
Sidney, Australia.
Rayden menatap ponsel di tangannya dengan gamang. Beberapa saat lalu sahabatnya Almeer, mengirimkan pesan dan foto tiket penerbangannya. Dipesan tersebut Almeer juga memintanya untuk menjemput dirinya di bandara Soetta seperti biasa.
Tapi bagaimana bisa, sedangkan dia saja saat ini sedang tidak ada di Jakarta.
Rayden ragu-ragu mendial nomor Luigi, rencananya dia ingin mengalih tugaskan permintaan Almeer.
" Assalamualaikum.., ya alooww Luigi's here.., may I help you?" Sapa Luigi garing.
Rayden menatap sekilas ponselnya, meyakinkan benar tidak kah nomor yang dipanggilnya. Setahunnya selama ini Lui sangat lamban dalam mengangkat ponsel. Nah, kali ini terlalu amazing baginya, karena baru deringan pertama saja langsung di angkat olehnya.
" Tumben lo cepet ngangkat!!"
" Hadeuh..., serba salah jadi manusia!!. Begini salah begitu salah!, mending jadi sapi aja..." Keluh Luigi dari seberang.
" Nah ide bagus tuh kalo lo pengen jadi sapi. Kan om dan tante nggak susah-susah tuh cari hewan qurban!"
" Ck!!, garing lo!!. Apaan nelpon gue?" Serobot Luigi cepat.
" Besok Meer pulang, lo bisa jemput ke bandara gak?" Todong Rayden tanpa basa-basi.
" Iye! Gue juga udah tahu!" Sahut Luigi cepat.
" Kok?, kok lo bisa tahu aja. Kata Meer kan ini surprise.." Sambar Rayden.
" Ya tahulah!, lo kira kak Meer tinggal dimana?. Dia itu tinggal dirumah gue, sama ortu gue, dikamar gue, mana bisa sih dia sembunyiin rahasia dari gue..." Ujar Luigi sambil menepuk dadanya sombong.
Padahal percuma juga belagak sombong begitu, Rayden juga tidak akan pernah melihat tingkah konyolnya barusan.
" Ya udah kalo lo udah tahu, tapi lo bisa jemput kan ya?"
" InshaAllah, tapi nanti kalo kak Meer nanya keberadaan lo, gue musti ngomong apa?" Tanya Lui.
" Gue langsung terbang sekarang juga, biar besok udah bisa disana. Bilang aja gue di Yogyakarta rumah eyang..."
Setelah melakukan negosiasi dengan Luigi, Rayden menarik nafasnya dalam-dalan.
Sebenarnya secara umur, Rayden lebih muda hampir dua tahunan dari Almeer. Justru Rayden sepantaran dengan Luigi.
Tapi karena sedari kecil Rayden kemana-mana selalu bersama Almeer, maka dia pun ingin selalu bersama sulung Rangga Bayu Wijaya itu hingga mengambil jalur akselerasi agar bisa sekelas saat SMU.
Rayden menatap langit biru kota Sydney. Disini adalah rumah kedua orang tuanya, dimana mama dan papanya memutuskan tinggal menetap beberapa tahun silam. Dimana kenangan masa kecilnya tumbuh dan dihabiskan bersama mama, papa dan kakek Pramana dirumah sederhana ditepi pantai, begitu nyaman dan penuh kebahagiaan.
Tapi entah magnet apa yang dimiliki Almeer, karena sejak bertemu Almeer diusianya yang ke enam. Dia serasa menemukan belahan jiwa, mereka klop dan matching satu sama lain. Sama seperti halnya Denis dan Rangga dimasa kecil dahulu.
" Meer...sepertinya gue nggak bisa mewujudkan impian kita, gue nggak bisa jagain adek bungsu lo seperti yang lo mau. Sepertinya gue juga gak bakalan bisa jadi adik ipar lo.... Meer gue mundur!!, bukan berarti gue menyerah, tapi gue butuh waktu untuk istirahat barang sejenak. Gue capek!!" Gumam Rayden lirih sambil terus melangkah menuju motornya yang terparkir disamping mobil es krim.
