
Sore kian merangkak naik, mobil-mobil mewah satu persatu memasuki gerbang White Base. Vera dan Vino yang datang lebih dahulu menyambut hangat sahabat-sahabatnya dengan antusias.
" Ara.....aawwww, kamu nggak berubah. Masih cantik aja..." Serunya heboh saat mommy Ara dan kedua putrinya memasuki pintu samping WB.
" Kamu juga sama!!, masih Vera si centil kami dahulu ha..ha...ha.."
Keduanya berpelukan hangat melepaskan rindu yang menumpuk, beberapa tahun tidak bisa saling mengunjungi karena virus corona yang melanda. Kini akhirnya mereka bisa berkumpul lagi.
" Natasha dan Hanum sedang menuju kesini..." Bisik mama Vera.
" Masa?, iyakah?Alhamdulillah aku udah kangen banget.." balas mommy Ara dengan mata membulat sempurna.
" Iya..nih, Hanum baru chat. Sedangkan Rayden pergi menjemput papa dan mamanya.." Jawab mama Vera dengan senyum yang begitu lebar.
" Hana gimana?, dia di Singapura kah?" Tanyanya cepat pada Ara.
" Oh..., Hana ada di Jakarta, sudah satu mingguan ini..... Dia sepertinya baru bisa kesini setelah butiknya tutup. Maklum lagi banyak-banyaknya pesanan gaun pengantin."
" Alhamdulilah, ikut senang...mamamu pasti bangga padanya, menantunya bisa meneruskan usahanya. Azzura juga pandai mengurus panti hingga menjadi seperti itu..."
Mommy Ara tersenyum dan mengangguk setuju. Memang benar apa yang dikatakan Vera, papa mamanya sungguh beruntung memiliki menantu sehebat Hana yang bisa meng-handle butik omma Nella dengan baik.
Juga menantu pria yang seteliti Rangga, walaupun seorang dosen dia juga mampu membantu membagi waktu antara kampus dan dua perusahaan besar di Al-ghifari comp dan Wijaya group.
Satu lagi, menantu selembut dan sedermawan Azurra yang juga kompeten mengurus panti asuhan Casablanca peninggalan nenek Tyas. Berkat tangan dingin dan ketelatenannya anak-anak panti bisa tumbuh sehat dan cerdas, bahkan rata-rata mereka semua berprestasi di sekolahnya bahkan ada yang keterima di universitas luar negeri. Seperti halnya Wari, Prameswari Mutiara Kalani istri Lenox Maha Dafran bunda dari Luigi Travis Dafran.
Tak lama Natasya dan Hanum rupanya datang bersamaan. Dan Alhasil WB pun ramai akan reuni heboh yang tidak direncanakan itu.
Mereka akhirnya menghubungi Hana yang masih di luar untuk berbelanja bahan makanan untuk makan malam.
...***...
Dapur White Base kini ramai berisikan para senior genk somplak bersama putri- putri mereka plus Aivy yang telah berstempel calon mantu mommy Ara.
Memasak makan malam kali ini di selingi dengan canda gurau yang begitu heboh.
" Jadi Aivy sudah menghubungi papa kan untuk makan malam disini?" Tanya mommy Ara pada Aivy yang kini mulai membantu mengangkat masakan ke meja makan.
" Sudah mom, mungkin ba'da Maghrib baru kesini.." Jawab Aivy sopan.
Tak sampai satu jam meja makan pun telah penuh akan hidangan yang menggiurkan dan beraneka ragam.
Saga memanggil para daddy untuk segera memulai makan malam hari ini.
Semua telah duduk rapi di meja makan dengan wajah-wajah yang ceria.
" Wah, perbaikan gizi nih..." Celetuk Luigi saat matanya menatapi satu persatu makanan yang telah tersaji.
" Memangnya kalian tidak makan, makanan bergizi selama ini Lui?" Tanya papa Denis terkekeh geli melihat putra Lenox yang mengusap sudut bibirnya hampir ngiler.
" Iya uncle, mereka sering makan mie instan!!" Sahut Maureen.
" Nggak sih!!, kadang kak Saga masak kok, kami sering bakar ikan juga hasil mancing di belakang..." Bantah Rayden sambil menatap mata Maureen sinis.
" Iya tuh, jepret aja mulut Maureen itu pakai karet. Ngomong nggak liat fakta!!"
Luigi ikut melirik sinis pada Maureen.
Tapi yang ditatap sinis bukanya merasa terintimidasi, Maureen justru cuek bebek tak perduli.
Natasya hanya tersenyum melihat keributan kecil itu.
" Dah..dah..., ayo mulai makan. Silahkan Tuan Sanjaya memimpin doanya..." Ucap Rayya sopan.
Makan malam kali ini diserati obrolan-obrolan ringan antar sahabat.
Setelah benar-benar selesai, para daddy lebih dulu menuju ruang keluarga yang terdapat sofa yang begitu panjang disana.
Papa Vino bersama kedua putranya terlihat berhadapan dengan daddy Rangga yang duduk di samping papa Denis dan Rayden. Ada Adnan, Rayya dan papa Sanjaya juga.
Setelah selesai mencuci piring dan merapikan dapur, para perempuan ikut bergabung. Lalu dimulailah pembicaraan serius tentang acara pertunangan antara Saga Meera, dan Almeer Aivy.
Sementara Rayden hanya diam sambil menatapi wajah Maureen yang gelendotan di pundak mamanya, Natasya.
" Kenapa? Kau suka sekali dengannya ya?" Tanya papa Denis pada putra semata wayangnya itu.
" Entahlah pah. Tapi saat ini Ray capek pah..., sepertinya Ray perlu mundur dulu untuk mengisi amunisi.." Bisik Rayden.
