
Almaeera mengikuti langkah panjang Saga menuju lapangan basket yang ada disamping rumah pohon.
" Bisa main basket Mee...?" Tanya Saga yang tiba-tiba berbalik badan.
Degg!!
Almaeera terpaku sesaat, tampan...bisik hatinya.
Almaeera hanya diam terpaku, menikmati indahnya wajah Saga. Bahkan suaranya tak mampu keluar. Ketampanan Saga membuatnya bisu mendadak.
Saga sedikit grogi dan salah tingkah. Wajahnya tiba-tiba memerah, dia kembali melangkah karena tak tahan, di tatap oleh Almaeera seperti itu membuatnya panas dingin dan serasa ingin pingsan.
Saga menoleh lagi setelah kini mereka sampai di lapangan. Mata Saga gantian menatap lekat wajah ayu yang kali ini terlihat begitu semakin ayu. Dan apalagi pancaran sinar matahari sore jatuh tepat diwajah putih bersih itu. Natural, tanpa polesan bahan kimia, cantik alami membuat Saga tak mampu berkedip untuk beberapa saat.
" Ada sesuatu di wajah Meera ya?" Tanya Meera lirih, jemarinya reflek mengusap-usap, bahkan menggosok wajahnya sendiri dengan kasar.
Aiihhh!!, duh sayang banget digosok begitu! kan harusnya dikecup lembut..
Isshh!!, otakku udah error...
Tepp..
Saga menarik tangan Almaeera, lalu menurunkannya perlahan.
" Kenapa digosok begitu!!, nanti lecet gimana?. Nggak ada apa-apa di wajah kamu. Yang ada cuma kecantikan yang luar biasa..." Ucap Saga narsis, senyumnya begitu manis di mata Almaeera.
" Ck!!, gombal!!"
" Nggak gombal Mee..., sumpah di samber gledek, kamu cantik!"
" Hisshh!!, ka Saga ngomongnya ngawur..."
" Nggak ngawur kok! Itu benar kamu cantik. Tuh... kan nggak di samber gledek. Karena yang ka Saga bilang itu kenyataan, kamu emang cantik banget Mee...." Saga seolah tak ada puasnya memuji kecantikan Almaeera, membuat gadis itu merona malu.
" Terimakasih...Jadi sukanya cuma karena Meera cantik doang nih?, entar kalo udah jelek nggak suka lagi gitu?" Tanya Meera serius.
" Ya nggak lah! sebenarnya bukan cantiknya kamu atau apanya kamu. Yang ka Saga suka ya ini, Almaeera ini...." Tunjuk Saga pada ujung kepala lalu telunjuk itu turun dan turun hingga menunjuk ujung kaki Almaeera.
" Dari ujung kepala sampai ujung kakimu ka Saga suka, bahkan dari kamu masih bayi, jika kamu tumbuh besar dan ternyata secantik ini adalah keberuntunganku. Ka Saga menyukaimu dari kamu belum menjadi gadis secantik ini, bahkan ka Saga juga yang sering mengusap ingusmu..."
" Haisshhh..." Almaeera membuang wajahnya ke samping karena begitu malu. Namun Saga justru meraih dagunya untuk kembali menatapnya.
Ditatap Saga seperti ini membuat Almaeera semakin merasa tak karuan.
" Emmhh j..jadi ma..ain basket apa enggak nih?, atau cuma ma..mau liatin Meera doang?" Ucap Meera tergagap.
" Oh ehh..ahh, ya..tentu saja. Jadi bisakan main basket?" Balas Saga ikut kikuk.
"Ngg.., di bilang bisa sih nggak mahir. Di bilang nggak bisa..ya..lumayan jago sih kata teman-teman.." Jawab Meera jujur.
" Sure?, jago!!. Bukanya kamu betina ya ha..ha..ha..." Olok Saga.
" Haish ka Saga!!, maksudnya itu lumayan pinter gitu.."
Saga terus tertawa geli mendengar kata 'jago', kini dia mulai mendribel bola.