Ya, selama hampir sebulan ini Rayden bekerja part-time sebagai pelayan es krim mobil bersama beberapa temanya.
...**...
Pemuda tinggi tegap terlihat keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Koper besar berwarna silver terus memutar rodanya berada disebelah tangannya, sementara ransel hitam berada di punggungnya yang kokoh.
Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang tinggi, kontras dengan wajah putih bersih miliknya yang tampan.
" Kak!! Disini!!" Teriak Luigi ketika melihat siluet Almeer diantara para pendatang.
Almeer yang mengenali suara Luigi segera memutar kepalanya mencari asal suara.
Lambaian tangan Luigi terlihat dari sisi kanan koridor, apalagi pemuda itu juga sedikit meloncat-loncat jelas Almeer langsung bisa tahu keberadaannya yang justru menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang.
" Ck!!, kau itu kampungan!! Ray mana?" Tanya Almeer begitu sampai didepan Luigi.
Matanya mencari-cari keberadaan sahabatnya, karena biasanya jika Almeer dari mana-mana selalu ada Rayden yang setia mengantar jemputnya dari atau ke bandara.
" Ray di Yogyakarta, makanya aku yang jemput.." Jawab Luigi.
" Aivy gimana?, aman kan sama kamu empat bulan ini?" Tanya Almeer setelah mereka berada di mobil.
" Aman..., kakak tenang aja. Aivy juga nggak neko-neko kok orangnya.." Sahut Luigi masih fokus pada kemudinya.
" Ka Arnov masih suka nelponin dia nggak?" Selidik Almeer lagi.
" Kalau itu Lui nggak tahu sih, tapi selama didepan Luigi nggak pernah tuh..." Jawab Luigi lagi.
Memang sih, Luigi tidak pernah mendengar atau melihat Aivy menerima telpon atau menelpon seseorang selain papa Sanjaya, Maureen, brothy Sunny dan Almeer sendiri.
Almeer mengangguk-anggukan kepalanya pelan, sesekali tanganya mengetuk dasbor mobil, senyum tipis mengembang tanpa disadarinya.
" Hahh!!, kakak nggak mau ke rumah dulu?, ngabarin uncle dan aunty dulu deh minimal..."
Luigi menganga melihat kegilaan Almeer, baru datang dari jauh bukannya menemui orang tuanya, ini malah ke rumah pacar dulu!, dasar Almeer.
" Mommy dan daddy pasti paham lah, mereka bisa ngertiin kok..." Sahut Almeer mencari pembenaran.
Almeer bukanya tidak kangen pada orang tuanya, bukan juga cosplay jadi Malin Kundang, tapi masalahnya kangenya pada Aivy lebih besar, bahkan sudah sampai diubun-ubun.
Saat berangkatkan Almeer ke Jerman hampir lima bulan lalu Aivy sedang tidak di Jakarta waktu itu. Dia dan papa Sanjaya sedang ada di Surabaya jadwal besuk mama dan kakak tirinya di penjara.
Mobil Luigi memasuki gerbang perumahan yang masih satu lokasi dengan perumahan dimana rumah Almeer berada, cuma beda blok saja.
" Jadi ke rumah Aivy duluan?, fix?" Tanya Luigi meyakinkan diri sebelum berbelok kearah yang berlawanan antara rumah Almeer atau Aivy.
" Aivy dungs!! kangen banget gue...Sumpah!!" Jawab Almeer cepat.
Bibirnya lagi-lagi tersenyum tipis, raut wajahnya terlihat berseri-seri, Luigi yang berasa disampingnya akhirnya ikut tertular, pemuda itupun ikut tersenyum melihat kebahagiaan Almeer.
Kapan gue bisa mengakui perasaan gue, dan disambut suka cita seperti kak Almeer begini.
Hahhh..., akankah sampai mati gue tidak bisa dapetin cinta gue?
Hahhh..., kenapa nasib gue harus sama seperti daddy yang tidak bisa mendapatkan crushnya.
Plakk!!
