Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Dimana Meera?



Saga memacu motornya seperti orang gila malam ini. Setelah beberapa saat lalu berpapasan dengan Ryan dan diberitahu bahwa Almaeera dan saudaranya telah pulang.


Maka diapun langsung bergegas ke parkiran untuk segera menyusul.


Bahkan Saga tak peduli akan panggilan Jasmin yang berlari mengejarnya sampai ke luar gerbang cafe.


Saga terus fokus ke depan, hem full facenya bahkan belum sempat ditutupnya. Angin malam menerpa begitu keras wajahnya yang kini tampak begitu dingin dan garang.


Aura hangat, ramah dan murah senyum yang mencerminkan karakter seorang Saga malam ini lenyap entah kemana.


Yang terlihat saat ini justru wajah tampan yang begitu suram mencekam. Dia bahkan membawa motornya dengan kecepatan yang sudah tidak lagi wajar, benar-benar mengerikan.


Saga begitu marah!, dadanya serasa mendidih, bagaimana bisa Jasmin lancang dengan mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Dan justru mengkambing hitamkan Almaeera sebagai pelakor diantaranya.


Bahkan tak hanya Wulan, rupanya beberapa teman dikumpulan Wulanpun menganggap itu benar. Yang jadi pertanyaan di benak Saga saat ini adalah sudah sejak kapan Jasmin melakukan kebohongan ini.


Dan yang membuatnya marah adalah mereka menjelekkan nama Meera tanpa tahu siapa sebenarnya Meera. Kasak-kusuk yang di dengar Saga begitu membuatnya murka, dan bertekad untuk membicarakan ini dengan Aldo dan keluarganya.


Semua harus di hentikan, perilaku Jasmin harus diluruskan agar semua jelas. Karena akan sangat sulit untuk Meera jika dia terseret skandal bahkan sebelum jadi Mahasiswa baru seperti ini.


Saga begitu terkenal di kampusnya, tidak hanya dari segi akedemiknya saja. Saga juga kapten basket yang handal seperti papanya, tak heran jika hampir seluruh undangan yang datang diulang tahun tadi kenal denganya.


Tapi kenyataan justru menampar wajahnya, disaat dia harusnya bisa menggunakan posisinya yang kuat dikampus nanti untuk melindungi Meeranya. Kenapa justru malah citra Meeranya dihancurkan terlebih dahulu oleh Jasmin bahkan sebelum dirinya memperkenalkannya secara resmi, bahwa Meera adalah kekasihnya.


Dan bagaimana bisa Saga kuat mendengar orang-orang membicarakan keburukan Meera di depan matanya seperti tadi.


Sementara Meera saja tidak mengerti apa-apa akan semua hal ini.


/Apa Meera dan yang lain sempat mendengar ucapan orang-orang itu sehingga mereka buru-buru pulang?


Padahal acara juga baru dimulai....


Mee...apa yang kamu dengar dan kamu lihat malam ini semoga tidak melukaimu Yang....


Oh..Tuhan...kenapa bisa begini...


" Akkkhhhhh!!!" Jerit Saga frustasi.


Tepat tiga puluh menit motor Saga berhenti di luar gerbang rumah keluarga Rangga.


Tapi penampakan rumah tampak sangat berbeda. Semua lampu dalam telah terpadan semua, hanya teras dan sudut-sudut tertentu yang masih menyala. Sepertinya rumah itu malam ini tidak berpenghuni.


Saga mengeluarkan ponselnya, saat ini pemuda itu masih berdiri di luar pagar. Semenit, dua menit, hingga satu jam dia berdiri disana dengan tangan terus mendial panggilan, tapi nihil.


Meera tidak menjawab, Almeer dan Maureen pun sama.


Saga tak kurang akal, diapun memberanikan diri menghubungi langsung ponsel sang mommy.


Beruntunglah Saga, karena baru deringan pertama sang mommy langsung mengangkat panggilan darinya.


" Iya Le..., Assalamualaikum. Ada apa sayang malam-malam hubungi mommy?, kalian sudah pulang?"


Dari arah pembicaraan ini Saga langsung connect. Sepertinya A empat tidak bersama mommy dan unclenya saat ini.