" Mari kita lihat!, se betina apa seorang Almaeera!!, lindungi ring kamu 'betina'!!" Seru Saga dan mulai merangsek ke arah gawang Meera.
Di lapangan basket yang luas itu kini hanya ada mereka, lapangan yang awalnya memang dibangun khusus untuknya dan Rasya.
Tentu Saja lapangan itu dibangun atas prakasa Adnan dan Vino sang papa atas permintaan Saga sendiri.
Tawa canda keduanya begitu riang terdengar, bahkan sampai ke ruang keluarga, dimana Aivy, Rayden dan Maureen berada.
" Mereka kok bisa tiba-tiba jadian Reen, gimana ceritanya?" Tanya Aivy.
" Karena mereka sebenarnya saling suka Ai, dan ka Meera itu nggak jaim!!, trus peka orangnya. Apalagi ka Meera penyayang dan sopan. Jadi begitu ka Saga bilang suka langsung deh bersambut" Bukan Maureen yang menjawab pertanyaan Aivy, tapi Rayden yang duduk di depan Aivy.
" Lagian jadi cewek itu harusnya ya kayak ka Meera itu, lemah lembut dan perkataan halus. Yang terpenting peka terhadap sekitar. Bukanya bar-bar, arogan dan tidak pekaan!!" Lanjut Rayden.
" Ka Ray nyindir Maureen nih!!" Seru Maureen sambil menyolot garang.
" Enggak tuh!, emang ka Ray ada nyebut nama Maureen?. Nggak kan Ai??" Tanya Rayden dengan kedua mata menatap Aivy.
" Ck!!, tapi Maureen tahu!!, pasti maksud kak Ray itu Maureen kan??" Desak Maureen kesal.
" Ck!!, kok jadi kamu merasa duri dikaki sih Ren!!, atau kamu merasa tersindir??"
" Ssttt, kak Ray.. Reen udah dong!!, kalian ini kenapa begini sih tiap ngobrol??" Seru Aivy.
" Ka Ray harusnya lebih sabar lagi sama Maureen, dan Maureen juga!! Sopan dikit kalo ngomong sama orang yang lebih dewasa..." Ucap Aivy.
" Tuh denger!!, contoh tuh sahabat lo!!" Seru Rayden
Maureen melotot geram, dia benci setengah mati dengan cowok di depanya itu. Ntah apa awalnya, tapi karena Rayden lah hidupnya terasa terkekang.
Maureen ingin bebas seperti teman-temannya yang lain, bebas hangout ke mall, ke cafe, kemanapun tanpa ada pengawal. Tapi semenjak kepindahan Rayden dari Australia ke sini, hidup Maureen jungkir balik.
Susah payah Maureen menentang permintaan mommy dan daddynya demi bisa sekolah di SMP reguler dan berhasil.
Eh justru datang Rayden yang bertingkah sok jadi bodyguardnya.
Bruk!!
Lagi-lagi bola Saga berhasil menerobos ring Meera. Dan ini sudah bola yang ke lima puluhan.
" Udah deh!!, dari postur tubuh aja Meera udah jelas kalah!!" Seru Meera pasrah.
" Emhhh ha..ha.., masak gitu aja cemen sih, katanya tadi jago!" ucap Saga dengan tertawa.
" Lawan Meera disekolah nggak ada yang setinggi ka Saga, jadi Meera sering menang.." Tangkis Meera.
Saga tersenyum lembut, jemarinya mengusap lembut kepala berbalut hijab kaos itu. Ya !! memang benar ucapan Meera. Permainan Meera memang lumayan, bahkan Saga saja sampai kemasukan empat bola.
Walaupun tak sebanding dengan pencapaian Saga yang limapuluh, bahkan tanpa usaha yang berarti Saga bisa melempar bola dengan leluasa dari sudut manapun, tentu karena postur tubuhnya yang memang jauh lebih tinggi dari Meera. Satu kata, Nggak seimbang!.
" Ya udah deh, sini ka Saga ajarin cara melempar bola biar langsung masuk.."
Saga mengambil posisi dibelakang Meera, sedikit menempel, bahkan aroma keringat merekapun tercium oleh masing-masing.
