
Bukit cinta, sebenarnya hanya sebutan saja. Bukan bukit seperti yang kita bayangkan, hanya sebuah tempat wisata yang memang memiliki bentuk tanah yang agak tinggi dari sekitarnya.
Saga telah memarkirkan motornya, keduanya pun mulai memasuki area wisata yang memang pengunjungnya mayoritas anak-anak muda seusia mereka. Disana sini terlihat pasangan yang bergandengan tangan, Saga jelas iri dengan semua itu.
" Boleh gandengan tangan nggak sih Mee...?" Pertanyaan yang mirip seperti permintaan itu akhirnya terlontar dari bibir Saga setelah sejak tadi ditahan-tahan olehnya.
Meera terdiam lama, lalu menatap mata Saga. Senyum manis yang menampilkannya gigi gingsulnya begitu indah, menghipnotis Saga saat ini.
" Nggak boleh!!" Jawab Meera ketus.
Saga merasa seperti dibanting dengan begitu kerasnya ke tanah, sakit tak berdarah. Baru saja diberikan senyum semanis madu, lalu diberi bonus kata 'nggak boleh' yang sepahit empedu.
" Yahhhh nggak asyik...." Pasrahnya lemah, tetapi masih dengan tersenyum tipis.
Saga mengusap pucuk kepala Meera sekilas lalu kembali berjalan menuju tempat pembayaran tiket masuk. Sementara Meera terus mengintil di belakangnya sambil mengetik sesuatu diponsel.
Ya, saat ini Meera sedang chatingan dengan Almeer saudara kembarnya.
Brugh...
" Upss!!"
Karena asyik menatap ponselnya, Almaeera tidak menyadari jika Saga telah berbalik dan menabraknya. Untung saja, Saga cepat meraih lengan Meera.
" Nggak mau berdiri nih?, mau dipegangin terus kaya gini?, atau mau digendong? Ka Saga sih mau-mau aja..." Godanya saat Meera hanya diam terpaku menatap manik teduh miliknya.
" Akkhh nggak..." Meera buru-buru menegakkan tubuhnya, canggung.
Haish...kenapa aku malah terpesona sesaat sih!!
Duhh Meera...Meera!!, kenapa kamu jadi omes...hisshh.
Puk..puk..
Meera menepuk-nepuk pipinya pelan. Saat ini gadis itu merasa pipinya benar-benar telah terbakar, panas oleh rasa malu yang menjalar.
" Pffttt..., kamu ini imut banget yang, pen nyubit jadinya...." Saga mengusap lagi pucuk kepala Meera gemas.
Mereka lanjut berjalan menuju tangga tinggi dimana adalah salah satu akses untuk menuju bukit cinta.
" Wehh, tinggi banget ternyata..." Desis Meera lirih saat telah sampai di pertengahan tangga.
Saga menoleh menatap Meera yang berhenti sesaat untuk sekedar ngaso.
" Meera capek ya yang? Duh kasian..." Gumam Saga lembut dan penuh kasih, lalu mengeluarkan sapu tangan di salah satu kantung tasnya. Perlahan di usapnya peluh yang merembes di sela-sela jilbab Meera penuh hati-hati.
Degup jantung keduanya tak mampu mereka tahan untuk tidak berdetak. Dahulu mungkin mereka biasa saja saat berinteraksi seperti ini, tapi sekarang jelas rasanya sudah sangat berbeda.
" Masih sanggup dakinya? Masih kuat yang?, atau mau digendong ka Saga saja?" Tawar Saga lembut dan penuh perhatian.
" Kuatlah, masa enggak " Sahut Meera.
" Percaya dehh pasti kamu kuat. Meera gitu loh.., bahkan beberapa ronde juga sanggup ya nggak yang..." Balas Saga absurd dengan senyum khasnya.
" Apanya? Ronde apa?" Tanya Meera.
" Ada dehhh..., anak kecil nggak perlu tau!!, yuk jalan lagi..." Saga mengulum senyum geli, jelas hanya dia yang tahu maksud akan kata-katanya sendiri.
...**...
Pemandangan daerah sekitar begitu indah dilihat dari atas bukit. Puas...dan sepadan dengan rasa capek yang dirasakan saat mendaki tangga yang begitu tinggi.
Saga mencari tempat yang teduh untuk mereka, maklum tengah hari bolong mereka baru tiba. Dan terpilihlah tempat yang berada disisi tebing, terdapat dua buah pohon rindang yang menaungi tempat itu, apalagi tak jauh dari cafe dan mushola. Mereka belum sholat dhuhur dan belum makan siang juga.
Untuk memberi tanda bahwa tempat ini telah mereka pilih Saga mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
" Ka Saga bawa apa?" Tanya Meera penasaran dengan bungkusan yang dikeluarkan Saga dari tasnya.
" Oh ini tenda yang..., biar kalo lagi anu-anuan nggak dilihat orang..." Sahut Saga enteng, bibirnya terlihat dilipat kedalam demi menahan tawanya saat melihat reaksi terkejut Meera yang begitu imut dimatanya.
