
Saga telah menghabiskan sarapannya pagi ini bersama mommy Ara dan uncle Rangganya. Tapi Meera masih belum turun juga dari kamarnya, membuat perasaan Saga ketar-ketir tak karuan.
Marahkah Meera denganku?
Ya Tuhan, bagaimana ini?
Papa sedang dalam perjalanan menuju ke sini, tapi keadaaku dan Meera sedang seperti ini..
Apa Meera akan memutuskan menolak aku lagi?
Shhittt!!!, Brengsek!! Ini semua karena sikap tidak sopanku semalam.
Ohhh Tuhan!! Kenapa aku bisa lepas kontrol seperti itu semalam!! Sialan.
Plakk!!
Saga menepuk keningnya dengan keras, membuat mommy Ara dan unclenya menoleh lalu sama-sama menatapnya dengan heran.
" Heyy?, kenapa son?" Tanya daddy Rangga.
" Ahhh, ehhh itu uncle..., Saga baru ingat akan sesuatu.." Ucapnya sambil menyengir.
" Ohh, tapi alangkah lebih bagus jika beristighfar saja daripada menepuk kening seperti itu, kau ini mirip sekali dengan Meera " Ucap mommy Ara sambil tersenyum geli.
" Oh iya Yang, Meera kok nggak turun sarapan. Dia udah tahu belum ada Saga disini?" Tanya Rangga pada istrinya, sementara kedua bola matanya menatap pintu kamar Meera yang masih tertutup.
" Oh..., Meera itu akan malas keluar kamar kalau lagi dapat bulanannya. Biasalah Bi, dia takut tembus.." Bisik mommy Ara.
" Ummm" Sahut daddy Rangga dengan manggut-manggut.
Kini tatapanya tertuju pada Saga, calon mantu pilihannya. Calon mantu yang telah diseleksinya dengan ketat, bahkan dari semenjak Saga kecil. Rangga jelas tidak akan ragu-ragu lagi saat nanti Vino sahabatnya datang untuk meminang putrinya, karena Rangga sendirilah yang urun tangan untuk mendidik Saga selama ini.
Rangga sangat tahu sifat Saga luar dan dalamnya, dan itu adalah point utama untuk bisa menitipkan putrinya kelak.
" Jadi son, papamu jadi datang hari ini?"
" Jadi uncle, tadi pukul delapan pagi katanya pesawat udah take off.." Jawab Saga sopan.
" Syukurlah akhirnya ada kejelasan dengan hubungan kalian, jujur uncle sempat khawatir dengan kerenggangan yang sempat terjadi diantara kalian kemarin. Karena terus terang, bagi uncle kamu dan Rayden adalah calon-calon menantu terbaik uncle. Yang tidak mungkin bisa uncle sepelekan" Ucap daddy Rangga jujur.
" Terimakasih uncle Saga terharu, InshaAllah...Saga akan jaga kepercayaan uncle.." Janji Saga mantap.
Drrt...drrt..
Ponsel daddy Rangga bergetar, panggilan dari Gama Bagaskara.
" Yang, kakak ada janji dengan kak Bagas pagi ini. Kamu bisakan handle rapat dengan bang Adnan dan Chandra di hotel baru kita?" Kini tatapan daddy Rangga berpindah pada wajah ayu istrinya.
Mommy Ara tersenyum dan mengangguk patuh, membantu meringankan tugas suami adalah kewajibannya. Dan mommy Ara sudah terbiasa melakukannya. Apalagi ini juga hati Minggu, dia tidak sedang ada dinas di RS, jadi oke-oke saja menggantikan peran suami sekali-kali.
" Saga nggak papa kan mommy dan uncle tinggal?" Tanya mommy Ara.
Sementara Saga yang ditanya hanya melamun menatap pintu kamar Almaeera yang masih saja tertutup sejak kedatangannya.
" Jangan khawatir, Meera pasti juga akan turun kalau udah lapar... Dia memang begitu bawaannya. Kalau lagi datang bulan hari pertama selalu deras, apalagi harus datang saat menginap di sana semalam. Tentu rasanya nggak nyaman baginya kan?" Lanjut mommy Ara.
" Ahh..iya mom..." Sahut Saga kikuk.
" Ya udah mommy, bersiap-siap dulu sebelum uncle Adnan dan uncle Chandra datang menjemput.." Ara segera berdiri dan mulai merapikan piring-piring kotor.
" Sini mom, mommy bersiap-siap saja, biar Saga yang urus piring-piring ini" Saga segera meraih piring-piring yang ada di tangan Ara dan segera membawanya ke dapur.
Rangga dan Ara menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, menatap punggung kekar Saga yang melangkah menuju dapur.
" Dia putraku sebelum ada Almeer Bi...." Bisik Ara pelan.
" Iya...., dia putramu!, bahkan Vera hanya berperan sebagai wanita yang mengandungnya dan membesarkannya.." Sahut Rangga.
Jiiitt!!
" Awww yang sakit tau!!" Jerit Rangga saat cubitan kecil Ara bersarang ke pinggangnya.
" Ya nggak kayak gitu lah!!, Vera tetaplah ibunya Bi.." Seru Ara sambil berlari ke arah tangga. Karena jelas Rangga pasti akan membalas cubitanya barusan dengan cubitan yang lain.
" Jangan lari!!, tunggu pembalasan ku Yang...." kejar Rangga.
...**...
Tin..Tin..Tin!!
