat pagi hari...lo aja gak nyadar ha..ha..ha..." Rayden melirikan matanya pada sela paha Almeer, sambil terus mengusap telinganya yang panas.
" Jadi benaran punya lo gede Meer, lo urut pakai minyak apa?" Tanya Atlanta penasaran.
" Bacot lo berdua!! Sinting!!, gue ogah bahas begituan.." Sahut Almeer dengan wajah yang telah memerah sempurna.
" Tapi itu aset Meer...., istri lo nanti pasti puasssss" Balas Atlanta lagi.
" Betul itu, Aivy pasti menjerit-jerit manjah..ha...ha..." Sahut Rayden ikut menimpali.
" CUKUP!, atau lo bedua beneran mau gue turunin di sini??"
Flashback off.
Rayden terkekeh sendiri saat mengingat obrolan absurdnya dengan kedua sahabatnya kala itu.
" Kak Ray kesambet?" Suara Aivy mengagetkannya.
Gadis itu langsung duduk di depannya begitu saja.
" Kak, anterin Reen pulang yuk..." Ucapnya tanpa kata tolong.
Rayden mengangkat wajahnya kesal, ditatapnya gadis cantik didepanya itu. Sumpah!! ingin rasanya menarik bibir tak sopan itu geram, heran saja Rayden apa lebihnya Maureen, kenapa dia begitu suka dan seakan tunduk padanya.
Tapi sekarang sudah cukup semua itu, dia harus tegas sekarang.
" Lo siapa gue nyuruh-nyuruh begitu!!, adik bukan!, pacar bukan! Pulang sendiri sana!!, bodo amat.." Sahut Rayden ketus.
" Ckk!! Apaan sih kak Ray!!, biasanya juga nggak diminta asal nyelonong antar jemput Maureen sekolah, ya udah mana kunci motor!, Reen bisa pulang sendiri!!"
Rayden menggelengkan kepalanya pelan, lalu merogoh kunci motornya dari kantong celana.
Plakk...
Bukanya diberikan baik-baik, Rayden justru melemparkan kunci itu diatas meja dan segera berlalu begitu saja.
" Dia itu kesambet apa?, jutek amat!!" Gumam Maureen heran.
Maaf Ren, gue capek..... Capek perjuangin lo..
Beri aku waktu untuk mundur sebentar, bukan menyerah...cuma butuh istirahat sebentar..., batin Rayden.