Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Permintaan Aldo.



Kedua sahabat sejak TK itupun kini duduk berhadapan di sudut cafe. Dari gelagatnya Aldo tampak terlihat kurang nyaman dan begitu tertekan.


" Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku Do?, sampai-sampai harus meninggalkan kuliahmu..." Tanya Saga yang memang begitu sangat penasaran sejak semalam.


" Huftttt..." Aldo mendesah berat.


Sisi hatinya tak ingin menyakiti hati sahabatnya, dengan permintaan yang ingin diutarakanya hari ini. Aldo adalah salah satu saksi mata hidup, bagaimana perjuangan cintanya Saga pada Almaeera sejak kecil.


Bagaimana bisa ia akan melakukan ini?, bagaimana bisa dia akan mematahkan hati sahabatnya dengan permintaan yang akan diutarakannya. Aldo dalam dilema sekarang, sisi hatinya begitu menyayangi Saga, tapi sisi lainya tak sanggup melihat derita Jasmin adiknya.


" Saga...." Lirih Aldo.


" Hemmmm"


" Almaeera kan sudah kamu dapatkan..., Apa kamu bahagia sekarang?" Tanya Aldo dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kedua tangannya saling remas dibawah meja, berusaha mencari pembenaran untuk apa yang akan dimintanya sebentar lagi.


Saga tercengang akan pertanyaan Aldo yang ambigu. Tapi tak ada kecurigaan apa-apa dihatinya saat ini, Saga pun tersenyum cerah, menunjukan kepada Aldo bahwa dia benar-benar, sah dan bersertifikat 'BAHAGIA'.


" Pertanyaan mu harusnya sudah terjawab hanya dengan kamu melihat senyumku saja Do, apa kamu pernah melihat kebahagiaan yang begitu besar di wajahku sebelum hari ini?" Sahut Saga.


" Bahagiaku saat ini tak tergambarkan rupanya, tak terlukiskan bentuknya, tak terukur dalamnya, tak terdeteksi kebesarannya. Haahhhh Aldo apa kau tahu rasanya plong??, itulah yang aku rasakan sekarang...., lega..ya inilah yang disebut lega tingkat dewa ha..ha..."


" Dan apa kau tahu?, semalam papaku dan daddy Almaeera telah membicarakan pertunangan kami, oh Tuhan Aldo...aku tidak menyangka bahwa kesabaranku selama ini akhirnya telah sampai pada ujungnya.." Lanjut Saga panjang lebar.


Degghh!! Duaarrrr!!


Dada Aldo bagai di remat, bahkan tiba-tiba keringat dingin membasahi pelipisnya, tubuhnya bergetar hebat.


" Apa Saga?, pe..pertu..pertunangan... ?" Desis Aldo dengan menggigit bibirnya kuat-kuat.


" Iya, pertunangan. Dan InshaAllah itu dua bulan lagi, sebelum semester dimulai.." Sahut Saga cepat.


Aldo mematung, matanya menatap Moccachino latte di depannya, tapi otaknya melayang jauh..


Flasback on.


Sepanjang perjalanan pulang ke Bandung, Jasmin hanya diam membisu.


Wajah penuh senyum bahagia Saga karena telah memiliki pacar bolak-balik melintas dibenaknya.


Grrrttt!! Jasmin menggeretukkan giginya geram. Matanya nanar penuh rasa dendam.


Kak Saga sudah punya pacar?


Kak Sagaku...


Tidak!! Ini tidak boleh...tidak boleh...


" TIDAK!!! TIDAK!!"


Jasmin menjerit-jerit histeris dan menjambaki rambutnya dengan tiba-tiba. Rahma langsung menoleh ke belakang, begitupun Aldo yang langsung menepikan mobilnya buru-buru.


Penampilan Jasmin begitu memprihatinkan, matanya memerah penuh dengan airmata, wajahnya terlihat pucat dan yah...nampak begitu depresi.