Terdengar suara klakson berbunyi di depan, mommy Ara terlihat bergegas menuruni tangga, disusul oleh daddy Rangga dibelakannya.
Saga segera menghampiri keduanya setelah selesai dengan urusan di dapur.
" Mommy dan uncle udah mau berangkat?"
" Hemm, iya sayang..." Sahut mommy Ara.
" Bi...Lili berangkat dulu ya, bang Adnan udah di depan..." Pamit mommy Ara pada suaminya.
" Ahh...ayok lah sekalian, kakak juga udah siap ini.... Saga titip Meera ya..." Pamit daddy Rangga pada Saga, menepuk pundaknya pelan sebelum keduanya akhirnya melangkah menuju pintu keluar.
" Saga, mommy dan uncle berangkat dulu. Assalamualaikum.."
" Wa'alaikumussalam mom.., uncle..hati-hati dijalan.."
Setelah kepergian keduanya Saga kembali menatap pintu kamar Meera, tapi masih juga tertutup rapat.
Pemuda itu menghembuskan nafasnya sesaat, lalu berjalan menuju kamar Almeer.
Kriett..
Pintu terbuka dan langsung disambut dengan potret besar Almeer dan Aivy yang tergantung di kamar itu. Saga tersenyum tipis, hanya Almeer dan Aivy lah yang memiliki hubungan paling mulus diantara mereka. Jika Sunny dan Shanum saja harus mengalami lika liku yang rumit sebelum menyatu, dan dia yang masih harus menunggu kejelasan tak pasti selama bertahun-tahun, dan masih ada Rayden dan Maureen yang lebih parah lagi.
Hubungan mereka bahkan tidak nampak hilalnya sama sekali. Sangat kontras dengan hubungan Almeer dan Aivy yang lancar luncur.
Saga duduk di meja belajar Almeer, menghidupkan komputer dan mencoba mencicil mengerjakan tugasnya untuk besok.
...*...
Jam di pojok layar komputer sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, Saga teringat akan Meera yang belum sarapan. Pemuda itupun bergegas ke meja makan, membuka tudung saji.
Nasi dan lauk masih dalam porsi yang sama seperti tadi. Saga menatap lagi pada pintu kamar Meera.
Jadi dia belum turun juga?, belum sarapan?
Apa semua ini karena aku?, karena keberadaanku kah?
Saga berjalan kearah dapur, mengambil nampan, piring kosong dan gelas yang telah diisi air minum. Lalu diisinya piring tadi dengan nasi dan lauk pauk dan dibawanya ke kamar Meera.
Tok..tok..tok.
" Mee...." Panggil Saga.
" Emmmm..." Sahut Meera.
Suara gadis itu terdengar lirih dan lemah.
" Ini ka Saga..., boleh masuk?"
" Masuk aja...." Jawab Meera.
Ceklek...
Pintu terbuka, menampilkan Meera yang berbaring di sofa dekat jendela. Ada beberapa roti dan buah segar di sampingnya.
" Kamu sakit Mee?" Tanya Saga khawatir.
Diletakkannya nampan di nakas dekat kepala Meera. Lalu tanganya terjulur menyentuh kening Meera.
" Meera nggak sakit, hanya saja kalau lagi dapet bawaannya mager..." Jawabnya.
Saga sadar, saat ini Meera sedang tidak nyaman dengannya. Karena terlihat beberapa kali Almaeera membuang tatapannya kearah lain saat Saga menatapnya. Mungkin karena peristiwa semalam itu.
Perlahan Saga menekuk lututnya disamping sofa, setengah berdiri dihadapan Meera.
" Mee..., kamu marah?"
" Nggak..."
" Tapi kamu pulang tiba-tiba, tanpa bilang ke kakak.."
" Itu karena Meera nggak bawa serep-an, udah kadung tembus juga. Kan malu Meera.."
Saga berfikir sejenak, berusaha memahami kemana arah pembicaraan ini. Tapi dipikirkan seperti apapun Saga tetap tidak mengerti.
" Serep-an?, tembus?. Apa sih?"
Almaeera tersenyum dan menggelengkan kepalanya sekilas.
" Meera lagi dapet bulanan, cuma bawa pembalut satu doang semalam. Baik Tiara, Aivy dan Reen tidak satupun yang bawa juga.... Jadi tembus, paham?"
Saga mengusap wajahnya lega, tersenyum kecil dan manggut-manggut paham.
" Mee, ka Saga minta maaf...., semalam ka Sag---"
" Sudahlah, jangan dibahas.." Sela Meera cepat.
Meera sangat paham apa yang di rasakan Saga semalam, sebagai saudara kembar Almeer selalu terbuka padanya. Almeer sering curhat padanya juga, bagaimana perasaannya saat berdekatan dengan Aivy. Bagaimana bergejolaknya gelora yang ada di dadanya yang ingin sekali menyentuh Aivy. Bagaimana kuatnya dan tersiksanya pertahanan diri Almeer untuk tidak melecehkan Aivy sebelum pada ijab qobul nanti.
Almaeera tahu semua derita yang dirasakan para pria saat bersinggungan dengan wanita-wanita yang dicintainya.
Almeer selain saudara kembarnya, dia adalah orang yang tidak menyimpan rahasia apapun darinya. Bahkan sisi terdalam dari ego laki-laki dan kapan saat nafsu laki-laki timbul saja Meera mengetahuinya dari Almeer. Tak ada yang disembunyikan Almeer dari Almaeera, tapi jelas Almaeera tidak mungkin bisa terbuka kepada Almeer tentang semua hal.