" Waalaikumsalam mom, mommy di mana?"


" Mommy bersama uncle ada di Yogyakarta sekarang, keadaan kakek buyut sedang kurang bagus. Tadi kamu antarkan Meera kemana Le?, kerumah opa Hen atau ke kakek Syakieb?"


Degh!!


Bagaimana ini?, apa aku harus bohong?


Belum juga Saga membuka mulutnya, mommy Ara sudah lebih dulu berpamitan untuk menutup panggilan karena harus kembali ke kamar rawat kakek buyut segera.


Setelah memasukkan ponselnya kembali ke kantong jaketnya, Saga memakai kembali helmnya dengan buru-buru dan langsung menuju kerumah keluarga Syakieb.


...***...


" Huuhh, kemana mereka sebenarnya!!"


Desah Saga kesal.


Plak!!


Dilemparkannya begitu saja ponselnya di sofa ruang keluarga.


Mama Vera yang baru keluar dari kamar Shanum menggeleng heran dengan tingkah putranya itu.


" Kamu kenapa lagi Saga?" Tanya sang mama.


" Mereka sebenarnya kemana sih mah?, pusing aku dibuatnya ya Tuhan...." Saga mengacak-acak rambutnya geram, lalu melemparkan tubuhnya di sofa.


Mama Vera mendekat putra keduanya itu, lalu perlahan duduk di sampingnya. Diusapnya dengan kepala sang putra dengan penuh kasih sayang.


" Kamu sudah mengecek ke sekolah mereka?"


" Sudah, dan empat hari ini mereka ijin tidak hadir.."


" Ke rumah uncle Ardi?"


" Nggak ada siapapun disana mah...sepi, lagian uncle Ardi dan aunty Azura kan ada di Madinah sedang dampingin kak Bian dan kak Gerald untuk mendalami agama islam.."


" Kalau Apartment Aryan?"


" Kayaknya nggak mungkin disana, Aryan nggak ada jadwal pulang untuk saat-saat ini...."


Saga merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama. Disinilah dia selalu mendapatkan kenyamanan dan ketenangan saat gundah gulana datang menggerogori batinnya beberapa hari ini.


Mama Vera menetap sementara di Jakarta demi menemani masa-masa kehamilan tua sang putri


" Apa semua wanita kalau marah selalu begitu ya mah?, apa mereka harus bersembunyi begini jika ada masalah?"


Vera tersenyum gemas mendengar pertanyaan sang putra.


" Nggak juga, apalagi Meera. Selama ini apa pernah kita melihat dia marah hemmm.... . Meera selalu manis sejak kecil, dia selalu ceria penuh senyum." Ucap mama Vera.


Saga mengangguk menyetujui ucapan sang mama yang seratus persen benar adanya. Memang sih...


Mengenal baik Meera selama ini, memang jarang ditemuinya wajah tak mengenakkan yang terlihat, walaupun hanya sekedar manyun sekalipun.


" Coba deh kamu tanya brothymu sana.., barangkali dia bisa melacak keberadaan sinyal ponsel salah satunya.." Saran mama Vera lembut.


Akhh benar juga!, duh bloonnya gue...


Kenapa nggak kepikiran dari kemarin-kemarin.


Tak mau menunggu lama, Saga segera meraih ponselnya dan beranjak menuju kamar sang kakak.


Seolah tak sabaran, Saga buru-buru mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu bercat coklat susu itu. Tapi belum juga jemarinya menyentuh kayu, Saga harus mengurungkan niatnya.


" Akkhhh Yang... jangan diremas kuat-dong dong, itu agak sak-- akkhhh...." Jerit manja suara Shanum terdengar di telinga Saga.


" Ha..ha..ha sorry beb, aku khilaf. Habisnya semenjak kamu hamil keduanya semakin besar dan keny--- emmphhh.."


" Awww!!, Sun jangan yang itu, geli akkhhhh..."


Saga menutup kedua telinganya dan segera berpaling. Tubuhnya bergetar, dadanya berdebar.


" Haishh dasar!!, mereka itu..." Rutuk Saga kesal.


"Meera sayang...., kamu dimana?


Ya Tuhan...kenapa rindu ini begitu berat..." Desah Saga geram.