" Lui!! Lo ngelamun?, rumah Aivy udah kelewatan tuh" Bentak Almeer.
Luigi tersentak kaget!, iya dia melamun dan benar saja rumah Aivy telah terlewat beberapa rumah.
" Sorry kak..." Jawab Luigi lirih seraya memutar kemudi dengan lihai.
" Lo beneran ngelamun?" Tanya Almeer penasaran.
" Ahhh, enggak. Hanya saja ada sesuatu yang terlintas di fikiran Lui barusan. Sorry kak..."
Almeer menyadari perubahan pada wajah Luigi. Terlihat gurat muram di wajahnya yang tampan khas perpaduan antara Lenox dan Wari. Lui pribadi yang tertutup diantara para boy's, walaupun sifatnya easy going dan selalu ceria. Tapi tidak ada yang tahu isi hati dan derita cinta seorang Luigi karena pembawaannya yang selalu ramai, chasingnya yang sempurna mampu menutupi kerusakan di dalamnya. Begitulah gambaran tepat seorang Luigi Travis Daffran.
" Boleh bagi masalahmu padaku?" Tepuk pelan Almeer pada pundak Lui.
Almeer berusaha menunjukkan kepekaannya pada sang adik, walaupun sebenarnya Almeer sendiri tak yakin Luigi akan mau berbagi.
" Dihhh!!, apaan!, nggak ada masalah gue mah.., swear!!. Kak Almeer nggak perlu khawatir. I'm Luigi Travis Dafarran the strongest boy ha..ha.... Nggak ada masalah yang berat bagi seorang Lui!!, karena Lui itu ibarat angin dan air ha..ha..ha.."
Almeer menghela nafas berat, sudah diduganya akan begini jawaban Luigi dan selalu akan begini.
Seorang Luigi itu pelit!, pelit berbagi apapun!, baik itu benda, makanan atau bahkanasalah sekalipun.
" Ya udahlah..., syukurlah kalau lo happy. Tapi ingat Luigi, gue dan saudara lo yang lain akan selalu ada buat lo. Kita ini saudara bro! Susah senang pernah kita lalui bersama-sama...terbukalah sedikit saja Lui..."
Ucapan Almeer selesai bertepatan dengan Luigi yang juga telah menginjak rem. Mereka telah berada di halaman rumah papa Sanjaya.
" Kamu denger kan kata-kataku Lui?" Tanya Almeer sebelum membuka pintu.
Luigi hanya mengangguk dingin sebagai jawabannya.
" Jam berapa gue jemput kak?" Tanyanya sebelum menjalankan mobilnya kembali.
" Nanti ka Almeer kabarin.." Jawab Almeer seraya membuka pintu mobil samping kemudi dan melangkah menuju pintu rumah Aivy.
Di saat bersamaan papa Sanjaya justru baru akan keluar dari garasi sambil menggeret sebuah koper.
" Loh...nak Almeer. Kapan datang?" Sapa papa Sanjaya ramah.
Almeer langsung menoleh tersenyum manis dan turun lagi dari teras lalu mendekati calon mertuanya. Mengecup punggung tangan pria gaya itu, lalu dibaliknya, dan mengecup pula telapak tangan papa Sanjaya.
" Baru saja pa..." Jawab Almeer.
" Papa mau kemana?" Tanyanya sambil melirik koper ditangan papa Sanjaya.
" Dua hari lagi mama Ganis dan kak Lyra bebas dari penjara. Papa harus berada di Surabaya.."
Almeer manggut-manggut mendapat jawaban pria baya itu, matanya menatap tajam pintu penghubung ke ruang keluarga.
" Aivy ada di dalam, dia nggak ikut. Kamu masuk saja. Papa harus berangkat, itu taksi online pesanan papa juga udah datang.." Ucap papa Sanjaya sambil tersenyum kecil. Melihat arah pandangan Almeer saja beliau sangat tahu dan paham akan apa yang sedang dicari-cari pemuda itu.
...\=\=\=\=\=\=\=@@@\=\=\=\=\=\=\=...