" Jadi rencanamu apa?" Tanya papa Denis.
Matanya masih tetap menatap Maureen, sementara bibirnya dimain-mainkan seperti anak kecil, maklum anak tunggal.
" Bagaimana caranya pah...., Rayden sudah di fase jenuh saat ini" Keluh Rayden.
" Hemmm, baiklah. Akan papa bicarakan dengan unclemu dulu, bagaimana baiknya. Kamu fokus saja ke pendidikanmu..." Denis menepuk pundak putranya sayang.
Karena sibuk mengobrol sendiri, Denis dan Rayden sampai-sampai melewatkan rembukan malam ini. Yang mereka tahu bahwa keputusannya adalah, penyelenggaraan pertunangan si kembar akan diselenggarakan dua bulan dari sekarang.
Kebetulan Shanum juga akan pulang, mengingat kandungannya sudah masuk tujuh bulan. Karena rencananya Shanum akan melahirkan di Jakarta.
" Nggak kerasa aku akan menyusul kak Dian menjadi seorang nenek...." Ucap Vera sambil menyengir imut.
" Dan aku juga!, akhirnya di antara kita akulah yang pertama menjadi kakek...ha..ha...ha..." Tawa papa Vino menggelegar disusul oleh yang lain.
" Rasya gimana Han?, apa udah ada calonnya?" Tanya Natasya pada Hana.
" Oh..., sejauh ini yang kami tahu Rasya masih enjoy aja dewekkan, sepertinya dia nurun papanya yang memang fokusnya hanya pendidikan dan basketnya doang.." Jawab Hana.
" Nggak juga kok aunty, bang Rasya sering kok Meera lihat dapat surat atau nulis surat ke Lembang. Meera rasa bang Rasya punya pacar dan sedang LDR-an deh..." Sahut Meera yang menyimak percakapan genk somplak senior kali ini.
" Masa sih Mee...., kok aunty bisa nggak tahu ya?" Balas Hana.
" Iya aunty, malah pernah kok bang Rasya kelihatan kesal gara-gara terlambat dapat balasan surat dari Lembang" Jawab Meera.
" Wah...eng ing eng.... Bentar lagi Hana mantu nih...." Sela Hanum mulai mengolok saudara sepupunya itu.
" Ahhh, itu nanti-nanti ajalah Num. Aku masih belum sanggup disebut nenek seperti kak Dian dan Vera ha..ha.., secara Hana yang gemoy ini masa iya jadi nenek ha..ha.."
" Ha..ha..ha..." Tawa pecah seketika disudut para perempuan, membuat kubu para pria menoleh pada mereka sesaat.
Tatapan penuh cinta Saga tertuju pada gadis manisnya yang sebentar lagi, tepatnya dua bulan lagi menjadi miliknya yang telah di restui, meskipun belum dilegalkan kehalalan nya.
" Haish kak!, segitunya menatap ka Meera. Menatap dengan nafsu saja bisa timbul dosa tahu!!" Bisik Saka, adiknya.
" Nggak ada ya!! Ka Saga hanya mengagumi kecantikan calon kakak iparmu saja kok" Elak Saga.
" Ckk sama saja!!" Timpal Saka.
" Kak, walaupun sudah direstui, tapi kalian tetap nggak boleh kelewatan. Ingat kak, zina termasuk berbuatan dosa yang besar tahu kak..." Bisik Saka lagi.
" Ckk!!, iyalah kakak juga tau kali pak ustadz..." Saga mengelus kepala adiknya lembut.
Saka memang besar di pesantren, dari sejak MI sampai sudah hampir lulus MTs sekarang ini saja masih berkutat disana. Dan rencananya lagi taun depan dia masih mau di pesantren lagi lanjut MA disana.
" Tapi Saka, kalau kakak terlanjur menyentuh bagaimana?" Tanya Saka lirih.
" Menyentuh?, maksudnya kakak?"
" Tangan ka Saga ada sedikit khilaf, tangan kak Saga menyentuh ka Meera berlebihan tadi..." Bisik Saga di depan telinga Saka.
" Astaghfirullah!!, berarti tangan ka Saga harus dihukum biar tidak terbiasa.." Bisik Saka.
" Dihukum?"
" Ya!!, rebus tangan kakak untuk hukuman..., agar kak Saga selalu ingat konsekuensinya jika menyalahi aturan!" Sahut Saka tegas.
Hah...direbus??
Saga menatap tanganya yang telah lancang mengelus bibir Meera tadi pagi.
Flasback on.
Setelah mengantar sarapan Meera tadi pagi, dan memastikan bahwa Meera telah menghabiskan sarapannya Saga pun berolahraga di ruang Gym uncle Rangga.
Dan setelah tengah hari rupanya papanya menghubungi untuk menjemput mereka di bandara.
Setelah mandi berbersih badan dan juga memakai baju Almeer, Saga segera berlari ke kamar Almaeera sekedar untuk pamitan.
Tapi ketukannya yang sejak lima belas menitan tak mendapat sambutan, maka Saga pun mencoba mengintip ke dalam kamar dan mendapati Meera sedang tertidur.
Dan dengan tidak sopannya Saga masuk ke kamar itu dengan mengendap-endap dan berdiri di samping Meera yang masih belum pindah dari sofa.
Melihat mata terpejam yang begitu damai, apalagi Meera terlihat begitu tampak cantik saat itu. Membuat rasa nakal Saga meronta-ronta. Dan terjadilah peristiwa pengusapan pada bibir Meera yang sedikit terbuka saat itu oleh jari jempol Saga yang tidak sopan.
Flashback off.