" Dribel bola beberapa kali, posisikan siku agak diangkat sedikit.."
Bisikan Saga di samping telinganya membuat perasaan Meera tak karuan. Apalagi sentuhan lembut pada sikunya berhasil membuat jantungnya dugeman tak karuan.
" Nih, kaki yang ini majukan sekian..."
Kini ganti kaki Almaeera yang giliran mendapatkan sentuhan itu.
Gila!!, rasa ini tak mampu ditahannya!. Almaeera memejamkan matanya, bibirnya saling berkatup rapat.
Deg...deg..deg
" Yok, sekarang rendahkan sedikit posisi berdirinya.., oke!! Buat sedikit hentakan dan lempar!!"
Kata demi kata Saga tak mampu lagi masuk ke otak Meera, yang ada justru gadis itu sibuk menghirup wangi aroma keringat Saga yang khas.
" Mee...lempar!!" Perintah Saga.
" Hahh!!, ap..apa?"
" Heyyy??, kamu tidur?, dari tadi nggak nyimak??"
" Ehh itu, itu...nyimak kok! Nyimak..." Sahut Almaeera.
" Ya udah coba praktekan..." Tantang Saga
" Iya, ini Meera praktekin, tapi ka Saga minggir aja kesana.."
Saga melebarkan matanya heran.
" Nah? Kenapa? Praktekan aja sekarang, kenapa musti ngusir ka Saga sih.." Tolak Saga.
" Ck!!, ya gimana mau praktekin!!, ka Saga nempel terus kayak gini!!" Ucap Meera lirih.
Ehhh??
Tuh kan!!, Saga lagi-lagi tidak sadar dengan apa yang diperbuatnya. Entah sihir apa yang digunakan Almaeera, hingga mampu membuatmu selalu tak sadar jika telah berdekatan dengannya.
" Emmhh, ahh...maaf.." Ucap Saga seraya mengangkat kedua tanganya keatas bak tahanan yang menyerah kalah.
" Ka Saga nilai dari sana, coba praktekin apa yang sudah ka Saga intruksikan tadi oke.." Ucapnya lembut, jemarinya lagi-lagi terjulur mengusap pucuk kepala Meera.
Meera berusaha mengingat-ingat kata-kata Saga tadi, tapi meskipun sudah berusaha keras mengingatnya, tak ada yang nyangkut sedikitpun.
Yang ada justru wangi keringat Saga yang menyusup otaknya.
Plak!!
Tepukan keras melayang di jidatnya, tentu saja pelakunya adalah Meera sendiri.
" Heyy! Mee...kenapa dipukul begitu!!" kenapa?, ada apa?" Bentak Saga marah.
Diusapnya lembut kening Meera, bahkan ditiupinnya dengan lembut.
" Mee, hey kenapa?, ada apa?" Tanya Saga sabar.
Seseorang menepuk jidatnya sendiri tentu ada alasannya kan.
" Mee..lupa tadi kayak gimana..." Jawab Meera.
" Ha? Apa? Trus dari tadi kamu diam seolah mendengarkan itu ngapain aja? Haahh..ha..ha...ha... Ya Tuhan, kalo cuma lupa kenapa nggak bilang, kenapa menyakiti diri sendiri sih sayaaang...." Ucap Saga gemas.
Dan sekali lagi reflek dibawah sadarnya langsung muncul, dia mencubit pipi Almaeera kecil.
Saga akhirnya dengan telaten mengajarkan kembali langkah-langkah menembakkan bola ke ring. Setelah dirasa cukup, Saga kembali ke pinggir lapangan dan meminta Almaeera untuk mempraktikkannya.
Tapi bukanya melihat tekhnik yang dipraktikkan Meera, Saga justru fokus mengagumi perubahan wajah Meera yang menampilkan ekspresi berbeda-beda di setiap gerak-geriknya.
Papah...datanglah cepat ke Jakarta pah...
Saga sudah nggak kuat lagi, resmikan hubungan Saga dan Meera segera pah...
Saga terus melamun dan menatap Meera sepuas hatinya.