" Jasmin ada apa ini?" Tanya Rahma bingung, gadis itu segera melompat ke kursi belakang, begitupun Aldo.


" Dek ada apa ini? Kamu mengigau?" Tanya Aldo khawatir.


Rahma dan Aldo saling pandang dengan bingung, kenapa bisa Jasmin berubah seperti ini dengan tiba-tiba, padahal tadi terlihat baik-baik saja.


Oh tidak, Aldo baru sadar jika sejak tadi adiknya hanya diam dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Jasmin, kamu kenapa?" tanya Aldo pelan.


" Ka Saga...ka Saga..ka Saga.." Jasmin terus mengulang nama Saga seperti orang dzikir.


" Jasmin stop!!, Are you crazy!!" bentak Aldo geram melihat adiknya yang seperti orang sinting.


Jasmin semakin histeris dan terlihat tak karuan, air matanya tak berhenti berderai. Giginya terus menggigiti jari-jari jempolnya dengan brutal. Seluruh tubuhnya bergetar dan peluh bercampur keringat bercucuran tak dapat dibendung.


" Tidak boleh kak!!, kak Saga nggak boleh punya pacar!. Kak Saga itu milikku kak!!, kak Saga hanya milik Jasmin Hu..hu...hu..."


Jasmin memukuli dada Aldo dengan membabi buta, tingkah impulsivenya yang tiba-tiba itu membuat Aldo merinding.


" Kakak harus minta kak Saga memutuskan pacarnya!!" Jerit Jasmin histeris disertai cakaran brutal pada wajahnya oleh kuku-kukunya sendiri.


" Apa!! Kamu gila!!, Saga itu sangat mencintai Meera dek!!" Bentak Aldo kesal.


"AKKHHH!!! AKKHHH!! Enggak, nggak mau!!, nggak boleh...Dia kak Sagaku!! Meera harus pergi!!" Jasmin semakin menggila bahkan Rahma saja sampai terlentang karena dorongannya. Melihat itu semua Aldo semakin kalut dan bingung.


"Jasmin sadar! Kau ini kenapa??"


Aldo berusaha memeluk adiknya untuk mencoba membuatnya tenang.


Tapi kenapa sekarang muncul lagi?


Kenapa sekarang dia begini lagi?


Apa dia depresi?, Karena Sagakah?


Adikku kembali kambuh Bipolarnya karena Sagakah? Karena dia menyukai Saga?


Mereka berusaha menenangkan Jasmin dengan berbagai cara, termasuk kebohongan Aldo dengan mengatakan bahwa Saga akan segera memutuskan Almaeera. Jahatkan Aldo?, tentu saja!!. Bahkan Aldo sendiri berfikiran seperti itu.


Tega!!, disaat sahabatnya baru saja merasakan yang namanya bahagia teganya dia berlaku seperti itu.


Setelah Jasmin dirasa telah tenang, merekapun melanjutkan perjalanannya ke Bandung dengan saling membisu.


Rahma meletakkan kepala Jasmin dipangkuanya, tubuhnya memang ada di mobil saat ini. Tapi fikiranya penuh akan Saga dan keadaan yang baru saja terjadi. Syock, itulah yang Rahma rasakan, dia baru tahu bahwa Jasmin adik pacarnya ternyata pengidap Bipolar akut.


Selama tiga tahun mengenal Saga karena mereka satu jurusan dan satu kelas, Rahma sangat tahu bahwa Saga selalu menjaga diri terhadap perempuan. Dia juga tahu dari Aldo bahwa Saga cinta mati pada anak salah satu sahabat papanya. Tapi, melihat begitu histerisnya Jasmin barusan..


" Hufff...sungguh ini akan menjadi konflik yang rumit.." Gumam Rahma lirih.


Sesampainya di Bandung, Aldo segera menghubungi orang tuanya yang ada di Surabaya, keadaan Jasmin saat ini tak mungkin bisa di sepelekan. Mendengar kabar tentang putri bungsunya yang kambuh setelah sekian lama, keduannyapun bergegas berangkat ke Bandung.


