Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Imutnya Saga



Saga meremat ponselnya dengan penuh amarah. Sejak sore dia tenggelam dan disibukkan dengan tugas-tugas kampusnya. Pening, pusing dan muak akan tugas yang menumpuk membuatnya stress.


Tapi saat mengingat senyum manis Meera, dirinya bersemangat kembali dan berusaha untuk segera menyelesaikan tugasnya agar bisa secepatnya melihat wajah Meera melalui VC.


Dan setelah selesai satu jam yang lalu, justru papa Vino memanggilnya untuk membicarakan kepulangan Shanum kakaknya ke Indonesia beberapa minggu lagi.


Rasa rindu yang menggebu sejak tadi dan keinginan segera mendengar suara kekasih hati menguap begitu saja setelah mendengar balasan Meera barusan.


Ya Ryan ada apa lagi? aku udah ngantuk nih, ngobrolnya besok aja lagi disekolah....


Suara Meera terus berputar-putar dikepalanya, membuatnya semakin kesal dan marah.


Ryan?, apa Meera sering bertelponan dengan Ryan selama ini?.


Semakin difikirkan, semakin Saga merasa kesal dan marah karena cemburu yang telah menyebar bagai virus di otaknya saat ini.


" Akkkhhh!!"


Saga meninju headboard ranjangnya, neting tentang kedekatan Meera dan Ryan semakin menjadi-jadi, menggulung habis kewarasannya.


Pemuda itu bergegas bangkit lalu menyambar jaketnya dan berlari keluar kamar menuju garasi.


Mama Vera yang baru akan masuk kamar sempat melihat siluet putranya melintas.


" Saga!!, mau kemana?. Ini sudah malam!" Serunya.


Langkah buru-buru Saga terhenti seketika, pemuda itu langsung berbalik menuju arah suara.


" Oh ini mah, Saga perlu keluar bentar mah. Saga hanya ingin memperjelas sesuatu..." Sahut Saga tegas, berulang kali pemuda itu mengusap wajahnya kasar.


Mama Vera terlihat heran dengan gerak-gerik putranya yang terlihat aneh.


" Tapi kan tidak harus sekarang, besok saja sayang...udah hampir pukul sebelas malam tuh.." Ucap mama Vera lembut, mencoba memberi pengertian.


" Maaf mah, Saga benar-benar tidak bisa menunggu besok. Kepala Saga bisa pecah mah kalau harus menunggu besok, ini urgent!! Harus sekarang..." Sahut Saga sambil menundukkan kepalanya.


Mama Vera akhirnya hanya mengangguk pasrah, sementara ini dugaannya hanya mungkin putranya sedang kalut dengan tugas kampusnya.


" Saga pamit mah..., bentar aja kok. Saga janji..." Saga mengecup pipi wanita yang awet imut itu sekilas lalu kembali menuju garasi dengan berlari kecil.


...***...


Tring!!


Suara notifikasi pesan di ponsel Meera berbunyi. Gadis yang sejak tadi kehilangan rasa kantuknya itu segera membuka pesan diponselnya.


Ka Sagaku 📩:


Ka Saga diluar gerbang!!, keluar bentar Mee...


Meera terjingkat kaget, matanya buru-buru menatap jam dinding dikamarnya.


Pukul sebelas.., ka Saga ada diluar? Mau ngapain?


Meera berlari menuju jendela kaca yang memang menghadap gerbang, di sibaknya gorden perlahan. Tampak olehnya sosok Saga yang masih duduk diatas motor dengan kepala yang mendongak menatap kamarnya berada.


" Kenapa dia bisa disitu?, ini sudah sangat larut. Terus bagaimana jika daddy tahu..."


Tring!!


Ka Sagaku 📩:


Nggak mau turun?, atau perlu ka Saga yang berkunjung dan ketuk pintu sekarang?, biar sekalian wajah tampan kakakmu ini habis ditonjokin daddymu. 😞😞


Degghh...


