
Setelah menurunkan Meera dan drama manja Saga yang merengek minta bisa mengantar sampai kelas terwujud. Saga memacu motorku dengan senyum terkembang.
Ahhh lega rasa hati Saga saat ini, akhirnya bisa juga diakui oleh Meera sebagai kekasih. Dengan bisa mengantarkan Almaeera sampai di pintu kelasnya, berarti mati sudah kesempatan Ryan untuk caper-caper didepan Meera.
Dengan begitu, tertutup sudah kesempatan cowok manapun untuk bisa mendekati Meera.
Kini motor itu berbalik ke kost-an putri yang berada tak jauh dari kampus tempat Saga menuntut ilmu.
Tin..tin..tin
Tidak seperti biasa, Saga tidak turun menjemput Jasmin ke depan pintu kamarnya. Tapi hanya membunyikan klakson motornya saja.
Jasmin dengan wajah berseri-seri segera berlari keluar dan langsung naik keboncengan Saga tanpa disuruh.
" Wahhh...Jasmin seneng banget kak Saga mau jemput Jasmin lagi..." Seru Jasmin heboh.
Bahkan tanpa rasa canggung gadis itu langsung melingkarkan pelukannya di perut Saga.
" Ck!!, lepas Jasmin!!. Pegangan jaket kak Saga aja!!" Bentak Saga seraya melepas tangan Jasmin cepat.
" Diih!! Ka Saga katro!! Ketinggalan jaman..." Protes gadis itu kesal.
Motor Saga menembus keriuhan kota Jakarta pagi ini dengan begitu cepat. Entahlah itu karena Saga buru-buru atau tak sadar bahwa ada seseorang di boncengannya saat ini.
Tepat di perempat jalan tengah kota, lampu lalu lintas berubah merah.Sagapun mulai menurunkan kecepatan laju motornya dengan tiba-tiba. Otomatis Jasmin terkejut dan reflek melingkarkan pelukanya kembali di perut Saga.
Tepat disisi jalan, sepasang mata menatap penuh amarah atas apa yang dilihatnya.
" Ka Saga? Itu ka Saga kan?"
Gadis yang berada dalam boncengan seorang pemuda berseragam SMU Bhakti itupun mulai membuka kaca helmnya untuk menajamkan penglihatannya.
Bahkan saking ingin memastikan kebenarannya, gadis itu menggosok matanya beberapa kali.
"Cihhh!! Rupanya seperti itu kelakuan ka Saga di belakang ka Meera, PENGKHIANAT!!"
Gadis mungil itu mengeratkan kepalan tanganya kuat-kuat sampai kuku-kukunya berubah memutih. Wajah putihnya memerah akibat menahan amarah.
Perlahan dikeluarkannya ponsel dari kantung seragam SMP-nya dan jepretan foto Saga yang tengah dipeluk seorang gadispun kini menghuni galeri ponselnya.
Sementara Atlanta yang melihat gerak-gerik aneh dan wajah Maureen yang tiba-tiba berubah lewat spion motornya segera menoleh.
" Kenapa Reen?" Tanyanya penasaran.
" Nggak papa kak..." Sahutnya dengan mata masih menatap pada interaksi Jasmin dan Saga tanpa berkedip.
...**...
Sebulan berlalu begitu cepat, hubungan Saga Meera semakin melengket dan berjalan sebagaimana alurnya. Cinta mulai tumbuh subur diantara keduanya.
Meera semakin mengerti akan sikap-sikap manja Saga yang rupanya hanya akan keluar jika bersamanya saja. Dan Sagapun semakin takjub akan karakter Meera yang cerdas, dinamis dan jujur. Walaupun kadang kejujuran Meera selalu menyentil hati nuraninya yang telah dengan sengaja membagi sebagian waktunya untuk Jasmin dibelakangnya.
Saga sebisa mungkin bisa terus meratukan Meera, memberikan cinta dan perhatian utuh untuknya tanpa membuat Jasmin kambuh lagi.
Bukan berdasarkan cinta atau kisah kasih romantis sejenisnya. Kebaikan Saga pada Jasmin murni atas dasar kemanusiaan.
Karena ternyata tidak hanya Aldo yang memohon atas bantuan Saga. Karena beberapa minggu lalu rupanya orang tua Aldopun menyempatkan diri menemui Saga untuk memohon bantuan yang sama, yaitu sedikit perhatian kecil Saga untuk putri mereka dan itupun telah disetujui oleh papa Vino dan mama Vera.
