
Saga baru akan men-stater motornya saat getaran ponsel di kantung atas jaketnya membuat pria muda itu menghentikan aksinya.
Nama Aldo tertera sebagai si pemanggilnya. Ketegangan dan kekesalan mewarnai pertemuan terakhir mereka berdua, bahkan sampai sekarang belum menemukan titik terang.
" Hufft...."
Saga mendesah berat sesaat sebelum mengangkat panggilan dari sahabat sedari kecilnya itu.
" Ya Do, Assalamualaikum.." Sapanya malas.
Ucapan Aldo yang memintanya menyelingkuhi Meera dengan Jasmin adiknya benar-benar menyakiti hati nurani Saga. Begitu menggoreskan luka dalam yang entah kapan bisa mengering.
" Ga.., bisa minta tolong please...." Suara Aldo terdengar lirih dan tertekan.
" Apa?, asal tidak yang aneh-aneh!!" Sahut pemuda itu cepat.
" Tolong ke kost-an adik gue, dia minta lo yang antar jemput dia kuliah lagi seperti biasa.." Ucap Aldo ragu-ragu.
Saga menundukkan kepalanya sesaat.
"Ngelunjak ni anak!!" maki Saga dalam hati.
" Sorry Do, lo kan tahu jadwal gue sekarang itu apa. Gue udah berstatus kekasih Meera!!, bukan lagi adik lo yang jadi prioritas gue, lo harusnya paham itu Do..." Sahut Saga.
" Ga..., selama ini lo yang antar jemput dia kan. Apa tidak bisa tetap seperti itu?. Gue nggak akan minta lo memutuskan Meera, gue juga nggak minta lo selingkuhin dia, tapi gue mohon...lo tidak merubah sikap lo ke adik gue. Please Saga...dia tidak boleh tahu bahwa lo masih bersama Meera. Karena maaf...gue bilang sama dia bahwa lo usah put----"
" BRENGSEK LO!!! , Lo bener-bener ya!!, keterlaluan!!" Maki Saga kesal.
" Maaf Saga...., maaf...... Ini bukan mau gue. Ini keputusan yang harus gue ambil. Gue harus bohong demi adik gue... Maafin gue Saga...., nyawa adik gue ada di kebohongan ini. Please Saga...bantu gue...."
Saga mengacak-acak rambutnya kesal. Darahnya serasa mendidih saat ini, disisi hatinya ada Almaeera yang selalu tersenyum lembut, disisi hatinya yang lain ada Aldo yang menyedihkan.
" Gue nggak bisa janji bantu lo, sebelum kenal dengan lo dan membentuk persahabatan kita. Almaeera sudah ada dihati ini!, jadi lo musti pahami kata-kata gue tanpa perlu gue jelasin secara gamblang..." Ucap Saga pada akhirnya.
" Setidaknya gue hanya minta perhatian lo ke adik gue sebelum lo ke Boston. Hanya dua bulan saja...tolong berbuat baiklah pada adik gue, hanya lo yang bisa meredam sakitnya. Jika saja ada obat yang mujarab tentu kami tidak melibatkan lo..."
" Tapi karena psikiater pribadi Jasmin bilang, hanya seseorang yang dicintainya lah yang bisa menekan bipolar adik gue untuk redup. Dan itu adalah lo Saga, yang dicintai oleh adik gue adalah lo. Maaf jika kami merepotkanmu Saga, tapi kami bisa apa di situasi seperti ini kecuali mau tak mau harus melibatkan elo..." Lanjut Aldo panjang lebar.
" Ck!! Ntarlah gue pusing mikirin ini. Gue mau jemput Meera dulu, udah mepet waktunya..." Sela Saga yang memang beberapa kali telah melirik jam tanganya.
...***...
Saga langsung masuk ke rumah keluarga Rangga lewat pintu samping seperti biasa.
" Assalamualaikum mom..."
Sapa Saga dengan langsung mengecup pipi Ara yang saat ini sedang membuat sarapan untuk suami dan kedua putrinya.
" Waalaikumussalam, anak lanang mommy, sudah sarapan sayang?" Sahut Ara lembut.
" Sudah tadi, mama bikin pecel. Nih...mama juga bawain buat mommy.."
Saga meletakkan rantang yang dibawanya ke meja makan.
" Wiiihh apa nih kak?, wiihhh pecel!!" Seru Maureen girang.
" Yaudah langsung sarapan aja sini Reen..." Panggil Saga pada si bungsu.
Tak lama Meera menuruni tangga berasamaan dengan daddynya, Rangga.
" Dari tadi Saga?" Tanya sang uncle.
" Barusan uncle " Jawab Saga seraya meraih tangan Rangga lalu mengecupnya takzim.
Matanya melirik pada gadis manis dibelakang Rangga, sungguh rasanya pen meluk saking kangennya. Padahal semalam juga udah ketemuan, tapi entah kenapa rindu terus saja membelenggu.
" Saga pakai motor?" Tanya Rangga lagi setelah duduk dikursi meja makan untuk sarapan.
" Iya, kenapa uncle?" Jawab Saga, lalu pemuda itu ikut duduk juga walaupun tidak ikut sarapan.
" Rayden baru saja chat, katanya nggak bisa antar Maureen ke sekolah. Dia ada kegiatan pagi untuk persiapan acara kelulusan, begitu kan Meera?"
