Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Malam yang mendebarkan..



Malam hari ini langit begitu merah, kilat menyambar bak lecutan cemeti yang siap menghantam apa saja didepanya. Hawa sekitar terasa begitu lembab, sepertinya akan turun hujan di area Jakarta dan sekitarnya.


Meera mengusap lehernya pelan, rasa haus membuatnya susah menelan salivanya sendiri.


Jemari mungil itu menjulur ke nakas, menggapai-gapai botol minum, tapi ternyata kosong.


" Emmmhh Maureen!, kenapa dihabisin airnya hisshh!!" Gumam Meera geram melirik pada adiknya yang tengah terlelap.


Perlahan kakinya menuruni ranjang, dengan mata yang masih belum begitu terbuka lebar Meera melangkah keluar kamar untuk menuju dapur.


Seluruh ruangan WB terlihat gelap, hanya beberapa lampu yang menyala. Meera terus berjalan menuju dapur. Tanpa menghidupkan lampu Meera membuka kulkas, menuang air minum kedalam gelas lalu duduk di bangku tinggi dapur.


Gluk..gluk..gluk...


Tiga tegukan cukup, Meera berhenti sejenak. Meera menepuk keningnya tiba-tiba, gadis itu nyadari kesalahannya saat ini. Dia lupa ini bukan rumahnya, tapi lihatlah penampilannya saat ini.


Hanya memakai kaos singlet motif garis-garis dan celana pendek sepaha. Meera kembali meneguk minumnya hingga tak bersisa lalu buru-buru mengisi kembali air ke dalam botolnya. Cepat-cepat ingin kembali ke kamar, takut ada satpam atau siapapun yang memergoki keadaannya yang seperti ini.


Tapi..


Baru juga Meera hendak keluar dari dapur, muncul siluet hitam yang berjalan menuju ke arahnya. Meera buru-buru bersembunyi dibalik kulkas yang sedikit gelap.


Saga, sosok itu ternyata adalah Saga. Sama seperti Meera, sepertinya Saga juga radang dan kehausan. Pemuda itu langsung membuka kulkas dan menyambar salah satu botol lalu meminumnya langsung dari botolnya begitu saja. Dan langsung tandas olehnya seketika.


Duk!!


" Awww!!, sakit!!" Jerit Meera.


Saga yang tidak sadar akan keberadaan Meera yang berjongkok disamping kulkas melempar begitu saja botol kosong kearah Meera hingga mengenai keningnya.


" Me...Me...Meera?" Ucap Saga tergagap-gagap.


Melihat tampilan Meera saat ini membuat sekujur tubuh Saga panas dingin tak karuan, bahkan kini tenggorokannya terasa kering dan tercekat, padahal baru saja dia menghabiskan air mineral satu botol penuh.


Jujur, dulu mungkin Saga sering melihat Meera tanpa kerudung seperti ini, tapi itu dulu saat Meera masih SD. Dan semenjak Meera ke pesantren lalu ditambah tiga tahun selama masa SMU, Saga tidak pernah lagi melihatnya. Dan baru sekarang...


" Ma..maaf ka Saga nggak tahu..." Ucap Saga dengan segera membalik tubuhnya.


" Kenapa kamu disitu?" Tanya Saga, masih dengan memunggungi Meera.


" Meera haus, ambil minum. Lalu ada ka Saga, jadi Meera sembunyi" Jawab Meera.


" Kenapa tidak ganti baju dulu sebelum turun?, ini kan bukan rumah pribadimu!!" sentak Saga.


" Maaf, Meera lupa..."


Saga menarik nafasnya yang berat, lalu mengusap kasar wajahnya. Jelas, penampakan Meera barusan tidak akan mungkin mudah dia lupakan.


" Ya udah...ka Saga balik dulu ke kamar. Kamu juga cepetan balik. Sebelum kepergok juga oleh yang la---"


Tep..tep..tep...


Belum juga Saga selesai bicara, suara langkah kaki seseorang terdengar melangkah menuju dapur.


" Mati gue!" Rutuk Saga.


Dengan cepat ditariknya lengan Meera untuk bersembunyi di balik sudut kitchen set yang sedikit lebih gelap.


Saga mengungkung tubuh Meera untuk menempel di dinding, menutupi tubuh mungil itu dengan tubuhnya.


Detak jantung keduanya seolah saling beradu pacu.


Rayden muncul dari pintu dapur, menyambar botol air minum Meera yang tergeletak di meja, lalu meminumnya begitu saja tanpa rasa bersalah.


Bahkan bukanya langsung pergi, Rayden justru duduk dan merebahkan kepalanya di meja dapur untuk beberapa saat lama.


Sementara kedua manusia yang sedang berdekatan itu semakin dilanda perasaan yang tidak karuan. Saga lelaki dewasa yang sedang dilanda rasa cinta yang membara, saat ini gadis tercintanya berada di dalam dekapanya.


Apalagi dengan pakaian yang mampu memporak-porandakan imanya saat ini. Sesuatu perasaan yang aneh mulai menjalari sekujur tubuhnya. Perasaan ingin melakukan sesuatu yang nakal.


" Kenapa dia tidak juga pergi!!" Geram Saga lirih.


Saga takut tidak bisa menahan diri jika dalam posisi ini lebih lama lagi.


Di lain pihak Meera juga semakin mengigil ketakutan, ini terlalu dekat. Bahkan kulit lenganya bersentuhan langsung dengan lengan Saga yang juga terbuka, Saga saat ini juga hanya memakai singlet warna hitam yang melekat pada tubuhnya.