Entahlah!!, menjahili Meera kini adalah hobby barunya.
" Ck!!, Meera pulang aja deh kalo gitu!, ka Saga mesum!!" Seru Meera kesal dan terlihat merajuk.
" Huffttt..." Desah lega Meera.
" Ya nggak mungkin kali yang... Ka Saga mau ngajakin anu-anuan kamu ditenda!!, hotel aja banyak kok!, tinggal pil----Augghh" Saga mengeryit saat rasa pedas cubitan Meera mendarat di lengan atasnya.
" Pfffttt..ha...ha..ha... Bercanda kali yang...ha..ha... " Tawa Saga meledak tak mampu lagi dia tahan, sumpah!!, menjahili Meera sungguh asyik dan membuatnya candu.
" Oh ya ngomong-ngomong lain kali kalo mau nyubit disini aja pasti lebih enak, apalagi pas kena bijinya.." Tunjuknya pada kedua dadanya.
" Iihhh, kak Saga!! mesum mulu..." Jerit Meera tambah kesal saat paham maksud ucapan Saga.
" Buahahaha..ha..ha"
Saga lagi-lagi semakin tertawa heboh, sementara Meera yang kesal menghentakkan kakinya dan segera meraih tasnya. Mengeluarkan mukena miliknya dan segera menuju mushola dengan menekuk bibirnya kesal.
Saga masih saja tertawa geli melihat itu semua.
Duh...imutnya dia...ya Tuhan..
Merekapun bergantian untuk sholat dan lanjut membeli makanan untuk dibawa ketempat mereka kembali.
Menunggu terik matahari melengserkan diri ke barat. Keduanya mengobrol random, dari mulai menceritakan suasana kelas masing-masing untuk beberapa saat lama. Hingga Saga mulai menyadari bahwa tak terdengar lagi sahutan dari Meera.
Saga yang duduk bersila ditikar akhirnya mengintip Almaeera yang berada di hammock.
" MasyaAllah...dianya tidur..." Dengus Saga
" Yahhh, beginilah kalau kencan dengan bocah. Bukanya asyik-asyikan pacaran malah jagain bocil tidur.."
Ditatapnya wajah teduh itu lekat. Bibir pink itu pernah disentuhnya, dan tentu saja dia belum bisa moveon akan rasa kenyal dan lembut itu, tapi untuk mengulanginya lagi....
No!!, Saga tidak bisa. Jempolnya saja sampai hari ini masih belum pulih dengan sempurna.
Bukanya membangunkan Almaeera yang tertidur, justru Saga malah semakin menggoyang-goyang hammock pelan. Alamat tindakannya makin membuat Almaeera lelap lebih dalam.
Dan tak lama Sagapun terlihat beberapa kali menguap, lalu ikutan tidur ditikar, dibawah Meera.
Srett..
Gesekan sesuatu yang dingin dan manis merembes masuk kesela-sela bibir Almaeera, membuat gadis itu gegas membuka matanya. Tanpa sadar Meera menjilati bibirnya dengan rakus.
" Emmhh es krim.." Gumamnya.
Ternyata Saga menjahilinya lagi, mencoletkan sedikit ujung eskrim ke bibir gadisnya.
" Emmhh, kak...sorry Meera ketiduran" cengir Meera setelah benar-benar telah sadar sempurna.
Saga mengusap pucuk kepala Meera pelan, wajah ayu bangun tidur yang rupawan membuatnya betah lama-lama menatap Meera. Bahkan sedari tadipun senyuman manis tak luput dari bibirnya.
" Nggak papa, ka Saga juga baru bangun kok.
" Nih minum air putih dulu, dan ini es krim nya ntar keburu cair " Disodorkanya sebotol air mineral dan es krim coklat kesukaan Meera.
Tadi Saga terbangun karena mendengar suara seorang anak kecil yang merengek minta es krim, dan ide untuk membangunkan Meera dengan es krimpun tiba-tiba terlintas.
Saga diam mematung menatap Meera yang asyik menjilati es krim miliknya dengan masih bersila di atas hammock. Sementara es krim rasa stroberi miliknya mulai mencair.
Meera yang sadar terus ditatap pun lantas menghentikan aksinya.
" Kenapa?, kakak mau nyobain rasa yang ini?" Tebaknya.
" Emmhh!!, ahh enggak sih yang... Cuma kakak merasa cemburu aja..." Sahut Saga.
" Cemburu?" Tanya Meera heran.
Meera menoleh kekiri dan ke kanan, tidak ada siap-siapa disekitar mereka, adapun juga beberapa pasangan disekitar mereka. Terus?, Saga cemburu dengan siapa?.
" Cemburu dengan siapa sih?" Tanya Meera lagi.
" Cemburu dengan es krimmu, dia begitu dekat dengan bibirmu, kan ka Saga pingin juga ....!!"
Blush....
Saga yang ngomong saja santai, eh malah Meeranya yang canggung dan salah tingkah.