Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Cerita masa lalu



Berlin, Jerman.


Tubuh bagian atas berkeringat Lenox terbuka begitu saja tanpa kain yang menutupinya saat keluar dari ruang gym. Pria berusia menjelang empat puluhan itu hanya mengenakan celana joger longgar berkaret saja, menunjukkan begitu maskulinnya dia.


" Dady!!, boleh ya Tania ikut kak Almeer pulang ke Jakarta?" Rengek sang putri dengan langsung menggelendot begitu saja tanpa risih.


Walau keringat sang daddy masih meleleh disana sini, tidak membuatnya terganggu sama sekali.


" Nanti saja akhir bulan sama mommy dan daddy..." Tutur Lenox pelan, mengecup lembut kening sang putri.


" Tapi Tania udah kangen berat sama kak Lui..." Rengek Tania lagi.


" Bohong kamu!!, bukan kak Lui yang kamu kangenin, tapi kak Ray kan??" Goda Lenox sambil sedikit mencolek pipi sang putri.


Lenox hanya bisa tersenyum tipis saat pipi chubby Tania berubah menjadi kemerahan karena malu. Gadis kecil berusia dua belas tahunan itu memang begitu ngefans dengan Rayden Harsya Pramana.


Setelah selesai bebersih dan rapi, Lenox menuju kamar Almeer yang saat ini sedang sibuk mengepak pakaiannya di koper.


" Jadi pulang besok?, beneran nggak mau ngabarin mereka dulu?".


" Iya om, tante Wari juga udah dapat tiketnya. Lagian Meer juga udah selesaiin materi pendalaman bahasanya. Terimakasih om, semua tak luput dari peran serta om dan tante untuk memperlancar bahasa Almeer..."


" Meer will make a surprised om, Meer juga pengen nunjukin ke daddy bahwa Meer bukan anak kecil lagi yang selalu harus didampingi jika ingin kesana-sini ya kan...?" Lanjut Almeer.


" Aivy udah tahu kamu pulang cepat?" Tanya Lenox lagi setelah beberapa kali mengangguk setuju akan ide Almeer.


" Belum juga dong, justru dialah target utama surprise ini ha..ha..ha. Meer udah bisa bayangin gimana melototnya dia nanti saat liat Meer tahu-tahu nongol di depannya he..he..he..."



Almeer tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan bagaimana reaksi Aivy nanti ketika melihat kedatangannya yang mendadak.


Melihat raut wajah penuh bahagia Almeer, Lenoxpun ikut tersenyum.


" Kamu segitu cintanya sama dia ya Meer, padahal mah cewek sini banyak yang lebih cantik dan seksi..." Goda Lenox.


" Memang sih!, buanyak yang lebih segala-galanya daripada Aivy. Tapi kembali lagi ke selera sih om.... Selera Meer tetap tidak akan berubah sampai kapanpun"


" Because always Aivy seleraku..,ha...ha..ha..." Jawab Almeer sambil menirukan lagu jingle mie instan terkenal di Indonesia itu.


" Dasar!, yahhh...nggak heran sih. Cinta pertama emang rasanya paling gimana gitu, susah moveon...." Timpal Lenox.


Kini tatapannya kosong menatap langit yang terpampang luas dari kaca jendela kamar Almeer. Entah apa yang kini sedang dilamunkan, karena terlihat dia tersenyum sendiri tiba-tiba.


" Kenapa om?, sepertinya sedang mengenang masa lalu?, cinta pertama om ya? He..he..he.." Goda Almeer.


Tak disangka-sangka rupanya tebakan Almeer benar adanya. Lenox mengangguk dan tersenyum tipis akan pertanyaan Almeer yang sebenarnya hanya candaan semata.


" Hemm, ck! Rahasia!!" Sahut Lenox dengan tersenyum kecil.


" Dih main rahasia-rahasiaan! momku kah?" Tebak Almeer dengan sedikit cengiran.


Sedikit banyak Almeer tahu perasaan omnya ini pada momnya dimasa lalu. Ya, walaupun tidak ada yang memberi tahu. Tapi Almeer sendiri tanpa sengaja tahu saat menemukan dan membuka buku kenangan alumni SMU saat dirinya menjadi ketos setahun yang lalu. Buku-buku kenangan alumni setiap tahunnya yang tersimpan rapi di perpustakaan sekolah mencuri atensinya untuk mengulik sedikit masa lalu daddy, mommy dan para omnya yang pernah bersekolah disana.