Jantung Meera berdetak tak karuan. Meera anak baik, sejak kecil dia tidak pernah berkeliaran setelah pukul sepuluh malam. Lantas bagaimana caranya dia bisa menyelinap keluar.


Gadis manis yang selalu diisolasi bak perawan itupun menyambar outerwearnya lalu jilbab instannya dengan tangan bergetar.


Perlahan-lahan membuka pintu lalu dengan langkah pelan menuruni tangga. Meera terus menatap kearah pintu kamar kedua orang tuanya. Yahh...walaupun sebagian ruangan telah gelap, tapi karena Meera tidak pernah begini sebelumnya, tentu saja adrenalinya terpacu cepat.


Inilah kali pertama seorang Almaeera bertingkah bagai pencuri dirumahnya sendiri, mengendap-endap seperti ninja.


"Hufff..." Almaeera mengusap dadanya begitu berhasil keluar rumah.


Kini tatapannya tertuju pada pemuda yang telah berdiri di balik gerbang. Meera berlari kecil menghampiri Saga.


" Kak?, kenapa malam-malam begini ka Saga kesini?" Tanya Meera lembut.


Saga hanya diam membisu, tapi matanya terus menatap lekat aktivitas Meera yang saat ini sibuk membuka pintu gerbang.


Rumah keluarga Rangga memang tidak menggunakan jasa satpam ataupun penjaga, jadi semua sistem keamanan menggunakan kode rahasia. Tentu saja itu adalah hasil keahlian Sunny.


" Masuk kak..." Ucap Meera setelah gerbang terbuka.


Tapi reaksi Saga tetap sama, pemuda itu hanya diam walaupun kakinya melangkah masuk.


Tidak sampai masuk semakin dalam, karena Saga segera berhenti saat telah berada dibalik gerbang. Disana tidak ada CCTV, dan dirasa aman untuk berbicara dengan Meera dengan leluasa.


" Ka?, nggak masuk?" Tanya Meera lagi.


Jangankan membuka mulutnya untuk bicara, menatap mata Meera saja Saga tidak.



Mendapati sikap dingin Saga yang sejak tadi diam, Meerapun tidak hilang akal.


" Ka Saga kenapa sih?, dari tadi diam saja?. Ka Saga sariawan hemm, masuk yuk...Meera bikinin jus jeruk biar sembuh.."


Alih-alih menjawab, Saga malah menyender pada dinding gerbang sambil melipat kedua tanganya di dada.


Meera dibuat pusing oleh tingkah Saga yang aneh bim ajaib saat ini. Kenapa bisa berubah drastis seperti ini, padahal beberapa waktu lalu dia baru saja mengaku pada Almeer bahwa Meera menyukai Saga yang blak-blakan dan sedikit nakal.


Lalu terus?, bagaimana bisa sekarang Saga menunjukkan karakteristik lain dari sifatnya tiba-tiba begini.


Tiba-tiba saja terlintas ingatan peristiwa yang baru beberapa saat lalu terjadi, peristiwa salah sangka saat mengangkat ponsel tadi.


Ahhhh???, apa kak Saga marah karena aku mengira dirinya adalah Ryan??


Tepp!!


Almaeera menepuk keningnya dengan kencang, bahkan Saga sampai melotot kaget.


" Kak?, kakak marah ya?" Tebak Meera lirih.


" Jadi kau baru menyadarinya?" Sahut Saga pada akhirnya.


" Sejak kapan kamu telponan dengan Ryan di malam hari?" Lanjut Saga dengan suara yang berat dan dalam.


Meera merinding melihat mata nanar dan merah yang menatapnya saat ini, biasanya mata itu menatapnya penuh kasih, tapi sekarang tatapan itu menyiratkan amarah yang besar.


" Tidak setiap hari kok, tepatnya sih baru tadi Ryan menghubungi Meera..."


" Kamu memberikan nomor ponselmu ke sembarangan pria hemmm?" Serobot Saga cepat, masih dengan raut marahnya.


