
Berlin, Jerman.
" Meer..., udah tahu belum?" Tanya Lenox gaje pada Almeer yang sedang berenang di kolam.
Almeer yang mendengar suara Lenox pun segera berhenti dan menolehkan kepalanya pada pria berjas dokter yang berdiri di sisi kolam. Melihat dari penampilan dan tas kerja yang masih ada di tangannya, om nya ini pasti baru pulang dari Hospital.
" Om baru pulang? Tahu apa om?" Tanya Almeer penasaran.
" Hmmm iya, om baru pulang dan langsung buru-buru menemuimu disini. Karena om fikir, kamu pasti senang dengan kabar yang akan om sampaikan habis ini..."
Almeer semakin penasaran dan langsung bergerak minggir.
" Kabar apa sih om?, bikin penasaran banget deh kayaknya..." ucap Almeer semakin penasaran, diapun terlihat begitu buru-buru untuk sampai ke pinggir kolam.
" Jadi Meer, malam ini di WB sedang diadakan musyawarah untuk hari pertunanganmu dengan Aivy, begitupun juga untuk Meera dan Saga, kau benar-benar tidak tahu?" ucap Lenox.
" W..what??, masa sih om?. Kok daddy mommy nggak ngabarin apa-apa!, Aivy juga kok diem-diem bae dia..." Ucap Almeer terkejut, tapi dengan penuh ekspresi bahagia. Bahkan pemuda itu terlihat buru-buru naik ke atas untuk menyudahi kegiatannya.
" Aww!! yuhuyyy!! Almeer ke kamar dulu deh mau VC-an sama Aivy he..he..."
Almeer segera menyambar handuk dan berlari kecil menuju kamarnya. Tapi belum juga jauh pemuda itu melangkah, tiba-tiba dia berbalik lagi dan memonyongkan bibirnya mengecup pipi Lenox dengan cepat. Lalu kembali berbalik dan berlarian ke dalam rumah.
" Terimakasih kabar gembiranya om, love you so much..." teriak Almeer sebelum benar-benar membuka pintu untuk masuk.
Sementara Lenox menggelengkan kepalanya gemas menatap kepergian Almeer. Jujur, Lenox sangat menyayangi Almeer, bahkan lebih dari sayangnya pada Luigi sang putra kandung. Aneh kan?
Tentu! dan terdengar tidak adil bagi Luigi, tapi itulah yang terjadi.
Brugh...
Almeer melempar tubuhnya ke kasur setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Tanganya meraba-raba ponselnya yang tadi tergeletak di atas tempat tidurnya.
" Kak Almeer cari ini?" Seru Tania, putri Wari dan Lenox.
" Iya, kok ada sama kamu?" Tanya Almeer tidak suka dan langsung merebut ponselnya begitu saja.
Pemuda itu membenci perilaku tak sopan, dan saat ini dimatanya Tania telah tidak sopan.
Pertama, Tania nyelonong begitu saja dan sudah berada dikamarnya tanpa ijin, tanpa ketuk pintu.
Kedua, ponselnya berada ditangan Tania beberapa saat lalu. Karena baginya ponsel adalah hal pribadi yang tidak boleh dipegang orang lain.
" Tadi bunyi-bunyi mulu, jadi Tania angkat!!" Sahutnya.
" Lancang!!!, keluar!!" Seru Almeer dengan geram.
" Cihhh!!, jutek amat!!" Decih Tania.
" Masa bodo!!" balas Almeer cepat.
Diliriknya putri kecil dari Lenox dan Wari itu dengan tatapan kesal.
" Panggilan siapa tadi yang kamu angkat" Tanya Almeer sebelum Tania benar-benar keluar.
" Kak Aivy..." Jawab Tania jujur.
" Kak Aivy ngomong apa?"
" Cuma pesan doang, kak Almeer suruh hubungi dia kalau udah selesai berenang.." Sahut Tania lagi.
" Ohh!!, ya udah. Lain kali jangan lancang ngangkat ponsel kak Almeer!, jangan asal masuk kamar kak Almeer juga!, ngerti Tania?" Bentak Almeer lagi.
" Yee...., ngerti...." Sahut Tania lirih.
Setelah memastikan pintu kamarnya tertutup sempurna, Almeer segara memposisikan tubuhnya dengan senyamannya. Karena sudah pasti bisa ditebak, VC-an dengan Aivy tidak akan cukup satu jam saja, bahkan tak jarang mereka akan terus mengobrol sampai Aivy benar-benar telah tertidur.
Suara nada tunggu kini berbunyi, Almeer setia menanti dengan mengelus bibirnya pelan. Kabar yang diterimanya dari Lenox beberapa saat lalu merupakan mood booster baginya untuk menyelesaikan materi bahasanya dengan cepat.
" Ya kak Al, Assalammualaikum.." Suara merdu yang di rinduinya itu kini telah terdengar.
Tapi suaranya kalah oleh kebisingan sekitar. Nampak di layar ponselnya wajah ayu Aivy sedang berada di tengah-tengan keluarga besarnya di White Base.
" Sayang..., ada waktu nggak?, lagi sibuk ya?" Tanya Almeer sopan, memahami dengan sangat kondisi Aivy saat ini.