Dari sanalah Almeer mengetahui kenangan dan kesan Lenox yang tertuju pada satu gadis yang disebutnya dengan nama 'myAra'. Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Lenox tentang 'myAra' di buku kenangan itu mengerucut pada momnya.


" Ekhemm!, ekhemm!!.." Lenox membesarkan matanya, langsung menoleh dan menatap Almeer dengan panik. Sesekali diapun terlihat melirik ke arah pintu kamar Almeer, takut-takut istrinya menguping pembicaraan mereka.


Lenox meletakkan telunjuknya pada bibirnya lalu mulai melangkah ke pintu dan menutupnya rapat-rapat.


"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan jika crush om adalah mommymu?" Tanya Lenox lelah menatap mata pemuda yang sedari bayi begitu disayanginya itu.


" Aku mengetahuinya dari buku kenangan SMU Angkatan kalian. 'myAra' yang om sebut-sebut di pesan kesan itu pasti mommy ya kan?, lagian di Angkatan kalian hanya dua yang berhijab".


" Hanya mommy dan aunty Hana. Dan di jaman itu yang paling manis dan berkacamata itu hanya momku..., jadi om? tepatkan tebakan Meer ha..ha..ha.."


Disaat Almeer tertawa karena tebakannya benar, justru Lenox didera rasa tengsin, canggung dan malu.


" Ini rahasia kita saja Meer, jangan sampai Lui tahu..." Ancam Lenox.


" A ha..ha..ha om..om!. Itukan masa lalu, kenapa om cemas.." Olok Almeer masih dengan tertawa.


" Bukan cemas Meer, masalahnya daddymu itu luar biasa orangnya kalo udah cemburu. Om nggak mau bikin gara-gara, lagian itu cerita lama, saat kami masih teenager dahulu... Saat cinta masa muda masih diletakkan diatas akal sehat" Ucap Lenox, lagi-lagi pria matang itu terlihat menerawang jauh.


" Apa cinta itu masih ada hingga kini om?" Tanya Almeer hati-hati.


Melihat gelagat omnya, sepertinya Almeer mencium suatu rahasia besar.


" Hufft..., bukan Meer!. Jangan salah paham. Rasa itu masih ada, tapi bukan lagi cinta menggebu-gebu yang seperti dahulu. Yang ada sekarang lebih pada rasa kasih sayang...." Ucapnya masih dengan menerawang jauh.


" Mommymu itu teguh, sekuat apapun om mengajaknya selingkuh saat ditinggalkan daddymu ke Boston tanpa kabar berita selama bertahun-tahun lamanya, tak sedikitpun dia goyah. Tidak hanya karakternya yang luar biasa, tapi tutur katanya juga tidak pernah sekalipun menyakiti hati om. Walaupun yang keluar dari mulutnya hanya penolakan, tapi mommymu tidak pernah berkata-kata kasar, dia selalu berusaha tidak menyakiti perasaan om..."


"Disaat teman wanita yang lain mendekati om karena latar belakang kekayaan Maha Dafran, mommymu datang sebagai penyejuk hati. Menarik om dari belenggu kenakalan masa remaja yang gila. Mommymu adalah pahlawan om dimasa itu, hingga kini?"


" Hingga kini?" Tanya Almeer mulai semakin tertarik akan masa lalu omnya ini.


" Ya, walaupun ada tante Wari disisi om. Mommymu masih satu-satunya yang selalu menjadi pendengar terbaik bagi om. Karena Meer, kadang ada kalanya walaupun status kita adalah suami istri, tapi masih ada batas yang tak mampu terlampaui, ada saatnya dimana kita lebih nyaman dan bisa bicara terbuka pada sahabat sendiri ketimbang pasangan sendiri, dan itu yang om rasakan selama ini."


" Hahhh...sudahlah Meer, pembahasan ini harus kita akhiri...om takut keceplosan bicara yang salah-salah justru membuatmu salah paham..."


...\=\=\=\=\=\=@@\=\=\=\=\=\=...