Karena Bipolar hanya akan bisa sembuh dengan terpenuhinya kasih sayang dari keluarga dan orang-orang terdekat penderita.
Saga sendiri di sini berperan sebagai pemberi semangat atau motivator bagi Jasmin untuk selalu tepat waktu meminum serangkaian obatnya. Dan tentu saja pengingat jadwal konsul agar tidak lengah mengunjungi psikiater untuk pemulihan dan pengobatan yang lebih lanjut.
Tapi semua itu ternyata ada harga mahal yang harus dibayar Saga tanpa sepengetahuannya.
Maureen rupanya semakin memupuk benci pada calon kakak iparnya. Semenjak memergoki Saga dan Jasmin waktu itu, Maureen terus saja mencurigai Saga, bahkan tanpa sepengetahuan keluarganya, diam-diam Maureen sering membuntuti Saga.
Dan alhasil, ratusan foto kebersamaan Saga dan Jasminpun kini telah menjadi barang koleksi rahasia Maureen.
Dari sisi Sagapun rupanya pemuda itu sedikit banyak mulai menyadari perubahan atas sikap Maureen padanya. Maureen selalu ketus, jutek, dan selalu berkata-kata yang menyindir, bahkan tak jarang Maureen menyebut Saga dengan 'kamu', dan bukan lagi 'ka Saga' seperti selama ini.
Seperti saat ini, dimana hari ini adalah hari kedatangan Shanum kakak Saga bersama Sunny suaminya dari Boston.
Seperti biasa, mereka akan selalu berkumpul di White Base ( rumah bersama).
" Aduhhhh, gemes Reen lihatnya! ya Tuhan... Kak Sha semakin imut dengan perut buncit begini.." Seru Maureen sambil mengelus-elus perut Shanum gemas.
" Masa sih?, kamu bisa aja Reen, kamu juga imut dan chubby ini loh...." Sahut Shanum sembari mencubit pipi Maureen.
" He eh!, sama pun kitah...pipi kak Sha juga makin cubby" Balas Maureen lagi dan dianggukin setuju oleh Sunny.
" Semua wanita hamil rata-rata akan menggemuk Reen, dan tentu pipinya duluan yang akan terlihat mbul begini " ucap Sunny ikutan mencubit pipi istrinya.
"Nanti juga kalau ka Meera mu udah nikah sama Saga pasti juga imut seperti istri brothy begini.., gemoy, montok, bohay, semok, seksi dan hottie ha..ha...." Serobot Sunny.
Tapi bukanya mendapat perseteruan dari sang istri, Sunny justru mendapatkan tabokan yang pedih di punggungnya.
" Haishhh sakit babe..., yang ku bilang kan semua kenyataan. Kenapa sewot" ucap Sunny tanpa rasa bersalah telah berkata-kata vulgar di depan adik-adiknya.
" Iyakah?, tapi harapan Maureen sih semoga saja mereka nggak bakalan nikah!!" Gumam Maureen lirih dengan sedikit menunduk.
Sunny, Shanum Saka dan Saga yang berada disitu semua terbelalak kaget atas apa yang didengar oleh telinga mereka masing-masing.
Mereka saling pandang, bertanya lewat tatapan benarkah apa yang mereka dengar barusan itu benar-benar keluar dari bibir Maureen.
Saga sendiri tersentak kaget dan mulai menatap lekat gadis kecil yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung sendiri itu tidak percaya. Demi apapun! Saga merasa bagai disambar petir saking terkejutnya.
" Reen.., apa ini?, apa maksud ucapanmu itu dek?." Tanya Saga bingung.
Maureen tidak menjawabnya!, hanya tatapan sinis yang kini mendominasi raut wajahnya.
" Dek sepertinya kita harus bicara empat mata, bisa kita bicara sebentar?" pinta Saga lembut.
Saga merasa perlu bicara empat mata dengan gadis ini. Apa alasan dibalik ucapanya barusan, karena jujur Saga tidak nyaman. Tidak hanya dia yang jelas mendengar gumaman Maureen, karena tentu saja ketiga pasang telinga yang lain pasti akan salah paham dan juga bertanya-tanya seperti dirinya.
" NGGAK MAU!!, Maureen nggak sudi deketan sama PENIPU modelan kamu!!" tolak Maureen mentah-mentah.
Duarr!!
Apalagi ini?
Saga dan ketiga orang lainya semakin terlihat tidak nyaman. Bahkan Saga sang terdakwa semakin terlihat kacau, saking kalutnya sampai-sampai tenggorokannya serasa tercekat dan tak mampu menelan ludahnya sendiri. Matanya menatap mata ketiga saudaranya dengan bingung.