" Nggak sih kak, tunggu sebentar deh kak. Aivy pindah ke kamar dulu bentar.."
Suara Aivy hilang, dan gambar dilayar ponsel Almeer pun menghitam.
Untuk beberapa saat Almeer kembali mengelus-elus bibirnya, menunggu adalah hal yang sangat tidak disukainya. Almeer itu sebelas duabelas dengan daddy Rangga dalam sikap watak dan tabiatnya. Jutek, dingin dan cueknya juga sama persis, plek keteplek.
" Ya kak...Assalamualaikum hallo??" Suara Aivy terdengar kembali, bahkan dengan wajah yang begitu berseri-seri.
" Wa'alaikumussalam Sayang..., Vy?" Sapa Almeer dengan kata-kata yang menggantung. Sementara matanya terus menatap lekat-lekat wajah manis didepanya.
" Hemmm, iya?. Apa kak?" Jawab Aivy dengan mengulum senyumnya, hasil musyawarah keluarga tadi begitu membuatnya bahagia. Hatinya begitu berbunga-bunga.
" Ada yang ingin kamu sampaikan padaku hemm?, sepertinya kamu bahagia sekali?"
Bak seorang peramal, Almeer begitu tepat menebak suasana hati Aivy saat ini.
" Hemmm, iya. Papa dan daddy telah sepakat..." Ucap Aivy menggantung.
" Sepakat? Tentang? " Desak Almeer tak sabar.
" Tentang itu..."
" Iya, tentang apa?"
" Itu...." Sahut Aivy malu-malu.
" Iya Aivy sayang, itu apa?" kejar Almeer.
Tidak langsung menjawab pertanyaan Almeer, justru Aivy kembali tersenyum dan pipinya begitu terlihat merah merona.
" Apa sayang?, jangan buat penasaran dong. Kamu pernah dengar nggak kalau ada kasus kematian seseorang yang diakibatkan karena terlalu penasaran, jadi katakan!, sebelum itu terjadi padaku..." Desak Almeer lagi.
" Ihhh! Apa sih na'udzubillah!!" Seru Aivy cepat.
Sementara Almeer malah tertawa nyaring.
Ya walaupun sebenarnya dia sudah tahu dari Lenox tadi, tapi menjahili Aivy begini sungguh menyenangkan baginya.
Almeer tak memaksa, justru yang ada dia semakin gemas melihat tingkah Aivy yang malu-malu.
" Jadi kapan?" Tanya Almeer lembut.
" Apanya?" Tanya Aivy balik.
" Pertunangan kita?" Ucap Almeer sambil mengulas senyum manisnya.
Aivy menutup bibirnya, menyembunyikan deretan gigi putih saat kini senyumnya tak bisa lagi ditahan-tahan, senyum yang begitu lebar dan cerah.
" Minggu kedua, dua bulan lagi.." Jawab Aivy.
" Apa kamu bahagia sayang?, tapi kakak tidak.."
Deghh!!
Jantung Aivy seakan ingin lompat dari tempatnya. Matanya melotot tajam pada tampilan layar dimana gambar wajah Almeer berada.
" Apa?, apa kak?" Suaranya terdengar lirih, bahkan seperti cicitan seekor tikus.
Almeer tersentak kaget melihat perubahan wajah Aivy yang kini nampak begitu murung.
Oh Astagfirullah aku salah bicara...
" Heyy sayang!!, bukan itu maksudnya. Kakak akan seribu kali lebih bahagia jika kita langsung menikah saja, karena bagi kakak nggak ada gunanya pertunangan. Tetap belum halal juga kan?" Ucap Almeer cepat untuk mengklarifikasi ucapan sebelumnya.
Tak akan sanggup dirinya melihat kesedihan di wajah pujaan hatinya itu. Cinta dan kasih sayang Almeer begitu besar, bahkan rasa itu tumbuh sejak kecil. Awalnya hanya rasa kasihan semata, tapi rasa kasihan itu lambat laun berubah menjadi rasa cinta yang luar biasa.
Flasback on.
Sekitar sembilan tahun lalu di Surabaya, disanalah pertemuan pertamanya dengan Aivy.
Almeer dan keluarga saat itu sedang liburan di rumah uncle Vino sahabat daddy Rangga.
Saat mereka berjalan-jalan di Gramedeo malam itu, tiba-tiba Shine menghampiri mereka dengan menggandeng seorang gadis kecil yang sedang kebingungan. Dan ya, saat itu Aivy terlepas dari pantauan Sunny yang kala itu masih menjadi Binar Buana Sanjaya, kakak Aivy( ceritanya ada di novel Binar Cahya, Twin in love story).
Dimata Almeer, penampilan Aivy kala itu sangat memprihatinkan, sungguh bertolak belakang dengan penampilan Maureen adiknya yang seumuran dengan gadis itu.
Rambut yang halus dan hitam, tapi dengan arah sisiran yang berantakan. Baju yang bersih dan wangi, tapi dengan satu kancing yang hilang dan digantikan dengan peniti. Wajah yang cantik dan menggemaskan, tapi tersirat kesenduan dan kesedihan.
Flashback off.