Flasback off.


" Saga..."


" Hmmm... "


" Kau tahu kan kau satu-satunya sahabat ku sedari kecil..." Ucap Aldo tiba-tiba.


" Ck!!, kau ini bicara apa sih!!, dari tadi ngomong nggak jelas banget!!. Lo manggil gue kesini katanya mau ngomongin tentang Jasmin kan!. Kenapa dengan Jasmin?, aku sudah menjaga adikmu hampir tiga tahun ini!!, dan dia baik-baik saja sampai hari ini kan..." Sahut Saga cepat.


" Iya sih...terimakasih. Tapi..." Aldo menggantungkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa tercekat seolah begitu seret.


" Tapi?" pancing Saga.


Saga menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, pemuda itu seakan tahu ada beban yang seolah susah untuk diungkapkan oleh sahabatnya itu. Tapi Saga tidak tahu jika bebannya itu bersangkutan dengan masa depannya.


" Do?, are you oke?" Tanya Saga pelan.


Brugh!!


Aldo tiba-tiba berdiri dan bersimpuh di bawah Saga begitu saja. Saga membelalakkan matanya saking terkejutnya, bahkan tak hanya dia, beberapa pengunjung lain pun ikut terkejut akan apa yang dilakukan Aldo saat ini.


" Do!!, lo??. Apa-apaan ini? Berdiri Do!!, berdiri nggak!!"


Saga yang kebingungan tidak paham dengan sikap absurd Aldo yang tiba-tiba begini segera mengangkat pundak Aldo agar segera berdiri. Tapi Aldo menolak bahkan kali ini pemuda itu malah justru memeluk kedua kaki Saga.


" Saga...please....Aku mohon padamu Saga" Ucap Aldo lirih dengan kepala tertunduk dalam dan semakin mempererat pelukanya pada kedua kaki Saga.


Risih dan nggak nyaman!, itulah yang dirasakan oleh Saga saat ini. Belum lagi tatapan orang-orang yang menatap aneh pada keduanya.


" Issh!! Aldo berdiri!! BERDIRI ALDO!!. Atau KU PUKUL KAU!" Bentak Saga kesal.


" Tidak hiks..hiks...sebelum kau berjanji untuk memutuskan Almaeera, aku tidak mau berdiri..." Ucap Aldo disertai tangisnya yang tak bisa lagi dia tahan.


Tubuhnya bergetar karena tangis kesedihan yang begitu pilu dirasakannya.


Bukan menangis karena cengeng!, tapi Aldo menangis karena telah berhasil menancapkan luka pada dada sahabatnya saat ini. Dia menangis karena telah menjadi penghancur kebagian sahabatnya yang bahkan belum genap tiga hari kebahagiaan itu dirasakan oleh Saga.


Duarrr!!!


Bagai disambar petir!!, Saga tersentak oleh kata-kata Aldo barusan. Sampai-sampai tubuhnya terhuyung kebelakang, untung tangannya dengan cepat berpegangan pada sisi meja.


" Apa ini?, apa yang kau minta Aldo?..." Saga masih tak percaya akan apa yang di dengarnya. Sumpah!!, Saga merasa ini hanya mimpi belaka.


" Aku memohon padamu sahabatku...putuskan Almaeera, dan terima Jasmin adikku sebagai kekasihmu.."


Deghh!!!!


" KAU GILA ALDO!!, KAU SUDAH GILA!!" Bentakan Saga menggelegar sampai ke sudut-sudut cafe.


Brughh!!


Ditendangnya tubuh Aldo dengan begitu geramnya.


Wajah Saga memerah karena amarahnya yang luar biasa. Sahabatnya..., Aldo sahabatnya...tega-teganya meminta hal yang mustahil padanya!!.


" Memutuskan Almaeera!! Cuihhh siapa lo berani memintaku melakukan itu??" bentak Saga kasar.