Meera yang nggak ngerti apa-apa hanya melotot bingung.
Sementara Maureen merasa tiba-tiba dadanya sesak.
" Mu..mungkin iya dad..." Jawab Meera bingung.
" Loh kok mungkin?, bukanya kamu, Almeer dan Ray satu kelas sayang..." Kini mommy Ara ikut menimpali.
" Iya sih..., tapi Ray nggak ada di grub panitia. Atau mungkin belum dimasukin kali, entahlah Meera juga nggak tahu.." Jawab Meera jujur.
Daddy Rangga menatap putri bungsunya yang terlihat menunduk.
" Maureen ada masalah dengan kak Ray nak?" Tanya daddy Rangga bijak.
" Reen rasa enggak!, tapi entah kalo di sudut kak Ray!!. Reen juga nggak peduli amat nggak diantar atau nggak dijemput dia. Masih ada kak Ata yang bisa " Sahut gadis itu cepat.
" Ata?, maksudnya Reen Atlanta sahabat ka Almeer?" Tanya Meera.
" Heemm Yup!" Sahut Maureen.
" Kamu kenal dia darimana?" tanya Meera lagi.
" Dari kak Ray..., boleh ya dad!. Kak Ata mau kok anter jemput Maureen.." Rayu Maureen pada sang daddy.
" Lagian kan nggak enak gangguin ka Saga dan ka Meera pacaran kalau ikut mereka dad..." Lanjutnya mencoba bernegosiasi.
Sementara Saga dan Meera hanya saling lirik, dengan senyum malu-malu mereka yang terkulum imut.
" Apa Ata bisa dipercaya Mee?" Tanya daddy Rangga pada Meera.
" Emmhh, maaf dad. Kalau penilain Meera sih D. Tapi kalau Ray sendiri yang ngenalin Ata ke Reen...mungkin Ray lebih tahu.." Lagi-lagi Meera selalu jujur akan ucapannya.
Selama tiga tahun kenal Atlanta tentu Meera punya penilain sendiri.
" Ck!!, bahaya kelak yang jadi murid ka Meera. Karena punya dosen yang pelit nilai!!, masa orang sebaik ka Ata cuma dapet nilai D, ck..ck..udah kaya pakai kacamata kuda aja. Hanya ka Saga yang terlihat dan selalu bernilai A plus..." Ucap Maureen ketus.
" Ya bukan gitu Reen, kakak kan tiga tahu satu kelas sama dia, kaka tahu dong gimana karakter Ata..." Balas Meera.
" Halah..., eh ini kak Ata udah didepan" Ucap ceria si bungsu saat mendapati chat dari Atlanta.
" Boleh ya dad...please..." Rengek Maureen selanjutnya, mulai mendusel-dusel ke ketiak Rangga seperti biasa.
Rangga menatap istrinya, berharap sedikit spirit untuk mengambil keputusan. Dan tentu saja anggukan lembut sang istri begitu berarti untuknya saat ini.
" Baiklah, mommy dan daddy ijinin. Tapi dengan satu syarat!. Maureen harus tetap tahu batasan-batasan bergaul itu seperti apa. Siapa Ata?, hanya sahabat ka Almeer dan ka Ray!, bukan seperti Rayden, Luigi atau yang lain di WB!!, paham Reen?"
" Reen paham dad..siap!!" Jawab Maureen dengan bersip layaknya seorang inspektur upacara.
Tak berapa lama merekapun mulai meninggalkan meja makan untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.
" Nanti pulang sama Rayden ya yang...., kak Saga ada kuliah full hari ini.." Ucap Saga sembari memakaikan helm di kepala Meera.
" Oke, nggak masalah.." Sahut Meera santai tanpa beban.
Huhhh...desah Saga kesal dan memanyunkan bibirnya.
Saga justru terlihat tidak senang dengan jawaban Meera yang sebenarnya tepat dan biasa saja.
" Apa lagi?, kok masih manyun. Semalam kan udah beres masalahnya.." Tanya Meera kembali dibuat bingung dengan sikap Saga yang lagi-lagi aneh dimatanya.
" Apa hanya aku yang berat jika berjauhan denganmu yang?, apa hanya aku yang selalu tersiksa rindu jika tidak melihatmu sebentar saja?. Apa kamu tidak merasakan kegelisahan yang sama seperti yang ka Saga rasakan?. Jawabanmu barusan seolah mencerminkan tak berartinya aku bagimu..." Keluh Saga.
Rasa ingin tertawa menggelitik di perut Meera, tapi gadis itu menahannya.
Lihatlah, imut banget Saga jika sedang merajuk seperti itu, dua kali sudah Saga menunjukkan sikap kekanak-kanakan yang begitu menggemaskan dimatanya.
" Kalau Meera bilang tuduhan kakak salah.... Apa kak Saga puas dan tenang?" Tanya Meera lirih.
" Sebaiknya antarkan Meera dulu deh.... Nanti Meera jelasin lewat chat saja gimana?, ini udah mepet jamnya, Meera nggak pernah telat. Dan nggak mau telat..."
Saga akhirnya menyerah, percuma merajuk-merajuk berharap perhatian dan rengekan Meera. Karena putri seorang Ara tidak mungkin memiliki sifat manja dan menye-menye sepeti yang diharapkannya.
...\=\=\=\=\=@@@@\=\=\=\=\=...