Sementara Shanum, Sunny dan Saka hanya menggeleng tak paham.
" Reen ada masalah apa dek? Butuh teman untuk berbagi cerita hemmm" Tanya Sunny lembut, mengusap punggung Maureen pelan.
Sunny dapat melihat air mata yang tergenang dipelupuk mata Maureen, tapi sekuat mungkin gadis itu berusaha menahannya untuk tidak terjatuh.
" Reen hanya ingin kalian berempat tahu! Renn akan berusaha semampu Reen untuk mengagalkan pertunangan kak Saga dan ka Meera. Karena Reen tahu seperti apa BUSUKNYA kamu itu kak!!" Tunjuk Maureen dengan mata memerah pada wajah Saga.
Kata-kata yang keluar dari bibir Maureen terdengar bergetar dan serak, jelas terlihat usaha keras gadis itu menahan tangis dan kekesalannya.
" Astaghfirullahalazim..." Saga hanya mengusap dadanya dengan sedih.
" Kamu!! Tak lebih seperti SERIGALA berbulu DOMBA!!" Ucap Maureen dengan suara bergetar dan gigi yang bergelutuk geram serta kedua tangan yang terkepal kuat.
Sunny segera memeluk gadis itu, berusaha membekapnya kuat. Sunny tahu saat ini Maureen sedang meledak dan butuh sandaran.
Sunny mengkode istrinya untuk meminta ijin pergi membawa Maureen bicara empat mata, meninggalkan tiga bersaudara itu dengan keadaan yang kalut, terutama Saga.
" Sebenarnya ada apa Saga?, kenapa Maureen seperti itu?, apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Tanya Shanum setelah Sunny dan Maureen tak nampak lagi.
" Entahlah....Saga juga nggak tahu..." Jawab Saga lemas.
Saga mengacak-acak rambutnya bingung. Apa dan kenapa?, Sagapun tidak tahu alasannya.
Saga juga bingung kenapa beberapa minggu ini Maureen terlihat menatapnya dengan sinis. Saga juga sadar bahwa Maureen selalu ketus saat berbicara padanya akhir-akhir ini, tapi sumpah! Saga tidak tahu jika Maureen sebenci itu padanya.
Dan apa tadi katanya?, Serigala berbulu domba?. Aku.....?
" Ka Saga..."
Tepukan Saka membuat pemuda itu menoleh lemah.
" Apa ada ucapan kak Saga yang melukai hati Reen?, kelihatan dia begitu kecewa padamu kak?" Tanya Saka.
" Huufff..... Andai aku tahu!. Aku sendiri nggak ngerti kenapa Maureen begitu. Aku juga syok seperti kalian....Akkhhh!!"
Saga berdiri dengan kedua tangan yang mengusap wajahnya kasar. Tampak jelas kebingungan diwajahnya saat ini.
" Ka Saga mau kemana?" Tanya Saka cepat saat melihat arah langkah kaki Saga yang menuju ke ruangan dimana Sunny dan Maureen tadi masuk.
" Tentu saja nguping!!" Sahut Saga.
" Tunggu kak... Saka ikut!!" Seru Saka.
" Haishh kalian ini balik kesini!!, nggak bagus nguping..... Apapun itu pasti brothy kalian akan memberi tahu pada kita nanti. Ayo balik kesini adik-adikku sayang. Kakak kalian ini masih rindu banget...." Seru Shanum.
" Nah tuh lihat ponakan kalian mulai bergerak-gerak nih!, kalian gak mau nyentuh..." Lanjut Shanum sambil meraba-raba perutnya yang buncit.
Saka segera berlari mendekat untuk segera merasakan moment gerakan keponakannya, sedang Saga masih saja menatap pintu ruang baca di mana Sunny dan Maureen tadi menghilang.
" Ehhh...iya MasyaAllah. Kuat banget tendangannya.." Seru Saka histeris.
Saga menoleh, untuk beberapa saat dia hanya terdiam. Lalu mulai melangkah pelan dan ikut duduk kembali lalu menyentuh perut Shanum yang mulai menggeliut-geliut akibat gerakan baby boy yang ada diperutnya.
Jika tidak terjadi insiden barusan, tentu Saga juga akan bereaksi histeris seperti Saka. Tapi nyatanya saat ini, Saga telah kehilangan senyumnya, kebencian Maureen berdampak besar padanya kali ini.
...\=\=\=\=\=@@@\=\=\=\=\=...