Disaat seperti ini Rayden justru melangkah mendekat kearah mereka, membuat Meera mau tidak mau menarik kaos Saga untuk semakin merapat padanya.


Bukan apa-apa!, niat Meera hanya ingin melindungi nama baik mereka berdua, jika mereka ketahuan saat ini. Akan menjadi apa Saga ditangan uncle Marvel dan daddynya, mungkin tidak hanya mereka, tapi Almeer juga pasti tidak akan tinggal diam.


Kriett!!


Rupanya Rayden membuka salah satu kitchen set yang tepat berada disamping mereka.


Saga memejamkan matanya, berusaha menetralisir rasa yang semakin menggila, ditundukkan wajahnya sedikit.


Cup...


Dikucupnya pucuk kepala Meera lembut, bahkan mungkin sang korban tidak menyadari kenakalan yang dilakukannya. Biarlah Saga disebut pecundang kali ini, karena mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Ternyata Rayden hanya mengambil susu kotak kemasan dan segera berbalik untuk kembali ke kamarnya.


Meera dan Saga berdiam untuk beberapa saat, sampai suara langkah kaki Rayden sudah benar-benar menjauh.


Kini keduanya saling tatap dengan malu-malu, tak satupun yang bergeser dari posisinya masing-masing. Masih menempel satu sama lain, seolah-olah inilah posisi ternyaman dan enggan mereka tinggalkan.


Tatapan Saga kini bergeser pada bibir pink alami yang begitu penuh dan ranum milik Meera. Berulangkali jakunnya naik turun tak karuan, sebagian besar temannya rata-rata semua sudah merasakan yang namanya ciuman.


Dorongan nafsu dalam dirinya serta letupan gejolak asmara telah menguasai otaknya. Entahlah, tapi saat Saga ini sangat penasaran dengan semua itu, dan dia menginginkan itu, sangat ingin.


Apalagi hawa terasa sangat begitu dingin malam ini, hujan turun begitu lebat beberapa saat lalu.


Tepp.


Kedua tangan Saga bergerak ke pundak Meera sekarang, meremasnya sedikit kencang, membuat Meera tersentak kaget.


Kini mata mereka kembali saling menatap, perlahan-lahan Saga mulai memajukan wajahnya, semakin maju dan maju...hembusan nafas hangatnya bahkan kini menerpa wajah Meera.


Gadis manis itu semakin tak bisa berbuat apa-apa, tapi kesadaran masih untuh bercokol kuat di benaknya.


Saat bibir Saga hampir saja melakukan kesalahan besar, dengan cepat Almaeera membekapnya dengan kedua tangannya.


" Mau apa?, ka Saga mau apa?" Tanya Meera dengan suara kecil, mengigil hampir menangis, bahkan gadis itu segera menundukkan kepada dalam-dalam.


Isak tangis yang tak tertahan oleh Almaeera akhirnya jebol juga. Terdengar lirih dan pilu, menampar kesadaran Saga saat ini.


" Mee...." Gumam Saga sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Tatapan penyesalan terlihat dari matanya, menyesal karena hampir saja dia terjerumus ke hal-hal yang dilarang.


Meera hanya diam untuk beberapa saat, lalu ketika rasa tenang mulai hadir, digesernya tubuh Saga yang menghalanginya. Dan berlari begitu saja secepat mungkin kembali ke kamarnya, tanpa memperdulikan panggilan Saga.


...*** ...


Memikirkan kejadian semalam, membuat Saga tak mampu memejamkan matanya.


Begitu adzan shubuh terdengar pemuda itu langsung bangkit dan melakukan rutinitas seperti biasanya, mandi terus berangkat ke mushola, tentu saja setelah membangunkan kedua adiknya, Rayden dan Luigi.


Sepulang dari mushola, Saga buru-buru berlari ke dapur. Berniat menemui Meera untuk meminta maaf akan kejadian semalam.


Sesampai di dapur Saga hanya melihat Aivy dan Tiara, tidak ada Meera dan Maureen.


" Meera dan Maureen masih belum turun?" Tanya Saga pada kedua gadis itu.


" Maureen sih masih molor!!, tapi kalo kak Meera usah pulang..." Jawab Tiara.


Degh!!


Pulang?, Meera pulang?, pulang.....


" Pulang ke mana?, maksud kakak pulang kenapa?, terus dengan siapa?" Tanya Saga cepat, jantungnya seakan-akan terasa diremat saat ini.


" Ya pulang ke rumah mommy, nggak tahu juga Aivy kenapa ka Meera pulang buru-buru begitu.." Jawab Aivy.


" Sama siapa?, dia pulang sama siapa?" Kini suara Saga semakin meninggi, membuat kedua adik girlsnya ketakutan.


" Sendiri, pakai motor ka Almeer " Sahut Aivy lagi.


" What!!" Pekik Saga.


Pemuda itu segera berlarian menuju garasi, masih dengan koko dan sarungnya, dilemparkannya sajadah yang berada dipundaknya pada Luigi yang kebetulan melintas di sampingnya.


" Heyyy kak!!, kak!!" Panggil Luigi, tapi Saga terus berlari tanpa peduli.


" Kenapa tuh ka Saga?" Tanyanya pada Aivy dan Tiara.


" Mungkin mau nyusulin ka Meera.." Jawab keduanya berbarengan.


" Emang ka Meera kemana?"


" Pulang..., selesai sholat subuh tadi langsung bersiap pulang..."


" Oh...." Sahut Luigi santai.


\=\=\=\=\=\=\={}\=\=\=\=\=\=\=