" Nggak tuh..." Jawab Meera santai.


" Lalu!!" Sahut Saga masih dengan nada pelan tapi penuh tekanan.


" Duduk yuk disana.... Ka Saga marah saat ini, duduk yuk disana biar setannya gak makin seneng karena berasa menang.."


Meera memberanikan diri mecubit sedikit kain jaket Saga lalu menariknya ke kursi yang berada di sudut balkon pintu samping.


Saga hanya menurut saja, mengikuti kemanapun langkah kaki Meera membawanya. Diperlakukan lembut dan penuh kasih begini saja oleh Meera membuat rasa kesal yang tadi begitu menggunung tinggi itu tiba-tiba sirna entah kemana.


Yang ada justru rasa hati yang penuh bunga, dan apalagi bunga-bunga itu bermekaran dan berdesakan dihati Saga.


" Duduk sini, Mee buatkan minum hangat..."


" Nggak usah..." Saga menyambar tangan Meera.


" Bersamamu begini saja, dan melihatmu ada dihadapan ku saat ini, hatiku sudah terasa begitu hangat yang..." Bisik Saga.


" Ka saga kesini hanya ingin memperjelas yang tadi, bagaimana bisa Ryan punya nomor ponselmu?" Topik yang tadi masih membuat Saga belum tenang.


Meera tersenyum manis, tanpa melepas pegangan Saga pada tanganya, gadis itupun duduk disebelah Saga.


" Awalnya kami hanya ngobrol di grub panitia perpisahan kelulusan, tapi karena ada yang Ryan ingin perjelas. Jadinya dia japri Meera..." Ucap Meera panjang lebar.


" Beneran??, hanya ngobrolin pasal kelulusan doang?" Desak Saga.


" Bener!!, swear!!, sumpah!!" Sahut Meera cepat ditambah dengan kerlingan imut dari sebelah matanya.


" Ck!!, jangan macem-macem deh!!, ini sudah larut!!" Ucap Saga tegas, buru-buru pemuda itu membuang tatapannya kesamping. Untuk beberapa saat pemuda itu terlihat sedikit gusar dan mulai terlihat tidak nyaman.


Jantungnya berasa dugeman didalam sana.


" Apanya yang macem-macem?, emang Meera ngapain?" Tanya Meera polos.


Saga hanya menggeleng gemas, tanganya mulai menjulur mengusap kepala Meera lembut.


" Jangan terus bertingkah imut disaat seperti ini sayang, kau tahukan ini sudah sangat larut, sepi dan langit juga mendung. Apalagi kita hanya berdua, mommy daddymu juga pasti sudah tidur lelap sekarang. Aku lelaki dewasa yang begitu cinta denganmu...apa kamu tidak takut jika terus memancing begitu..."


Lagi-lagi Meera melebarkan matanya, senyuman dari bibirnya tak mampu lagi disembunyikan.


" Memancing yang bagaimana maksud ka Saga?, apa dari tadi Meera ada mencubit dadamu kak? Apa Meera ada mengelus rahangmu?, Dah apa Meera geal-geol merayumu?, Nggak tuh, memancingnya sebelah mana coba..."


" Diamlah sayang, semakin kamu banyak ngomong semakin aku takut tidak bisa menahan diri, ucapanmu itu terlalu manis, ka Saga nggak akan sanggup mengidap diabetes di usia muda.." Keluh Saga.


"Pfftttt..ha...ha.." Meera membekap tawanya cepat sebelum meledak, sungguh Meera begitu gemas melihat ini semua, Saga benar-benar imut dimatanya.


" Mee..., boleh ka Saga nginep nggak?, ka Saga malas pulang..."


Lagi-lagi Meera hanya tertawa kecil.


" Boleh!!, asal sanggup dengan konsekuensinya. Mau langsung ke ICU hadiah dari uncle Marvel?, langsung UGD dari daddy?, atau kuburan dari ka Almeer?"


...\=\=\=\=\={}\=\=\=\=\=...